Sumbawa | PT Pertamina Patra Niaga memperkuat pemberdayaan masyarakat pesisir melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat. Program yang diresmikan sejak 2024 ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pendidikan anak sekaligus mendorong kepedulian terhadap lingkungan dan kemandirian ekonomi masyarakat setempat. Melalui pendekatan terpadu, kegiatan tidak hanya berfokus pada proses belajar, tetapi juga menghubungkan anak-anak dengan potensi alam serta aktivitas ekonomi lokal.
Program tersebut telah memberikan manfaat kepada 135 orang, yang terdiri atas anak-anak dan masyarakat pendukung di sekitar kawasan pesisir. Peninjauan langsung terhadap pelaksanaan program dilakukan dalam agenda kunjungan media pada Selasa (8/10/2026). Kunjungan ini memperlihatkan bagaimana dukungan perusahaan diterapkan melalui ruang belajar, kegiatan pengenalan ekosistem, serta berbagai aktivitas yang membangun keterampilan dan rasa tanggung jawab peserta.
Alam terbuka menjadi ruang belajar utama dalam Sekolah Alam Anak Pesisir. Anak-anak tidak hanya mengikuti pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan lingkungan pesisir, termasuk mengenali mangrove, menjaga kebersihan kawasan, dan memahami pentingnya keberlanjutan sumber daya alam. Pengalaman tersebut membantu pembelajaran menjadi lebih kontekstual karena materi dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Selain memperkuat aspek pendidikan, program ini memadukan pelestarian ekosistem dengan penguatan ekonomi lokal. Masyarakat didorong untuk melihat kawasan pesisir sebagai aset yang perlu dijaga sekaligus dikembangkan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, keberadaan sekolah alam diharapkan dapat membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, kepedulian lingkungan, dan kemampuan untuk berkontribusi terhadap kemandirian keluarga serta komunitasnya.
Konsep pembelajaran di Sekolah Alam Mangrove dibangun melalui pendekatan 3E, yaitu ekologi, edukasi, dan ekonomi. Ketiga unsur tersebut dipadukan agar anak-anak pesisir tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga memahami lingkungan tempat mereka tumbuh serta potensi yang dapat mendukung masa depan mereka.
Dalam aspek ekologi, anak-anak diajak mengenali ekosistem mangrove, memahami fungsi hutan bakau bagi pesisir, serta mengamati berbagai organisme yang hidup di dalamnya. Mereka juga terlibat langsung dalam kegiatan menanam dan merawat bakau. Pengalaman tersebut menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui aktivitas yang konkret dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kawasan pesisir, hutan mangrove, dan area terbuka dimanfaatkan sebagai sarana belajar interaktif. Anak-anak mempelajari lingkungan dengan mengamati, berdiskusi, dan bekerja bersama. Kegiatan belajar juga dilengkapi permainan tradisional yang mendorong interaksi sosial, ketangkasan, serta pengenalan terhadap budaya lokal. Melalui aktivitas kreatif, mereka diberi ruang untuk mengembangkan gagasan, imajinasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Unsur ekonomi diperkenalkan dengan mengajak anak mengenal peluang yang berasal dari daerah mereka. Potensi pesisir dan mangrove dipelajari sebagai sumber pengetahuan sekaligus peluang pengembangan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan cara ini, anak-anak memahami hubungan kelestarian alam, keterampilan, dan kemandirian.
VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati menyampaikan bahwa program tersebut bertujuan memperluas akses pendidikan sekaligus menumbuhkan kepedulian lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Pernyataan itu mencerminkan arah pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, pengalaman langsung, dan penguatan kapasitas anak pesisir melalui lingkungan mereka sendiri.
Pengembangan program Sekolah Alam Mangrove berlangsung secara bertahap sejak 2024 melalui penguatan fondasi kelembagaan dan sarana belajar. Pada tahap awal, penyelenggara membentuk kelompok sebagai ruang koordinasi bagi anak, pendamping, serta pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan pesisir. Pembentukan kelompok ini membantu membagi peran, menyusun pola kegiatan, dan mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Dengan dasar tersebut, program tidak berjalan sebagai kegiatan terpisah, melainkan mulai diarahkan menjadi sistem belajar yang terorganisasi.
