JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 menghadirkan beragam produk kuliner tradisional dari dua kawasan penting, yakni Joglosemar dan Jakarta. Perhelatan ini mempertemukan produk gastronomi dari Yogyakarta, Solo, Semarang, serta Jakarta dalam satu ruang promosi. Kehadiran berbagai kuliner tersebut menjadi gambaran kekayaan gastronomi Indonesia yang tumbuh dari keragaman daerah, tradisi, dan karakter pangan lokal.
Kegiatan WIG 2026 diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata bersama Indonesia Gastronomy Network (IGN). Melalui penyelenggaraan ini, kuliner tradisional dari wilayah Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Jakarta ditampilkan sebagai bagian dari kekayaan gastronomi nasional. Setiap kawasan hadir dengan produk yang merepresentasikan identitas kuliner masing-masing, sekaligus memperlihatkan luasnya ragam pangan yang berkembang di Indonesia.
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung melalui WIG Artisan Market 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, hingga 4 Oktober 2026. Lokasi ini menjadi tempat bertemunya beragam produk kuliner tradisional dari kawasan Joglosemar dan Jakarta. Pameran tersebut memberikan ruang bagi produk-produk lokal untuk hadir dalam satu agenda gastronomi yang mempertemukan sejumlah wilayah dengan latar kuliner yang berbeda.
Penggabungan kuliner dari Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Jakarta dalam WIG 2026 menegaskan posisi produk tradisional sebagai bagian penting dari gastronomi Indonesia. Ragam yang ditampilkan tidak hanya berasal dari satu kota atau satu kawasan, melainkan mencakup kuliner dari wilayah Joglosemar dan ibu kota. Dengan demikian, WIG Artisan Market 2026 menjadi ruang promosi bagi kekayaan kuliner lokal yang berasal dari berbagai daerah tersebut.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menekankan bahwa kekayaan lokal tidak seharusnya berhenti sebagai potensi yang hanya dikenali, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk yang mampu memasuki pasar. Pandangan tersebut menempatkan bahan pangan, resep, teknik pengolahan, dan cerita budaya daerah sebagai modal ekonomi yang dapat dikelola secara lebih terarah. Dengan pendekatan ini, kekayaan gastronomi dari berbagai wilayah berpeluang tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan, menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata.
Pengembangan produk gastronomi membutuhkan proses yang menghubungkan sumber daya lokal dengan kebutuhan dan selera konsumen. Bahan baku yang berasal dari daerah dapat diolah melalui inovasi, pengemasan yang lebih menarik, peningkatan mutu, serta kreativitas para pelaku usaha. Perpaduan tersebut membuat produk tidak hanya memiliki keunikan berdasarkan asalnya, tetapi juga daya tarik dan daya saing di pasar yang lebih luas. Produk lokal pun dapat hadir sebagai pilihan konsumsi, oleh-oleh, maupun bagian dari pengalaman wisata yang memperkenalkan identitas suatu daerah.
Upaya itu juga menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha berbasis gastronomi dapat memberikan manfaat berlapis. Ketika bahan baku lokal diserap secara konsisten, rantai pasok daerah ikut bergerak, peluang kerja terbuka, dan pendapatan masyarakat berpotensi meningkat. Pelaku usaha dapat membangun merek yang berakar pada budaya setempat, sementara sektor pariwisata memperoleh produk pendukung yang memperkaya pengalaman wisatawan. Karena itu, pengolahan kekayaan lokal perlu memperhatikan kualitas, kesinambungan pasokan, serta kemampuan usaha untuk berkembang dalam jangka panjang.
Dalam WIG 2026, terdapat 21 tenant dari wilayah yang terlibat dalam pengolahan produk dengan memaksimalkan potensi lokal. Para tenant tersebut menerapkan prinsip keberlanjutan dalam proses pengembangan produknya, baik melalui pemanfaatan bahan baku setempat maupun pengelolaan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa gastronomi lokal dapat menjadi sarana untuk mengangkat identitas daerah sekaligus membentuk produk komersial yang relevan, inovatif, dan mendukung kemajuan industri pariwisata.
