Samarinda | Dua peristiwa yang berbeda kembali mengarahkan perhatian pada pentingnya pengawasan orang dewasa terhadap anak. Di Samarinda, seorang anak berusia tiga tahun meninggal setelah jatuh dari balkon kamar hotel di lantai lima pada Rabu (14/10). Menurut keterangan polisi, saat kejadian orang tuanya sedang sarapan di restoran hotel. Informasi tersebut menggambarkan situasi yang berakhir tragis, sekaligus mengingatkan bahwa anak kecil membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka memahami bahaya.
Perhatian publik juga tertuju pada rekaman video yang beredar, yang memperlihatkan seorang anak menangis di dalam tenda di kawasan Gunung Prau, Wonosobo. Dalam keterangan yang menyertai peristiwa itu, orang tuanya disebut melanjutkan perjalanan menuju puncak. Rekaman tersebut memicu pembahasan mengenai keputusan meninggalkan anak tanpa pendamping di area kegiatan luar ruang. Namun, video yang beredar tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh keadaan, urutan kejadian, atau kondisi keluarga yang terlibat. Karena itu, penting untuk membedakan informasi yang telah disampaikan dari dugaan yang belum terkonfirmasi.
Kedua kejadian tersebut tidak memiliki rincian maupun akibat yang sama. Satu berujung pada kematian setelah seorang anak terjatuh dari balkon hotel, sedangkan yang lain menjadi perhatian melalui rekaman anak menangis di dalam tenda. Keduanya relevan sebagai konteks untuk membicarakan risiko ketika anak tidak berada dalam pengawasan yang memadai, bukan sebagai dasar untuk menyamakan situasi atau menetapkan kesalahan tanpa informasi lengkap. Risiko dapat muncul di tempat yang tampak aman sekalipun, dan lingkungan perjalanan memiliki tantangan tersendiri. Pengawasan perlu disesuaikan dengan usia anak, lokasi, serta potensi bahaya di sekitarnya. Orang dewasa juga perlu memastikan ada pendamping yang bertanggung jawab sebelum meninggalkan anak, termasuk untuk kegiatan singkat. Pembahasan atas peristiwa ini sebaiknya berfokus pada pencegahan dan perlindungan anak: memahami kebutuhan pengawasan, membuat keputusan yang mengutamakan keselamatan, serta mencari keterangan dari sumber tepercaya sebelum menyebarkan informasi. Dengan demikian, perhatian publik dapat membantu mendorong langkah yang lebih aman tanpa mengaburkan perbedaan setiap kejadian.Ketika anak terbangun sendirian di tempat yang tidak dikenalnya, rasa takut dapat muncul dengan sangat kuat. Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa anak belum tentu mampu memahami apa yang sedang terjadi atau menenangkan dirinya sebagaimana orang dewasa. Lingkungan asing, tidak adanya orang yang dikenal, dan ketidakpastian tentang keberadaan orang tua dapat membuat situasi terasa mengancam. Bagi anak, pengalaman itu bukan sekadar ditinggal sebentar; ia mungkin belum memiliki informasi yang cukup untuk mengetahui bahwa dirinya aman dan bantuan akan datang. Karena itu, respons emosionalnya perlu dipahami sesuai usia dan kemampuannya.
Reaksi awal anak saat mendadak ditinggal dapat berbeda-beda. Psikolog Sani Budiantini Hermawan menyebut kemungkinan anak merasa bingung, khawatir, takut, atau panik. Sebagian anak mungkin menangis, memanggil orang tua, mencari orang dewasa lain, atau kesulitan menjelaskan apa yang dirasakannya. Ada pula anak yang tampak diam dan tidak segera menunjukkan emosinya. Perilaku yang terlihat tidak selalu menggambarkan seberapa besar kebingungan atau ketakutan di dalam dirinya. Respons juga dapat dipengaruhi oleh usia, pengalaman sebelumnya, kondisi saat kejadian, serta apakah ada orang tepercaya yang segera hadir dan memberi penjelasan.
