Kisah Tiga Ibu Menjalani Persalinan dan Perjalanan Mengasuh Anak

Kisah Tiga Ibu Menjalani Persalinan dan Perjalanan Mengasuh Anak

Jakarta | Bagi Tasya Farasya, pengalaman melahirkan anaknya di rumah sakit berlangsung pada masa ketika pandemi COVID-19 membawa pembatasan aktivitas. Dalam situasi tersebut, ia menjalani persalinan tanpa pendamping. Pengalaman ini menjadi salah satu bagian penting dari kisah Tasya sebagai seorang ibu, sekaligus gambaran tentang bagaimana sebuah peristiwa besar dalam kehidupan keluarga dapat terjadi di tengah keadaan yang tidak biasa. Tanpa menambahkan detail mengenai kondisi rumah sakit ataupun proses persalinannya, kisah ini dapat dikenang melalui fakta sederhana bahwa ia menghadapi momen tersebut sendiri sebagai pasien, ketika pembatasan akibat pandemi membatasi aktivitas dan pendampingan. Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengasuh anak.

Di kemudian hari, Tasya juga membagikan pencapaian lain dalam perjalanannya sebagai ibu: ia berhasil menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Pengakuan tersebut menempatkan masa menyusui sebagai bagian tersendiri dari kisah pengasuhan yang ia jalani setelah persalinan. Perjalanan setiap keluarga tentu memiliki pengalaman dan waktunya masing-masing, sehingga kisah Tasya dapat disampaikan tanpa menjadikannya ukuran bagi ibu lain. Yang dapat dicatat dari ceritanya adalah bahwa ia menyebut keberhasilannya menyusui selama dua tahun penuh, sebuah capaian yang ia hubungkan dengan pengalamannya membesarkan anak.

Dua pengalaman itu memperlihatkan beberapa babak berbeda dalam kisahnya sebagai ibu: persalinan tanpa pendamping pada masa pembatasan pandemi, lalu perjalanan menyusui yang berlangsung selama dua tahun. Keduanya merupakan bagian dari pengalaman pribadi Tasya, bukan gambaran yang harus berlaku bagi semua orang tua. Dengan membagikan kisah tersebut, ia menghadirkan catatan tentang perjalanan keluarga yang mencakup momen kelahiran dan pengasuhan setelahnya. Ceritanya dapat dipahami sebagai pengingat bahwa pengalaman menjadi ibu terbentuk dari berbagai tahap, yang masing-masing memiliki konteks tersendiri. Dalam kasus Tasya, konteks pandemi menyertai persalinannya, sedangkan pengakuan tentang menyusui menunjukkan satu bagian lain dari perjalanan mengasuh anak. Kedua hal itu membuat kisahnya dapat dikenali sebagai pengalaman personal yang mencakup lebih dari satu fase kehidupan keluarga.

Di berbagai kenangan dalam perjalanan mengasuh anak, Tasya mengingat masa ketika anaknya berusia sekitar dua tahun. Pada usia itu, sang anak mulai memanggil kedua orangtuanya dengan sebutan “mama” dan “papa”. Bagi Tasya, perubahan kecil dalam cara anak berkomunikasi tersebut menjadi momen yang mengundang tawa. Ia menganggapnya lucu, terutama karena panggilan itu menandai tahap baru dalam perkembangan anak sehari-hari. Kenangan tersebut menunjukkan bagaimana hal sederhana, seperti mendengar anak menyebut nama orangtuanya, dapat terasa istimewa bagi keluarga.

Momen awal anak berbicara itu hadir di tengah kisah yang lebih luas tentang pengalaman menjadi ibu. Setiap perjalanan keluarga memiliki kejadian yang diingat dengan cara berbeda, mulai dari perkembangan anak hingga tantangan setelah melahirkan. Dalam cerita ini, pengalaman Tasya tentang panggilan “mama” dan “papa” disandingkan dengan pengalaman Marini Putri Habibie. Marini dikenal sebagai kreator konten sekaligus cucu B.J. Habibie. Ia menceritakan tantangan yang dihadapinya setelah menjalani persalinan caesar, ketika ia mengalami anemia berat dan mengatakan ASI-nya tidak keluar.

Pengalaman persalinan tersebut membawa perubahan pada cara Marini memandang rasa takut. Ia menyampaikan bahwa setelah melewati persalinan itu, ia merasa tidak lagi takut menghadapi hal lain selain Allah. Pernyataan tersebut menggambarkan makna pengalaman itu baginya, tanpa perlu menambahkan rincian medis ataupun emosi yang tidak ia sampaikan. Kisah Marini memperlihatkan bahwa masa setelah persalinan dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang ibu, sementara kenangan Tasya mengingatkan pada momen-momen sederhana saat anak mulai berkomunikasi. Kedua pengalaman itu berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian dari kisah menjalani persalinan dan mengasuh anak. Dengan berbagi pengalaman, para ibu menghadirkan sudut pandang yang beragam tentang kehidupan keluarga: ada kenangan yang terasa lucu, dan ada tantangan yang membentuk cara seseorang memahami keberanian serta ketakutannya.

Pengalaman Indira Kalistha sebagai orangtua berubah dari satu anak ke anak berikutnya. Saat mengasuh anak pertama, ia mengaku sering bingung menentukan pola pengasuhan yang tepat. Berbagai keputusan sehari-hari dapat terasa penting, tetapi belum tentu mudah dinilai ketika semuanya masih baru. Ia pun berusaha mencari informasi melalui internet, berharap menemukan panduan yang bisa membantunya memahami kebutuhan anak dan menjalani peran sebagai ibu dengan lebih yakin. Meski demikian, banyaknya informasi tidak selalu menghilangkan keraguan. Sebaliknya, ia masih kerap bertanya-tanya apakah keputusan yang diambil untuk merawat anak sudah benar.

Keraguan tersebut juga berkaitan dengan perasaan bersalah yang dialami Indira sebagai ibu dan orangtua. Ketika seseorang belum memiliki banyak pengalaman, berbagai situasi dapat memunculkan pertanyaan mengenai apakah dirinya telah melakukan cukup banyak atau memilih cara yang tepat. Keinginan untuk memberikan perawatan terbaik dapat membuat hal-hal kecil terasa membebani, terutama saat belum ada pengalaman sebelumnya sebagai pegangan. Pengakuannya menggambarkan bahwa proses belajar menjadi orangtua dapat disertai ketidakpastian, pencarian informasi, dan evaluasi diri. Pengalaman ini bukan berarti ia tidak peduli, melainkan memperlihatkan bagaimana tanggung jawab merawat anak dapat terasa besar bagi orangtua baru.

Saat mengasuh anak kedua, Indira merasakan perubahan dalam sikapnya. Pengalaman merawat anak pertama memberinya bekal sehingga ia merasa lebih santai dan tidak terlalu berhati-hati dalam setiap hal. Perbedaan itu tampak, lain, dalam urusan kebersihan: ia tidak lagi menerapkan kehati-hatian yang sama seperti ketika anak pertama masih bayi. Ia telah memiliki gambaran lebih nyata tentang rutinitas pengasuhan dan hal-hal yang perlu diperhatikan, sehingga tidak semua situasi memicu keraguan seperti sebelumnya. Namun, perbedaan pengalaman tersebut tidak menjadikan satu pola pengasuhan lebih baik daripada pola lainnya. Setiap orangtua menjalani prosesnya sendiri, sementara kebutuhan dan keadaan keluarga dapat berubah dari waktu ke waktu. Kisah Indira menunjukkan bagaimana pengalaman sebelumnya dapat memengaruhi rasa percaya diri dan pendekatan orangtua, tanpa harus menjadi ukuran untuk menilai pilihan keluarga lain.Kisah Tasya, Putri, dan Indira tentang persalinan serta perjalanan mengasuh anak hadir dalam Mothercare Museum of Moments, sebuah acara yang berlangsung pada 15–18 Oktober 2026 di Grand Indonesia, Jakarta. Bertepatan dengan 21 tahun kehadiran Mothercare di Indonesia, acara ini mengajak pengunjung melihat kembali beragam momen yang menyertai perjalanan menjadi orangtua. Cerita para ibu tersebut menggambarkan pengalaman yang berbeda, sekaligus menunjukkan bagaimana pendampingan dan kebutuhan keluarga berubah seiring pertumbuhan anak. Museum ini mengangkat perjalanan sejak masa kehamilan, ketika orangtua menantikan kelahiran, hingga berbagai tahap tumbuh kembang berikutnya. Cakupannya menjangkau anak sampai usia delapan tahun, sehingga pengalaman yang ditampilkan dekat dengan keluarga yang sedang melewati beragam tonggak perkembangan.

Selain menghadirkan kisah dan pengalaman seputar pengasuhan, Mothercare Museum of Moments menawarkan sejumlah aktivitas bagi pengunjung. Melalui Patch Your Moments, orangtua dapat mempersonalisasi pakaian anak dengan sentuhan yang mencerminkan kenangan atau momen istimewa keluarga. Aktivitas ini memberi kesempatan untuk membuat pakaian terasa lebih personal, sekaligus mengabadikan cerita kecil dalam keseharian. Area foto Memory Makers disediakan sebagai ruang untuk berfoto dan menyimpan kenangan kunjungan bersama keluarga. Pengunjung juga dapat beristirahat di Mothercare Café, yang menjadi tempat untuk mengambil jeda di tengah rangkaian acara. Beragam bagian tersebut dirancang agar keluarga dapat menjelajahi pengalaman dengan nyaman, baik saat menikmati cerita, mengikuti aktivitas, maupun menghabiskan waktu bersama anak.

Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Trauma Healing Korem 161/WS Bangkitkan Keceriaan Anak-Anak Korban Gempa Flores