Karhutla Menjangkau Sejumlah Pegunungan, BNPB Catat Empat Gunung Terbakar di Jawa Timur

Karhutla Menjangkau Sejumlah Pegunungan, BNPB Catat Empat Gunung Terbakar di Jawa Timur

Kota Tomohon | Kebakaran hutan dan lahan meluas hingga sejumlah kawasan pegunungan di Pulau Jawa, menambah sebaran kejadian yang juga tercatat di wilayah lain Indonesia. Di Jawa Timur, kebakaran dilaporkan terjadi di beberapa gunung, sementara kawasan di Jawa Barat dan Jawa Tengah turut terdampak. Gambaran ini menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya ditemukan di satu jenis bentang alam atau satu bagian pulau. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci seluruh wilayah di luar Jawa yang mengalami kebakaran, sehingga cakupan nasionalnya belum dapat dijabarkan secara lengkap berdasarkan catatan tersebut.

Peristiwa di kawasan pegunungan menjadi bagian penting dari pemetaan kejadian karena wilayah terdampak tersebar di beberapa provinsi. Penyebutan Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah memberikan gambaran mengenai jangkauan geografis kebakaran di Pulau Jawa, tanpa berarti semua kawasan pegunungan di provinsi-provinsi itu terbakar. Catatan mengenai empat gunung yang terbakar di Jawa Timur secara khusus menyoroti skala kejadian di provinsi tersebut. Sementara itu, rincian mengenai nama seluruh lokasi, luas area terdampak, maupun waktu terjadinya setiap kebakaran tidak disampaikan dalam informasi yang dirujuk.

Di luar Pulau Jawa, kejadian karhutla juga disebut berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Akan tetapi, sumber tidak menguraikan daerah-daerah tersebut secara menyeluruh. Karena itu, sebaran di luar Jawa perlu dipahami sebagai konteks tambahan, bukan daftar lengkap lokasi terdampak. Informasi yang dapat dipastikan dari gambaran ini adalah bahwa kebakaran menjangkau beberapa kawasan pegunungan di tiga provinsi di Jawa, serta terjadi pula di wilayah lain di Tanah Air. Tidak ada keterangan yang cukup untuk menetapkan penyebab kebakaran, membandingkan tingkat dampaknya antarlokasi, atau menarik kesimpulan tentang pola penyebarannya. Rincian lebih lanjut diperlukan agar pembaca dapat memahami skala peristiwa secara lebih utuh.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 261 titik panas di Jawa Timur dalam laporan mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjangkau sejumlah kawasan pegunungan. Data tersebut menunjukkan bahwa kebakaran berdampak pada lahan dengan luas keseluruhan 482 hektare. Dari jumlah itu, api di area seluas 223 hektare masih belum padam saat laporan disampaikan.

Angka tersebut menggambarkan besarnya wilayah yang terdampak sekaligus pekerjaan pemadaman yang masih harus dilakukan. Perbedaan total lahan terdampak dan area yang belum padam juga menunjukkan bahwa sebagian lokasi telah berhasil ditangani, meskipun BNPB masih melaporkan adanya kebakaran aktif. Titik panas menjadi salah satu indikator yang dipantau dalam melihat sebaran kejadian di wilayah tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut empat gunung di Jawa Timur yang mengalami karhutla, yaitu Arjuno-Welirang, Argopuro, Saeng, dan Bromo. Penyebutan lokasi-lokasi ini menegaskan bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan dataran, tetapi juga menjangkau lingkungan pegunungan. Keempat nama tersebut menjadi bagian dari laporan BNPB mengenai kejadian karhutla di provinsi itu.

Keterangan Berton disampaikan dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui kanal YouTube BNPB pada Jumat, 24 Oktober 2026. Melalui pemaparan tersebut, BNPB menyampaikan pembaruan mengenai jumlah titik panas, luas lahan terdampak, serta kondisi area yang masih terbakar. Informasi ini memberikan gambaran awal mengenai skala kejadian berdasarkan data yang disampaikan lembaga tersebut.

Jumlah titik panas dan luas area terdampak merupakan informasi penting bagi pemantauan karhutla, terutama ketika kejadian meluas ke beberapa kawasan gunung. Sementara itu, fakta bahwa 223 hektare masih belum padam menandakan perlunya perhatian berkelanjutan terhadap perkembangan api. Data BNPB tersebut menjadi rujukan untuk memahami sebaran kebakaran di Jawa Timur pada saat konferensi pers berlangsung, termasuk lokasi pegunungan yang disebutkan oleh Berton.

