Kota Mode Paris | Peragaan busana bertajuk “L'entre-deux: Interwoven Identities” hadir di JF3 Fashion Festival 2026 sebagai pertemuan gagasan, material, dan latar kreatif yang beragam. Tiga desainer lulusan École Duperré Paris—Aurélien Voegeli, Maurine Willebien, dan Paul Vidal—berkolaborasi dengan Pintu Incubator untuk menampilkan koleksi yang mengolah gagasan serta material. Kolaborasi ini menjadi titik masuk untuk melihat bagaimana pendidikan mode dapat menjadi ruang pembentukan cara berpikir dan pendekatan berkarya. Karya yang dibawa ke panggung tersebut tidak hanya memperlihatkan hasil akhir berupa busana, tetapi juga mengarahkan perhatian pada proses menghubungkan identitas dengan pilihan material dan bahasa desain. Tanpa perlu mengasumsikan rincian lain tentang peragaan, kolaborasi ini menempatkan para lulusan dan pendidikan mereka dalam satu pembicaraan.
École Duperré, sekolah seni negeri di Paris, menjadi institusi yang menyatukan perjalanan pendidikan ketiga desainer itu. Nama sekolah tersebut memberi konteks bagi karya yang mereka tampilkan, sekaligus mengundang pertanyaan tentang bagaimana pembelajaran mode berhubungan dengan eksplorasi gagasan. Dalam konteks peragaan ini, hubungan itu dapat dibaca melalui cara koleksi dirancang sebagai pengolahan konsep dan material, bukan semata-mata sebagai rangkaian pakaian. Judul “L'entre-deux: Interwoven Identities” juga membuka ruang untuk memikirkan pertautan identitas, sementara kolaborasi dengan Pintu Incubator mempertemukan para lulusan École Duperré dengan mitra kreatif dalam satu presentasi. Informasi yang tersedia menegaskan kolaborasi dan arah pengolahan koleksi, tanpa merinci teknik, bahan tertentu, atau urutan tampilannya.
Karena itu, kehadiran Voegeli, Willebien, dan Vidal di JF3 Fashion Festival 2026 dapat menjadi pengantar untuk menilik École Duperré melalui karya para alumninya. Pengalaman belajar di sekolah tersebut menjadi latar bagi perjalanan kreatif yang kemudian berlanjut di luar Paris, dalam kolaborasi bersama Pintu Incubator. Peragaan ini tidak dengan sendirinya menjelaskan keseluruhan kurikulum atau metode pengajaran École Duperré, tetapi menunjukkan bahwa nama institusi itu hadir dalam percakapan tentang mode, gagasan, dan material. Dari panggung festival, perhatian bergerak dari koleksi menuju tempat para desainer menempuh pendidikan, lalu kembali pada bagaimana ide diwujudkan dalam karya. Pertautan tersebut menyediakan landasan untuk membahas pendidikan mode di sekolah seni negeri Paris ini secara lebih dekat.
Ketika tiba di École Duperré, kesan pertama datang dari bangunannya yang menampilkan karakter arsitektur lama Eropa. Fasadnya memberi nuansa historis, sementara jendela-jendela besar menghadirkan bukaan yang mencolok pada bagian depan. Pintu kayu yang tinggi turut memperkuat kesan bahwa pengunjung sedang memasuki bangunan dengan bentuk dan skala berbeda dari gedung sekolah modern yang sederhana. Dari luar, tempat ini tampak menyimpan jejak waktu, sekaligus menjadi lingkungan belajar bagi mahasiswa yang menekuni seni dan mode. Perpaduan tampilan klasik dan kegiatan pendidikan kreatif membuat kunjungan terasa menarik, bahkan sebelum melihat lebih jauh bagaimana sekolah ini dikelola.
Natacha Lallemand, head of international relations École Duperré, menjelaskan bahwa sekolah telah menempati bangunan tersebut sejak sekitar 1970. Keterangan itu memberi konteks pada fasad, jendela, dan pintu kayu yang terlihat saat kunjungan: gedung tersebut bukan sekadar latar bagi kegiatan belajar, melainkan tempat yang telah digunakan sekolah selama puluhan tahun. Meski tampil dengan ciri bangunan lama, fungsi pendidikan di dalamnya terus berlangsung. Pengalaman melihat bangunan dari luar kemudian membantu memahami hubungan warisan ruang kota Paris dan aktivitas sebuah institusi seni. Namun, informasi mengenai sejarah penggunaan gedung ini sebaiknya dibatasi pada keterangan tersebut, tanpa menambahkan tanggal atau kisah lain yang tidak disampaikan.
Lallemand juga menerangkan bahwa École Duperré merupakan sekolah negeri di bawah Kementerian Pendidikan dan Kota Paris. Pembagian tanggung jawab yang ia jelaskan mencakup fasilitas sekolah yang dibiayai oleh Kementerian Pendidikan, sedangkan bangunan tempat sekolah beroperasi merupakan milik Kota Paris. Dengan demikian, gedung berfasad klasik yang dikunjungi itu menjadi bagian dari fasilitas pendidikan negeri, bukan bangunan milik sekolah. Mahasiswa tidak dikenai biaya pendidikan. Informasi ini melengkapi kesan visual saat berkunjung: di balik pintu kayu tinggi dan jendela besar, École Duperré menjalankan pendidikan seni dan mode sebagai institusi publik. Penjelasan tersebut menunjukkan bagaimana dukungan pemerintah hadir melalui pembiayaan fasilitas dan kepemilikan bangunan, tanpa mengubah karakter arsitektur yang menjadi ciri tempat ini.
École Duperré dikenal sebagai sekolah seni dan desain negeri di Paris yang menarik minat sangat besar. Setiap tahun, puluhan ribu calon mahasiswa memperebutkan sekitar 120 tempat belajar. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk menempuh pendidikan di institusi ini sangat terbatas dibandingkan jumlah orang yang ingin mendaftar. Tingginya persaingan menjadi bagian penting untuk memahami posisi École Duperré: sekolah ini bukan hanya tujuan bagi mereka yang ingin mendalami mode, tetapi juga ruang pendidikan seni dan desain dengan pilihan bidang yang lebih luas. Angka tersebut menggambarkan ketatnya kompetisi secara umum, tanpa dengan sendirinya menjelaskan proses penerimaan atau peluang setiap pelamar.
Mode memang menjadi salah satu bidang yang ditawarkan, tetapi bukan satu-satunya. École Duperré mencakup beragam ranah seni dan desain, sehingga gambaran tentang sekolah ini akan kurang lengkap jika hanya dikaitkan dengan busana. Keberadaan pilihan studi yang berbeda memperlihatkan bahwa pendidikan kreatif dapat menjangkau lebih dari perancangan pakaian, termasuk cara merancang, menyampaikan, dan mengolah gagasan visual. Namun, informasi mengenai jumlah mahasiswa dalam tiap bidang maupun rincian seluruh program tidak perlu disimpulkan hanya dari gambaran umum ini. Yang dapat dipastikan, mode hadir sebagai salah satu bagian dari lingkungan belajar yang lebih beragam.
Dalam kunjungan ke sekolah, mahasiswa program High Diploma of Fashion Design (DSAA) dari jurusan Fashion and Environmental Design serta Image Media and Editorial turut ditemui. Kehadiran mereka memberi gambaran langsung tentang mahasiswa yang menjalani pendidikan terkait mode di École Duperré, sekaligus menunjukkan keterkaitan pembelajaran mode dengan bidang-bidang yang disebutkan tersebut. Nama jurusan itu juga mengisyaratkan cakupan perspektif yang berbeda: Fashion and Environmental Design menyatukan perhatian pada mode dan lingkungan, sementara Image Media and Editorial berkaitan dengan ranah citra, media, dan editorial. Uraian ini berangkat dari mahasiswa yang ditemui dalam kunjungan, bukan klaim tentang jumlah mahasiswa atau komposisi keseluruhan sekolah. Dengan demikian, pembaca dapat melihat mode sebagai bagian dari ekosistem studi seni dan desain, di tengah persaingan masuk yang sangat tinggi.
Mahasiswa program DSAA di bidang Fashion and Environmental Design mengembangkan proyek melalui perpaduan riset, eksperimen, dan pengalaman langsung di lingkungan kerja. Magang menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mereka dapat menjalani penempatan di rumah mode maupun rumah produksi, sehingga memperoleh pemahaman tentang praktik profesional sekaligus menguji gagasan yang sedang diteliti. Pengalaman ini juga membantu mahasiswa mengenali bahan, teknik, dan proses kerja yang dapat memperkaya pendekatan desain mereka.
Riset akademik menjadi tuntutan tersendiri dalam perjalanan menuju kelulusan. Mahasiswa perlu menyusun penelitian tertulis sekurang-kurangnya 100 halaman, dengan topik yang berkaitan erat dengan arah proyek masing-masing. Panjang tulisan itu mendorong mereka menelusuri tema secara mendalam, menyusun kerangka pemikiran, serta menghubungkan referensi dengan pilihan artistik. Magang dapat memberi konteks nyata bagi kajian tersebut, tetapi setiap mahasiswa tetap membangun sudut pandang dan metode yang sesuai dengan minatnya.
Keragaman minat tampak pada pilihan tempat magang maupun latar pendidikan para mahasiswa.
Baca juga: Bentuk Karakter Pelajar Sejak Dini, Babinsa Lakukan Manunggal Pendidikan | Encap SGS 2026 Buktikan Komitmen Tni Bersama Negara Bangun Fasilitas Pendidikan Untuk Masyarakat Di Martapura | Pemkot Tangerang keluarkan SE jemput anak sekolah pada 27–28 Agustus






