Jakarta | Anker Innovations memperkenalkan konsep One Anker dalam acara grand launching di Jakarta pada Kamis (29/10). Peluncuran ini menandai perubahan cara perusahaan menghadirkan portofolio produknya kepada konsumen Indonesia, sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sejumlah perangkat baru. Produk yang ditampilkan mencakup perangkat audio true wireless stereo (TWS) hingga power bank, melanjutkan reputasi Anker sebagai penyedia aksesori dan teknologi pendukung perangkat digital.
Perjalanan perusahaan bermula pada 2011, ketika Anker dikenal sebagai produsen perangkat pengisian daya. Seiring perkembangan bisnis, Anker Innovations membangun sejumlah merek dengan fokus kategori yang berbeda. Solix dikembangkan untuk produk power station, sementara Eufy menghadirkan perangkat rumah pintar. Perusahaan juga memperkenalkan Eufymake untuk perangkat kreatif dan Soundcore untuk produk audio. Strategi tersebut memungkinkan setiap merek mengembangkan keahlian serta identitasnya sendiri di pasar.
Namun, kebutuhan pengguna dan pola pemakaian teknologi terus berubah. Perangkat digital kini semakin terhubung dan kerap digunakan bersama, baik untuk aktivitas pribadi maupun kebutuhan rumah tangga. Dalam konteks itu, perusahaan menilai pendekatan yang lebih terpadu dapat membantu konsumen memahami hubungan beragam produk dalam portofolionya. One Anker menjadi kerangka untuk menyatukan pengalaman tersebut di bawah nama utama Anker, tanpa menghilangkan fungsi dan kategori produk yang telah dibangun.
General Manager Anker Innovations Asia Tenggara, Leon Wu, menjelaskan bahwa perusahaan menggabungkan seluruh merek produknya di bawah satu nama. Penyatuan ini dimaksudkan untuk menghadirkan identitas yang lebih konsisten dan memudahkan konsumen mengenali ekosistem perangkat Anker. Dengan demikian, perubahan tersebut bukan sekadar penyesuaian identitas, tetapi juga mencerminkan upaya mengintegrasikan solusi yang semakin saling berkaitan. Konsumen dapat melihat berbagai produk sebagai bagian dari satu portofolio, alih-alih kumpulan merek yang berdiri sendiri.
Dalam penerapannya, One Anker dibagi menjadi dua kelompok utama. Anker for You mencakup gadget personal, seperti perangkat audio dan aksesori pengisian daya, sedangkan Anker for Home ditujukan bagi perangkat rumah tangga, termasuk teknologi rumah pintar dan solusi daya. Pembagian ini memberi gambaran praktis mengenai kegunaan produk berdasarkan kebutuhan pengguna. Melalui struktur tersebut, Anker Innovations berupaya menyajikan pilihan yang lebih mudah dipahami, dari perangkat untuk dibawa sehari-hari hingga produk yang mendukung aktivitas di rumah.
Anker menyebut dirinya telah berkembang dari sebuah perusahaan teknologi menjadi bisnis dengan jangkauan global dan ratusan juta pengguna. Perkembangan tersebut menjadi landasan bagi perusahaan untuk memperkuat komitmen terhadap inovasi sekaligus memperluas hubungan dengan pasar yang dilayaninya. Dalam pengenalan One Anker, perusahaan menegaskan bahwa penyatuan merek tidak mengubah fokus utamanya: menghadirkan teknologi yang relevan dan bermanfaat bagi pengguna di berbagai negara.
Leon Wu mengatakan Anker akan terus tumbuh dan berinovasi bersama mitra bisnis serta komunitas. Menurutnya, kerja sama itu penting untuk memahami kebutuhan pengguna dan mengembangkan produk yang sesuai dengan perubahan kebiasaan maupun perkembangan teknologi. Saat ini, produk Anker digunakan di lebih dari 180 negara, dengan lebih dari 200 juta orang telah memercayai produk-produknya. Skala tersebut, kata Wu, sekaligus menjadi tanggung jawab perusahaan untuk menjaga mutu dan terus menjawab kebutuhan konsumen.
Wu menilai Indonesia memiliki peran penting dalam perjalanan global Anker. Pengguna di Indonesia dinilai semakin melek digital, tetapi juga menginginkan teknologi yang praktis, andal, dan memberi manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan itu terlihat pada berbagai aktivitas, mulai dari bekerja dan belajar hingga menikmati hiburan serta menjaga perangkat tetap terisi daya. Karena itu, memahami karakter pasar lokal menjadi bagian penting dari upaya perusahaan menghadirkan produk yang tepat, bukan sekadar memperluas jangkauan penjualan.
Penyatuan merek dalam strategi One Anker juga memiliki pertimbangan bisnis. Sebelumnya, sumber daya dan investasi pemasaran perlu dibagi untuk membangun lima merek sekaligus. Dengan berfokus pada satu nama utama, perusahaan dapat memusatkan upaya untuk memperkuat pengenalan merek, menyampaikan pesan yang lebih konsisten, dan mendukung pengembangan produk. Konsolidasi ini diharapkan membuat komunikasi dengan konsumen dan mitra lebih sederhana, sekaligus membantu Anker bersaing di pasar yang semakin ketat. Bagi perusahaan, langkah tersebut bukan hanya perubahan identitas, melainkan cara mengelola investasi secara lebih terarah sambil tetap melayani beragam kebutuhan pengguna di Indonesia dan pasar global.
Anker Innovations Indonesia menempatkan perluasan jaringan ritel sebagai salah satu langkah penting untuk memperkuat kehadirannya di Tanah Air. Brand Manager Anker Innovations Indonesia, Vini Millatina Urfani, menyebut perusahaan saat ini telah memiliki 70 toko ritel di Indonesia. Dalam tiga tahun ke depan, Anker berharap jumlah tersebut bertambah hingga mencapai 150 toko. Target itu mencerminkan upaya perusahaan untuk menjangkau konsumen secara lebih luas, sekaligus membangun pengalaman yang lebih dekat dengan berbagai produk yang ditawarkan.
Menurut Vini, pertumbuhan toko fisik bukan sekadar menambah titik penjualan. Gerai memberi kesempatan bagi konsumen untuk melihat produk secara langsung, mencoba fitur, dan berinteraksi sebelum menentukan pilihan. Pengalaman tersebut melengkapi akses yang selama ini tersedia melalui platform digital, tempat konsumen dapat mencari informasi dan berbelanja tanpa harus datang ke toko. Dengan memperluas jangkauan ritel, Anker ingin menghadirkan lebih banyak pilihan cara bagi masyarakat untuk mengenal produknya.
Ekspansi ini juga diharapkan mendukung hubungan yang lebih erat perusahaan dan konsumen. Kehadiran gerai di berbagai lokasi dapat membantu calon pembeli memperoleh gambaran lebih nyata mengenai fungsi, desain, dan kegunaan produk. Di sisi lain, interaksi langsung memungkinkan konsumen mengajukan pertanyaan serta memahami pilihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi Anker, pendekatan tersebut menjadi pelengkap bagi kanal daring, bukan pengganti platform digital yang sudah dimanfaatkan konsumen.
Selain mengembangkan toko, Anker juga membuka ruang kolaborasi dengan merek lokal. Salah satu kerja sama yang telah dijalin adalah dengan Issue, merek aksesori yang dikenal di Indonesia. Kolaborasi seperti ini memberi peluang bagi Anker untuk hadir dalam konteks yang lebih luas dan menjangkau konsumen melalui pendekatan yang dekat dengan pasar lokal. Perusahaan tidak hanya ingin dipandang sebagai penyedia gadget personal, tetapi juga sebagai merek yang dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Rencana memperluas kemitraan lokal berjalan seiring dengan target pertumbuhan gerai. Dengan menggabungkan pengalaman ritel, akses digital, dan kolaborasi, Anker berupaya memperkuat citranya di Indonesia. Target 150 toko dalam tiga tahun mendatang menunjukkan ambisi untuk meningkatkan keterjangkauan merek, sementara kerja sama dengan pelaku lokal dapat membantu membangun relevansi yang lebih kuat. Bagi konsumen, strategi tersebut berpotensi menghadirkan lebih banyak kesempatan untuk menemukan, mencoba, dan mengenal produk Anker secara langsung.
Anker membangun komunitas pengguna sebagai bagian dari upayanya memahami kebutuhan nyata konsumen dan mengembangkan teknologi yang relevan bagi keluarga. Salah satu inisiatifnya adalah komunitas Anker Baby, yang bekerja sama dengan para ibu menyusui di Indonesia. Melalui keterlibatan langsung tersebut, perusahaan berupaya mendengarkan pengalaman para ibu, termasuk tantangan yang mereka hadapi selama menyusui dan memompa ASI. Masukan dari komunitas menjadi bahan untuk memahami kebutuhan bayi dan rumah tangga, sekaligus membantu mengarahkan pengembangan produk. Pendekatan ini menempatkan pengalaman pengguna sebagai unsur penting dalam proses pengembangan, bukan sekadar tahap setelah produk tersedia. Dengan berdialog bersama peserta, Anker dapat memperoleh gambaran mengenai persoalan yang relevan bagi mereka dan kebutuhan yang perlu dipertimbangkan dalam rancangan teknologi.
Dalam kegiatan komunitas Anker Baby pakar laktasi turut terlibat untuk membantu peserta menghadapi masalah yang.






