Rupiah Berbalik Menguat saat Dolar AS Kehilangan Tenaga, Won Pimpin Mata Uang Asia

Rupiah Tertinggal Saat Sejumlah Mata Uang Asia Menguat

Jakarta | Rupiah menguat pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.18 WIB, mata uang Indonesia naik 0,25% ke posisi Rp18.130 per dolar AS. Pergerakan tersebut membawa rupiah sedikit menjauh dari level terlemah sepanjang masa, yakni Rp18.175 per dolar AS, yang tercatat sehari sebelumnya. Meski demikian, nilai tukar masih berada dekat dengan rekor tersebut, sehingga penguatan pada awal perdagangan belum menghapus tekanan yang telah terlihat dalam beberapa waktu terakhir.

Perubahan kurs harian perlu dibaca sesuai waktu pengamatan. Angka Rp18.130 merupakan posisi pada pukul 09.18 WIB dan dapat bergerak kembali selama perdagangan berlangsung. Karena itu, penguatan pagi ini belum dengan sendirinya menunjukkan perubahan arah yang bertahan lama. Pelaku pasar biasanya mencermati perkembangan berikutnya, termasuk permintaan terhadap dolar, arus transaksi, serta informasi ekonomi yang dapat memengaruhi ekspektasi. Faktor-faktor itu membantu menjelaskan mengapa kurs dapat berubah meski selisih pergerakan dalam satu sesi tampak terbatas.

Bagi Indonesia, nilai rupiah penting karena memengaruhi harga transaksi lintas negara. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya dalam denominasi dolar bagi importir atau perusahaan yang memiliki kewajiban valuta asing, sementara penguatan dapat sedikit meringankan beban tersebut apabila berlangsung dan diteruskan ke harga transaksi. Dampaknya tidak selalu langsung sama bagi seluruh sektor maupun konsumen. Posisi kurs juga menjadi salah satu informasi yang diperhatikan dalam perencanaan bisnis dan pengelolaan anggaran, tetapi bukan satu-satunya penentu keputusan ekonomi.

Level terendah sehari sebelumnya tetap menjadi patokan penting untuk melihat sejauh mana rupiah pulih dalam perdagangan kali ini. Penguatan 0,25% menunjukkan perbaikan pada pengamatan pagi, tetapi tidak berarti rupiah telah kembali ke posisi yang lebih kuat secara luas. Perkembangan mata uang lain di kawasan merupakan konteks pasar regional yang terpisah; pergerakannya tidak terjadi di pasar domestik Indonesia dan tidak mengubah fakta bahwa data rupiah di atas merujuk pada perdagangan di dalam negeri.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan kecenderungan menguat terhadap dolar AS. Dari 10 mata uang yang dipantau, delapan mencatat kenaikan, satu mengalami pelemahan, dan satu bergerak stagnan. Sebaran ini menggambarkan bahwa tekanan terhadap dolar AS memberi ruang bagi sebagian besar mata uang regional untuk menguat, meskipun kinerja tiap mata uang berbeda. Won Korea Selatan memimpin penguatan, sementara dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang yang melemah pada perdagangan tersebut.

Won Korea Selatan naik 0,54% ke KRW1.334,4 per dolar AS, sekaligus mencatat kenaikan terbesar di mata uang yang dipantau. Ringgit Malaysia menempati posisi berikutnya dengan penguatan 0,27%. Keduanya menjadi penggerak utama pergerakan positif di kawasan. Kenaikan won yang lebih besar dibandingkan mata uang lain menunjukkan bahwa penguatannya menonjol dalam sesi ini, sedangkan ringgit turut mempertahankan arah positif dengan selisih yang lebih moderat.

Sejumlah mata uang Asia lainnya juga berada di zona hijau, meski kenaikannya relatif terbatas. Peso Filipina menguat 0,15%, yen Jepang naik 0,11%, dan dolar Singapura bertambah 0,10%. Yuan China mencatat kenaikan 0,06%, sementara dong Vietnam menguat 0,05%. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan tidak hanya terkonsentrasi pada dua mata uang teratas, tetapi juga tercermin pada beberapa mata uang lain di kawasan. Namun, besaran kenaikannya bervariasi dan sebagian berada di bawah 0,1%.