Pada tahun yang sama, pembangunan rumah literasi dilakukan sebagai penyedia ruang belajar yang mendukung aktivitas membaca, berdiskusi, dan mengembangkan pengetahuan anak. Rumah literasi menjadi bagian penting dalam upaya memperluas akses terhadap bahan bacaan dan kegiatan edukatif di kawasan pesisir. Selain pembangunan sarana, penyelenggara juga melakukan benchmarking ke Anak Alam Learning House di Sumbawa, NTB. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari pengalaman pengelolaan program, pendekatan pembelajaran, serta pemanfaatan lingkungan sebagai sumber pendidikan yang relevan bagi anak.
Memasuki 2025, pengembangan diarahkan pada penyelesaian kurikulum 3E sebagai pedoman pembelajaran. Kurikulum ini disusun untuk memberikan arah yang lebih jelas bagi pelaksanaan kegiatan, termasuk penentuan materi, metode pendampingan, dan keterkaitan pembelajaran dengan pengalaman anak sehari-hari. Kehadiran pedoman tersebut membantu penyelenggara menjaga kesinambungan program, sekaligus membuka ruang bagi integrasi pendidikan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan pengenalan potensi ekonomi lokal.
Pada 2026, program memasuki tahap pengembangan media pembelajaran melalui modul Pertakid. Modul ini dirancang khusus sebagai media edukasi bagi siswa, sehingga materi dan aktivitas dapat disampaikan secara lebih terarah serta mudah diterapkan dalam proses belajar. Pengembangan modul memperkuat hubungan kurikulum dan praktik di lapangan, termasuk pembelajaran mengenai lingkungan mangrove, kehidupan masyarakat pesisir, serta potensi ekonomi yang dapat dikenali anak sejak dini. Setiap tahapan tersebut membangun unsur yang saling melengkapi dalam sistem pembelajaran yang terstruktur.
Gerakan pendidikan anak pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat, berawal dari kepedulian Zahit Idris terhadap banyaknya anak yang putus sekolah. Pada 2022, pendiri Komunitas Sanggar Belajar Jalan Pulang tersebut mulai menginisiasi kegiatan belajar bagi anak-anak di wilayah pesisir. Inisiatif itu lahir dari kegelisahan melihat keterbatasan akses pendidikan yang membuat sebagian anak kehilangan kesempatan untuk belajar secara layak dan berkelanjutan.
Pada tahap awal, kegiatan sanggar hanya diikuti delapan anak. Proses pembelajaran pun masih berlangsung dengan menumpang di musala, tanpa kurikulum resmi dan ruang kelas permanen. Meski sederhana, ruang tersebut menjadi titik awal tumbuhnya kegiatan belajar yang berupaya menjawab kebutuhan anak-anak setempat. Dari waktu ke waktu, sanggar berkembang sebagai wadah pendidikan nonformal yang mengutamakan kedekatan dengan kehidupan serta lingkungan masyarakat pesisir.
Zahit menjelaskan bahwa Sanggar Belajar Jalan Pulang tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai tempat pulang bagi anak-anak pesisir. Sanggar diharapkan menjadi ruang aman untuk memperoleh pengetahuan, membangun kepercayaan diri, mengembangkan kreativitas, dan mengenali potensi diri. Melalui berbagai aktivitas, anak-anak juga diajak mempelajari lingkungan sekitar serta memperluas wawasan mengenai alam, sehingga pendidikan tidak berhenti pada pembelajaran di dalam ruangan.
Penguatan gerakan tersebut turut didorong melalui sinergi dengan PT Pertamina Patra Niaga. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung pendidikan, sekaligus mengoptimalkan potensi lokal yang tersedia di Desa Cendi Manik. Dukungan bersama itu juga membuka peluang untuk memperluas jangkauan layanan pendidikan bagi anak-anak pesisir, memperkuat kapasitas sanggar, dan menghadirkan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan setempat. Di sisi lain, pendidikan berbasis lingkungan dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap perlindungan serta kelestarian kawasan pesisir.