Peristiwa semacam ini dapat mengguncang rasa aman anak, terutama apabila ia tidak memahami alasan ditinggalkan atau tidak tahu kapan orang terdekat akan kembali. Namun, dampaknya tidak sama pada setiap anak dan tidak tepat menganggap bahwa semua anak pasti mengalami akibat jangka panjang. Kehadiran orang dewasa yang tenang, penjelasan sederhana dan jujur, serta kepastian bahwa anak berada dalam keadaan aman dapat membantu meredakan ketegangan. Orang tua atau pengasuh sebaiknya mendengarkan cerita anak tanpa menyalahkan maupun meremehkan perasaannya. Amati perubahan perilaku setelah kejadian, dan berikan ruang bagi anak untuk bertanya atau mengungkapkan ketakutannya. Jika kecemasan terus mengganggu keseharian, pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Pengalaman ditinggal tanpa pengawasan dapat memengaruhi cara anak berperilaku setelah kejadian, meskipun respons setiap anak tidak sama. Sebagian anak mungkin menjadi lebih lekat kepada orang tua atau pengasuh dan terus mencari keberadaan orang dewasa yang dipercaya. Mereka dapat merasa cemas ketika harus berpisah, enggan berada jauh dari orang dewasa, atau menunjukkan kemarahan saat ditinggalkan, termasuk dalam situasi yang sebelumnya terasa biasa. Perubahan lain dapat terlihat pada waktu tidur, misalnya anak sulit tidur sendiri, sering terbangun, atau membutuhkan pendampingan lebih lama. Respons tersebut dapat menjadi cara anak mencari rasa aman setelah menghadapi keadaan yang membingungkan atau menakutkan.
Sani menjelaskan bahwa pengalaman semacam itu dapat membuat anak kurang percaya atau merasa tidak aman terhadap orang dewasa. Perasaan tersebut tidak selalu disampaikan melalui kata-kata; pada sebagian anak, hal itu tampak sebagai kelekatan berlebihan, kebutuhan untuk terus diperhatikan, atau kesulitan menerima bahwa pengasuh akan kembali setelah pergi. Anak juga mungkin menjadi lebih terhadap lingkungan dan meminta kepastian berulang kali. Perilaku ini sebaiknya dipahami sebagai kemungkinan respons terhadap pengalaman, bukan langsung dianggap sebagai sikap manja atau bentuk pembangkangan. Pengamatan yang tenang membantu orang dewasa mengenali kebutuhan anak dan merespons tanpa mempermalukan atau menyalahkannya.
Besarnya dampak dipengaruhi oleh keadaan yang dialami anak, termasuk berapa lama ia ditinggalkan, apakah ia merasa terancam, serta apakah ada orang yang dapat memberi bantuan. Usia dan tingkat kematangan juga berperan: anak yang lebih kecil mungkin belum mampu memahami alasan pengasuh pergi atau mengungkapkan kecemasannya dengan jelas. Respons pengasuh setelah kejadian turut memengaruhi pemulihan. Mendengarkan cerita anak, mengakui perasaannya, menjelaskan apa yang terjadi dengan bahasa sesuai usia, dan menjaga rutinitas dapat membantu membangun kembali rasa aman. Vera mengingatkan bahwa satu kejadian tidak otomatis menyebabkan trauma berkepanjangan. Karena itu, perubahan perilaku perlu diamati dari waktu ke waktu, dengan mempertimbangkan konteks dan kebutuhan anak, bukan disimpulkan secara tergesa-gesa.
Setelah mengalami situasi yang menakutkan, anak mungkin membutuhkan waktu untuk kembali merasa tenang dan aman. Vera menyarankan agar orang tua membantu anak menenangkan diri serta memulihkan rasa aman setelah kejadian tersebut. Respons orang tua dapat dimulai dengan memberi perhatian dan menunjukkan bahwa anak tidak harus menghadapi perasaannya sendirian. Dengan suasana yang hangat, anak memiliki ruang untuk merasa didampingi ketika berusaha memahami pengalaman yang membuatnya takut.
Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku anak setelah pengalaman itu. Perubahan yang muncul sesaat tidak selalu berarti anak membutuhkan bantuan profesional, tetapi penting untuk melihat apakah perubahan tersebut menetap atau mulai mengganggu kegiatan sehari-hari. Perhatikan dampaknya pada keseharian anak, tanpa mengabaikan apa yang disampaikan atau ditunjukkan anak. Pengamatan ini membantu orang tua menentukan apakah dukungan yang diberikan di rumah sudah memadai atau anak memerlukan pendampingan lebih lanjut.
Jika perubahan perilaku berlangsung terus-menerus atau menghambat aktivitas sehari-hari, orang tua disarankan meminta bantuan psikolog. Dengan demikian, anak dapat memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya. Meminta bantuan bukan berarti mengabaikan peran orang tua; dukungan keluarga tetap penting selama anak menjalani proses pemulihan. Komunikasi yang hangat dan terbuka membantu menjaga hubungan dengan anak, sekaligus memberi kesempatan baginya untuk menyampaikan perasaan sesuai kenyamanan dan waktunya.
Baca juga: Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | HADR Latgabma SGS 2026 Perkuat Respons Terpadu Hadapi Bencana | Respons Cepat Karhutla Dekat IKN, TNI Gerakkan Helikopter Caracal untuk Water Bombing

