JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tujuh perusahaan berada dalam pipeline pencatatan saham hingga 2 Oktober 2026. Perusahaan-perusahaan tersebut masuk dalam antrean untuk melangsungkan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia. Catatan ini menunjukkan bahwa terdapat tujuh calon emiten yang sedang berada dalam proses menuju pencatatan saham di BEI.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menyampaikan bahwa jumlah perusahaan dalam pipeline IPO tersebut mencapai tujuh perusahaan. Keterangan itu menempatkan perkembangan antrean pencatatan saham sebagai informasi utama mengenai aktivitas calon emiten di Bursa Efek Indonesia hingga awal Oktober 2026.
Dengan demikian, pipeline IPO BEI hingga 2 Oktober 2026 terdiri atas tujuh perusahaan. Mereka tercatat sebagai perusahaan yang berada dalam antrean untuk menjalankan penawaran umum perdana saham sebelum melangsungkan pencatatan di bursa. Jumlah tersebut menjadi gambaran mengenai perusahaan yang sedang berada dalam pipeline pencatatan saham di pasar modal Indonesia.
Pernyataan Saidu Solihin memberikan penegasan mengenai jumlah calon emiten yang tercatat dalam pipeline tersebut. Hingga tanggal yang disebutkan, BEI mencatat tujuh perusahaan dalam antrean IPO, sehingga informasi mengenai pipeline pencatatan saham menjadi fokus perkembangan pasar modal Indonesia. Data ini merujuk pada kondisi pipeline IPO yang dicatat Bursa Efek Indonesia sampai 2 Oktober 2026.
Berdasarkan klasifikasi dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK.04/2017, tujuh perusahaan yang berada dalam antrean penawaran umum perdana saham memiliki komposisi skala aset yang beragam. Pengelompokan ini memberikan gambaran mengenai kapasitas ekonomi masing-masing perusahaan sebelum memasuki pasar modal, sekaligus menunjukkan bahwa calon emiten tidak hanya berasal dari perusahaan dengan ukuran aset yang sama. Dari keseluruhan daftar tersebut, dua perusahaan tercatat memiliki aset dalam skala besar, yakni lebih dari Rp250 miliar. Kelompok ini mencerminkan perusahaan dengan basis aset relatif kuat dan kapasitas usaha yang lebih besar dibandingkan kelompok lainnya.
Sementara itu, tiga perusahaan termasuk dalam kategori skala menengah. Perusahaan dalam kelompok ini memiliki aset mulai dari Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Jumlah tersebut menjadi bagian terbesar dalam komposisi berdasarkan skala aset, yang menunjukkan cukup beragamnya ukuran perusahaan yang memanfaatkan akses pendanaan melalui bursa. Adapun dua perusahaan lainnya berada pada kategori skala kecil, dengan nilai aset di bawah Rp50 miliar. Kehadiran perusahaan berskala kecil memperlihatkan bahwa rencana IPO juga dapat menjadi pilihan bagi entitas dengan aset yang masih terbatas, selama memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku.
Ditinjau dari bidang usaha, sektor kesehatan mendominasi daftar tersebut dengan empat perusahaan. Komposisi ini menegaskan besarnya representasi bisnis kesehatan di perusahaan yang sedang mempersiapkan aksi korporasi di pasar modal. Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor energi, yang mencakup bidang usaha strategis dan memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan ekonomi nasional. Satu perusahaan lainnya berasal dari sektor industri. Dengan demikian, distribusi tujuh perusahaan tersebut terdiri atas empat perusahaan kesehatan, dua perusahaan energi, dan satu perusahaan industri. Perbedaan sektor serta skala aset ini memberikan keragaman profil bagi calon emiten yang mengantre di Bursa Efek Indonesia hingga Oktober 2026.
Hingga 2 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tujuh perusahaan yang telah melangsungkan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Seluruh aksi korporasi tersebut menambah pilihan investasi bagi masyarakat sekaligus memperluas sumber pendanaan perusahaan melalui pasar modal. Dari tujuh IPO yang terlaksana sepanjang tahun berjalan, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.
