Orasi Guru Besar UGM Warnai Aksi Hari Sumpah Pemuda di Titik Nol Yogyakarta

Jadwal Tayang Film di Ambarrukmo Plaza Yogyakarta pada 14 Oktober 2026

Kota Yogyakarta | Aksi untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda berlangsung di kawasan Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, pada Rabu (28/10). Sejak berkumpul di ruang publik tersebut, peserta dari beragam latar belakang menjadikan pusat kota sebagai tempat menyampaikan aspirasi dan protes. Kehadiran berbagai kelompok memperlihatkan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk menanggapi persoalan yang mereka nilai penting.

Peserta aksi berasal dari mahasiswa berbagai kampus, gerakan masyarakat sipil, serta suporter sepak bola di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka berhimpun di satu lokasi dengan latar organisasi dan kepentingan yang beragam. Mahasiswa, aktivis, dan kelompok suporter turut mewarnai suasana demonstrasi, sementara kawasan Titik Nol menjadi titik temu untuk menyampaikan suara secara bersama-sama. Keberagaman peserta tersebut menunjukkan keterlibatan sejumlah unsur masyarakat dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta.

Dalam aksi itu, massa menyuarakan protes terhadap berbagai kebijakan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Demonstrasi menjadi sarana untuk menyampaikan kritik dan menunjukkan keberatan atas arah maupun dampak kebijakan yang menjadi perhatian mereka. Para peserta berhimpun bukan semata untuk memperingati momentum sejarah, melainkan juga untuk menegaskan pandangan terhadap jalannya pemerintahan. Aspirasi tersebut disampaikan melalui kehadiran mereka di ruang publik, dengan melibatkan kelompok mahasiswa, masyarakat sipil, dan suporter sepak bola.

Pemilihan Titik Nol Kilometer sebagai lokasi berkumpul memberi aksi itu visibilitas di pusat Kota Yogyakarta. Kawasan tersebut menjadi latar bagi pertemuan beragam kelompok yang membawa pesan protes pada momentum yang berkaitan dengan persatuan pemuda. Dengan demikian, demonstrasi Hari Sumpah Pemuda ini memadukan peringatan historis dengan penyampaian sikap politik terhadap kebijakan pemerintahan. Keikutsertaan berbagai unsur masyarakat juga menandai bahwa kritik yang disampaikan di Titik Nol tidak terbatas pada satu kelompok tertentu, tetapi dihimpun oleh peserta dengan latar yang berbeda-beda.

Sejak sekitar pukul 14.00 WIB, massa mulai memadati perempatan Titik Nol Kilometer Yogyakarta untuk mengikuti aksi dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. Kawasan tersebut menjadi tempat berkumpulnya peserta sekaligus lokasi penyampaian aspirasi. Kehadiran massa berlangsung seiring dimulainya rangkaian orasi dari perwakilan berbagai elemen masyarakat yang datang menyuarakan pandangan mereka.

Orasi disampaikan secara tertib dan bergiliran. Setiap perwakilan memperoleh kesempatan berbicara di hadapan peserta, sehingga penyampaian aspirasi berjalan dalam urutan yang teratur. Pergantian pembicara menjadi bagian dari rangkaian aksi, dengan para peserta mengikuti jalannya kegiatan di perempatan tersebut. Suasana aksi yang tampak dari rangkaian itu adalah kegiatan penyampaian pendapat bersama, tanpa keterangan mengenai jumlah peserta secara keseluruhan.

Salah satu orasi disampaikan oleh Zainal Arifin Mochtar, Guru Besar Universitas Gadjah Mada. Ia berbicara di hadapan ratusan orang yang hadir di Titik Nol Kilometer. Kehadiran seorang akademisi dalam rangkaian orasi memperlihatkan keterlibatan beragam unsur dalam aksi tersebut. Namun, kegiatan itu juga melibatkan perwakilan dari elemen masyarakat lainnya yang menyampaikan aspirasi secara bergantian di lokasi.

Dengan berlangsungnya orasi satu demi satu, Titik Nol Kilometer menjadi ruang bagi peserta untuk menyimak berbagai pandangan pada peringatan Hari Sumpah Pemuda. Peserta berkumpul di titik pertemuan itu, sementara para pembicara bergantian menyampaikan pendapat mereka. Rangkaian tersebut menggambarkan jalannya aksi yang terpusat di perempatan, dimulai setelah massa mulai berdatangan sejak pukul 14.00 WIB. Keterangan mengenai Zainal Arifin Mochtar berbicara di hadapan ratusan orang menjadi gambaran jumlah yang tersedia untuk bagian orasi tersebut, bukan taksiran bagi seluruh massa. Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung melalui penyampaian aspirasi secara tertib dan bergiliran oleh berbagai perwakilan di lokasi aksi.

