Tangerang | Menteri Pekerjaan Umum Doddy Hanggodo meninjau aliran Kali Angke di wilayah Tangerang melalui kegiatan susur sungai. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi sungai yang berkaitan dengan banjir yang kerap terjadi di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, terutama ketika musim hujan. Dengan menyusuri aliran Kali Angke, Doddy dapat mengamati situasi di lapangan sebagai bagian dari upaya memahami persoalan yang dihadapi kawasan tersebut. Kegiatan ini menempatkan kondisi sungai sebagai salah satu hal yang perlu diperiksa saat membahas banjir, tanpa mengabaikan faktor lain yang juga dapat berpengaruh terhadap kejadian banjir di wilayah perkotaan.
Sebelum melakukan peninjauan, Doddy menyatakan telah menerima informasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) mengenai Kali Angke. Namun, informasi yang diterima itu tidak menggantikan kebutuhan untuk melihat kondisi sungai secara langsung. Susur sungai memberi kesempatan bagi Menteri PU untuk mencocokkan keterangan yang telah disampaikan dengan keadaan di lapangan. Pemeriksaan langsung juga menjadi cara untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai aliran sungai serta persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dalam konteks banjir berulang, pengamatan tersebut penting sebagai dasar memahami kondisi yang ada sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya.
Fokus peninjauan ini adalah menelusuri kondisi Kali Angke yang berkaitan dengan banjir di Tangerang dan Tangerang Selatan pada musim hujan. Dengan hadir langsung di lokasi, Doddy dapat melihat aliran sungai dan mendengarkan informasi yang tersedia secara lebih dekat. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penanganan persoalan banjir memerlukan pemahaman terhadap keadaan setempat, bukan hanya mengandalkan laporan. Informasi dari BBWS tetap menjadi salah satu rujukan, sementara pengamatan lapangan melengkapi gambaran mengenai sungai. Hasil peninjauan diharapkan membantu memperjelas persoalan yang perlu dikaji lebih lanjut oleh pihak terkait sebagai bagian dari upaya menghadapi banjir yang berulang.
Peninjauan terhadap Kali Angke menyoroti dua persoalan pada kondisi fisik sungai, yaitu pendangkalan akibat sedimentasi dan penyempitan badan sungai. Keduanya berkaitan dengan kemampuan aliran untuk menampung dan mengalirkan air. Pendangkalan terjadi ketika endapan menumpuk di dasar sungai sehingga kedalaman aliran berkurang. Dengan ruang vertikal yang lebih dangkal, volume air yang dapat berada di dalam sungai pada suatu waktu menjadi lebih terbatas dibandingkan ketika dasar sungai lebih dalam.
Persoalan lainnya adalah penyempitan badan sungai. Ketika lebar ruang aliran berkurang, kapasitas sungai untuk menampung air juga ikut menyusut. Dampaknya berbeda dari pendangkalan: penyempitan mengurangi ruang aliran secara horizontal, sedangkan sedimentasi mengurangi kedalaman secara vertikal. Meski demikian, keduanya sama-sama membuat kapasitas tampung Kali Angke berkurang. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai potensi banjir di Tangerang, tanpa perlu menyimpulkan penyebab lain yang tidak disebutkan dalam hasil peninjauan.
Doddy menyampaikan bahwa kedua persoalan tersebut memerlukan penanganan. Pernyataan itu mencakup pendangkalan akibat sedimentasi maupun penyempitan badan sungai, yang sama-sama memengaruhi kapasitas Kali Angke. Penanganan atas dua kondisi tersebut penting untuk mengembalikan ruang aliran dan daya tampung sungai sesuai kebutuhan. Dalam melihat persoalan ini, pendangkalan dan penyempitan perlu dipahami sebagai kondisi yang berbeda, tetapi saling relevan dalam upaya menjaga fungsi sungai. Endapan berkaitan dengan berkurangnya kedalaman, sementara penyempitan berkaitan dengan berkurangnya lebar. Karena itu, penilaian terhadap kondisi sungai perlu memperhatikan kedua aspek tersebut secara bersamaan. Temuan peninjauan ini menegaskan perlunya perhatian pada kapasitas aliran, dengan tetap berpegang pada dua masalah yang teridentifikasi dan keterangan Doddy mengenai perlunya penanganan.Menurut Doddy, pengerukan atau normalisasi Kali Angke memang penting untuk mengurangi endapan yang menghambat aliran, tetapi langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi persoalan sungai secara menyeluruh. Jika penanganan hanya berfokus pada pengangkatan sedimentasi, bagian sungai yang telah menyempit tetap memiliki ruang aliran terbatas. Akibatnya, manfaat pengerukan berisiko tidak optimal, terutama ketika volume air meningkat. Normalisasi perlu dipandang sebagai bagian dari upaya yang lebih luas, bukan satu-satunya solusi bagi kondisi Kali Angke.
