Kota Makassar | Musyawarah Daerah (Musda) V Partai Demokrat Sulawesi Selatan mengisyaratkan peluang Munafri Arifuddin menjadi bakal calon tunggal Ketua DPD I Demokrat Sulsel. Sinyal tersebut disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat membuka musda melalui konferensi video dari Makassar pada Jumat malam. Pernyataan itu menempatkan Munafri, yang akrab disapa Appi, sebagai sosok yang mendapat perhatian dalam proses pencalonan kepemimpinan partai di tingkat provinsi tersebut. Meski demikian, sinyal mengenai kemungkinan calon tunggal belum berarti Munafri telah ditetapkan atau terpilih sebagai ketua.
Dalam sambutannya, AHY menyampaikan ucapan selamat datang kepada Appi yang bergabung dengan Partai Demokrat. Ia juga menyinggung perubahan warna baju Munafri menjadi biru, warna yang identik dengan partai tersebut. Sapaan itu disampaikan dalam suasana pembukaan musda dan menjadi bagian dari pesan AHY kepada kader serta peserta yang mengikuti agenda organisasi. Dengan menyambut bergabungnya Munafri, AHY menunjukkan penerimaan terhadap kehadiran tokoh tersebut di lingkungan Demokrat. Namun, pernyataan itu tetap perlu dipahami sebagai sambutan dan isyarat politik, bukan pengumuman keputusan final tentang posisi ketua DPD I.
Musda V menjadi forum partai untuk membahas kepemimpinan dan arah organisasi Demokrat Sulawesi Selatan. Dalam proses tersebut, peluang Appi sebagai bakal calon tunggal mencuat setelah AHY menyampaikan sinyal dukungan melalui sambungan konferensi video. Tahapan musda dan mekanisme internal partai tetap menjadi dasar bagi penentuan kepengurusan. Karena itu, status Munafri masih berada pada tahap peluang pencalonan, sementara hasil akhir belum dapat disimpulkan hanya dari sambutan ketua umum. Peserta dan kader menantikan perkembangan proses tersebut hingga keputusan resmi mengenai kepemimpinan DPD I Demokrat Sulsel diumumkan sesuai prosedur organisasi. Pernyataan AHY membuka ruang bagi Appi untuk diperhitungkan, tetapi belum memastikan hasil pemilihan maupun penetapannya sebagai ketua definitif.
Musyawarah Daerah (Musda) Demokrat Sulawesi Selatan kali ini menggunakan mekanisme yang berbeda dari pemilihan ketua secara langsung. Forum tersebut tidak mengadakan pemungutan suara untuk memilih ketua. Sebaliknya, para pemilik suara mengusulkan nama bakal calon yang dinilai layak memimpin partai di tingkat provinsi. Mekanisme ini menjadi bagian dari tahapan penjaringan sebelum keputusan akhir ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demokrat.
Jumlah pemilik suara dalam musda tercatat 27 orang. Mereka berasal dari 24 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) kabupaten dan kota, unsur sayap partai, serta perwakilan DPP. Agar dapat melanjutkan proses, seorang bakal calon harus mengantongi dukungan sedikitnya tujuh suara, atau sekitar 20 persen dari keseluruhan suara. Ambang batas tersebut menjadi syarat bagi nama yang diusulkan untuk masuk dalam tahapan pencalonan berikutnya.
Setelah memenuhi persyaratan dukungan, nama bakal calon ditetapkan sebagai calon dalam forum musda. Selanjutnya, nama itu diserahkan kepada DPP untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Proses tersebut menjadi pertimbangan sebelum DPP menentukan siapa yang akan ditetapkan sebagai ketua definitif Demokrat Sulsel. Dengan demikian, dukungan dalam musda merupakan bagian penting dari proses, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi keputusan final mengenai kepemimpinan partai.
Dalam penjaringan sebelumnya, sejumlah nama sempat mendaftar, tetapi hanya Munafri Arifuddin yang mengembalikan formulir pendaftaran. Dukungan para pemilik suara kemudian menguat kepada Wali Kota Makassar tersebut. Mereka menyatakan dukungan secara bulat dan mengusulkan Munafri secara aklamasi. Situasi itu membuatnya tampil sebagai satu-satunya nama yang memperoleh dukungan dalam forum, sekaligus memperkuat posisinya sebagai calon tunggal dari Musda Demokrat Sulsel.
