Padang | Banjir melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, setelah hujan lebat mengguyur daerah tersebut sejak Sabtu siang. Peristiwa ini berdampak pada beberapa kawasan, dengan Kecamatan Koto Tangah dan Kecamatan Kuranji dilaporkan sebagai dua wilayah yang mengalami dampak cukup parah. Informasi tersebut disampaikan berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang.
Di Kecamatan Kuranji, kawasan Guo Lapau Munggu menjadi salah satu titik yang dilaporkan mengalami dampak paling berat. Sementara itu, di Kecamatan Koto Tangah, dampak serupa dilaporkan terjadi di Lumin Park dan Kampung Apa. Ketiga lokasi tersebut menjadi perhatian dalam laporan awal mengenai banjir yang melanda Kota Padang.
Selain titik-titik tersebut, banjir juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Kota Padang. Namun, dampaknya tidak separah kondisi yang dilaporkan di kawasan Guo Lapau Munggu, Lumin Park, dan Kampung Apa. Perbedaan dampak ini membuat beberapa lokasi menjadi sorotan utama dalam penanganan awal kejadian.
Laporan BPBD Kota Padang menunjukkan bahwa genangan tidak hanya berlangsung di satu kawasan, melainkan tersebar di beberapa bagian kota. Meski demikian, Kecamatan Koto Tangah dan Kecamatan Kuranji tercatat sebagai wilayah yang terdampak cukup parah dibandingkan lokasi lainnya. Penyebutan titik-titik tersebut membantu menggambarkan sebaran awal banjir sekaligus menjadi dasar informasi bagi masyarakat mengenai wilayah yang mengalami dampak lebih berat.
Dengan demikian, banjir yang terjadi setelah hujan lebat sejak Sabtu siang mencakup sejumlah kawasan di Kota Padang. Guo Lapau Munggu di Kecamatan Kuranji serta Lumin Park dan Kampung Apa di Kecamatan Koto Tangah merupakan titik yang dilaporkan paling terdampak, sedangkan wilayah lain mengalami dampak yang relatif lebih ringan.
Penanganan darurat banjir di Kota Padang saat ini diarahkan terutama untuk memastikan keselamatan warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mengerahkan petugas ke sejumlah lokasi terdampak untuk memantau kondisi, menjangkau masyarakat, serta memindahkan warga dari area yang masih tergenang. Langkah tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan situasi lapangan, akses menuju permukiman, dan tingkat risiko yang dihadapi warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyatakan bahwa petugas berfokus mengevakuasi warga yang masih terjebak banjir. Menurutnya, prioritas utama dalam kondisi tersebut adalah menyelamatkan dan mengeluarkan warga dari lokasi terdampak, terutama mereka yang berada di kawasan dengan genangan tinggi atau akses yang mulai sulit dilalui. Pernyataan itu menegaskan bahwa proses evakuasi didahulukan sebelum penanganan lain dilakukan secara lebih luas.
Laporan sementara BPBD berasal dari Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Koto Tangah. Dari dua wilayah tersebut, kondisi paling parah dilaporkan terjadi di kawasan Guo Kuranji dan Lumin Park. Petugas terus melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah warga yang membutuhkan bantuan serta menentukan jalur pemindahan yang paling aman. Informasi mengenai perkembangan genangan dan kebutuhan warga juga menjadi bahan koordinasi BPBD, aparat wilayah, dan unsur terkait lainnya.
Warga yang berada di wilayah terdampak diimbau mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan diri bertahan di lokasi apabila kondisi membahayakan. Pemindahan ke tempat yang lebih aman menjadi tindakan penting untuk mengurangi risiko, khususnya bagi anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya. Dengan menempatkan evakuasi sebagai prioritas, respons darurat diharapkan dapat berlangsung terarah sekaligus membantu memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi selama banjir masih terjadi.
