JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Menurut dia, kebutuhan ayam untuk program MBG turut menambah penyerapan di wilayah yang menjadi lokasi pelaksanaan program, meskipun pengaruhnya tidak sama di setiap daerah. Ketika biaya produksi meningkat, ruang penyesuaian harga menjadi lebih besar, terutama di sentra yang menghadapi tekanan pasokan. JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Daging ayam ras kembali tercatat memberikan andil terhadap inflasi nasional sepanjang September.
Keterangan yang tercatat menyebut Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Hermawan, mengatakan peningkatan permintaan menjadi salah satu faktor yang mendorong harga ayam ras.
Data lain dalam laporan menunjukkan Keterangan itu disampaikan di Jakarta dan dikutip pada Sabtu (3/10). Berdasarkan pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 2 Oktober, rata-rata harga daging ayam ras secara nasional tercatat sebesar Rp40.961 per kilogram. Jika dibandingkan dengan sepekan sebelumnya, ketika harga daging ayam ras berada di angka Rp41.218 per kilogram, harga per 2 Oktober turun Rp257 per kilogram. Secara persentase, penurunan tersebut mencapai 0,62 persen. Urutan data ini menunjukkan bahwa rata-rata harga nasional bergerak dari Rp41.218 per kilogram pada sepekan sebelumnya menjadi Rp40.961 per kilogram pada pemantauan terbaru.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang tekanan harga pangan pada periode tersebut. Pergerakan harga ayam dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat, termasuk kebutuhan untuk memenuhi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Selain permintaan, harga pakan ternak juga turut memengaruhi kondisi komoditas tersebut. Pakan merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi ayam, sehingga perubahan harganya dapat berdampak terhadap harga jual di tingkat peternak maupun konsumen. Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan nasional, tetapi juga oleh kelancaran distribusi, kapasitas produksi lokal, serta keseimbangan pasokan dan kebutuhan di masing-masing daerah.
Sejumlah daerah masih mencatat harga ayam yang relatif murah, sedangkan fluktuasi lebih terasa di wilayah tertentu yang pasokan atau produksinya terbatas. Kebijakan ini diarahkan untuk mendukung distribusi ayam dari daerah produsen menuju wilayah yang bukan sentra produksi, terutama ketika daerah tersebut mengalami kekurangan pasokan atau perubahan harga. Persoalan tersebut semakin terasa di wilayah yang tidak memiliki produksi ayam ras yang memadai. Hermawan menyatakan bahwa anggaran Bapanas masih tersedia dan akan digunakan untuk membantu penyerapan produksi berlebih dari wilayah produsen. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi kondisi ketika pasokan melimpah di satu wilayah, sementara daerah lain menghadapi kekurangan. Melalui pemanfaatan anggaran yang tersedia, Bapanas berupaya mendukung kelancaran distribusi ayam sekaligus membantu pemerintah daerah menjaga kestabilan harga pangan strategis di wilayah masing-masing. Data Bapanas itu mencatat posisi harga daging ayam ras secara nasional, sehingga angka Rp40.961 per kilogram merupakan rerata pemantauan, bukan harga yang berlaku seragam di setiap wilayah. Hermawan menegaskan, kenaikan harga ayam ras belum terjadi secara menyeluruh dan masih berada dalam batas yang dinilai wajar. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah antisipasi untuk mencegah fluktuasi harga ayam yang berlebihan melalui subsidi biaya angkut. Dengan dukungan biaya pengiriman, arus pasokan diharapkan dapat berlangsung lebih lancar sehingga kebutuhan masyarakat di daerah tujuan tetap terpenuhi. Biaya angkut dari luar daerah kerap menjadi kendala bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan pokok strategis. Ketika pasokan lokal terbatas, daerah perlu mendatangkan ayam dari sentra produksi, tetapi ongkos distribusi dapat menambah beban biaya dan memengaruhi harga di tingkat konsumen. Karena itu, subsidi distribusi dipandang sebagai salah satu upaya untuk membantu mengurangi hambatan tersebut tanpa mengabaikan kebutuhan penyaluran antardaerah. Produksi tersebut selanjutnya dapat disalurkan ke daerah-daerah yang membutuhkan, sehingga keseimbangan pasokan antardaerah lebih terjaga. Angka tersebut menjadi gambaran harga pada saat pemantauan dilakukan, ketika permintaan terhadap ayam disebut meningkat. Namun, peningkatan permintaan itu tidak diikuti kenaikan pada rata-rata harga nasional dalam catatan Bapanas. Harga justru berada pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan periode pembanding. Perbandingan dengan sebulan sebelumnya juga memperlihatkan penurunan. Pada periode tersebut, harga daging ayam ras tercatat sebesar Rp41.300 per kilogram. Dengan demikian, harga per 2 Oktober lebih rendah Rp339 per kilogram, atau turun 0,82 persen secara persentase. Rangkaian angka tersebut memperlihatkan bahwa rata-rata harga nasional pada waktu pemantauan mengalami penurunan baik dalam perbandingan mingguan maupun bulanan, meskipun permintaan meningkat. Perbandingan harga terbaru, harga sepekan sebelumnya, dan harga sebulan sebelumnya disajikan untuk memperjelas perubahan yang tercatat hingga 2 Oktober. Berdasarkan data tersebut, tingkat harga terbaru berada di bawah kedua angka pembanding yang digunakan. Perubahan harga daging ayam ras tercermin dalam pergerakan inflasi komoditas tersebut sepanjang 2026. Berdasarkan data yang disebutkan, daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 6,20 persen pada April 2026. Penurunan harga kemudian berlanjut pada bulan berikutnya, ketika komoditas yang sama kembali mengalami deflasi sebesar 3,83 persen pada Mei 2026. Perubahan tersebut menunjukkan adanya penurunan harga pada tingkat konsumen selama dua bulan berturut-turut. Perkembangan harga juga terlihat dari indeks harga yang diterima petani unggas berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Maret 2026, indeks tersebut berada di level 138,19. Angka itu kemudian turun menjadi 132,22 pada April dan kembali menurun menjadi 130,57 pada Mei. Penurunan berlanjut pada Juni, saat indeks tercatat sebesar 127,23, kemudian menjadi 127,02 pada Juli 2026. Setelah mencapai level terendah dalam rangkaian data tersebut pada Juli, indeks harga yang diterima petani unggas kembali meningkat pada Agustus 2026 menjadi 132,43. Kenaikan berlanjut pada September, ketika indeks mencapai 134,99. Dengan demikian, data BPS memperlihatkan perubahan indeks yang bergerak turun sejak Maret hingga Juli, lalu mengalami peningkatan pada dua bulan berikutnya. Fluktuasi harga daging ayam ras dan perubahan indeks tersebut berdampak terhadap peternak unggas dalam negeri. Deflasi mencerminkan penurunan harga komoditas, sementara indeks harga yang diterima petani menggambarkan perubahan tingkat harga yang diperoleh peternak dari hasil produksinya. Kedua indikator ini menjadi bagian dari gambaran perubahan kondisi harga pada usaha peternakan unggas selama periode tersebut.