Realisasi tersebut menjadi bagian dari perkembangan berkelanjutan jumlah emiten di pasar modal Indonesia. Setiap perusahaan yang mencatatkan sahamnya melalui IPO turut memperbesar basis perusahaan terbuka dan memperkaya variasi sektor yang tersedia bagi investor. Selain memperoleh pendanaan, perusahaan tercatat juga memasuki ekosistem pasar modal yang menuntut keterbukaan informasi, pelaporan berkala, serta pemenuhan ketentuan yang berlaku di BEI dan otoritas terkait.
Dengan tambahan tujuh perusahaan tersebut, jumlah perusahaan yang telah tercatat di pasar modal Indonesia mencapai 963 perusahaan. Angka ini mencakup perusahaan dari berbagai bidang usaha yang memanfaatkan pasar modal untuk mendukung kebutuhan pendanaan, pengembangan bisnis, maupun peningkatan tata kelola perusahaan. Pertumbuhan jumlah perusahaan tercatat juga menunjukkan bahwa aktivitas pencatatan saham tetap menjadi salah satu komponen penting dalam perkembangan pasar modal nasional.
BEI telah menetapkan sasaran untuk mencapai 1.100 perusahaan tercatat pada 2030. Target tersebut menjadi bagian dari arah pengembangan pasar modal Indonesia dalam memperluas jumlah perusahaan yang terhubung dengan sumber pendanaan publik. Pencapaian target itu akan melibatkan proses pencatatan perusahaan baru, termasuk melalui IPO, serta dukungan terhadap perusahaan yang memenuhi persyaratan untuk menjadi emiten. Data per 2 Oktober 2026 memperlihatkan posisi jumlah perusahaan tercatat berada pada 963 perusahaan, sementara capaian IPO tahun berjalan mencatat penghimpunan dana sebesar Rp2,16 triliun dari tujuh perusahaan.
Selain antrean penawaran umum perdana saham, perkembangan pasar modal Indonesia hingga 2 Oktober 2026 juga terlihat dari aktivitas penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 135 emisi EBUS yang diterbitkan oleh 62 penerbit. Dari berbagai penerbitan tersebut, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp132,98 triliun. Data ini menunjukkan bahwa instrumen pendanaan berbasis utang dan sukuk tetap menjadi salah satu pilihan penting bagi perusahaan maupun institusi yang membutuhkan sumber pembiayaan melalui pasar modal.
Pipeline EBUS juga masih mencerminkan potensi aktivitas penerbitan dalam periode berikutnya. BEI mencatat terdapat 24 emisi dari 17 penerbit EBUS yang masih berada dalam antrean. Penerbit yang masuk dalam pipeline tersebut berasal dari berbagai sektor, sehingga rencana penerbitannya tidak terpusat pada satu bidang usaha tertentu. Keberagaman sektor ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pendanaan melalui obligasi dan sukuk mencakup perusahaan dengan karakteristik bisnis yang berbeda. Namun, realisasi setiap emisi tetap bergantung pada kesiapan dokumen, kondisi pasar, serta pemenuhan ketentuan dan proses yang berlaku di BEI dan otoritas terkait.
Di sisi lain, aksi korporasi berupa rights issue atau hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) juga mencatat perkembangan hingga tanggal yang sama. Sebanyak 15 perusahaan telah melaksanakan aksi HMETD dengan total nilai mencapai Rp16,23 triliun. Aksi tersebut dapat digunakan perusahaan untuk memperoleh tambahan modal, memperkuat struktur permodalan, atau mendukung kebutuhan ekspansi dan strategi bisnis. Selain 15 perusahaan yang telah merealisasikan rights issue, masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang berada dalam antrean untuk melaksanakan aksi serupa. Dengan demikian, pipeline pasar modal hingga Oktober 2026 tidak hanya mencakup calon emiten saham, tetapi juga penerbitan EBUS dan aksi penambahan modal melalui HMETD.





