Jejak Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam yang Berlangsung pada Hari Senin

Jejak Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam yang Berlangsung pada Hari Senin

Kota Makkah. Kelahiran Rasulullah | Bagi sebagian umat Islam, hari Senin sering terasa sebagai awal yang cukup berat. Setelah beristirahat pada hari Ahad, seseorang perlu kembali menyesuaikan diri dengan jadwal pekerjaan, pendidikan, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Perubahan dari suasana santai menuju rutinitas dapat membuat langkah pertama pada awal pekan terasa kurang ringan. Namun, hari Senin tidak hanya dapat dipandang sebagai permulaan aktivitas setelah jeda. Dalam ingatan sejarah Islam, hari ini juga berkaitan dengan sejumlah peristiwa yang memiliki makna penting.

Pembahasan mengenai Senin membawa kita untuk melihat kembali perjalanan Nabi Muhammad saw. dan peristiwa-peristiwa yang dikenang oleh umat Islam. Berdasarkan sumber yang menjadi landasan tulisan ini, terdapat dua peristiwa utama yang disebut berlangsung pada hari Senin, yaitu kelahiran dan wafat Nabi Muhammad saw. Kedua peristiwa tersebut berada pada sisi sejarah yang berbeda: kelahiran menandai hadirnya sosok yang kelak membawa risalah Islam, sedangkan wafatnya menandai berakhirnya kehidupan beliau di dunia.

Menghubungkan hari Senin dengan dua peristiwa tersebut memberikan sudut pandang yang lebih luas terhadap awal pekan. Hari yang bagi sebagian orang terasa berat untuk dijalani kembali dapat sekaligus menjadi pengingat terhadap perjalanan penting dalam sejarah Islam. Pengingat itu tidak dimaksudkan untuk mengubah pembahasan menjadi uraian mengenai amalan atau keutamaan tertentu, melainkan untuk menelusuri peristiwa sejarah sebagaimana disebutkan dalam sumber.

Karena itu, uraian berikut akan berfokus pada dua jejak utama tersebut: kelahiran Nabi Muhammad saw. dan wafat beliau. Dengan menempatkan keduanya sebagai pokok pembahasan, hari Senin dapat dipahami melalui kaitannya dengan fase awal dan akhir kehidupan Rasulullah. Perspektif ini membantu menghadirkan sejarah Islam secara lebih dekat, sekaligus menunjukkan bahwa suatu hari dalam kalender dapat menyimpan kenangan penting bagi perjalanan umat.

Berdasarkan keterangan dalam buku yang menjadi sumber, Nabi Muhammad saw. lahir di Kota Makkah pada 12 Rabiul Awal tahun 571 Masehi. Kelahiran tersebut disebut bertepatan dengan hari Senin. Informasi ini dicantumkan sebagai salah satu peristiwa penting yang berlangsung pada hari Senin dalam rangkaian sejarah Islam. Penyebutan waktu dan tempat kelahiran itu merujuk pada keterangan yang terdapat dalam buku sumber, sehingga uraian ini mengikuti informasi sebagaimana disampaikan di dalamnya.

Buku tersebut juga mengaitkan kelahiran Nabi Muhammad saw. dengan sejumlah tanda yang disebut terjadi di sekitar Makkah. Salah satu tanda yang dicantumkan adalah keadaan tanah di sekitar kota itu yang menjadi subur. Selain itu, pepohonan disebut tumbuh semakin rimbun dan menghasilkan banyak buah. Keterangan tersebut menggambarkan perubahan pada lingkungan sekitar Makkah yang, menurut sumber, berlangsung bertepatan dengan peristiwa kelahiran beliau. Seluruh hal itu disampaikan sebagai catatan yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut, tanpa memperluasnya dengan penjelasan lain.

Tanda lain yang disebutkan dalam buku sumber berkaitan dengan api suci yang dipuja oleh kaum Majusi di sebuah kuil pemujaan. Api tersebut dikabarkan tiba-tiba padam pada saat kelahiran Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, keterangan mengenai kelahiran beliau mencakup waktu, tempat, serta beberapa peristiwa yang disebut menyertainya, yaitu kesuburan tanah di sekitar Makkah, pertumbuhan pepohonan yang rimbun dan berbuah banyak, serta padamnya api suci di kuil pemujaan kaum Majusi. Uraian ini disampaikan sesuai keterangan sumber dan tidak menambahkan tafsir atau detail sejarah lain di luar informasi tersebut.

