Rekayasa Atap JIS Membawa WEGE Menang di Ajang Infrastruktur Dunia

Rekayasa Atap JIS Membawa WEGE Menang di Ajang Infrastruktur Dunia

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) meraih penghargaan dalam ajang 2026 Year in Infrastructure Awards yang diselenggarakan oleh Bentley Systems. Penghargaan tersebut diberikan dalam kategori Structural Engineering, khususnya nominasi “Engineering Largest Retractable Roof”, atas keberhasilan pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Capaian ini menempatkan proyek karya WEGE dalam sorotan ajang infrastruktur berskala dunia.

Proyek JIS terpilih setelah melewati proses penjurian yang ketat dan mengungguli lebih dari 300 nominasi proyek konstruksi yang berasal dari 53 negara. Pengakuan tersebut mencerminkan kompleksitas rekayasa atap stadion yang dapat dibuka dan ditutup, sekaligus menunjukkan pentingnya penerapan pendekatan engineering yang terukur dalam pengerjaan megastruktur. Melalui proyek ini, WEGE memperlihatkan kapasitasnya dalam menangani kebutuhan teknis, koordinasi pekerjaan, serta pelaksanaan konstruksi pada fasilitas dengan tuntutan desain dan fungsi yang tinggi.

Direktur Utama WEGE, Mahendra Vijaya, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas kemampuan perusahaan dalam memadukan engineering, teknologi digital, dan pelaksanaan konstruksi untuk menghadapi tantangan megastruktur. Perpaduan itu menjadi bagian penting dalam proses pembangunan JIS, terutama pada pekerjaan yang berkaitan dengan rekayasa atap retractable berukuran besar. Penggunaan teknologi digital mendukung pengelolaan informasi dan koordinasi selama proses konstruksi, sedangkan kemampuan engineering dan pelaksanaan lapangan memastikan rancangan dapat diwujudkan sesuai kebutuhan proyek.

Penghargaan global ini juga menegaskan posisi JIS sebagai bukti kemampuan engineering Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional. Keberhasilan WEGE dalam nominasi tersebut memperlihatkan bahwa proyek infrastruktur yang dikerjakan di Indonesia dapat memperoleh pengakuan dalam forum global melalui kualitas rekayasa, pemanfaatan teknologi, dan pelaksanaan konstruksi yang terintegrasi.

Jakarta International Stadium (JIS) merupakan stadion sepak bola berkapasitas 82.000 penonton dan termasuk salah satu stadion terbesar di kawasan ASEAN. Skala tersebut menuntut rancangan struktur yang tidak hanya kuat, tetapi juga mampu mendukung fungsi stadion secara fleksibel. Salah satu elemen paling kompleks adalah atap raksasa yang dirancang untuk melindungi area tribun dan lapangan dari cuaca, sekaligus mempertahankan karakter arsitektur modern bangunan.

Struktur atap JIS memiliki bentang sekitar 269 x 244 meter. Sistem yang digunakan berupa atap buka-tutup atau retractable roof, sehingga stadion dapat menyesuaikan penggunaannya dalam berbagai kondisi. Pencapaian teknis yang menonjol terjadi ketika struktur atap seberat 3.900 ton diangkat secara bersamaan hingga ketinggian 70 meter. Proses tersebut membutuhkan pengendalian beban, peralatan pengangkatan, serta pemantauan posisi yang sangat akurat agar setiap bagian struktur bergerak serempak dan tetap berada dalam batas toleransi keselamatan.

Tingkat kesulitan pekerjaan semakin tinggi karena JIS dibangun di pesisir utara Jakarta. Kondisi tanah yang lunak dan muka air tanah yang tinggi memengaruhi metode konstruksi, stabilitas area kerja, serta pengaturan fondasi dan peralatan berat. Faktor lingkungan tersebut membuat setiap tahapan harus disiapkan secara terukur, terutama ketika mengangkat dan memasang komponen atap berukuran besar di atas stadion.

Direktur Operasi WEGE sekaligus mantan Manajer Proyek JIS, Tomo Dwi Hasputro, menjelaskan bahwa bagian bergerak pada sistem atap memiliki bobot sekitar 300 ton. Komponen tersebut menutupi bukaan seluas 4.560 meter persegi dan dapat membuka atau menutup dalam waktu sekitar 30 menit. Pekerjaan dengan spesifikasi tersebut membutuhkan perencanaan engineering yang presisi, simulasi menyeluruh, serta koordinasi konstruksi yang sangat ketat perancang, pelaksana, pemasok peralatan, dan tim keselamatan. Setiap keputusan harus mempertimbangkan kinerja struktur, keandalan mekanisme, dan keamanan pengguna stadion.

Pelaksanaan proyek megastruktur atap Jakarta International Stadium (JIS) memanfaatkan ekosistem digital Bentley untuk menghubungkan analisis struktur dengan perencanaan dan simulasi konstruksi. Pemanfaatan teknologi ini membantu tim WEGE mengevaluasi rancangan serta urutan pekerjaan secara lebih terukur sebelum pekerjaan fisik berlangsung. Dengan demikian, keputusan teknis dapat ditinjau berdasarkan representasi digital proyek, sementara potensi persoalan yang berkaitan dengan struktur dan pelaksanaan dapat dikenali pada tahap perencanaan.

Dalam analisis struktur, STAAD.Pro digunakan untuk mengkaji perilaku dan kebutuhan struktur megastruktur atap. Hasil analisis tersebut mendukung pengoptimalan beban angkat hingga 7 persen. Pengoptimalan ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan pekerjaan pengangkatan komponen, karena besaran beban yang perlu ditangani dapat diperhitungkan melalui analisis digital sebelum diterapkan di lapangan. Proses tersebut membantu mengurangi ketidakpastian dalam pelaksanaan pekerjaan dan memperkuat dasar pengambilan keputusan teknis.

Sementara itu, SYNCHRO 4D dimanfaatkan untuk melakukan simulasi konstruksi dengan menghubungkan model proyek dan waktu pelaksanaan. Melalui simulasi ini, lebih dari 100 benturan spasial atau clashes berhasil diidentifikasi dan diselesaikan sebelum konstruksi fisik dimulai. Penyelesaian benturan sejak tahap digital mengurangi risiko munculnya persoalan ketika pekerjaan telah berjalan, sehingga koordinasi pelaksanaan dapat disiapkan dengan lebih baik. Penerapan analisis dan simulasi tersebut turut mendukung penyelesaian megastruktur tiga bulan lebih cepat dari jadwal. Rangkaian ini menunjukkan bahwa teknologi digital digunakan bukan sekadar sebagai alat pemodelan, melainkan sebagai bagian dari pengendalian risiko dan pengaturan pekerjaan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.

Pencapaian Jakarta International Stadium (JIS) tidak hanya terlihat pada keberhasilan rekayasa struktur atapnya, tetapi juga pada penerapan prinsip desain berwawasan lingkungan. Pendekatan tersebut menjadikan JIS sebagai stadion pertama yang memperoleh sertifikat platinum green building. Pengakuan ini mencerminkan komitmen proyek terhadap efisiensi sumber daya, pengendalian dampak lingkungan, serta penciptaan bangunan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi penggunanya.

Penerapan rekayasa digital secara komprehensif berperan penting dalam mencapai kinerja tersebut. Pemodelan dan koordinasi digital membantu tim memvisualisasikan detail pekerjaan, mengurangi potensi benturan antarkomponen, serta meningkatkan ketepatan perencanaan dan pelaksanaan. Efisiensi itu menghasilkan penghematan sekitar 753.000 jam kerja. Pada saat yang sama, optimalisasi desain dan proses konstruksi menurunkan estimasi emisi karbon tahunan sebesar 2.300 ton CO2. Pengendalian material juga mampu menekan limbah konstruksi hingga berada di bawah 7 persen.

Aspek keselamatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari standar pelaksanaan proyek. Perencanaan presisi, pengawasan berlapis, identifikasi risiko, serta penerapan protokol keselamatan yang ketat mendukung terciptanya lingkungan kerja yang terkendali. Konsistensi tersebut mengantarkan proyek JIS memperoleh penghargaan zero accident setelah mencatat 2,5 juta jam kerja aman selama masa konstruksi. Capaian ini menunjukkan bahwa produktivitas dan keselamatan dapat berjalan seiring melalui disiplin operasional serta kolaborasi seluruh pihak.

Tomo Dwi Hasputro menyampaikan bahwa pencapaian tersebut memperkuat posisi WEGE sebagai pelopor keunggulan konstruksi digital di Indonesia. Menurutnya, inovasi perusahaan harus selalu ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan, bukan semata-mata mengejar kecepatan atau efisiensi biaya. Arah pengembangan WEGE selanjutnya adalah menghadirkan infrastruktur dan solusi bangunan hijau yang rendah emisi, efisien, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan pengalaman JIS, transformasi digital dapat menjadi fondasi untuk membangun proyek yang lebih aman, terukur, dan bertanggung jawab.