Mazaraat Artisan Cheese menjadi contoh konkret bagaimana gastronomi berkelanjutan dapat bertumpu pada sumber daya lokal. Produsen ini memanfaatkan susu yang diperoleh dari peternak di sekitar wilayah produksinya untuk mengolah beragam keju organik. Pemilihan bahan baku tersebut bukan sekadar strategi untuk menjaga cita rasa, tekstur, dan mutu produk, melainkan juga bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan komunitas pemasok. Dengan menggunakan susu lokal, nilai ekonomi dapat berputar di daerah dan rantai pasok menjadi lebih terukur, transparan, serta dekat dengan sumbernya.
Praktik tersebut turut mendorong peternak untuk beralih menuju pola peternakan organik. Perubahan itu membutuhkan penyesuaian dalam pemberian pakan, perawatan hewan, dan pengelolaan lingkungan, tetapi dapat menciptakan manfaat jangka panjang bagi produsen maupun peternak. Susu berkualitas menjadi fondasi penting bagi keju yang memiliki karakter kuat dan konsisten. Pada saat yang sama, penerapan proses yang memperhatikan keberlanjutan meningkatkan daya tarik serta daya saing produk, terutama ketika konsumen semakin mempertimbangkan asal-usul bahan, metode produksi, dan dampak sosial di balik makanan yang mereka pilih.
Keju Mazaraat Artisan Cheese telah menjangkau pasar domestik di berbagai daerah, termasuk melalui distribusi ke hotel dan restoran. Produk tersebut juga berhasil memasuki pasar luar negeri, menunjukkan bahwa pengolahan bahan lokal dengan standar kualitas yang baik dapat memiliki daya saing di tingkat internasional. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa gastronomi tidak berhenti pada rasa, tetapi juga mencakup cerita, proses, dan hubungan dengan wilayah asalnya. Sejalan dengan narasi Menteri, kisah di balik sebuah produk kuliner dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Narasi itu memberi kesempatan kepada mereka untuk menikmati pengalaman yang autentik, berkualitas, dan berakar pada kehidupan masyarakat setempat.
Pameran WIG Artisan Market menjadi bagian dari upaya Kementerian Pariwisata untuk membangun ekosistem gastronomi Indonesia yang berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan produk pangan dan minuman dari pelaku usaha lokal, tetapi juga memperkenalkan kekayaan bahan baku, keterampilan pengolahan, serta nilai budaya yang melekat pada setiap produk. Melalui ruang pertemuan produsen dan masyarakat, pameran tersebut mendorong apresiasi terhadap hasil gastronomi dari kawasan Joglosemar dan Jakarta.
Widiyanti mengajak masyarakat untuk datang langsung ke lokasi dan melihat beragam produk yang ditampilkan. Kehadiran pengunjung diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat karya para pelaku gastronomi, memahami karakter bahan yang digunakan, serta menemukan pilihan produk lokal yang memiliki kualitas dan keunikan tersendiri. Pengunjung juga dapat menyaksikan bagaimana kekayaan pangan Indonesia dikembangkan melalui pendekatan yang kreatif dan tetap berakar pada sumber daya setempat.
Ragam produk yang tersedia mencakup beras dengan aroma khas, rempah-rempah pilihan, madu murni, dan gula kelapa organik. Pameran ini turut menawarkan tempe berkualitas tinggi serta kue kering artisanal yang dibuat dengan perhatian terhadap bahan dan proses pengolahan. Bagi pengunjung yang ingin mengenal inovasi minuman, tersedia pula minuman fermentasi berupa kombucha dan soda artisan. Keberagaman tersebut memperlihatkan luasnya potensi bahan baku lokal untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.
Kegiatan ini melibatkan 13 kolaborator yang menghadirkan rangkaian aktivitas edukatif bagi pengunjung. Mereka menyelenggarakan lokakarya, sesi diskusi, dan demonstrasi memasak sebagai sarana berbagi pengetahuan mengenai produk, bahan, serta teknik pengolahan. Melalui aktivitas tersebut, masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan para pelaku, mengajukan pertanyaan, dan memperoleh pengalaman yang lebih mendalam selama mengunjungi pameran.




