Medan | Longsor menimpa Eco Park Pelaga Glamping Retreat di Banjar Bukit Munduk Tiying, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, pada Minggu (1/11) sekitar pukul 23.00 Wita. Material longsor menimbun bangunan yang digunakan sebagai tempat menginap di kawasan tersebut. Peristiwa ini kemudian memicu pencarian terhadap dua orang pengunjung yang diduga berada di dalam bangunan saat longsor terjadi.
Hingga laporan awal diterima, identitas kedua pengunjung itu belum diketahui. Keberadaan mereka di dalam bangunan masih berupa dugaan, bukan keterangan yang telah dipastikan oleh petugas. Informasi awal mengenai kemungkinan adanya orang tertimbun berasal dari kecurigaan pemilik penginapan. Karena itu, upaya pencarian diperlukan untuk memastikan apakah benar terdapat pengunjung yang belum ditemukan di lokasi terdampak.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar menerima laporan mengenai kejadian tersebut pada Senin (2/11) pukul 06.10 Wita. Rentang waktu peristiwa pada malam hari dan laporan pada pagi berikutnya menjadi bagian dari kronologi yang disampaikan dalam informasi awal. Setelah menerima laporan, petugas memiliki informasi mengenai lokasi longsor, kerusakan berupa bangunan yang tertimbun material, serta dugaan adanya dua pengunjung di dalamnya.
Situasi tersebut membuat pencarian menjadi perhatian utama di area penginapan. Petugas perlu menelusuri lokasi bangunan yang tertimbun untuk memastikan kondisi di bawah material longsor dan mencari kedua orang yang diduga berada di sana. Namun, sebelum proses itu menghasilkan kepastian, jumlah orang yang terdampak dan identitas mereka belum dapat dinyatakan secara definitif. Keterangan bahwa dua pengunjung mungkin tertimbun tetap bersumber pada dugaan pemilik, sehingga perkembangan pencarian diperlukan untuk menjawabnya.
Peristiwa di Eco Park Pelaga Glamping Retreat ini merupakan kejadian longsor di kawasan Desa Pelaga, Badung, yang dilaporkan setelah tengah malam berlalu. Informasi awal yang tersedia berfokus pada waktu kejadian, lokasi bangunan yang tertimbun, dugaan keberadaan dua pengunjung, dan waktu laporan diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar. Rincian lebih lanjut mengenai hasil pencarian maupun keadaan orang-orang yang diduga berada di bangunan tersebut belum tercantum dalam keterangan awal.
Upaya pencarian awal terhadap dua orang yang diduga tertimbun longsor dilakukan oleh pengelola penginapan bersama unsur terkait di Kabupaten Badung. Tim gabungan tersebut melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Badung, Camat Petang, serta personel Polsek Petang. Mereka berupaya menilai situasi dan menjangkau lokasi kejadian untuk mencari kedua orang yang dilaporkan belum ditemukan.
Namun, kondisi cuaca dan medan menjadi kendala utama dalam pencarian awal. Hujan lebat yang mengguyur kawasan tersebut meningkatkan risiko bagi orang-orang yang berada di sekitar lokasi longsor. Selain itu, akses menuju titik pencarian memiliki kontur yang curam, sehingga pergerakan menuju lokasi tidak dapat dilakukan dengan aman. Setelah mempertimbangkan keadaan tersebut, pencarian awal harus ditunda demi mengurangi risiko terhadap petugas maupun pihak lain yang terlibat.
Pengelola penginapan kemudian meminta bantuan kepada tim SAR untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan. Menindaklanjuti permintaan itu, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar memberangkatkan satu tim rescue yang terdiri atas sembilan personel. Tim tersebut ditugaskan untuk mencari serta menolong dua orang yang diduga tertimbun material longsor. Pengerahan personel dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat pencarian di tengah kondisi akses dan cuaca yang menantang.
Dalam pelaksanaan operasi, kondisi medan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi tim. Personel perlu memperhatikan keamanan jalur, kestabilan area terdampak, serta perubahan cuaca sebelum dan selama bergerak menuju lokasi. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas agar pencarian dapat berlangsung dengan hati-hati dan terukur, tanpa menambah risiko di kawasan yang terdampak longsor. Tim juga perlu menyesuaikan langkah kerja dengan situasi lapangan yang terus dipantau.
Operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung. Informasi mengenai perkembangan upaya di lokasi akan disampaikan kemudian setelah terdapat pembaruan dari petugas yang terlibat. Sementara itu, proses pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh personel dan kondisi akses menuju titik kejadian, terutama karena hujan serta medan curam sebelumnya menghambat upaya awal.
Peristiwa terpisah terjadi di Banjar Gambih, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Pada Senin dini hari, sekitar pukul 03.00 Wita, badan jalan di kawasan tersebut amblas setelah terjadi longsor pada tebing di sisi jalan. Tebing yang longsor diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 20 meter. Material tanah yang bergerak menyebabkan sebagian ruas jalan kehilangan penopang dan mengalami kerusakan cukup besar.
Bagian jalan yang amblas memiliki panjang kurang lebih 15 meter dan lebar sekitar tujuh meter. Kondisi itu membuat ruas tersebut tidak dapat dilalui kendaraan, sehingga akses warga dan pengguna jalan terganggu. Pengendara tidak disarankan melintas di titik terdampak karena badan jalan telah runtuh dan kondisi tanah di sekitarnya masih berisiko bergerak. Penanganan serta pengamanan lokasi diperlukan untuk mencegah warga mendekati area yang rawan.
Hingga informasi kejadian disampaikan, tidak ada laporan korban jiwa akibat longsor dan jalan amblas tersebut. Sementara itu, nilai kerugian materiil masih dalam proses pendataan. Lokasi juga dinilai berpotensi mengalami longsor susulan, sehingga kondisi di lapangan perlu terus dipantau sebelum akses dapat dinyatakan aman untuk digunakan kembali.
Curah hujan tinggi diduga menjadi pemicu utama kejadian. Hujan dapat membuat tanah di tebing menjadi jenuh air dan labil, terutama pada area dengan kemiringan yang curam. Warga setempat menyebut kawasan tersebut beberapa kali mengalami longsor susulan. Riwayat itu menjadi alasan tambahan agar pengguna jalan tetap menjauhi titik amblas dan mengikuti arahan petugas apabila tersedia. Perubahan kondisi tanah setelah hujan, termasuk retakan atau pergerakan material, perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda bahaya. Untuk sementara, pengguna jalan sebaiknya mencari jalur lain dan tidak menerobos penutupan. Informasi mengenai perkembangan penanganan dan pendataan kerugian masih diperlukan untuk memastikan kapan akses dapat diperbaiki serta dibuka kembali dengan aman.
Longsor juga memutus jalur penghubung Banjar Pulasari Kawan, Desa Peninjoan, dan Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 23.00 Wita, ketika bagian jalan dilaporkan amblas dan tidak dapat dilalui. Terputusnya akses ini berdampak langsung pada mobilitas warga yang biasa melintasi ruas tersebut untuk bepergian di kedua desa. Kondisi jalan yang amblas membuat perjalanan harus dialihkan, terutama bagi pengguna yang hendak melintas pada malam hari maupun setelah kejadian. Warga pun perlu menyesuaikan rute perjalanan sampai jalur penghubung itu dapat kembali digunakan dengan aman.
Kasi Humas Polres Bangli, Iptu I Gede Gumiliarta, menyampaikan bahwa amblasnya jalan diduga berkaitan dengan saluran air atau gorong-gorong yang tidak mampu menampung debit air. Curah hujan yang tinggi diduga meningkatkan aliran air hingga melampaui kapasitas saluran, kemudian memengaruhi kondisi badan jalan. Dugaan tersebut menjadi penjelasan awal mengenai penyebab kerusakan, sementara informasi yang disampaikan belum menyebutkan adanya kepastian mengenai tingkat kerusakan maupun waktu perbaikan. Hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan beban pada saluran dan tanah di sekitarnya, sehingga kondisi infrastruktur perlu diperhatikan setelah terjadi perubahan cuaca ekstrem. Untuk sementara, ruas yang amblas menjadi titik yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Warga dari Desa Peninjoan dan Desa Bangbang kini harus menggunakan jalur alternatif melalui Pulasari Kangin. Pengalihan tersebut membuat perjalanan memutar sekitar tiga hingga empat kilometer dibandingkan apabila melewati akses yang terputus.