Zainal Arifin Mochtar, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang akrab disapa Uceng, turut menyampaikan orasi dalam aksi memperingati Hari Sumpah Pemuda di Titik Nol Yogyakarta. Kehadirannya membawa perhatian pada makna sumpah pemuda bagi generasi hari ini: bukan sekadar mengulang ikrar yang diwariskan, melainkan menjadikannya pijakan untuk menilai keadaan bangsa dan menentukan sikap. Dalam pesannya, ia mengajak anak muda membangun sumpahnya sendiri. Ajakan tersebut menempatkan kaum muda sebagai pihak yang aktif merumuskan komitmen, bukan hanya menerima rumusan masa lalu tanpa menghubungkannya dengan tantangan yang sedang dihadapi masyarakat. Dengan begitu, peringatan dapat menjadi ruang refleksi sekaligus dorongan untuk bertindak.

Gagasan tentang sumpah baru itu berkaitan dengan pertanyaan mengenai persatuan. Persatuan, dalam pandangan yang ia kemukakan, tidak cukup dijadikan slogan apabila kehidupan bangsa justru memperlihatkan perpecahan. Menyebut diri bersatu perlu diikuti upaya menghadapi keadaan yang membuat warga terbelah dan memastikan kepentingan bersama tidak dikalahkan oleh kepentingan segelintir pihak. Karena itu, anak muda diajak memikirkan isi komitmen yang relevan dengan kondisi sekarang: bagaimana menjaga kebersamaan, menyuarakan keadilan, serta mengawasi arah kebijakan dan distribusi manfaatnya. Rumusan semacam itu memberi makna praktis pada semangat Sumpah Pemuda, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk menguji apakah nilai persatuan benar-benar hadir dalam kehidupan publik.

Uceng juga mengingatkan bahwa persatuan kehilangan makna apabila bangsa terpecah, sementara keuntungan terbesar justru jatuh kepada kaum oligarki. Pesan ini menyoroti jarak bahasa kebangsaan dan hasil yang dirasakan masyarakat. Bagi anak muda, membangun sumpah sendiri berarti tidak berhenti pada pernyataan cinta tanah air, tetapi turut mempertanyakan siapa yang diuntungkan ketika perpecahan terjadi dan bagaimana kepentingan publik dapat dilindungi. Seruan tersebut tidak menghapus arti ikrar 1928; sebaliknya, ia mengajak generasi baru meneruskan semangatnya dengan memahami persoalan zaman. Dari Titik Nol Yogyakarta, orasi itu menegaskan bahwa persatuan perlu dibuktikan melalui sikap dan pilihan bersama. Komitmen pemuda dapat menjadi berarti ketika diarahkan untuk merawat kebersamaan dan menolak keadaan yang membuat manfaat pembangunan hanya dinikmati kelompok tertentu.

Dalam orasinya di Titik Nol Yogyakarta, Uceng mendorong semua pihak untuk tetap berpikir kritis ketika membaca realitas yang sedang berlangsung. Seruan ini menempatkan sikap kritis sebagai cara untuk memahami keadaan secara cermat, bukan sekadar menerima informasi atau penilaian begitu saja. Masyarakat, menurut pesan yang disampaikan dalam orasi, perlu memberi perhatian pada konteks, memeriksa dasar suatu pandangan, serta mempertimbangkan berbagai sisi sebelum membentuk pendapat. Dengan demikian, perbedaan penilaian dapat dibicarakan melalui pertukaran gagasan yang beralasan, bukan semata-mata melalui reaksi spontan.

Ajakan tersebut disampaikan dalam suasana aksi Hari Sumpah Pemuda yang memuat penyampaian protes terhadap berbagai kebijakan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Dalam konteks itu, berpikir kritis berkaitan dengan upaya peserta dan masyarakat luas untuk menilai kebijakan serta situasi publik secara saksama. Seruan Uceng dapat dipahami sebagai pengingat bahwa penyampaian sikap sebaiknya berangkat dari perhatian terhadap realitas dan penalaran yang jernih. Aksi menjadi ruang untuk menyatakan keberatan, sementara pesan orasi mengarahkan perhatian pada pentingnya menguji pemahaman atas keadaan yang menjadi perhatian bersama.

Seruan untuk bersikap kritis juga menekankan bahwa pembacaan terhadap kondisi saat ini memerlukan kehati-hatian. Menyampaikan protes tidak meniadakan kebutuhan untuk melihat persoalan dengan terbuka, sebagaimana berpikir kritis tidak berarti mengabaikan suara masyarakat yang disampaikan melalui aksi. Pesan tersebut mengajak setiap pihak untuk terus mengajukan pertanyaan, mencermati informasi, dan membedakan fakta dengan penafsiran ketika menilai keadaan. Dalam orasi itu, Uceng mengingatkan pentingnya menjaga nalar di tengah dinamika publik.

Baca juga: Panglima TNI Hadiri Bazar Bersama Rakyat di Yogyakarta | Aksi Airborne Lima Negara Warnai Latgabma SGS 2026