Program Sehati Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNNES Perkuat Pengelolaan Sekolah di Semarang

Program Sehati Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNNES Perkuat Pengelolaan Sekolah di Semarang

SEMARANG, JAWA TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Negeri Semarang (UNNES), melaksanakan Program Sehati—Sekolah Sehat, Aman, Tertib, dan Bersih—di SD Negeri Gajahmungkur 02, Kota Semarang, pada September lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan ilmu kesehatan masyarakat secara langsung di lingkungan sekolah, sekaligus bentuk kontribusi akademik mahasiswa dalam mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang sehat dan tertata.

Program Sehati dirancang untuk memperkuat pengelolaan sekolah melalui pendekatan yang menyeluruh. Sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi juga sebagai lingkungan yang perlu menjamin kesehatan, keselamatan, keamanan, ketertiban, serta kebersihan bagi seluruh warga sekolah. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya mengidentifikasi kebutuhan dan potensi sekolah, kemudian menyusun langkah pendampingan yang relevan dengan kondisi SD Negeri Gajahmungkur 02.

Pelaksanaan program melibatkan mahasiswa dari lima peminatan dalam bidang kesehatan masyarakat. Peminatan biostatistik dan kependudukan mendukung pengumpulan serta pengolahan data sebagai dasar perencanaan kegiatan. Peminatan kesehatan lingkungan berfokus pada aspek kebersihan dan kondisi lingkungan sekolah, sedangkan promosi kesehatan mendorong penyampaian pesan serta pembiasaan perilaku hidup sehat. Selain itu, mahasiswa peminatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) memperhatikan faktor keselamatan di lingkungan sekolah, sementara peminatan administrasi kebijakan kesehatan (AKK) berkontribusi dalam penguatan tata kelola dan perencanaan program.

Kolaborasi lintas peminatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sekolah sehat membutuhkan perspektif yang terintegrasi. Dengan terjun langsung ke satuan pendidikan, mahasiswa memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan secara kontekstual, sekaligus membantu sekolah mengembangkan pengelolaan yang lebih sistematis, partisipatif, dan berkelanjutan.

Program Sehati menghasilkan beragam produk yang mendukung pengelolaan sekolah secara lebih terencana, berbasis data, dan berkelanjutan. Pada aspek tata kelola, mahasiswa menyusun naskah kebijakan, naskah akademik, serta draf kebijakan yang dapat menjadi rujukan bagi sekolah dan pemangku kepentingan dalam menetapkan prioritas intervensi kesehatan. Produk-produk tersebut membantu menghubungkan temuan lapangan dengan kebutuhan regulasi, perencanaan program, dan pengambilan keputusan.

Pengelolaan data kesehatan diperkuat melalui digitalisasi data kesehatan dan pengembangan dashboard interaktif. Kedua luaran ini memudahkan penyimpanan, pemantauan, serta penyajian informasi secara lebih sistematis. Buku profil demografi sekolah melengkapi informasi tersebut dengan gambaran karakteristik warga dan lingkungan sekolah. Selanjutnya, analisis status gizi berbasis data dapat digunakan untuk mengenali kondisi peserta didik, menentukan kelompok yang memerlukan perhatian, serta menyusun langkah tindak lanjut yang lebih tepat.

Dalam bidang kesehatan lingkungan, mahasiswa menghasilkan desain sekolah sehat yang mengintegrasikan kebutuhan ruang, kebersihan, sanitasi, dan kenyamanan. Unit komposter menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah organik di tingkat sekolah. Produk ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mendukung pembelajaran praktis mengenai lingkungan dan perilaku hidup berkelanjutan.

Aspek promosi kesehatan diwujudkan melalui modul dan poster edukasi yang menyampaikan pesan secara ringkas, komunikatif, dan mudah diterapkan. Materinya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran maupun kampanye kesehatan sekolah. Sementara itu, hazard mapping dan peta jalur evakuasi memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi bahaya. Pemetaan tersebut membantu warga sekolah mengenali lokasi berisiko, arah pergerakan aman, serta titik evakuasi yang perlu dituju saat keadaan darurat.

Secara keseluruhan, luaran Program Sehati mencakup pengelolaan data kesehatan, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, serta keselamatan sekolah. Keragaman produk ini menunjukkan bahwa kontribusi mahasiswa tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi juga menghasilkan instrumen praktis untuk mendukung sekolah yang sehat, aman, informatif, dan responsif terhadap kebutuhan warganya.

