Palembang | Selama berbulan-bulan, asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Palembang, ibu kota Sumatera Selatan, termasuk kota yang terdampak. Kabut yang menutup lingkungan menjadi bagian dari keseharian warga, sementara kualitas udara yang buruk memengaruhi kehidupan masyarakat. Dampaknya tidak terbatas pada satu sisi: kesehatan warga dan kegiatan ekonomi sama-sama berada dalam situasi yang terganggu.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas di ruang publik dan tempat kerja berlangsung dalam suasana yang berbeda dari biasanya. Bagi warga yang mengandalkan kegiatan ekonomi sehari-hari, kualitas udara yang buruk menjadi tantangan dalam menjalankan aktivitas. Perubahan ini juga terasa di lingkungan pendidikan. Ketika kabut asap menyelimuti kota, kegiatan belajar yang biasanya berlangsung langsung di kampus perlu disesuaikan dengan keadaan.
UIN Raden Fatah memberlakukan kuliah daring akibat kabut asap. Kebijakan itu mengubah rutinitas mahasiswa dan tenaga pengajar, yang biasanya mengikuti kegiatan perkuliahan di lingkungan kampus. Dengan perkuliahan berlangsung secara daring, suasana kampus yang lazimnya ramai menjadi sepi. Ruang-ruang yang biasanya dipenuhi aktivitas akademik tidak lagi menunjukkan keramaian seperti dalam keadaan normal.
Perubahan suasana tersebut memperlihatkan bagaimana kabut asap dapat memengaruhi berbagai bagian kehidupan kota, termasuk pendidikan dan kegiatan ekonomi. Dampak itu berlangsung dalam konteks paparan asap yang berlarut-larut di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, bukan sekadar gangguan sesaat di satu lokasi. Di Palembang, kualitas udara yang buruk menjadi latar bagi penyesuaian aktivitas warga, termasuk keputusan kampus untuk memindahkan perkuliahan ke ruang daring.
Situasi ini menempatkan kabut asap sebagai persoalan yang dirasakan dalam keseharian masyarakat. Bagi warga Palembang, dampaknya tampak melalui kegiatan yang berubah dan lingkungan kampus yang lebih lengang. Keadaan tersebut juga mengingatkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan penting untuk mengurangi berulangnya paparan asap serta gangguan terhadap kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.
Selama sekitar 15 tahun, Yana, 51 tahun, menggantungkan penghasilan dari berjualan pempek di kantin kampus UIN Raden Fatah, Palembang. Ia telah terbiasa melayani mahasiswa yang datang untuk makan atau membeli makanan ringan di sela kegiatan perkuliahan. Namun, kabut asap dan perubahan aktivitas kampus membuat suasana kantin jauh berbeda. Jumlah pembeli berkurang, sementara dagangannya tetap perlu disiapkan setiap hari. Bagi Yana, kondisi tersebut bukan sekadar kantin yang lebih lengang, melainkan perubahan langsung pada pemasukan yang ia andalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelum keadaan ini, Yana biasanya bisa memperoleh setidaknya Rp1 juta dalam sehari dari penjualan pempeknya. Kini, hasil jualan bahkan tidak cukup untuk menutup modal yang telah dikeluarkan. Penurunan omzet itu terasa semakin berat karena mahasiswa yang biasanya menjadi pelanggan utama tidak lagi ramai datang ke kantin. Selama hampir sebulan, kegiatan kuliah berlangsung secara daring, sehingga banyak mahasiswa mengikuti perkuliahan dari rumah dan tidak berada di lingkungan kampus. Akibatnya, kesempatan mereka untuk membeli makanan di kantin pun semakin sedikit.
Yana menggambarkan lamanya perubahan tersebut dengan mengatakan, “Mahasiswa sudah hampir satu bulan belajar daring.” Pernyataan itu menunjukkan betapa panjang masa sepinya kantin bagi pedagang yang mengandalkan aktivitas kampus. Ketika jumlah pengunjung turun, penjualan harian ikut merosot, sementara kebutuhan untuk membeli bahan dan menyiapkan dagangan tetap ada. Situasi ini memperlihatkan bagaimana dampak kabut asap tidak hanya dirasakan melalui gangguan kesehatan atau kegiatan belajar, tetapi juga menjalar ke penghasilan para pedagang kecil. Berkurangnya pembeli membuat Yana harus menghadapi ketidakpastian dalam mempertahankan usaha yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.
