GORONTALO, GORONTALO — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur memastikan pasokan jagung untuk kebutuhan pakan ternak di wilayah tersebut tetap aman. Kepastian itu disampaikan di tengah percepatan penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang ditujukan untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga dan pasokan yang lebih terjaga.
Hingga awal Oktober 2026, realisasi penyaluran SPHP jagung di Jawa Timur telah mencapai 100.699 ton. Jumlah tersebut setara dengan 75,22 persen dari total alokasi yang ditetapkan, yakni 133.867 ton. Jagung itu disalurkan kepada peternak sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga kesinambungan usaha peternakan sekaligus mengendalikan tekanan biaya produksi yang dapat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan pakan.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu A, menyatakan bahwa stok jagung yang dikelola Bulog masih memadai untuk memenuhi sisa kebutuhan penyaluran. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa percepatan distribusi tidak mengurangi kemampuan Bulog dalam menjaga cadangan untuk kebutuhan berikutnya. Bulog juga terus memantau perkembangan permintaan dari peternak serta pelaksanaan distribusi di berbagai wilayah Jawa Timur agar bantuan dapat diterima sesuai sasaran.
Ketersediaan stok menjadi faktor penting bagi peternak, terutama karena jagung merupakan komponen utama dalam pakan unggas dan sejumlah komoditas ternak lainnya. Dengan pasokan yang terjaga, peternak memiliki kepastian lebih besar dalam merencanakan produksi dan mengelola biaya operasional. Penyaluran yang telah melampaui tiga perempat alokasi menunjukkan bahwa program SPHP berjalan secara aktif, sementara sisa kuota masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan peternak hingga tahap berikutnya. Bulog memastikan proses tersebut terus dikawal agar distribusi berlangsung lancar, tepat sasaran, dan mendukung stabilitas pakan ternak di Jawa Timur.
Persediaan jagung pakan di Jawa Timur berada dalam kondisi terjaga dengan dukungan stok yang tersedia di gudang Bulog. Saat ini, jumlah jagung yang telah berada di gudang mencapai 6.437 ton. Ketersediaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pasokan bagi peternak, terutama di tengah kebutuhan jagung pakan yang terus harus dipenuhi melalui penyaluran secara terukur.
Stok di gudang akan diperkuat oleh pasokan tambahan yang sedang dikirim dari sejumlah daerah sentra produksi. Pengiriman tersebut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat. Kehadiran pasokan dari berbagai wilayah produksi itu memperlihatkan adanya dukungan distribusi antardaerah untuk memperkuat ketersediaan jagung pakan di Jawa Timur.
Total jagung yang masih dalam perjalanan dari daerah-daerah tersebut mencapai 35.804 ton. Dengan demikian, selain mengandalkan stok yang sudah tersedia di gudang, Bulog juga memiliki pasokan tambahan dalam rangkaian distribusi yang perlu terus dipantau pergerakannya. Kombinasi stok gudang dan pengiriman dari sentra produksi menjadi dasar bagi terjaganya kesiapan pasokan jagung pakan di wilayah tersebut.
Langgeng menyampaikan keterangan tersebut pada Kamis, 8 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa perhatian Bulog saat ini diarahkan pada percepatan pergerakan stok dan penyaluran kepada peternak yang membutuhkan. Fokus itu mencakup pengelolaan stok yang telah tersedia maupun pasokan yang masih berada dalam perjalanan, sehingga penyaluran dapat dilakukan kepada penerima sesuai kebutuhan.
Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur mengimbau peternak agar tidak mencemaskan ketersediaan jagung pakan untuk memenuhi kebutuhan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Stok jagung yang saat ini dikelola dinilai cukup untuk memenuhi sisa kebutuhan program tersebut. Dengan pengelolaan stok dan pemantauan distribusi secara berkelanjutan, Bulog memastikan pasokan tetap tersedia bagi peternak yang membutuhkan.
Bulog Jatim juga akan terus mempercepat proses distribusi agar jagung yang telah tersedia dapat segera diterima oleh penerima sesuai kebutuhan. Percepatan ini dilakukan dengan memperkuat koordinasi bersama berbagai pihak, termasuk mitra penyalur dan perwakilan peternak di daerah. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga kelancaran pasokan serta mengurangi kekhawatiran mengenai keterlambatan penerimaan jagung pakan.
Dalam program SPHP, jagung pakan disalurkan dengan harga Rp5.000 per kilogram. Harga tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk membantu menjaga biaya produksi peternakan, terutama bagi peternak yang menghadapi tekanan harga bahan pakan. Penyaluran dengan harga yang telah ditetapkan juga diharapkan mendukung kestabilan usaha peternakan dan menjaga ketersediaan produk peternakan bagi masyarakat.
Mekanisme distribusi dilakukan melalui koperasi dan asosiasi peternak yang telah menjadi mitra Bulog. Penggunaan jaringan mitra tersebut memungkinkan penyaluran berlangsung lebih teratur karena penerima dan kebutuhan dapat dihimpun terlebih dahulu. Koperasi maupun asosiasi berperan dalam menyampaikan data kebutuhan, mengoordinasikan pengambilan, serta memastikan jagung diterima oleh peternak yang menjadi sasaran program.
Melalui pola distribusi tersebut, penyaluran jagung SPHP diarahkan agar lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kesenjangan antarwilayah. Bulog Jatim akan melanjutkan komunikasi dengan mitra peternak untuk menyesuaikan volume serta jadwal pengiriman. Peternak yang membutuhkan jagung dapat berkoordinasi melalui koperasi atau asosiasi mitra agar permintaan tercatat dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain menjalankan penyaluran jagung untuk kebutuhan pakan, Bulog tetap melaksanakan penugasan pemerintah berupa pengadaan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP). Pengadaan tersebut dilakukan dari produksi petani dalam negeri sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan pemerintah terkait ketersediaan cadangan jagung. Dengan penugasan ini, jagung hasil produksi domestik dapat masuk ke dalam mekanisme pengadaan pemerintah sesuai ketentuan harga dan mutu yang telah ditetapkan.
Pada 2026, pemerintah menetapkan target pengadaan CJP sebesar 1 juta ton. Target tersebut menjadi acuan dalam pelaksanaan penyerapan jagung produksi petani oleh Bulog. Pengadaan dilakukan dengan memperhatikan kadar air jagung serta pemenuhan standar kualitas yang dipersyaratkan pada saat komoditas diterima di gudang Bulog.
Ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk jagung dibedakan berdasarkan kadar air dan lokasi pemenuhan persyaratan. Jagung dengan kadar air 18–20 persen dibeli dengan harga Rp5.500 per kilogram di tingkat petani. Sementara itu, jagung dengan kadar air maksimal 14 persen dan memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan dihargai Rp6.400 per kilogram di gudang Bulog.
Perbedaan harga tersebut menjadi bagian dari ketentuan pengadaan CJP yang diterapkan berdasarkan spesifikasi mutu jagung. Petani memasok jagung sesuai persyaratan kadar air, sedangkan penerimaan di gudang Bulog dilakukan untuk komoditas yang memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Melalui penugasan ini, Bulog menjalankan pengadaan cadangan jagung pemerintah dengan mengacu pada target 1 juta ton pada 2026 dan ketentuan HPP yang berlaku.

