Kota Padang | Banjir bandang menerjang Kampung Apa dan Perumahan Lumin Park di kawasan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat. Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur Kota Padang pada Sabtu. Intensitas hujan yang tinggi membuat debit Sungai Lubuk Minturun meningkat secara drastis hingga meluap dan mengalir ke kawasan permukiman warga.
Luapan sungai membawa material lumpur dan menggenangi rumah-rumah penduduk. Hingga penanganan berlangsung, puluhan rumah masih terendam endapan lumpur tebal. Material tersebut menutup halaman, akses lingkungan, serta sejumlah bagian bangunan warga sehingga aktivitas masyarakat terganggu. Warga berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih dapat digunakan, sekaligus membersihkan bagian rumah yang terdampak.
Meskipun menyebabkan kerusakan dan menghambat kegiatan warga, musibah banjir bandang ini tidak menimbulkan korban jiwa. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam proses penanganan, sementara pendataan dampak dan pembersihan kawasan terus dilakukan secara bertahap. Warga terdampak juga saling membantu untuk mempercepat pemulihan lingkungan setelah air mulai surut.
Ratusan personel gabungan bersama masyarakat dikerahkan untuk melakukan gotong royong di lokasi terdampak. Mereka membersihkan endapan lumpur dari rumah, jalan, dan fasilitas lingkungan dengan menggunakan peralatan yang tersedia. Pembersihan dilakukan secara bersama-sama karena ketebalan lumpur membuat pekerjaan tidak dapat diselesaikan oleh warga secara mandiri dalam waktu singkat. Selain membersihkan permukiman, petugas juga memantau kondisi aliran sungai dan kawasan sekitar untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
Kekecewaan warga tertuju kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setelah perangkat pendeteksi dini banjir atau early warning system (EWS) di lokasi tidak berfungsi ketika banjir bandang datang secara tiba-tiba. Warga berharap keberadaan sistem tersebut dapat memberikan peringatan sebelum air naik dan memberi kesempatan untuk menyelamatkan diri, mengamankan barang, serta menuju tempat yang lebih aman.
Namun, saat air bah mulai merendam permukiman, sirene EWS tidak mengeluarkan suara peringatan. Kondisi itu membuat banyak warga tidak sempat bersiap menghadapi banjir yang datang dengan cepat. Sejumlah warga bahkan terjebak di dalam rumah karena genangan dan arus banjir lebih dahulu mengepung lingkungan mereka. Mereka kemudian harus menunggu bantuan hingga tim penyelamat datang melakukan evakuasi.
Liza Febria menjadi salah satu warga yang mengalami situasi tersebut. Ia mengaku sangat kaget ketika banjir tiba-tiba menerjang permukiman. Dalam keadaan panik, Liza berada di tengah kepungan banjir selama sekitar dua jam sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh tim SAR. Pengalaman itu membuatnya menilai bahwa peringatan dini sangat penting, terutama ketika warga tidak menyangka air akan datang dalam waktu singkat.
Liza juga menyampaikan keluhannya mengenai sirene EWS yang sebelumnya dipahami warga akan berbunyi apabila terdapat tanda-tanda banjir. Pemahaman tersebut membuat warga menaruh harapan pada sistem peringatan yang terpasang di kawasan itu. Akan tetapi, ketika banjir menerjang, sirene tersebut ternyata tidak memberikan peringatan apa pun. Bagi warga, tidak berfungsinya EWS memperbesar kepanikan dan mempersempit waktu untuk menyelamatkan diri. Mereka berharap persoalan ini mendapat perhatian serius agar kejadian serupa tidak kembali membuat warga terjebak tanpa pemberitahuan.
Warga yang terdampak banjir bandang telah dievakuasi dari permukiman yang terendam dan dipindahkan ke lokasi pengungsian yang lebih aman untuk sementara. Mereka masih membutuhkan dukungan logistik serta bantuan dasar, terutama karena sebagian besar tidak sempat membawa perlengkapan pribadi ketika air mulai memasuki rumah. Kondisi para pengungsi perlu terus dipantau, termasuk kebutuhan keluarga dengan bayi, anak-anak, lansia, dan warga yang memerlukan perhatian khusus selama berada di tempat penampungan.
