Koster Akui Terpancing Emosi Saat Cek SPBU yang Tak Beroperasi 24 Jam

Koster Akui Terpancing Emosi Saat Cek SPBU yang Tak Beroperasi 24 Jam

Denpasar | Gubernur Bali Wayan Koster menanggapi video yang memperlihatkan dirinya membentak seorang pegawai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dengan ucapan, “Diam kamu!” Rekaman tersebut beredar ketika Bali sedang menghadapi krisis bahan bakar minyak (BBM), sehingga sikap Koster dalam video itu menjadi perhatian publik. Ia menyampaikan penjelasan mengenai peristiwa tersebut dalam rapat paripurna DPRD Bali ke-56 di Gedung DPRD Bali, Denpasar, pada Jumat (30/10/2026).

Koster menjelaskan bahwa dirinya saat itu sedang mengecek SPBU yang tidak beroperasi selama 24 jam. Dalam penuturannya, ia mengakui terpancing emosi ketika berada di lokasi. Penjelasan itu disampaikan untuk merespons potongan video yang beredar dan menunjukkan ketegangan dirinya dengan pegawai SPBU. Situasi tersebut berlangsung di tengah persoalan pasokan BBM yang sedang menjadi perhatian masyarakat Bali.

Namun, video yang beredar tidak dengan sendirinya menggambarkan seluruh rangkaian kejadian maupun konteks pemeriksaan di SPBU. Rekaman yang terlihat publik memperlihatkan bagian ketika Koster melontarkan ucapan keras, tetapi tidak cukup untuk memastikan apa yang terjadi sebelum atau sesudah momen tersebut. Karena itu, penjelasan Koster dalam forum DPRD menjadi bagian penting untuk memahami keterangan yang ia berikan, tanpa menganggap potongan video sebagai gambaran lengkap peristiwa.

Respons gubernur itu juga menempatkan perhatian pada persoalan operasional SPBU dan ketersediaan BBM. Pemeriksaan terhadap stasiun yang tidak buka sepanjang waktu disebut dalam konteks upaya melihat langsung kondisi di lapangan. Meski demikian, pengakuan bahwa dirinya terbawa emosi menggarisbawahi bahwa penyampaian teguran kepada petugas dapat menjadi sorotan tersendiri, terutama ketika berlangsung di tengah situasi yang sensitif bagi warga. Keterangan tersebut menjelaskan bagaimana Koster memandang insiden itu, sementara publik melihatnya melalui rekaman yang beredar. Dengan memisahkan isi video dari penjelasan yang disampaikan kemudian, pembaca dapat menilai peristiwa berdasarkan informasi yang tersedia, tanpa menarik kesimpulan melampaui konteks yang diketahui.

Koster mendatangi salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk memeriksa secara langsung apakah kesepakatan dengan Pertamina telah dijalankan. Kesepakatan tersebut mengatur agar SPBU beroperasi selama 24 jam, sehingga warga tetap memiliki kesempatan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) di tengah situasi sulit yang sedang dihadapi Bali. Kunjungan itu bukan sekadar agenda pemeriksaan rutin. Koster ingin memastikan layanan yang telah disepakati benar-benar tersedia bagi masyarakat, terutama ketika kebutuhan BBM membuat warga harus mencari dan menunggu di SPBU.

Namun, saat tiba di lokasi, ia mendapati SPBU tersebut tidak beroperasi. Keadaan itu berbanding terbalik dengan harapan bahwa layanan berlangsung sepanjang hari sesuai kesepakatan. Pada saat yang sama, antrean warga yang ingin mendapatkan BBM terlihat sangat banyak. Koster menyaksikan langsung warga menunggu, sementara SPBU yang ia datangi tidak melayani pengisian. Perbedaan kesepakatan operasional dan keadaan di lapangan itulah yang menjadi pokok perhatian dalam kunjungannya. Situasi tersebut menunjukkan pentingnya memastikan pelaksanaan layanan, bukan hanya mengandalkan adanya kesepakatan.

Temuan itu berlangsung dalam konteks krisis BBM di Bali, ketika warga membutuhkan akses terhadap bahan bakar dan antrean di lokasi tersebut memanjang. Koster menjelaskan bahwa ia datang untuk mengecek pemenuhan kesepakatan, tetapi kondisi yang ditemuinya membuatnya terpancing emosi. Reaksi tersebut muncul setelah ia melihat SPBU tidak beroperasi, padahal masyarakat sedang menunggu untuk memperoleh BBM. Peristiwa ini menyoroti jarak rencana agar SPBU buka selama 24 jam dan kenyataan yang dijumpai saat pemeriksaan. Bagi Koster, pengecekan langsung diperlukan agar dapat diketahui apakah kesepakatan dengan Pertamina berjalan sebagaimana mestinya. Di lokasi itu, ia melihat layanan belum berlangsung, sementara kebutuhan warga tampak dari banyaknya antrean. Pemeriksaan tersebut pun memperlihatkan mengapa kepastian jam operasional menjadi perhatian dalam kondisi krisis: masyarakat memerlukan informasi dan layanan yang sesuai dengan pengaturan yang telah disepakati. Kunjungan Koster berpusat pada hal tersebut, yakni memastikan SPBU beroperasi sesuai komitmen dan memahami keadaan yang dihadapi warga saat mencari BBM.Adu mulut yang melibatkan Koster terjadi pada Rabu malam (14/10) di SPBU 54.801.48, Jalan Diponegoro, Denpasar. Peristiwa itu berlangsung ketika Koster mendatangi lokasi dan mempertanyakan kondisi SPBU yang saat itu tidak beroperasi. Ia juga menanyakan keberadaan pimpinan tempat pengisian bahan bakar tersebut. Percakapan kemudian memanas dan berujung pada adu mulut dengan seorang pegawai SPBU. Potongan video yang merekam kejadian itu belakangan beredar luas di media sosial dan menjadi viral.

Menurut penjelasan Koster, kedatangannya berkaitan dengan layanan SPBU yang tidak buka selama 24 jam. Ia meminta agar tempat pengisian BBM itu segera dibuka, sekaligus mempertanyakan alasan operasionalnya terhenti. Koster menyatakan bahwa permintaan tersebut ditujukan kepada pimpinan SPBU, bukan kepada pegawai yang kemudian terlibat adu mulut dengannya. Dengan demikian, ia menjelaskan bahwa persoalan yang hendak disampaikan menyangkut pengelolaan dan operasional SPBU, bukan ditujukan secara pribadi kepada petugas yang berada di lokasi.

Koster juga menerangkan bahwa ketika menyampaikan pertanyaan dan permintaannya, ia berbicara kepada satu orang. Namun, menurut keterangannya, pegawai lain yang kemudian marah dan terlibat dalam percakapan bernada tinggi tersebut. Perbedaan pihak yang diajak bicara dan pegawai yang bereaksi menjadi bagian dari penjelasan Koster mengenai awal terjadinya ketegangan. Rekaman video yang beredar memperlihatkan sebagian situasi di lokasi, tetapi potongan yang viral itu tidak dengan sendirinya menunjukkan seluruh rangkaian percakapan sebelum dan sesudah adu mulut.

Dalam video tersebut, Koster tampak beradu argumen dengan pegawai di area SPBU. Penyebaran rekaman membuat kejadian di Jalan Diponegoro itu mendapat perhatian publik, terutama terkait permintaan agar SPBU beroperasi kembali dan keterangan Koster mengenai siapa yang menjadi sasaran pembicaraannya. Informasi yang disampaikan Koster menekankan bahwa ia mempertanyakan keberadaan pimpinan serta alasan SPBU tidak beroperasi, lalu meminta tempat itu segera dibuka. Adapun adu mulut terjadi setelah percakapan tersebut melibatkan pegawai lain yang disebutnya marah.

Koster mengakui bahwa dirinya ikut terpancing emosi ketika berhadapan dengan pegawai SPBU yang sedang ia cek terkait operasional selama 24 jam. Ia menilai sikap pegawai yang menghadapi dirinya dengan kemarahan telah memengaruhi responsnya saat itu. Namun, pengakuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ia menyadari dirinya tidak seharusnya membalas kemarahan dengan sikap serupa. Dalam penilaiannya, keadaan yang memicu emosi tidak menghapus tanggung jawab atas cara seseorang merespons. Ia dapat memahami bahwa dirinya terbawa suasana, tetapi tetap menganggap tindakannya keliru. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa ia melihat respons tersebut sebagai kesalahan pribadi, bukan sebagai tindakan yang patut dibenarkan karena situasi di lokasi.

Ia mengatakan bahwa seharusnya dirinya tidak ikut membalas kemarahan pegawai tersebut. Sikap yang lebih tepat, menurut pengakuannya, adalah tidak menanggapi kemarahan dengan emosi yang sama. Koster menyebut tindakan yang dilakukannya sebagai kesalahan. Pengakuan ini tidak mengubah inti persoalan yang sedang dibicarakan, yakni pemeriksaan terhadap SPBU yang tidak beroperasi selama 24 jam, tetapi menerangkan bagaimana ia menilai perilakunya sendiri dalam peristiwa itu. Ia tidak menyamarkan keterlibatannya dalam suasana emosional tersebut dan tidak menggambarkan responsnya sebagai sesuatu yang benar. Dengan menyebutnya kesalahan, Koster secara langsung mengakui bahwa dirinya seharusnya mampu menahan diri, sekalipun saat itu ia merasa terpancing oleh kemarahan pegawai.

Koster juga menyampaikan bahwa ia masih memikirkan tindakannya setelah sampai di rumah. Hal itu menunjukkan bahwa kejadian tersebut terus menjadi bahan renungannya, termasuk mengenai respons yang ia berikan ketika situasi memanas.