Hasil kegiatan Program Sehati memberikan manfaat teknis yang dapat mendukung sekolah dalam mengelola kesehatan, keselamatan, dan lingkungan secara lebih terarah. Salah satu hasil utama kegiatan tersebut adalah pemetaan potensi bahaya melalui hazard mapping. Dalam proses ini, mahasiswa mengidentifikasi berbagai sumber risiko di lingkungan sekolah, seperti area licin, jalur yang berpotensi menghambat pergerakan, lokasi rawan kecelakaan, serta titik berkumpul yang perlu mendapat perhatian. Informasi tersebut membantu sekolah mengenali risiko berdasarkan kondisi nyata di lapangan dan menentukan prioritas penanganannya.

Selain pemetaan bahaya, mahasiswa menyusun peta jalur evakuasi yang menunjukkan rute keluar dari ruang atau bangunan menuju titik kumpul yang aman. Peta ini dapat ditempatkan pada lokasi strategis agar mudah dipahami oleh siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Keberadaan jalur evakuasi yang jelas mendukung kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi keadaan darurat, termasuk kebakaran, gempa bumi, maupun kondisi lain yang memerlukan evakuasi cepat. Sekolah juga dapat menggunakan peta tersebut sebagai dasar pelaksanaan sosialisasi dan simulasi keselamatan secara berkala.

Di bidang lingkungan, unit komposter menjadi salah satu sarana yang dihasilkan untuk mendukung pengelolaan sampah organik. Fasilitas ini memungkinkan sampah dari kantin, halaman, atau kegiatan sekolah diolah menjadi kompos, sehingga volume sampah yang dibuang dapat dikurangi. Pemanfaatannya juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran dan keterlibatan warga sekolah dalam membangun kebiasaan memilah serta mengolah sampah sejak dari sumbernya.

Penguatan teknis lainnya dilakukan melalui digitalisasi data kesehatan sekolah dan penyusunan dashboard interaktif. Data yang sebelumnya tersebar dapat dihimpun secara lebih terstruktur, sehingga pencatatan, pemantauan, dan pembaruan informasi menjadi lebih mudah. Dashboard tersebut dapat membantu sekolah melihat kondisi kesehatan warga sekolah, mengenali kebutuhan tertentu, serta mendukung penyusunan program berdasarkan data. Dengan demikian, produk kegiatan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk memperbaiki pengambilan keputusan dan pengelolaan sekolah.

Dina Puspitasari, wali kelas 6 SD Negeri Gajahmungkur 02, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Program Sehati yang melibatkan mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNNES. Ia berterima kasih kepada para mahasiswa yang telah meluangkan waktu untuk memahami kondisi sekolah serta menyusun proses dan produk yang dapat digunakan dalam mendukung pengelolaan sekolah.

Dina menilai, hasil kerja mahasiswa dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah dalam memperbaiki pengelolaan maupun merancang kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Produk yang dihasilkan juga dinilai membantu menyajikan informasi secara lebih sistematis, sehingga pihak sekolah memiliki referensi untuk menentukan langkah tindak lanjut.

Meski demikian, Dina memberikan masukan agar kegiatan serupa pada masa mendatang melibatkan lebih banyak guru dalam proses pengumpulan informasi mengenai kondisi sekolah. Keterlibatan beberapa guru, menurutnya, dapat menghadirkan informasi dan sudut pandang yang lebih beragam karena setiap guru memiliki pengalaman, tanggung jawab, dan interaksi yang berbeda dengan siswa maupun lingkungan sekolah.

Ia juga menekankan pentingnya proses pemeriksaan silang terhadap informasi yang dikumpulkan. Pendapat dari satu narasumber berpotensi bersifat subjektif, sehingga masukan dari beberapa guru dapat membantu memastikan kelengkapan dan ketepatan data. Dengan demikian, gambaran mengenai kondisi sekolah menjadi lebih menyeluruh dan hasil kegiatan dapat disusun berdasarkan kebutuhan yang benar-benar dirasakan oleh berbagai pihak. Masukan tersebut diharapkan memperkuat kerja sama mahasiswa dan sekolah pada kegiatan berikutnya.