Di sisi lain, dolar Taiwan melemah 0,27% terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terlemah dalam kelompok yang dipantau. Baht Thailand tidak mengalami perubahan atau stagnan. Dengan demikian, pergerakan pasar Asia pada sesi ini didominasi penguatan, tetapi tidak sepenuhnya seragam. Perbedaan kenaikan won yang paling besar, pelemahan dolar Taiwan, dan posisi baht yang tetap menunjukkan bahwa respons mata uang regional terhadap dinamika dolar AS masih beragam. Data pergerakan ini memberikan gambaran sesaat mengenai arah perdagangan, bukan kepastian bahwa tren yang sama akan berlanjut pada sesi berikutnya.

Dolar Amerika Serikat kehilangan sebagian tenaganya setelah pasar merespons hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Pada perdagangan pagi itu, indeks dolar AS atau DXY turun 0,13% ke 102,062, mencerminkan pelemahan mata uang tersebut terhadap sejumlah mata uang utama. Pergerakan ini terjadi meskipun keputusan bank sentral Amerika Serikat untuk mempertahankan suku bunga acuan berada sesuai perkiraan pelaku pasar. Fokus investor bukan hanya pada keputusan suku bunga, melainkan juga pada pesan yang disampaikan mengenai arah kebijakan berikutnya.

The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%. Keputusan tersebut disepakati melalui pemungutan suara dengan hasil 10-2, sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, perhatian kemudian tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, terutama karena ia tidak memberikan sinyal tegas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember. Ketiadaan petunjuk yang jelas membuat investor menilai prospek kebijakan masih terbuka, alih-alih menerima konfirmasi bahwa pengetatan lebih lanjut akan segera dilakukan.

Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia, menilai sikap tersebut ditafsirkan pasar sebagai dovish atau, setidaknya, tidak cukup hawkish. Dalam konteks ini, istilah dovish menggambarkan kecenderungan kebijakan yang tidak menekankan pengetatan moneter lebih lanjut, sementara sikap hawkish biasanya memberi sinyal kesiapan untuk menjaga suku bunga tetap tinggi atau menaikkannya guna menekan inflasi. Perbedaan tafsir tersebut membantu menjelaskan mengapa dolar melemah meski suku bunga tidak berubah.

Kong juga mencatat bahwa sebagian pelaku pasar mengharapkan panduan yang lebih jelas mengenai rapat Desember. Mereka ingin mengetahui apakah kenaikan suku bunga masih menjadi pilihan, atau apakah The Fed akan mempertahankan tingkat saat ini apabila data ekonomi mendukung. Karena Warsh tidak menetapkan arah secara eksplisit, pasar harus mengandalkan perkembangan data dan komunikasi selanjutnya. Ketidakpastian ini membatasi dukungan bagi dolar dalam jangka pendek, sekaligus mendorong investor mencermati inflasi, tenaga kerja, dan pernyataan pejabat bank sentral sebelum mengubah perkiraan suku bunga.

Di balik keputusan suku bunga Federal Reserve yang menjadi sorotan pasar, terdapat penilaian ekonomi yang lebih optimistis dari bank sentral Amerika Serikat tersebut. The Fed menaikkan penilaiannya terhadap kondisi ekonomi dan menyebut pertumbuhan berlangsung pada laju yang kuat. Gambaran ini memberi konteks penting bagi investor: meskipun arah kebijakan moneter ke depan belum sepenuhnya pasti, para pejabat tidak melihat pertumbuhan yang sedang berjalan sebagai sesuatu yang rapuh. Penilaian tersebut juga membuat pasar perlu menimbang dua sasaran kebijakan sekaligus, yakni menjaga inflasi tetap terkendali dan mempertahankan aktivitas ekonomi.

Warsh menyatakan bahwa inflasi masih dapat dikembalikan ke target 2% tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan ataupun mendorong tingkat pengangguran naik. Pandangan itu mengisyaratkan bahwa pengendalian harga tidak harus dibayar dengan perlambatan ekonomi yang tajam. Namun, pernyataan tersebut tidak serta-merta menghapus ketidakpastian mengenai langkah berikutnya. Investor masih mencermati apakah perkembangan inflasi dan data ekonomi akan cukup kuat untuk mendorong pengetatan tambahan. Karena keputusan suku bunga bergantung pada informasi yang masuk, komentar tentang pertumbuhan yang kuat maupun keyakinan terhadap penurunan inflasi dapat ditafsirkan berbeda oleh pelaku pasar.

Oleh sebab itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember tetap diperhitungkan. Menurut CME FedWatch, pasar menempatkan kemungkinan langkah tersebut di sekitar 78%.