SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Pelantikan berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta, dalam agenda yang menetapkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang sebagai anggota Wantimpres. Beranda Bisnis Profil Dato Sri Tahir, Konglomerat yang Kembali Menjadi Anggota Wantimpres Prabowo Post Views: 13SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Dato Sri Tahir sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Data lain dalam laporan menunjukkan Peristiwa ini menjadi inti kabar mengenai keterlibatannya dalam susunan Wantimpres pada pemerintahan Presiden Prabowo.Dato Sri Tahir dilantik bersama 25 orang lainnya pada 2 Oktober 2026. Dengan demikian, Tahir menjadi bagian dari kelompok yang dilantik pada kesempatan yang sama bersama 25 anggota lainnya.Pelantikan di Istana Kepresidenan tersebut menandai dimulainya posisi baru Tahir sebagai anggota Wantimpres. Kehadiran tokoh dari latar belakang yang beragam juga menjadi bagian dari susunan pelantikan, dengan Tahir termasuk di dalamnya sebagai salah satu anggota yang ditetapkan.Peristiwa pada 2 Oktober 2026 itu menjadi penanda penting dalam profil publik Dato Sri Tahir. Posisi tersebut diperoleh melalui pelantikan resmi yang diselenggarakan di Istana Kepresidenan, Jakarta, bersama 25 orang lain dari berbagai latar belakang.Dengan pelantikan itu, Dato Sri Tahir tercatat sebagai salah satu anggota Wantimpres pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Agenda pelantikan yang berlangsung pada 2 Oktober 2026 menjadi dasar pencatatan posisi barunya dalam pemerintahan.Keterlibatan Dato Sri Tahir dalam lingkungan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bukanlah pengalaman yang baru.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Penunjukan tersebut menempatkan Tahir kembali dalam posisi resmi di lingkungan pemerintahan, setelah sebelumnya dikenal luas sebagai tokoh usaha dan konglomerat Indonesia. Namanya tercantum dalam rangkaian penunjukan yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada tanggal tersebut. Ia tidak hanya diberitakan dalam konteks kiprahnya sebagai konglomerat, tetapi juga melalui penunjukan sebagai anggota Wantimpres. Informasi mengenai penunjukan ini menegaskan perubahan konteks perannya, dari sosok yang dikenal di dunia usaha menjadi bagian dari susunan resmi lembaga tersebut. Sebelum kembali masuk ke jajaran Wantimpres pada pemerintahan Presiden Prabowo, pengusaha dan filantrop tersebut telah lebih dahulu dipercaya untuk menjalankan peran serupa pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Penunjukan itu menjadi bagian penting dalam perjalanan Tahir di sekitar lingkaran pemerintahan, khususnya dalam memberikan pandangan dan pertimbangan kepada kepala negara.Presiden Joko Widodo menunjuk Dato Sri Tahir sebagai anggota Wantimpres pada 13 Desember 2019. Pengangkatan tersebut menempatkannya bersama sejumlah tokoh lain yang memiliki latar belakang serta keahlian beragam. Sebagai seorang konglomerat yang memiliki pengalaman panjang di dunia usaha, Tahir dipandang mempunyai pemahaman mengenai dinamika ekonomi, investasi, industri, dan persoalan sosial yang berpengaruh terhadap arah kebijakan nasional. Posisi itu juga memperluas perannya dari sektor bisnis ke ranah pengabdian publik.Dalam kapasitasnya sebagai anggota Wantimpres pada era Presiden Joko Widodo, Tahir berada dalam lembaga yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada presiden. Peran tersebut tidak sama dengan jabatan menteri maupun pelaksana kebijakan, karena fokusnya terletak pada penyampaian masukan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan penilaian terhadap berbagai isu strategis. Pengalaman itu menjadi bekal penting ketika namanya kembali tercatat sebagai anggota Wantimpres pada pemerintahan Presiden Prabowo.Kembalinya Tahir ke jajaran Wantimpres menunjukkan kesinambungan kepercayaan terhadap pengalaman dan kapasitasnya. Riwayat penunjukan pada 13 Desember 2019 memperlihatkan bahwa hubungan profesionalnya dengan pemerintahan telah berlangsung sebelum masa kepemimpinan Presiden Prabowo. Dengan