Jakarta | Penelitian yang dipimpin Matthew Domeier bersama tim dari Universitas Oslo mengungkap bahwa sumbu Bumi telah mengalami pergeseran besar sebanyak empat kali dalam kurun sekitar 320 juta tahun terakhir. Temuan ini memberikan gambaran baru mengenai dinamika planet dan perubahan posisi kutub dalam skala waktu geologis. Salah satu pergeseran tersebut terjadi ketika dinosaurus masih menghuni Bumi, jauh sebelum kemunculan manusia modern.
Dalam kajian geologi, fenomena ini dikenal sebagai true polar wander (TPW), atau pergerakan kutub sejati. Istilah tersebut merujuk pada perubahan posisi kutub relatif terhadap permukaan Bumi. Dengan kata lain, bukan hanya lempeng tektonik yang bergerak di atas lapisan interior planet, melainkan keseluruhan cangkang luar Bumi dapat bergeser secara perlahan terhadap sumbu rotasinya. Proses itu berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang dan berbeda dari perubahan harian atau musiman pada posisi kutub.
Para peneliti menelusuri rekaman geologis untuk mengenali pola pergeseran tersebut serta kaitannya dengan perubahan permukaan laut. Pergeseran sumbu dapat memengaruhi distribusi massa dan air di planet, sehingga pola kenaikan dan penurunan muka laut tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama dari satu periode geologi ke periode lainnya. Temuan ini membantu ilmuwan memahami bahwa perubahan lingkungan Bumi dibentuk oleh interaksi berbagai proses dalam jangka panjang.
Namun, hasil penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa peristiwa itu berlangsung di Indonesia atau merupakan kejadian lokal yang sedang terjadi di wilayah Indonesia. Karena itu, pemberitaan perlu mempertahankan konteks global dan geologisnya. Mengubah temuan tentang pergeseran sumbu Bumi menjadi klaim mengenai kejadian khusus di Indonesia dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama karena penelitian ini membahas rekonstruksi sejarah planet selama ratusan juta tahun, bukan pengamatan atas bencana atau perubahan wilayah tertentu pada masa kini.
Para peneliti menjelaskan bahwa pergeseran kutub dapat mengubah distribusi permukaan laut melalui perubahan gaya sentrifugal yang bekerja pada lautan. Gaya ini muncul akibat rotasi Bumi dan memengaruhi cara massa air tersebar dari satu wilayah ke wilayah lain. Ketika posisi kutub bergeser, orientasi sumbu rotasi terhadap permukaan Bumi ikut berubah. Akibatnya, kekuatan relatif gaya sentrifugal di berbagai lokasi tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Perubahan tersebut tidak membuat permukaan laut naik secara seragam di seluruh dunia. Di sebagian wilayah, air laut dapat terdorong dan menumpuk sehingga permukaannya meningkat. Sebaliknya, wilayah lain dapat mengalami pengurangan ketinggian muka laut karena distribusi massa air bergeser. Pola kenaikan dan penurunan ini bergantung pada arah serta laju perpindahan kutub, termasuk pergerakan yang disebut true polar wander (TPW), atau pergeseran kutub sejati.
Dalam mekanisme TPW, sumbu pergeseran memiliki orientasi tersendiri yang membentang di dua titik berlawanan pada garis khatulistiwa. Karena kedua titik tersebut berada pada sisi yang saling berseberangan, sumbu TPW dapat digunakan untuk menentukan arah perubahan pengaruh rotasi terhadap lautan. Analisis perubahan permukaan laut kemudian memperhitungkan empat kutub: kutub utara, kutub selatan, serta dua kutub yang berada pada sumbu TPW.
Perubahan paling menonjol diperkirakan terjadi di wilayah yang letaknya paling jauh dari keempat kutub tersebut. Kawasan ini berada di sekitar garis lintang 45 derajat dan terletak tegak lurus terhadap sumbu TPW. Pada lokasi tersebut, perubahan gaya sentrifugal dapat memberikan dampak yang relatif besar terhadap posisi permukaan laut. Jika TPW bergerak dengan arah dan laju tertentu, muka laut di satu sisi kawasan dapat meningkat, sementara di sisi lain menurun. Perubahan itu berlangsung mengikuti dinamika pergerakan TPW, sehingga pola geografisnya dapat berubah seiring waktu dan tidak selalu sama pada setiap periode geologis.