Rasulullah saw. wafat pada hari Senin, ketika berusia 63 tahun, pada tahun ke-11 Hijriah. Berita tersebut membawa guncangan yang sangat hebat bagi kaum Muslimin. Mereka menghadapi kenyataan yang begitu berat sehingga sebagian di mereka pingsan, sementara sebagian lainnya tidak mampu berbicara. Suasana duka dan keterkejutan menyelimuti kaum Muslimin setelah kabar tentang wafatnya Rasulullah saw. tersebar.

Di tengah keadaan itu, Umar bin Al-Khathab semula menolak kabar bahwa Rasulullah saw. telah wafat. Ia menyatakan bahwa Rasulullah tidak wafat, melainkan pergi menemui Tuhannya sebagaimana Nabi Musa pergi meninggalkan kaumnya selama 40 hari, kemudian kembali kepada mereka. Dengan pernyataan tersebut, Umar menunjukkan keyakinannya bahwa Rasulullah saw. akan kembali kepada kaum Muslimin.

Umar juga menyampaikan ancaman keras kepada siapa pun yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah wafat. Ia menyatakan bahwa orang tersebut akan dihukum dengan pedangnya. Menurut pernyataannya, Rasulullah saw. akan kembali dan memotong tangan serta kaki orang-orang yang menyebarkan kabar bahwa beliau telah wafat. Pernyataan itu disampaikan ketika kabar wafatnya Rasulullah saw. menimbulkan guncangan besar, membuat sebagian kaum Muslimin pingsan dan sebagian lainnya kehilangan kemampuan untuk berbicara.

Setelah mendengar kabar wafat Rasulullah, Abu Bakar segera berangkat menuju Madinah. Ia berkuda dari tempat tinggalnya untuk memastikan keadaan kaum Muslimin dan menghadapi suasana duka yang menyelimuti mereka. Sesampainya di masjid, Abu Bakar tidak berhenti lama. Ia kemudian menuju kediaman Aisyah, tempat jenazah Rasulullah berada.

Di sana, Abu Bakar mendapati Rasulullah telah mengenakan jubah. Dengan penuh penghormatan dan kesedihan, ia mengusap wajah beliau, kemudian membuka wajah tersebut untuk memastikan keadaan Rasulullah. Abu Bakar mencium beliau dan menangis. Peristiwa itu menunjukkan kedekatan, kasih sayang, serta beratnya kehilangan yang dirasakan oleh sahabat terdekat Rasulullah.

Setelah itu, Abu Bakar keluar untuk menemui kaum Muslimin yang masih diliputi keguncangan. Sebagian dari mereka belum mampu menerima kenyataan bahwa Rasulullah telah wafat. Umar bin Khattab termasuk di mereka yang berdiri dengan keyakinan bahwa Rasulullah belum meninggal. Melihat keadaan tersebut, Abu Bakar meminta Umar untuk duduk. Ia kemudian berdiri di hadapan kaum Muslimin dan menyampaikan khutbah untuk meneguhkan hati mereka.

Dalam khutbahnya, Abu Bakar membacakan Surah Ali Imran ayat 144. Ayat tersebut mengingatkan bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul, sedangkan para rasul sebelumnya telah berlalu. Karena itu, wafat atau terbunuhnya seorang rasul tidak seharusnya membuat umat berbalik meninggalkan keyakinan. Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa ajaran Islam tetap harus dipegang setelah Rasulullah wafat. Dengan membacakan ayat itu, Abu Bakar membantu kaum Muslimin memahami kenyataan sekaligus mengarahkan mereka agar tetap teguh dalam iman dan tidak kembali kepada keadaan sebelum menerima petunjuk Islam.

Baca juga: Selama kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi | Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi | Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Papua Pegunungan Berlangsung Khidmat dan Aman