Peluang Nikel Global Menguat, Indonesia Didorong Menuntaskan Hilirisasi

Peluang Nikel Global Menguat, Indonesia Didorong Menuntaskan Hilirisasi

Kabupaten Halmahera Tengah | Shanghai Metals Market (SMM) memproyeksikan permintaan nikel global meningkat 21,39% dalam periode 2026–2031. Volume yang diperkirakan mencapai 3.717 kiloton pada 2026 dapat bertambah menjadi 4.512 kiloton pada 2031. Proyeksi ini mencerminkan kebutuhan nikel yang terus berkembang di berbagai sektor industri, sekaligus menegaskan bahwa pasar global masih menyediakan ruang bagi produsen untuk memperkuat kapasitas dan meningkatkan nilai produk.

Dua pendorong utama pertumbuhan tersebut adalah baterai dan baja nirkarat. Permintaan baterai berkaitan dengan perluasan penggunaan kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi, meskipun kebutuhan bahan baku dapat dipengaruhi perubahan teknologi serta pilihan kimia baterai. Sementara itu, baja nirkarat tetap menjadi pengguna penting nikel karena sifatnya yang mendukung ketahanan terhadap korosi dan kebutuhan beragam sektor, mulai dari konstruksi hingga manufaktur. Kombinasi kebutuhan dari kedua pasar ini membuat prospek nikel terkait dengan perkembangan industri yang luas, bukan satu segmen saja.

Bagi Indonesia, kenaikan permintaan memberi peluang untuk menghubungkan keunggulan sumber daya dengan pengembangan industri bernilai tambah. Namun, peluang itu tidak otomatis menghasilkan manfaat maksimal jika pengolahan domestik berhenti pada bahan atau produk setengah jadi. Percepatan hilirisasi dapat diarahkan agar lebih banyak tahapan produksi, keahlian, dan kegiatan pendukung berkembang di dalam negeri, dengan tetap mempertimbangkan kelayakan pasar, teknologi, energi, dan dampak lingkungan.

Langkah berikutnya ialah memperluas rantai pengolahan hingga menghasilkan produk akhir yang dibutuhkan konsumen dan industri. Pengembangan kapasitas untuk material baterai, komponen, maupun produk baja nirkarat dapat memperkuat keterkaitan pertambangan, pemrosesan, manufaktur, dan pasar. Untuk mencapainya, pelaku usaha dan pemerintah perlu mendorong investasi, kepastian regulasi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta riset dan inovasi. Dengan demikian, proyeksi SMM dapat menjadi pertimbangan dalam menyusun strategi, bukan jaminan bahwa permintaan akan selalu tumbuh sesuai perkiraan. Indonesia dapat memanfaatkan momentum pasar dengan membangun industri yang kompetitif, terintegrasi, dan mampu menghasilkan nilai lebih besar di dalam negeri.

Direktur Indef Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, menilai peningkatan permintaan nikel global perlu dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperdalam hilirisasi di Indonesia. Menurutnya, peluang tersebut tidak cukup dijawab dengan memperbesar produksi bahan atau kapasitas pengolahan awal. Pengembangan industri perlu berlanjut hingga menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dengan demikian, kenaikan permintaan dapat mendorong pembentukan kemampuan produksi yang lebih kuat di dalam negeri, bukan hanya meningkatkan volume komoditas yang diproses.

Imaduddin menjelaskan bahwa produk yang lebih kompleks umumnya membutuhkan lebih banyak tahapan produksi, keahlian, teknologi, dan layanan pendukung. Kebutuhan tersebut dapat memperkuat keterkaitan antarsektor industri, mulai dari pengolahan bahan baku hingga kegiatan manufaktur lanjutan. Apabila tahapan-tahapan ini berkembang secara terhubung, industri nikel dapat menciptakan permintaan bagi berbagai pelaku usaha domestik. Hubungan yang lebih erat perusahaan utama dan industri pendukung juga berpotensi membuka ruang bagi transfer pengetahuan serta peningkatan kapasitas pemasok lokal.

Perluasan peran rantai pasok lokal menjadi salah satu penentu besarnya manfaat ekonomi yang diterima Indonesia. Pemasok dalam negeri dapat menyediakan barang, komponen, jasa teknik, logistik, pemeliharaan, dan kebutuhan operasional lainnya. Namun, keterlibatan tersebut memerlukan kesiapan dari sisi mutu, konsistensi pasokan, kemampuan teknologi, pembiayaan, dan standar yang berlaku. Karena itu, pendalaman hilirisasi perlu disertai upaya membangun kapasitas perusahaan lokal agar mampu memenuhi kebutuhan industri secara berkelanjutan dan bersaing dengan penyedia dari luar negeri.

Semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar pula peluang terbentuknya kegiatan ekonomi yang saling mendukung di dalam negeri. Nilai tambah tidak hanya berasal dari proses pengolahan nikel, tetapi juga dari tumbuhnya industri pemasok dan layanan yang terhubung dengannya. Hal ini dapat memperluas dampak investasi terhadap tenaga kerja, perusahaan domestik, dan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah. Imaduddin menyampaikan pandangan tersebut pada Minggu (18/10/2026), seraya menekankan pentingnya menggunakan momentum permintaan untuk memperkuat industri hingga tahap produk akhir.

Ketua Umum Indonesian Mining Association Rachmat Makkasau menilai nilai tambah terbesar dari komoditas nikel berada pada industri hilir. Karena itu, peningkatan kapasitas produksi tidak cukup dilakukan dengan memperbesar kegiatan penambangan atau pengolahan awal saja. Rangkaian usaha perlu terhubung dari hulu hingga hilir agar bahan baku dapat diproses menjadi produk bernilai lebih tinggi, termasuk material dan komponen untuk kebutuhan baterai. Integrasi juga dapat memperkuat kesinambungan pasokan, mendukung efisiensi, serta membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai global. Pandangan tersebut menempatkan hilirisasi sebagai pembangunan ekosistem industri, bukan sekadar pembangunan fasilitas pengolahan yang berdiri sendiri.

Salah satu upaya yang mencerminkan pendekatan terintegrasi dilakukan grup MIND ID melalui Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama konsorsium CATL-Brunp-Lygend. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery. Di Karawang, perusahaan mengembangkan fasilitas baterai dengan kapasitas awal 6,9 GWh, dengan target ekspansi hingga 15 GWh. Pengembangan kapasitas ini dirancang untuk memperluas kemampuan produksi baterai di dalam negeri dan menghubungkan ketersediaan sumber daya mineral dengan tahapan manufaktur lanjutan. Dengan keterlibatan perusahaan nasional dan mitra konsorsium, proyek tersebut menjadi bagian dari upaya membangun mata rantai industri baterai yang lebih lengkap di Indonesia.

Integrasi yang lebih luas juga terlihat pada proyek di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Proyek ini disebut mencakup produksi terintegrasi berbagai produk dan sarana pendukung ekosistem baterai, mulai dari material baterai berbasis nikel, baterai, aluminium elektrolit, hingga alat berat berbasis listrik. Menurut keterangan mengenai proyek tersebut, fasilitas di kawasan industri ini diresmikan oleh presiden. Kehadiran beragam kegiatan dalam satu kawasan dimaksudkan untuk menghubungkan pemrosesan bahan baku dengan pembuatan produk hilir dan kebutuhan operasional industri. Jika kapasitas, pasokan, dan tahapan produksi dapat diselaraskan, proyek semacam ini berpotensi mendukung tujuan hilirisasi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah sedang mengkaji kemungkinan moratorium bagi smelter yang hanya menghasilkan produk tertentu. Kajian tersebut belum berarti kebijakan moratorium telah ditetapkan. Pemerintah masih menilai bentuk pengaturan yang diperlukan agar pengembangan kapasitas pengolahan nikel sejalan dengan kebutuhan pasar dan arah pembangunan industri nasional. Bahlil menyampaikan keterangan itu di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Jumat (17/10), tanpa menyebutkan tahun dalam pernyataan tersebut.

Ada dua sasaran yang menjadi pertimbangan dalam kajian itu. Pertama, pemerintah ingin mengendalikan ancaman kelebihan pasokan nikel dunia, yang disebut mencapai sekitar 2,5 juta ton. Pasokan yang terlalu besar dapat menekan harga dan membuat ekspansi fasilitas pengolahan tidak otomatis memberi manfaat optimal bagi industri maupun perekonomian. Karena itu, penataan smelter dipandang sebagai salah satu cara untuk mempertimbangkan keseimbangan kapasitas produksi, kondisi pasar, serta keberlanjutan investasi. Langkah tersebut diarahkan untuk merespons risiko pasar, bukan sekadar membatasi kegiatan pengolahan.

Sasaran kedua adalah mendorong industri menghasilkan produk akhir, bukan berhenti pada produk tertentu dari proses pengolahan . Arah ini berkaitan dengan upaya memperdalam hilirisasi, sehingga rantai produksi dapat bergerak menuju barang dengan nilai tambah lebih tinggi. Bahlil menegaskan keinginan pemerintah agar nilai tambah dari hilirisasi sepenuhnya berada di dalam negeri.