Ia menilai pelebaran pada titik-titik yang menyempit juga perlu dipertimbangkan agar kapasitas aliran dapat dipulihkan mendekati kondisi semula. Penyempitan dapat terjadi ketika ruang sungai berkurang, sehingga air tidak leluasa mengalir saat debit bertambah. Karena itu, identifikasi lokasi yang mengalami penyempitan menjadi langkah penting sebelum menentukan bentuk pekerjaan. Penanganan yang disesuaikan dengan kondisi tiap ruas dapat membantu memastikan bahwa pengerukan dan pelebaran saling mendukung, sekaligus meningkatkan kemampuan sungai menyalurkan air.
Kekhawatiran terhadap dampak penyempitan semakin besar pada musim hujan. Ketika hujan deras meningkatkan debit, kapasitas sungai yang telah berkurang dapat lebih mudah terlampaui dan memperbesar risiko air meluap ke kawasan sekitar. Dengan demikian, persoalan Kali Angke tidak cukup ditangani melalui kegiatan sesaat; diperlukan perhatian terhadap daya tampung dan kelancaran alirannya secara bersamaan. Doddy menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Penanganan yang terencana dan tepat sasaran perlu segera dibahas agar kemampuan sungai dapat dipulihkan dan risiko banjir bagi warga Tangerang dapat ditekan.
Rencana normalisasi Kali Angke yang disiapkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) semula ditargetkan rampung pada Desember. Namun, target tersebut diperkirakan perlu disesuaikan setelah peninjauan lapangan menunjukkan bahwa pekerjaan tidak cukup hanya mengeruk bagian sungai yang mengalami pendangkalan. Sejumlah titik juga menyempit sehingga perlu ditangani agar kapasitas aliran dapat dipulihkan secara lebih menyeluruh.
Dengan cakupan yang bertambah, pelaksanaan normalisasi berpotensi membutuhkan waktu lebih lama daripada rencana awal. Bentang pekerjaan untuk normalisasi sekaligus penanganan penyempitan diperkirakan sekitar 3,5 kilometer. Panjang tersebut mencakup bagian yang memerlukan penanganan agar aliran sungai tidak terus terhambat oleh sedimentasi maupun ruang sungai yang terbatas. Penentuan urutan serta metode pekerjaan tetap perlu dibahas berdasarkan kondisi lapangan dan kebutuhan teknis.
Doddy menilai pembangunan turap atau sheet pile saja tidak akan efektif mengurangi risiko banjir apabila kapasitas Kali Angke tidak dikembalikan. Struktur penahan tebing dapat membantu menjaga batas sungai, tetapi tidak dengan sendirinya mengatasi pendangkalan atau memperluas bagian yang menyempit. Karena itu, pekerjaan fisik perlu dirancang sebagai satu rangkaian: penanganan kapasitas aliran, penyempitan, dan kebutuhan penguatan tebing harus saling mendukung. Tanpa pendekatan tersebut, air tetap berisiko tertahan ketika debit meningkat, meskipun turap telah dibangun.
Perluasan cakupan ini juga membuat koordinasi antarpihak menjadi penting sebelum pekerjaan dilaksanakan. Kementerian Pekerjaan Umum bersama pemerintah daerah berencana membahas langkah teknis dan pelaksanaan pekerjaan secara terpadu. Pembahasan tersebut diharapkan menyelaraskan rencana penanganan pada bentang yang ditinjau, termasuk pembagian peran, tahapan kerja, dan keterkaitan normalisasi dengan penanganan penyempitan. Dengan koordinasi sejak perencanaan, pelaksanaan dapat diarahkan pada kebutuhan sungai secara keseluruhan, bukan hanya pada satu jenis konstruksi. Pendekatan terpadu juga memberi ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan jadwal dan metode berdasarkan hasil pemeriksaan teknis, sehingga sasaran pemulihan kapasitas Kali Angke dapat menjadi dasar penanganan risiko banjir di wilayah Tangerang.
Baca juga: Revit Sekolah Nganjuk Jadi Bola Panas: Potongan dan Kualitas Bangunan Disorot | Aktivitas PT Trisaka Adi Rajasa di Tuban Disorot, Dugaan Pengambilan Solar dari Lapak Penampungan Dipertanyakan | Aduan Resmi Masuk Polresta Tuban, Dugaan Pemerasan Libatkan Tiga Instansi Disorot