Anggota Komisi VII DPR RI, Athari Gauthi Ardi, meminta agar penanganan banjir di Padang menempatkan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak sebagai perhatian utama. Menurutnya, warga yang mengalami dampak bencana tidak hanya membutuhkan bantuan dalam bentuk logistik, tetapi juga perlindungan, informasi, dan akses terhadap layanan dasar selama situasi darurat berlangsung. Langkah penanganan perlu disusun berdasarkan kondisi nyata di lapangan agar bantuan dapat diberikan secara cepat dan tepat sasaran.
Athari, yang merupakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Barat I, juga berharap proses evakuasi berlangsung segera, terutama bagi warga yang masih terjebak dan membutuhkan pertolongan. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas dalam setiap keputusan, termasuk ketika petugas menentukan jalur evakuasi, lokasi pengungsian, serta bentuk bantuan yang paling mendesak. Warga perlu dipastikan dapat keluar dari kawasan berbahaya dan segera berada di tempat yang aman.
Ia menekankan bahwa kehadiran petugas di lapangan sangat penting untuk memastikan bantuan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Pendataan dan pemantauan tidak cukup dilakukan dari pusat, sebab kondisi setiap lingkungan dapat berbeda, terutama ketika akses jalan terputus atau arus banjir menghambat pergerakan. Petugas perlu berkoordinasi dengan pemerintah daerah, relawan, serta unsur masyarakat setempat untuk menemukan warga yang belum dievakuasi dan menentukan kebutuhan mereka.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta warga yang memerlukan penanganan medis atau pendampingan khusus. Evakuasi terhadap kelompok tersebut harus dilakukan dengan cara yang aman dan manusiawi. Selain menyediakan tempat perlindungan, pemerintah perlu memastikan ketersediaan makanan, air bersih, obat-obatan, layanan kesehatan, dan dukungan lain selama masa tanggap darurat. Dengan demikian, penanganan banjir tidak berhenti pada proses pemindahan warga, tetapi benar-benar menjamin keselamatan dan terpenuhinya kebutuhan dasar mereka.
Perhatian terhadap warga terdampak banjir tidak berhenti pada proses evakuasi selama keadaan darurat berlangsung. Setelah masyarakat dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, kebutuhan dasar mereka tetap perlu dipastikan secara teratur. Athari menekankan bahwa warga membutuhkan makanan yang cukup, air bersih, serta tempat berlindung yang layak selama belum dapat kembali ke rumah masing-masing. Ketersediaan bantuan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi warga, terutama bagi keluarga yang kehilangan akses terhadap kebutuhan sehari-hari akibat genangan dan gangguan lingkungan.
Bantuan bagi masyarakat terdampak perlu disalurkan dengan memperhatikan kondisi di lapangan dan kebutuhan setiap kelompok. Anak-anak, lanjut usia, orang sakit, serta keluarga yang memiliki keterbatasan tertentu memerlukan perhatian agar tidak terabaikan selama berada di tempat pengungsian. Selain penyediaan makanan dan air bersih, tempat berlindung harus mendukung keselamatan dan kenyamanan warga. Penanganan yang berkelanjutan menunjukkan bahwa keselamatan masyarakat mencakup perlindungan selama evakuasi sekaligus pemenuhan kebutuhan mereka setelah berada di lokasi aman.
Athari juga menekankan pentingnya melanjutkan penanganan ke tahap pemulihan setelah banjir surut. Warga perlu memperoleh dukungan agar dapat kembali ke rumah dan beraktivitas dengan aman, setelah kondisi lingkungan memungkinkan. Pemulihan tersebut perlu berjalan dengan memperhatikan keadaan tempat tinggal, akses terhadap kebutuhan dasar, serta keamanan lingkungan sekitar. Dengan perhatian yang berkesinambungan, masyarakat terdampak tidak dibiarkan menghadapi dampak banjir sendirian setelah masa darurat berakhir. Athari menyampaikan harapan agar seluruh warga terdampak memperoleh keselamatan, kebutuhan dasarnya terpenuhi, dan situasi segera pulih sehingga kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan secara aman.