Di tengah keadaan tersebut, Yana berharap perkuliahan tidak lagi harus dilaksanakan secara daring dan aktivitas kampus dapat kembali berjalan seperti biasa. Ia juga berharap asap segera hilang dari langit Palembang, agar mahasiswa dapat kembali datang ke kampus dan kantin kembali ramai. Harapan itu berkaitan erat dengan keberlangsungan usahanya: semakin banyak mahasiswa yang hadir, semakin besar pula peluang dagangannya terjual. Bagi Yana, pulihnya kegiatan kampus dan membaiknya kondisi udara dapat menjadi langkah penting untuk mengembalikan penghasilan yang selama ini menopang kehidupannya.
BNPB memperbarui metode penghitungan luas kebakaran hutan dan lahan agar pemantauan di lapangan menghasilkan data yang lebih akurat. Salah satu upaya yang ditempuh ialah memanfaatkan citra satelit sebagai dasar untuk mengidentifikasi dan mengukur area terdampak. Pembaruan metode ini penting karena informasi mengenai luas kebakaran menjadi bagian dari pemantauan situasi dan penanganan karhutla. Dengan data yang lebih cermat, perkembangan kejadian dapat dicatat secara lebih konsisten dan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah lanjutan.
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi melaporkan upaya perbaikan penghitungan tersebut kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna. Pertemuan itu berlangsung di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (21/10). Dalam laporan tersebut, penggunaan citra satelit dikaitkan dengan peningkatan akurasi pemantauan luas kebakaran. Pelaporan kepada Presiden juga memberi gambaran mengenai perkembangan kerja BNPB dalam memantau karhutla, sekaligus menempatkan pembaruan metode penghitungan sebagai bagian dari perhatian pemerintah terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan.
BNPB menetapkan lima provinsi sebagai prioritas penanganan, yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Pemantauan di wilayah-wilayah tersebut menjadi penting untuk mengikuti perubahan kejadian dan memperbarui gambaran kondisi kebakaran. Kristomei menyampaikan bahwa peningkatan kejadian terpantau di Sumatera Selatan dan Jambi. Namun, menurutnya, kenaikan itu belum terlalu signifikan. Keterangan tersebut menunjukkan perlunya membaca perkembangan berdasarkan pemantauan, bukan hanya mengandalkan kesan sesaat. Data dari citra satelit dapat mendukung penilaian terhadap luas area yang terbakar, sedangkan pemantauan berkelanjutan membantu melihat apakah kejadian meningkat atau tetap terkendali.
Perbaikan cara menghitung luas kebakaran bukan sekadar pembaruan teknis, melainkan upaya untuk menyediakan informasi yang lebih dapat diandalkan bagi penanganan karhutla. Ketepatan pengukuran membantu pemerintah memahami skala dampak dan membandingkan perkembangan antarwilayah. Bagi masyarakat yang terdampak asap, informasi pemantauan yang jelas juga penting untuk memahami situasi di daerahnya. Meski demikian, laporan mengenai peningkatan yang belum signifikan di dua provinsi tetap perlu disertai pemantauan berkala. Dengan demikian, BNPB dapat terus memperbarui data dan menyampaikan perkembangan secara terukur kepada pemerintah serta publik.Operasi modifikasi cuaca yang dilakukan BNPB menjadi salah satu upaya untuk membantu memicu hujan di wilayah yang memerlukan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Dalam operasi tersebut, bahan berupa es kering disemai dari pesawat di area yang diprioritaskan. Penyemaian ini ditujukan untuk mendukung terbentuknya hujan, sehingga dapat membantu menghadapi kondisi kering dan dampak kabut asap. Pelaksanaan operasi mengikuti kebutuhan penanganan di lapangan, dengan pemantauan terhadap wilayah sasaran.
Menurut laporan Kristomei, sebanyak 3.100 kilogram es kering telah disemai sejak 20 Oktober dalam lima sorti penerbangan. Dari keseluruhan pelaksanaan tersebut, Sumatera Selatan mendapat satu sorti penyemaian dengan jumlah 800 kilogram es kering. Angka itu menunjukkan bagian operasi yang dilaksanakan di provinsi tersebut, sementara total bahan yang digunakan mencakup beberapa sorti penerbangan. Informasi mengenai jumlah bahan dan sorti ini memberikan gambaran skala kegiatan yang telah dilakukan, tanpa mengubah tujuan utamanya, yaitu membantu memicu hujan di wilayah yang membutuhkan penanganan karhutla.
Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa setelah upaya penyemaian, kadar partikulat menurun dan jarak pandang di Palembang meningkat.
Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan






