Jakarta | Sebagai bagian dari rangkaian penilaian BSA, dewan juri dan tim panitia dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut hadir melihat keseruan acara. Finalis Benyamin S Award (BSA) 2026 dari Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, hidupkan kembali nuansa Jakarta era 1980-an dalam Festival Jalan Jaksa yang digelar Minggu (11/10).
Keterangan yang tercatat menyebut Memang disuruh juga untuk menampilkan acara joget [di] Festival Jalan Jaksa ini," ujar Dako. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah hadir di lokasi sejak pukul enam pagi. Seru banget, seru, yang jelas nostalgia, dan kita enjoy, happy," ungkap Ani. Kan ajang kita berkumpul, nih, jadi ke depan kita bisa guyub lagi," ungkap Arif. Karena memang ini juga harapan dari teman-teman warga, terus juga teman-teman Karang Taruna dan juga beberapa netizen yang ikut meninggalkan pesan di kolom komentar yang kami upload di media sosial," kata Henny.
Data lain dalam laporan menunjukkan Konsep kami beda dengan yang lain, kami menghadirkan kenangan-kenangan masa lalu di mana yang hadir diimbau untuk mengenakan pakaian era 80-an," ujar Lurah Kebon Sirih Henny Mahrojah. Dengan gaya busana nyentrik ala 80-an, warga memadati festival yang diadakan di sepanjang Jalan Jaksa ini. Setelah sampai, sekitar sepuluh orang penampil selanjutnya datang membuat barisan di tengah jalan. Para penampil sudah siap dengan interpretasi gaya busana 80-an mereka masing-masing. Hari ini mereka ditugaskan untuk membuka acara dengan sebuah tarian yang diiringi alunan musik Betawi.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Imbauan ini ternyata diikuti oleh para warga yang hadir. Kedatangan mereka disambut dengan sejumlah pertunjukan. Penampilan ondel-ondel mengiringi juri dan tim panitia dari arah jalan masuk hingga lokasi papan tulisan nama festival berdiri. Beberapa di antaranya mengenakan kemeja kotak-kotak berkerah dan kancing bagian atas yang terbuka. Atasan tersebut dilengkapi dengan celana cutbrai serta bandana yang diikat di leher.
Sebelumnya, sembilan festival lain sudah diselenggarakan di berbagai wilayah di Jakarta hingga Kepulauan Seribu. Para penampil ini adalah petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Kebon Sirih. Dako dan Syarif adalah dua dari 10 petugas PPSU yang ikut menari. Keduanya menceritakan, awalnya petugas PPSU diajak pihak panitia untuk menyumbang penampilan dalam acara festival. Syarif menambahkan bahwa gerakan dibuat secara sederhana dan spontan. Ia mengatakan persiapan dilakukan bersama-sama, dan tidak dibebankan ke satu orang saja. Bareng-bareng spontan, intinya itu kita enggak perlu latihan lama," ungkapnya. Sebagai petugas PPSU sekaligus warga yang menghabiskan hari-harinya di Kelurahan Kebon Sirih, Syarif berharap festival seperti ini bisa terus berlanjut. Apalagi dengan tema-tema yang mampu menarik perhatian warga, misalnya tema tahun 80-an ini. Dihidupkan lagi dari pihak kelurahan, karena beberapa tahun ini vakum. Vakum dalam artian kurang wah, kurang meriah, dah. Kebetulan kita panitia kelurahan di sini menyediakan ala tahun 80-an, akhirnya antusiaslah warga semua," katanya. Sementara itu, tak hanya warga Kelurahan Kebon Sirih saja yang ikut menyemarakkan Festival Jalan Jaksa. Warga dari kelurahan sekitarnya juga datang, bahkan sambil menggunakan kostum tema 80-an. Salah satu contohnya adalah Ani, seorang warga Kelurahan Menteng. Ani menceritakan kalau dirinya sudah mempersiapkan busana sejak dua hari lalu. Ia bahkan sempat meminjam anting bulat besar dari kenalannya untuk ia pakai. Ani dan kedua temannya, Arif dan Laila, menyebut bahwa mereka mengetahui informasi soal festival ini dari media sosial. Mendengar kabar tersebut, mereka memutuskan untuk datang dan akhirnya mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Mereka juga berharap bahwa festival dapat menjadi agenda tahunan agar Jalan Jaksa dapat hidup kembali. Dulu kan Jalan Jaksa juga rame di sini. Kalau bisa dijadikan agenda tahunan oleh Pemprov DKI Jakarta. Terkait harapan ini, Henny Mahrojah menyatakan sangat siap untuk kembali mengadakan festival di tahun mendatang. Festival Jalan Jaksa merupakan bagian dari rangkaian festival dari kelurahan finalis BSA. Penyelenggaraan festival ini ditujukan untuk memperlihatkan seluruh potensi yang dimiliki oleh kelurahan dalam satu acara. Potensi kelurahan memang menjadi aspek yang hendak ditelusuri dan didorong dengan adanya pelaksanaan Benyamin S Award ini. Pemprov DKI Jakarta melalui Biro Kerja Sama Daerah, Sekretariat Daerah (Setda), menghadirkan BSA untuk mengapresiasi kelurahan yang memiliki komitmen dalam mendukung Jakarta menjadi semakin bersih, nyaman, indah, dan sejahtera.