Pola perubahan permukaan laut yang selaras dengan pergeseran kutub sejati atau true polar wander (TPW) ditemukan dalam empat periode geologis. Kesesuaian ini terlihat ketika kenaikan dan penurunan muka laut berlangsung secara berbeda di berbagai kawasan, mengikuti arah perubahan sumbu TPW. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan permukaan laut pada masa lalu tidak berlangsung seragam di seluruh dunia, melainkan membentuk pola regional yang berulang dan berkaitan dengan pergeseran sumbu Bumi.
Salah satu pola paling jelas terjadi pada 100–90 juta tahun lalu, tepatnya pada pertengahan Cretaceous. Pada masa ketika Spinosaurus dan Argentinosaurus masih hidup, permukaan laut tercatat naik di Amerika Utara dan Eropa. Sebaliknya, permukaan laut turun di Amerika Selatan, Afrika Selatan, hingga Asia Timur. Perbedaan arah perubahan tersebut selaras dengan perputaran sumbu TPW berlawanan arah jarum jam sebesar 53 derajat bujur timur. Dengan demikian, satu wilayah dapat mengalami kenaikan permukaan laut, sementara wilayah lain pada waktu yang sama mengalami penurunan.
Pola lain ditemukan pada 150–140 juta tahun lalu, selama Jura Akhir. Pada periode ini, sumbu TPW bergerak searah jarum jam sebesar 58 derajat bujur timur. Pergerakan tersebut juga disertai pola perubahan permukaan laut yang sesuai dengan pergeseran sumbu, sehingga memperkuat keterkaitan TPW dan variasi muka laut regional. Keselarasan pola dalam empat periode memberikan dasar bagi perbandingan catatan geologis dan prediksi ahli geologi yang dibuat berdasarkan pergerakan benua yang terjadi sedikit lebih awal. Prediksi tersebut memperkirakan pola perubahan permukaan laut berdasarkan posisi serta perpindahan benua, dan hasil yang ditemukan menunjukkan kesesuaian dengan pola yang berkaitan dengan TPW.
Selain pola utama yang telah teridentifikasi, penelitian tersebut menemukan dua periode lain yang menunjukkan indikasi pergeseran sumbu Bumi, yakni sekitar 200–190 juta tahun lalu dan 30–20 juta tahun lalu. Kedua rentang waktu ini memperlihatkan pola perubahan yang cukup berarti dalam rekonstruksi geologi, tetapi tingkat kejelasannya lebih rendah dibandingkan periode dengan bukti yang lebih lengkap. Karena itu, temuan tersebut perlu dipahami sebagai indikasi penting, bukan sebagai gambaran dengan tingkat kepastian yang sama pada seluruh sejarah Bumi.
Rendahnya kejelasan pada periode 200–190 juta tahun lalu serta 30–20 juta tahun lalu kemungkinan berkaitan dengan keterbatasan catatan geologis. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, sebagian batuan dan sedimen dapat mengalami pelapukan, tererosi, tertimbun, atau berubah akibat aktivitas tektonik. Proses-proses tersebut dapat menghapus atau mengaburkan petunjuk mengenai posisi kutub dan arah pergeseran sumbu pada masa lampau. Dengan demikian, tidak lengkapnya data bukan berarti perubahan tidak terjadi, melainkan menunjukkan bahwa jejaknya lebih sulit dipulihkan melalui analisis geologi.
Faktor lain yang mungkin menjelaskan lemahnya pola pada kedua periode tersebut adalah laju true polar wander (TPW) yang relatif rendah. Ketika pergeseran berlangsung secara perlahan, perubahan yang terekam dalam mineral, batuan, atau indikator paleomagnetik menjadi lebih kecil dan lebih sulit dibedakan dari variasi geologis lainnya. Kecepatan TPW juga tidak bersifat tetap. Ada masa ketika perubahan berlangsung lebih cepat, sementara pada masa lain pergeseran dapat melambat, sehingga kekuatan sinyal yang tersisa dalam catatan Bumi pun berbeda-beda.
Secara geofisika, TPW dipicu oleh perubahan distribusi massa di dalam dan di permukaan Bumi. Distribusi tersebut dapat berubah melalui berbagai proses, salah satunya tektonik lempeng yang memindahkan benua, membentuk pegunungan, serta mengubah susunan dasar samudra. Perubahan massa ini memengaruhi keseimbangan rotasi Bumi dan dapat mendorong penyesuaian posisi sumbu relatif terhadap permukaan planet. Oleh sebab itu, laju perubahan TPW tidak selalu sama dari waktu ke waktu, bergantung pada dinamika internal dan geologi yang sedang berlangsung.
Baca juga: Panglima TNI Hadiri Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih di Istana Merdeka | Berlangsung Khidmat: Dandim Bojonegoro Pimpin Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI

