Mayangsari Menanggapi Komentar Haters dengan Santai Saat Kembali Bernyanyi

Mayangsari Menanggapi Komentar Haters dengan Santai Saat Kembali Bernyanyi

Jakarta | Mayangsari menanggapi komentar negatif warganet di media sosial dengan santai di tengah keputusannya kembali bernyanyi. Penyanyi senior yang juga dikenal sebagai istri Bambang Trihatmodjo itu memilih tidak membiarkan cibiran menghalangi langkahnya untuk kembali berkarya. Sikap tersebut disampaikannya pada Rabu (14/10/2026), saat ditemui di sela-sela showcase Mayangsari Bernyanyi sekaligus peluncuran singel terbarunya, “Selama Kita Bersama”, di Gandaria, Jakarta Selatan.

Kembalinya Mayangsari ke dunia musik menjadi perhatian publik, termasuk di tengah beragam tanggapan yang muncul di media sosial. Ia menyadari bahwa aktivitas figur publik kerap mengundang komentar, baik berupa dukungan maupun kritik. Namun, ia memilih menyikapi respons tersebut secara ringan dan tidak menjadikannya beban. Baginya, perhatian warganet merupakan bagian dari kehidupan di ruang digital, sedangkan keputusan untuk kembali menyanyi berangkat dari keinginannya sendiri.

Mayangsari juga menempatkan fokusnya pada karya dan kesempatan untuk menyapa pendengar melalui lagu baru. Singel “Selama Kita Bersama” menandai langkahnya kembali bernyanyi, sekaligus menjadi bagian dari kegiatan yang memperkenalkan perjalanan musikalnya saat ini. Ia tidak menjadikan komentar para haters sebagai alasan untuk mundur atau membatalkan rencana bermusik. Sebaliknya, ia menjalani momen tersebut dengan tenang, tanpa perlu membalas setiap cibiran yang beredar.

Sikap santai itu menunjukkan bahwa Mayangsari berusaha memisahkan penilaian di media sosial dari proses berkaryanya. Komentar negatif mungkin tetap muncul, tetapi ia memilih memberi ruang lebih besar bagi musik dan interaksi dengan pendengar. Dengan kembali bernyanyi, ia menghadirkan karya baru sekaligus memperlihatkan bahwa penyanyi senior tetap dapat melanjutkan aktivitas kreatifnya. Perhatian publik terhadap kehidupan pribadinya dan statusnya sebagai istri Bambang Trihatmodjo tidak mengubah pilihan tersebut. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan tanggapannya dalam suasana peluncuran singel, sementara fokus utamanya kini adalah kembali hadir melalui lagu dan menjalani respons warganet dengan sikap yang tidak berlebihan.

Bagi Mayangsari, kehadiran haters merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan figur publik, terutama pada era digital ketika pendapat dapat disampaikan dengan mudah melalui berbagai saluran. Orang yang dikenal masyarakat, menurut pandangannya, akan berhadapan dengan beragam tanggapan: ada yang mendukung, ada pula yang mengkritik atau melontarkan cibiran. Karena itu, komentar negatif bukan sesuatu yang dianggap asing atau harus selalu dibawa ke dalam pikiran.

Ia menyampaikan pandangan tersebut dengan kelakar, “kalau untuk saya, haters itu adalah sebagian dari iman.” Ucapan itu menggambarkan caranya menanggapi keberadaan orang-orang yang tidak menyukainya dengan santai. Mayangsari tidak memandang cibiran sebagai sesuatu yang perlu dipusingkan. Baginya, komentar semacam itu merupakan bagian yang lazim menyertai perhatian publik, sehingga tidak perlu ditanggapi dengan kegelisahan berlebihan. Ia memilih memandangnya sebagai sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan seseorang yang dikenal luas.

Pemikiran Mayangsari juga berangkat dari pandangannya tentang dunia hiburan. Ia merasa akan janggal apabila seseorang yang berada di industri tersebut sama sekali tidak memiliki pengkritik. Dalam lingkungan yang membuat figur publik terus mendapat perhatian dan dinilai oleh banyak orang, keberadaan orang yang tidak sependapat terasa wajar. Dengan demikian, haters tidak serta-merta menjadi hal yang mengejutkan baginya. Cibiran dapat muncul berdampingan dengan dukungan, dan keduanya merupakan bagian dari respons yang diterima seseorang di ruang publik.

Sikap santai itu sejalan dengan cara Mayangsari melihat komentar haters sebagai sesuatu yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan figur publik pada masa digital. Ia tidak menyatakan bahwa setiap kritik harus diabaikan, tetapi menegaskan bahwa keberadaan haters sendiri bukan alasan untuk terus merasa terbebani. Kelakar tentang haters sebagai “sebagian dari iman” disampaikan dalam konteks penerimaan terhadap kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukai seorang penyanyi atau tokoh hiburan. Baginya, justru terasa janggal jika sama sekali tidak ada pihak yang mengkritik seseorang di industri hiburan.

Saat menanggapi komentar nyinyir yang muncul ketika ia kembali bernyanyi, Mayangsari menyampaikan pandangannya dengan nada ringan. Menurutnya, setiap orang memiliki pilihan dalam menyikapi situasi di media sosial: seseorang bisa ikut menjadi bagian dari kelompok haters, atau berada di posisi orang yang menjadi sasaran komentar mereka. Ia tidak menganggap dirinya harus membalas setiap perkataan yang ditujukan kepadanya. Baginya, komentar semacam itu merupakan bagian dari dinamika ruang publik, terutama ketika seseorang kembali tampil dan mendapat perhatian. Sikap yang ia pilih sederhana, yakni “bodo amat”, sehingga komentar negatif tidak perlu mengatur suasana hati maupun menentukan langkahnya. Cara pandang ini membuat tanggapannya terdengar santai, bukan seperti pernyataan yang dimaksudkan untuk memancing pertengkaran atau memperpanjang persoalan.

Respons Mayangsari juga disampaikan secara humoris. Ia tidak menggambarkan dirinya sedang berhadapan langsung dengan para pengkritik, apalagi membalas satu per satu komentar yang masuk. Sebaliknya, ia menyoroti kebebasan orang dalam menentukan sikap, sambil menerima bahwa selalu ada beragam pendapat ketika seseorang menjadi sorotan. Nada bercandanya memberi jarak dari komentar tersebut: ia dapat membicarakannya tanpa menunjukkan bahwa dirinya terpancing atau ingin mengubah pandangan para haters. Dengan begitu, sikap “bodo amat” yang ia ungkapkan lebih merupakan cara untuk tidak memberi bobot berlebihan pada komentar nyinyir. Humor menjadi bagian dari caranya merespons, bukan tanda bahwa ia sedang menyusun serangan balik atau menantang orang-orang yang mengkritiknya.

Mayangsari juga menduga sebagian warganet mungkin menikmati kebiasaan melontarkan komentar ketika sedang bersantai. Ia menggambarkan hal itu melalui perumpamaan tentang orang yang rebahan sambil menjadi haters. Dalam gambaran tersebut, seseorang dapat berbaring, menulis komentar, lalu merasa kegiatan itu menjadi hiburan atau cara mencari kebahagiaan. Perumpamaan ini disampaikan dengan nada jenaka, sejalan dengan keseluruhan responsnya yang tidak dibuat tegang. Ia seolah membiarkan orang lain menjalankan pilihan mereka, selama dirinya sendiri tidak perlu ikut larut. Alih-alih membalas kritik secara langsung, ia memilih menganggap komentar itu sebagai aktivitas yang mungkin menyenangkan bagi pengirimnya. Sikap santai tersebut memperlihatkan bahwa ia ingin tetap menjalani kegiatannya tanpa menjadikan komentar warganet sebagai pusat perhatian.

Mayangsari menegaskan bahwa komentar negatif yang muncul di media sosial tidak mengusik kehidupan pribadinya maupun kesejahteraan keluarganya. Ia memilih menanggapi berbagai kritik dengan santai, tanpa menjadikan komentar para pengkritik sebagai sesuatu yang menentukan suasana hidupnya. Sikap tersebut disampaikan ketika ia kembali bernyanyi dan mendapat perhatian dari warganet. Menurut Mayangsari, respons orang lain di ruang digital tidak mengubah hal-hal yang menjadi bagian dari kehidupan pribadinya.

Dalam menanggapi kritik, ia juga menyampaikan bahwa meladeni para pengkritik tidak akan mengurangi sedikit pun beras di rumahnya. Pernyataan itu menggambarkan pandangannya bahwa komentar tersebut tidak berdampak pada pemenuhan kebutuhan keluarganya. Ia tidak merasa perlu membalas setiap tanggapan negatif yang datang, dan memilih untuk tetap menjalani aktivitasnya. Dengan demikian, perhatian terhadap komentar di media sosial tidak menjadi ukuran bagi kesejahteraan rumah tangganya, sebagaimana ia jelaskan.

Mayangsari adalah ibu dari Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Ia menegaskan bahwa komentar negatif tidak memengaruhi kehidupan pribadi maupun kesejahteraan keluarganya. Keterangan tersebut menjadi batas yang jelas mengenai sikapnya terhadap kritik: ia tidak merasa bahwa komentar itu mengubah keadaan keluarga atau kebutuhan di rumah. Karena itu, ungkapan tentang beras di rumahnya disampaikan untuk menekankan bahwa menanggapi para pengkritik tidak akan mengurangi apa pun dari kesejahteraan tersebut. Ia pun tidak mengaitkan komentar warganet dengan hal lain di luar pernyataan itu.

Ketika kembali.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas