Jakarta | James A. Robinson, peraih Nobel Ekonomi 2024, mengingatkan bahwa sumber daya alam tidak dapat diperlakukan sebagai satu-satunya fondasi pertumbuhan ekonomi. Cadangan minyak, gas, mineral, atau komoditas lain memang mampu menghasilkan penerimaan besar dalam waktu relatif singkat. Namun, keuntungan tersebut sering bergantung pada pergerakan harga komoditas di pasar global. Ketika harga meningkat, pendapatan negara dan aktivitas ekonomi dapat melonjak; ketika harga melemah, manfaatnya ikut menyusut. Karena itu, keuntungan dari sumber daya alam tidak otomatis menjadi sumber pertumbuhan yang permanen.
Menurut Robinson, tantangan utama terletak pada kemampuan suatu negara mengolah keuntungan dari bonus sumber daya alam menjadi kemajuan ekonomi yang berkelanjutan. Penerimaan yang besar dapat menciptakan kesan kemakmuran, tetapi momentum pertumbuhan dapat hilang apabila manfaat tersebut tidak menghasilkan kapasitas ekonomi yang bertahan setelah periode boom berakhir. Risiko itu semakin jelas ketika kegiatan ekstraksi menurun atau harga komoditas berubah secara tajam. Dalam keadaan demikian, perekonomian yang terlalu bergantung pada eksploitasi SDA dapat menghadapi perlambatan karena tidak memiliki sumber pertumbuhan lain yang cukup kuat.
Robinson menyebut Guinea Ekuatorial, Azerbaijan, dan Turkmenistan sebagai contoh negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam, tetapi menyia-nyiakan peluang yang muncul dari kekayaan tersebut. Contoh-contoh itu menunjukkan bahwa keberadaan cadangan alam tidak dengan sendirinya menjamin peningkatan kesejahteraan atau pertumbuhan jangka panjang. Nilai ekonomi SDA sangat dipengaruhi cara pendapatan tersebut dikelola serta kemampuan negara mengubahnya menjadi fondasi produktif yang tidak sepenuhnya bergantung pada komoditas.
Peringatan ini relevan ketika target pertumbuhan ekonomi 8% dibicarakan. Angka pertumbuhan yang tinggi tidak cukup ditopang oleh lonjakan penerimaan dari sumber daya alam, terutama jika lonjakan itu bersifat sementara. Pertumbuhan sebesar itu memerlukan momentum yang dapat dipertahankan melewati perubahan harga dan penurunan aktivitas ekstraksi. Pandangan Robinson menempatkan ketahanan pertumbuhan sebagai persoalan penting: kekayaan alam dapat menjadi pendorong awal, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya penentu arah perekonomian.
James A. Robinson menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak terutama ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kualitas institusi yang mengatur kehidupan ekonomi dan politik. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam Indonesia Policy Forum 2026 yang digelar Prasasti di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. Menurut Robinson, institusi yang inklusif membuat proses pembuatan kebijakan membuka ruang bagi lebih banyak kelompok untuk berpartisipasi, menyampaikan kepentingan, dan memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Gagasan itu sejalan dengan pemikiran yang dituangkan Robinson bersama Daron Acemoglu dalam buku Why Nations Fail. Dalam kerangka tersebut, institusi ekonomi inklusif menciptakan insentif dan peluang yang luas bagi banyak pihak. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk bekerja, berinvestasi, menciptakan usaha, dan memperoleh manfaat dari perkembangan ekonomi. Akses yang lebih terbuka memungkinkan potensi individu serta pelaku usaha berkontribusi terhadap produktivitas dan inovasi.
Robinson menjelaskan bahwa faktor utama di balik target pertumbuhan ekonomi 8 persen, atau pertumbuhan ekonomi yang pesat, adalah institusi yang memberi ruang bagi masyarakat dan kewirausahaan. Institusi semacam itu membentuk lingkungan yang mendukung investasi, mendorong lahirnya kegiatan usaha baru, serta memungkinkan transformasi berlangsung secara cepat. Dengan demikian, kebijakan pertumbuhan perlu ditopang oleh aturan dan proses pengambilan keputusan yang inklusif, bukan hanya oleh pengelolaan sumber daya alam. Ketika peluang ekonomi tersebar lebih luas dan masyarakat memiliki kepastian untuk berpartisipasi, kapasitas ekonomi dapat berkembang secara lebih dinamis. Penekanan Robinson menempatkan institusi sebagai fondasi penting bagi terciptanya pertumbuhan yang kuat, karena institusi menentukan apakah potensi masyarakat dan pelaku usaha dapat digunakan secara optimal dalam proses pembangunan.
Menurut James A. Robinson, pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen tidak cukup ditopang oleh kenaikan pendapatan dari sumber daya alam (SDA). Pemanfaatan SDA memang dapat memberikan dorongan besar bagi perekonomian, terutama ketika harga komoditas berada pada tingkat tinggi dan kegiatan ekstraksi berlangsung aktif. Namun, dorongan tersebut perlu diikuti investasi pada sektor-sektor lain yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru. Tanpa langkah itu, pertumbuhan akan tetap bergantung pada kondisi komoditas yang mudah berubah.
Robinson menjelaskan bahwa pendapatan dari ekstraksi dapat menciptakan ruang untuk membangun basis ekonomi yang lebih beragam. Kekayaan yang diperoleh dari SDA tidak seharusnya berhenti sebagai pendapatan jangka pendek, melainkan perlu diarahkan kembali ke sektor lain agar aktivitas ekonomi tetap berjalan ketika kontribusi komoditas mulai berkurang. Diversifikasi tersebut menjadi penting karena pertumbuhan yang hanya bersandar pada ekstraksi cenderung mengikuti siklus harga dan ketersediaan sumber daya.
Oman, Arab Saudi, dan Botswana disebut sebagai contoh negara yang memanfaatkan pendapatan SDA untuk melakukan diversifikasi ekonomi. Contoh tersebut menunjukkan bahwa penerimaan dari kekayaan alam dapat digunakan sebagai pijakan untuk mengembangkan sumber pertumbuhan lain. Dengan demikian, pendapatan SDA berperan sebagai sarana untuk memperkuat keberlanjutan ekonomi, bukan sebagai tujuan akhir yang membuat perekonomian terus bergantung pada komoditas.
Alur yang disampaikan Robinson cukup jelas: pertumbuhan dapat bertahan selama harga komoditas tinggi dan kegiatan ekstraksi terus berlangsung. Akan tetapi, pertumbuhan itu akan melemah apabila hasil ekstraksi tidak diinvestasikan ke sektor lain. Ketika ekstraksi menurun atau harga komoditas berubah, kekayaan yang sebelumnya dihasilkan dapat hilang tanpa meninggalkan sumber pertumbuhan pengganti. Karena itu, kemampuan mengubah pendapatan SDA menjadi investasi lintas sektor menjadi syarat penting agar pertumbuhan di atas 8 persen dapat bertahan lebih lama.
Menurut James A. