Kabupaten Aceh Tamiang | Pertamina EP Rantau Field tetap melanjutkan kegiatan pengeboran atau tajak lima sumur baru di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Aktivitas tersebut berlangsung ketika proses pemulihan infrastruktur pascabanjir masih berjalan di sejumlah wilayah. Keputusan untuk mempertahankan kegiatan operasional ini menunjukkan bahwa pengeboran tetap menjadi bagian penting dari upaya perusahaan dalam menjaga keberlanjutan kegiatan hulu minyak dan gas bumi.
Lima sumur yang ditajak diarahkan untuk menemukan cadangan minyak dan gas bumi baru. Selain mendukung penambahan cadangan, kegiatan ini ditujukan untuk mempertahankan tingkat produksi yang telah berjalan. Keberlanjutan produksi tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga ketersediaan pasokan energi nasional, sehingga kegiatan pengeboran tetap dilaksanakan di tengah situasi pemulihan setelah bencana banjir.
Field Manager Pertamina EP Rantau Tomi Wahyu Alimsyah menyampaikan bahwa kegiatan pengeboran tetap penting meskipun perusahaan masih berada dalam tahap pemulihan pascabencana. Pernyataan itu menegaskan bahwa proses pemulihan infrastruktur tidak menghentikan pelaksanaan tajak lima sumur yang telah direncanakan. Perusahaan tetap menjalankan kegiatan tersebut dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk memperoleh sumber daya baru sekaligus menjaga kesinambungan produksi.
Kegiatan pengeboran lima sumur dalam program PEP Rantau berlangsung di dua kampung dengan pembagian lokasi dan dukungan peralatan yang berbeda. Dua sumur pertama berada di Kampung Tanjung Seumantoh, sedangkan tiga sumur lainnya berlokasi di Kampung Paya Meta. Pembagian tersebut membantu memperjelas pengaturan operasi di lapangan, termasuk penempatan rig, identitas sumur, serta target kedalaman akhir yang telah ditetapkan untuk masing-masing titik pengeboran.
Di Kampung Tanjung Seumantoh, pekerjaan mencakup sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52. Kedua titik ini dilayani rig APS-752 dengan kapasitas 550 HP. RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 meter, sementara RNT DZ-52 direncanakan mencapai 1.037 meter. Perbedaan kedalaman tersebut menunjukkan bahwa setiap sumur memiliki rancangan teknis dan sasaran bawah permukaan tersendiri, meskipun pengeborannya menggunakan unit rig yang sama.
Sementara itu, tiga sumur di Kampung Paya Meta terdiri atas RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33. Seluruhnya didukung rig TMMJ-12 yang juga berkapasitas 550 HP. Penggunaan rig dengan kapasitas setara di dua wilayah operasi memberikan gambaran mengenai kesiapan peralatan untuk menangani rangkaian pekerjaan pengeboran secara berkelanjutan. Dengan demikian, lima sumur tersebut terbagi jelas berdasarkan lokasi: RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 di Tanjung Seumantoh dengan APS-752, serta RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33 di Paya Meta dengan TMMJ-12. Data kedalaman yang tersedia saat ini secara khusus mencakup 1.145 meter untuk RNT DZ-51 dan 1.037 meter untuk RNT DZ-52, sedangkan tiga sumur di Paya Meta tercatat dalam daftar pekerjaan dengan dukungan peralatan yang telah ditentukan.
Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 menimbulkan gangguan serius terhadap kegiatan operasi Pertamina EP (PEP) Rantau. Ketinggian air yang mencapai 4 hingga 4,5 meter membuat sejumlah fasilitas operasi, perkantoran, serta permukiman pekerja di wilayah kerja tersebut tidak dapat digunakan secara normal. Kondisi ini membatasi akses personel, menghambat mobilisasi peralatan, dan meningkatkan risiko keselamatan sehingga kegiatan produksi harus dihentikan sementara.
Dampak paling berat terjadi pada kerusakan stasiun kompresor gas atau HPCS. Fasilitas tersebut berperan penting dalam mendukung pasokan energi untuk pembangkit listrik di area operasi. Ketika HPCS mengalami kerusakan, aliran listrik terhenti dan kegiatan produksi minyak sempat berhenti total. Pemulihan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengaktifkan kembali fasilitas yang terdampak, karena diperlukan pemeriksaan menyeluruh, pengamanan instalasi, serta penyesuaian sistem agar operasi dapat berjalan secara bertahap.
Salah satu langkah teknis yang ditempuh ialah memodifikasi stasiun pengumpul SP-5 dan SP-1. Kedua fasilitas itu disiapkan sebagai sumber pengganti pasokan gas bagi pembangkit listrik, sehingga kebutuhan energi untuk peralatan produksi dapat dipenuhi selama HPCS diperbaiki dan dipulihkan. Pekerjaan tersebut dilaksanakan secara bertahap dengan mengutamakan keandalan sistem dan keselamatan kerja. Prosesnya juga mendapat dukungan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina lainnya, yang membantu pekerjaan teknis, pengujian fasilitas, dan pengoperasian kembali sarana produksi.
Melalui rangkaian pemulihan tersebut, kegiatan produksi minyak di wilayah kerja PEP Rantau berangsur kembali normal. Produksi kini stabil pada sekitar 1.700 barel per hari. Angka ini menunjukkan keberhasilan pemulihan operasional, meskipun masih berada di bawah capaian 2.000 barel per hari yang sempat diraih pada Mei dan Agustus 2026. Stabilitas produksi menjadi dasar untuk melanjutkan optimalisasi fasilitas dan menjaga kesinambungan operasi migas di tengah proses pemulihan wilayah terdampak banjir.
Percepatan pemulihan fasilitas produksi turut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan Pertamina EP Rantau Field. Atas pelaksanaan percepatan tersebut, Pertamina EP Rantau Field menerima penghargaan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Penghargaan itu disampaikan dalam konteks pemulihan fasilitas produksi setelah wilayah operasional terdampak banjir di Aceh Tamiang.
Penerimaan penghargaan tersebut menjadi informasi penutup dalam rangkaian pemberitaan mengenai kegiatan operasional Rantau Field, termasuk kelanjutan pengeboran lima sumur. Perusahaan tetap menjalankan pemulihan fasilitas produksi sesuai dengan rangkaian pekerjaan yang telah ditetapkan. Informasi mengenai penghargaan ini merujuk pada keterangan bahwa percepatan pemulihan fasilitas produksi menjadi dasar penerimaan penghargaan dari SKK Migas.
Seluruh rangkaian operasional pengeboran juga telah memenuhi standar keselamatan kerja yang berlaku. Pemenuhan standar tersebut mencakup pelaksanaan kegiatan dengan memperhatikan ketentuan keselamatan dalam setiap tahapan operasi. Dengan demikian, aspek keselamatan kerja menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan pengeboran dan pemulihan fasilitas produksi di Rantau Field.
Selain keselamatan kerja, pelaksanaan operasional juga dilakukan berdasarkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Prinsip tersebut diterapkan melalui kerangka environmental, social, and governance (ESG), yang menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan. Kerangka ESG mencakup perhatian terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam kegiatan operasional.
Dengan demikian, percepatan pemulihan fasilitas produksi dan pelaksanaan pengeboran lima sumur berlangsung dalam kerangka operasional yang memenuhi standar keselamatan kerja serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Pertamina EP Rantau Field menerima penghargaan dari SKK Migas terkait percepatan pemulihan fasilitas produksi, sementara seluruh rangkaian operasional pengeboran dilaksanakan dengan mengacu pada kerangka ESG.