Meski demikian, penetapan ketua definitif tetap menjadi kewenangan DPP, setelah mempertimbangkan hasil uji kelayakan dan kepatutan. Pada saat laporan sumber ditulis, rapat pleno musda masih berlangsung. Forum tersebut belum menuntaskan keputusan mengenai pengiriman nama Munafri kepada DPP. Karena itu, hasil dukungan aklamasi belum dapat disamakan dengan penetapan resmi sebagai ketua. Tahap pleno masih diperlukan untuk memutuskan apakah nama Munafri akan diteruskan ke tingkat pusat, sebelum proses penilaian dan penentuan akhir dilakukan sesuai mekanisme partai yang berlaku.Dalam kesempatan tersebut, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus DPD I dan DPC Partai Demokrat di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Ia menilai kerja keras para pengurus di tingkat provinsi maupun daerah berperan penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus membesarkan partai. Dedikasi mereka, menurut AHY, menjadi bagian dari upaya kolektif untuk merawat kepercayaan masyarakat dan memperkuat kerja-kerja politik Demokrat di Sulsel. Penghargaan itu juga ditujukan kepada para kader yang terus menjalankan tugas organisasi di tengah berbagai tantangan dan dinamika politik. AHY mengingatkan bahwa kemajuan partai tidak hanya bergantung pada satu figur, melainkan pada kebersamaan, disiplin, dan konsistensi seluruh jajaran dalam menjalankan tanggung jawabnya.
AHY secara khusus menyampaikan penghormatan kepada Ni’matullah Erbe atas pengabdian panjangnya di Partai Demokrat. Ni’matullah telah berkiprah selama 22 tahun dan memimpin Demokrat Sulsel selama dua periode. AHY menyebutnya sebagai kader senior yang mencurahkan perhatian serta pikirannya untuk membesarkan partai. Pengakuan tersebut menempatkan kontribusi Ni’matullah sebagai bagian penting dari perjalanan organisasi di Sulawesi Selatan, sekaligus mencerminkan kesinambungan kepemimpinan dan kerja kader dari masa ke masa. AHY juga mengapresiasi komitmen Ni’matullah dalam mendampingi partai melewati perubahan dan persoalan internal. Pengalaman serta pengabdiannya, menurut AHY, patut dihormati oleh para kader yang kini meneruskan kerja organisasi.
Dalam mengingat perjalanan itu, AHY menyinggung ujian berat yang pernah dihadapi Demokrat, yakni perampasan kedaulatan pimpinan partai secara inkonstitusional pada masa sebelumnya. Ia mengingat peran Ni’matullah dan para kader dalam menghadapi situasi tersebut, ketika partai harus mempertahankan hak serta legitimasi kepemimpinannya. Pengalaman itu, kata AHY, merupakan bagian dari sejarah perjuangan yang tidak seharusnya dilupakan. Ia menekankan pentingnya setiap kader memahami perjalanan Demokrat, termasuk masa-masa sulit yang menguji solidaritas dan keteguhan organisasi. Dengan mengenali sejarah, kader diharapkan dapat menghargai pengorbanan para pendahulu, menjaga persatuan, serta meneruskan perjuangan partai secara bertanggung jawab. Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembesaran Demokrat membutuhkan komitmen bersama dan penghormatan terhadap kontribusi seluruh kader.
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memandang Sulawesi Selatan sebagai wilayah strategis dalam berbagai bidang. Peran provinsi ini tidak hanya penting dalam peta politik nasional, tetapi juga dalam kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. Posisi tersebut menjadikan Sulawesi Selatan salah satu barometer pembangunan di Pulau Sulawesi dan kawasan timur Indonesia. Karena itu, perkembangan organisasi serta dinamika politik di daerah ini dinilai memiliki arti yang lebih luas, baik bagi partai maupun masyarakat. Musyawarah daerah (musda) menjadi kesempatan untuk menata organisasi sekaligus memperkuat kesiapan kader menghadapi tantangan dan agenda politik yang akan datang.
Dalam pandangan AHY, musda bukan semata-mata forum untuk menentukan kepemimpinan daerah. Kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai ruang konsolidasi internal yang mempertemukan unsur organisasi dari berbagai tingkatan. DPD, DPC, dan PAC diharapkan dapat merapatkan barisan, menyamakan langkah, serta menjaga komunikasi setelah proses musda berlangsung. Kekompakan ant struktur kepengurusan menjadi modal untuk menjalankan program partai secara lebih terarah. Konsolidasi yang kuat juga membantu kader memahami prioritas bersama dan menghindari kerja organisasi yang berjalan sendiri-sendiri. Dengan demikian, keputusan musda dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata di daerah, bukan berhenti sebagai hasil forum semata.
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron turut mengingatkan kader agar memperkuat konsolidasi dan membangun jaringan hingga.