demikian, keterlibatannya saat ini dapat dipahami sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang seorang tokoh bisnis yang turut berkontribusi melalui forum pertimbangan presiden.Dato Sri Tahir merupakan salah satu pengusaha Indonesia yang dikenal luas melalui kiprahnya di dunia bisnis dan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial. Di balik nama yang kerap muncul dalam pemberitaan tersebut, ia memiliki identitas lahir sebagai Ang Tjoen Ming. Tahir lahir di Surabaya pada 26 Maret 1952. Informasi mengenai nama lahir, tempat, dan tanggal kelahirannya menjadi bagian penting dalam memahami latar belakang pribadi tokoh yang kemudian membangun karier sebagai pengusaha dan figur publik.Perjalanan pendidikan Tahir berlangsung di dalam dan luar negeri. Ia menempuh pendidikan tinggi di Nan Yang University, Singapura, dan meraih gelar sarjana manajemen pada 1976. Pendidikan tersebut memberikan dasar akademik dalam memahami pengelolaan organisasi, kegiatan usaha, serta pengambilan keputusan bisnis. Setelah menyelesaikan studi sarjananya, Tahir melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat untuk memperdalam keahlian manajemen dan administrasi bisnis.Pada 1987, Tahir memperoleh gelar Master of Business Administration dari Golden Gate University, San Francisco, Amerika Serikat. Gelar MBA itu memperkuat bekal akademiknya dalam bidang bisnis, khususnya terkait strategi, kepemimpinan, dan pengelolaan perusahaan. Pendidikan di dua negara tersebut juga mencerminkan upayanya mengembangkan wawasan melalui lingkungan akademik internasional. Pengetahuan yang diperoleh kemudian menjadi salah satu fondasi bagi perjalanan profesionalnya sebagai pengusaha.Pengakuan terhadap kiprah dan kontribusinya di bidang profesional maupun sosial turut diberikan oleh Universitas 17 Agustus Surabaya. Pada 2008, universitas tersebut menganugerahkan gelar doktor honoris causa kepada Tahir. Gelar kehormatan ini diberikan tanpa melalui proses pendidikan doktor reguler dan menjadi bagian dari catatan penting dalam profilnya. Dengan demikian, identitas Ang Tjoen Ming, kelahiran Surabaya pada 1952, serta riwayat pendidikan dari Singapura dan Amerika Serikat membentuk gambaran dasar mengenai perjalanan pribadi dan akademik Dato Sri Tahir.Dato Sri Tahir dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Indonesia dengan reputasi yang kuat di kalangan dunia usaha. Perjalanan dan pencapaiannya membuat nama Tahir kerap diperbincangkan ketika masyarakat membahas tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi nasional. Reputasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan besarnya kekayaan yang dilaporkan, tetapi juga dengan posisinya sebagai figur bisnis yang memiliki hubungan luas di lingkungan ekonomi dan kebijakan publik.Nama Tahir juga sering dikaitkan dengan kelompok yang dikenal sebagai “9 naga”. Dalam berbagai pembahasan, istilah itu digunakan untuk merujuk pada kelompok konglomerat yang dipandang berpengaruh dalam bisnis dan perekonomian Indonesia. Penyebutan tersebut merupakan bagian dari wacana publik mengenai jejaring pengusaha besar dan pengaruhnya, sehingga perlu dipahami secara proporsional. Keterkaitan nama Tahir dengan istilah tersebut tidak serta-merta menjelaskan keseluruhan aktivitas, kepemilikan, atau afiliasi bisnisnya.Posisi Tahir sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia juga tercermin dalam daftar yang diterbitkan Forbes. Namanya kerap tercantum dalam pemeringkatan tersebut, yang menjadi salah satu rujukan internasional untuk melihat perkembangan kekayaan para pengusaha dan miliarder. Berdasarkan Forbes Real-Time Billionaires, sumber menyebut Tahir berada di peringkat kelima orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan mencapai 9,4 miliar dolar AS.Jika dikonversikan menggunakan nilai yang tercantum dalam sumber, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp168,09 triliun. Angka ini menggambarkan skala kekayaan yang menempatkan Tahir di jajaran teratas pengusaha Indonesia. Namun, nilai kekayaan dalam daftar real-time dapat berubah mengikuti kondisi pasar, penilaian aset, dan pembaruan data.