Bantuan yang mendesak lain pakaian bayi, selimut, makanan, dan air bersih. Pakaian bayi diperlukan bagi keluarga yang kehilangan atau tidak sempat menyelamatkan perlengkapan anak. Selimut dibutuhkan untuk menjaga kenyamanan pengungsi pada malam hari, sementara makanan harus tersedia secara teratur bagi seluruh warga yang mengungsi. Ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian penting untuk kebutuhan minum, memasak, serta menjaga kebersihan di tengah kondisi darurat. Distribusi bantuan perlu dilakukan secara terkoordinasi agar kebutuhan pengungsi dapat terpenuhi secara merata.
Warga terdampak saat ini ditempatkan di dua posko pengungsian utama. Sebagian mengungsi di fasilitas ibadah setempat, seperti masjid atau musala, yang digunakan sebagai tempat berlindung sementara. Pengungsi lainnya berada di tenda darurat yang didirikan di kawasan Guo. Penempatan tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan warga memiliki tempat berteduh setelah meninggalkan rumah masing-masing. Ketinggian air mulai surut sejak Sabtu malam, tetapi kondisi itu belum berarti seluruh wilayah telah pulih atau aman sepenuhnya. Pemantauan terhadap lingkungan, akses keluar-masuk, dan kemungkinan naiknya kembali debit air tetap diperlukan, bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.
Tim gabungan yang terdiri atas Polri, TNI, BPBD, Kantor SAR Padang, dan para relawan bergerak melakukan evakuasi warga terdampak banjir bandang di sejumlah permukiman. Petugas memprioritaskan lansia, anak-anak, perempuan, serta warga yang membutuhkan bantuan khusus. Proses pemindahan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan ketinggian air, kuatnya arus, dan akses menuju lokasi yang masih dapat dilalui.
Ratusan warga dievakuasi menggunakan perahu karet menuju titik pengungsian yang lebih aman. Dalam pelaksanaannya, petugas memasang tali pengaman pada pohon dan tiang listrik di sekitar jalur evakuasi. Tali tersebut digunakan sebagai pegangan bagi warga dan petugas ketika melintasi genangan, sekaligus membantu menjaga keseimbangan agar tidak terseret arus deras. Relawan turut mengarahkan warga, mendata kebutuhan pengungsi, serta membantu distribusi makanan, air minum, dan perlengkapan darurat.
Selain mengevakuasi penduduk, aparat juga melakukan penyisiran terhadap rumah-rumah yang masih berpenghuni atau berpotensi terisolasi. Petugas mengingatkan warga agar tidak kembali ke permukiman sebelum kondisi dinyatakan aman, mengingat arus dapat berubah cepat dan masih terdapat risiko banjir susulan. Koordinasi unsur pencarian dan pertolongan, pemerintah daerah, serta masyarakat dilakukan untuk memastikan informasi mengenai lokasi warga dan kebutuhan penanganan terus diperbarui.
Kapolda Sumatra Barat Irjen Pol Jawari mengatakan telah mengerahkan ratusan personel untuk mengamankan kawasan permukiman yang ditinggalkan warga saat mengungsi. Sebanyak 250 personel disiapkan untuk menjaga rumah-rumah warga agar pemiliknya tidak khawatir kehilangan barang atau aset selama berada di pengungsian. Pengamanan dilakukan melalui patroli dan pemantauan di sejumlah titik, termasuk akses keluar-masuk kawasan terdampak. Langkah ini diharapkan mendukung kelancaran evakuasi sekaligus memberikan rasa aman kepada warga selama menunggu situasi kembali kondusif.
Baca juga: Dikepung Asap dan Bara, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Tak Beri Celah Karhutla Meluas Dekati Permukiman Warga | Warga Pagaralam Kelimpungan Cari LPG, YLKI Soroti Dugaan Gas Subsidi Mengalir ke Jarai | Padamkan Bara di Balik Gambut, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Jaga Permukiman Dari Ancaman Karhutla