Lima petugas dan relawan dilaporkan meninggal dunia ketika berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Gunung Bromo. Mereka terperangkap di area terdampak api saat menjalankan upaya penanganan, sebagaimana disampaikan Berton. Peristiwa tersebut menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi personel di lapangan, terutama ketika kobaran api meluas dan kondisi medan membatasi ruang gerak. Upaya pemadaman di kawasan pegunungan dapat menghadapi perubahan arah angin, jalur yang sulit dilalui, serta akses terbatas menuju titik api. Namun, informasi yang disampaikan tidak merinci identitas para korban maupun keadaan terperinci saat mereka terjebak. Penanganan kebakaran tetap berlangsung dengan mempertimbangkan keselamatan petugas dan relawan, selain kebutuhan untuk membatasi penyebaran api. Peristiwa di Bromo menjadi bagian dari rangkaian kebakaran yang juga terpantau di sejumlah kawasan pegunungan lainnya.

Di Jawa Tengah, kebakaran terpantau di lereng Gunung Sumbing pada Rabu, 21 Oktober 2026. Api dilaporkan merembet dari arah Magelang menuju Temanggung, sehingga pergerakannya melintasi kawasan di lereng gunung yang berada di wilayah tersebut. Informasi mengenai arah rambatan itu menjadi perhatian dalam pemantauan dan penanganan kebakaran, karena pergerakan api dapat memengaruhi lokasi yang perlu diawasi. Meski demikian, belum tersedia keterangan lebih lanjut mengenai luasan lahan yang terbakar, penyebab kebakaran, ataupun jumlah personel yang dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Kondisi di lapangan dapat berubah mengikuti perkembangan api, sehingga pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui apakah rambatan dapat dikendalikan atau berlanjut ke area lain. Kebakaran di Sumbing menambah daftar insiden yang terjadi di kawasan gunung dalam periode yang sama.

Kebakaran juga terdeteksi di Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Hingga Jumat, 23 Oktober 2026 siang, luas area yang terbakar belum dapat dipastikan. Api masih bergerak di lereng gunung, sehingga batas kawasan terdampak belum dapat dihitung secara akurat. Situasi tersebut membuat perkembangan kebakaran perlu terus dipantau sebelum angka luas lahan dapat ditetapkan. Belum ada rincian tambahan mengenai titik awal api, penyebab kejadian, maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Pergerakan api di kawasan taman nasional juga memerlukan perhatian karena dapat mengancam ekosistem dan vegetasi setempat, meskipun dampaknya belum dijelaskan secara terukur. Dengan api yang masih bergerak, informasi mengenai luasan terbakar dapat berubah setelah kondisi di lereng lebih terkendali. Data yang tersedia hingga Jumat siang karena itu masih bersifat sementara dan belum menggambarkan keseluruhan dampak kebakaran di Ciremai.

Kebakaran di Gunung Lokon, Sulawesi Utara, menjadi salah satu lokasi yang tercatat dalam rangkaian informasi mengenai kebakaran hutan dan lahan di kawasan pegunungan. Berdasarkan informasi yang dikutip pada Selasa, 13 Oktober 2026, area yang diperkirakan terbakar mencapai sekitar 300 hektare. Angka tersebut menggambarkan bagian dari kawasan yang luas keseluruhannya diperkirakan sekitar 700 hektare.

Perbandingan luas yang terbakar dan total kawasan memberi gambaran mengenai skala kejadian yang dilaporkan. Namun, angka-angka tersebut tetap merupakan perkiraan sebagaimana disampaikan dalam informasi yang tersedia. Dengan demikian, luas sekitar 300 hektare tidak perlu dipahami sebagai pengukuran pasti, sementara luas kawasan sekitar 700 hektare menjadi pembanding bagi area terdampak yang disebutkan.

Catatan mengenai Gunung Lokon melengkapi daftar lokasi kebakaran yang menjadi perhatian dalam pemberitaan tentang karhutla di kawasan pegunungan. Informasi yang dikutip pada tanggal tersebut secara khusus menyebut lokasi di Sulawesi Utara beserta estimasi luasan area terbakar dan luas kawasan secara keseluruhan. Keterangan yang tersedia tidak merinci lebih jauh keadaan di lokasi, sehingga uraian mengenai kebakaran ini terbatas pada tempat dan angka yang telah disebutkan.

Dalam konteks penanganan karhutla, kawasan pegunungan menghadirkan tantangan tersendiri ketika lokasi kejadian sulit dijangkau.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla