JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di kediaman Prabowo, Kertanegara, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 6 Oktober. Pertemuan tersebut menjadi agenda pertemuan dua tokoh nasional yang sebelumnya sama-sama memegang posisi penting dalam pemerintahan Indonesia.
Jokowi tiba di kediaman Prabowo sekitar pukul 19.00. Pertemuan kemudian berlangsung hingga kurang lebih pukul 21.00, sehingga durasinya mencapai sekitar dua jam. Selama waktu tersebut, Jokowi dan Prabowo berada di kediaman pribadi Prabowo di kawasan Kertanegara, Jakarta Selatan.
Keterangan mengenai pertemuan itu disampaikan oleh ajudan Jokowi, AKBP Syarif. Ia mengonfirmasi bahwa Prabowo merupakan pihak yang mengundang Jokowi untuk hadir di kediamannya. Konfirmasi tersebut memperjelas bahwa kehadiran Jokowi di Kertanegara berlangsung atas undangan Prabowo.
Dengan demikian, pertemuan pada Selasa malam itu berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni sejak sekitar pukul 19.00 sampai pukul 21.00. Lokasi pertemuan berada di kediaman Prabowo, sedangkan informasi mengenai undangan dan durasinya diperoleh melalui keterangan AKBP Syarif selaku ajudan Jokowi.
Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto di kediaman Prabowo, Kertanegara, berlangsung pada waktu yang bertepatan dengan agenda penting di Mahkamah Konstitusi (MK). Pada hari yang sama, MK membacakan putusan terkait persyaratan pencalonan wakil presiden, yang turut berkaitan dengan pencalonan Gibran Rakabuming Raka. Waktu pelaksanaan tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa isu putusan MK menjadi salah satu topik pembicaraan dalam pertemuan kedua tokoh tersebut.
Namun, Jokowi menegaskan bahwa persoalan itu tidak dibahas ketika dirinya bertemu dengan Prabowo. Ia menjelaskan, pertemuan tersebut tidak berkaitan dengan proses maupun putusan MK mengenai syarat pencalonan cawapres. Dengan demikian, kesamaan waktu pertemuan di Kertanegara dan sidang putusan MK tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya pembahasan mengenai perkara tersebut.
Jokowi juga menekankan perbedaan ranah kewenangan yang melekat pada kedua agenda itu. Putusan MK berada dalam ranah yudikatif, karena berkaitan dengan pelaksanaan fungsi peradilan dan kewenangan lembaga kehakiman. Sementara itu, pertemuannya dengan Prabowo disebut berada dalam wilayah eksekutif, yakni pembicaraan yang berhubungan dengan pelaksanaan pemerintahan serta agenda kerja pemerintah.
Penegasan tersebut menunjukkan bahwa Jokowi berupaya memisahkan komunikasi politik dan pemerintahan dari proses hukum yang sedang berjalan di MK. Ia menyampaikan bahwa keputusan lembaga yudikatif harus ditempatkan sesuai kewenangannya, sedangkan pertemuan dengan Prabowo dipahami sebagai bagian dari urusan eksekutif. Penjelasan ini sekaligus membantah anggapan bahwa pertemuan di Kertanegara dimanfaatkan untuk membicarakan putusan mengenai persyaratan pencalonan Gibran. Jokowi tetap mempertahankan pernyataannya bahwa isu tersebut berada di luar materi pembicaraan bersama Prabowo.
Jokowi menjelaskan bahwa kehadirannya di Kertanegara terjadi karena ia diundang langsung oleh Prabowo. Keterangan tersebut menegaskan bahwa pertemuan itu berlangsung atas undangan pribadi, bukan karena agenda yang disampaikan secara terpisah. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu, keduanya membicarakan sejumlah hal, mulai dari sepak bola, ekonomi, hingga politik.
Meski mencakup beberapa bidang, Jokowi menggambarkan sebagian besar percakapan sebagai cerita mengenai sepak bola. Topik tersebut menjadi bagian yang menonjol dalam pertemuan, terutama ketika mereka membahas kemenangan Timnas Indonesia dalam FIFA ASEAN Cup 2026. Pembahasan itu menunjukkan perhatian keduanya terhadap pencapaian tim nasional dan perkembangan sepak bola Indonesia dalam ajang tersebut.
Jokowi juga menyampaikan kegembiraannya atas kemenangan Timnas Indonesia. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa hasil tersebut menjadi salah satu hal yang membuat suasana percakapan terasa positif. Di samping berbagi cerita tentang sepak bola, Jokowi dan Prabowo tetap membahas ekonomi serta politik dalam kesempatan yang sama. Namun, ia tidak merinci agenda atau pokok bahasan khusus dari kedua bidang tersebut. Keterangan Jokowi hanya menegaskan bahwa ketiganya—sepak bola, ekonomi, dan politik—masuk dalam percakapan selama berada di Kertanegara, dengan sepak bola dan kemenangan Timnas Indonesia menjadi bagian yang paling banyak diceritakan.
Ketika ditanya apakah pertemuan dengan Prabowo di Kertanegara turut membahas peluang Gibran dalam Pilpres 2029, Jokowi meminta agar pembicaraan mengenai kontestasi tersebut tidak dilakukan terlalu dini. Ia menilai jarak menuju Pilpres 2029 masih cukup jauh sehingga belum waktunya membahas berbagai kemungkinan secara mendalam. Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas pertanyaan mengenai topik pertemuan, tanpa memaparkan adanya kesepakatan atau pembahasan khusus mengenai pencalonan Gibran.
Jokowi menekankan bahwa perhatian semua pihak sebaiknya diarahkan terlebih dahulu pada pekerjaan yang ada di depan mata. Menurut dia, masih banyak hal yang perlu dikerjakan sebelum pembahasan mengenai agenda politik pada 2029 menjadi relevan. Sikap tersebut menunjukkan permintaan agar isu Pilpres 2029 tidak dikedepankan ketika waktunya masih panjang. Ia tidak menyampaikan keputusan, arahan, maupun dukungan tertentu terkait peluang siapa pun dalam pemilihan presiden mendatang.
Pekerjaan yang dimaksud Jokowi dapat mencakup kerja politik maupun kerja di pemerintahan. Namun, ia mengarahkan kedua bentuk pekerjaan itu pada tujuan yang sama, yakni bekerja untuk rakyat. Dengan demikian, responsnya lebih menitikberatkan pada pelaksanaan tanggung jawab saat ini daripada pembahasan mengenai kontestasi yang masih jauh. Pernyataan tersebut tidak dapat dimaknai sebagai pengumuman pencalonan, dukungan, atau strategi tertentu untuk Pilpres 2029. Jokowi hanya menyampaikan bahwa semua pihak perlu menjalankan tugas terlebih dahulu sebelum membicarakan agenda politik tersebut secara lebih serius.

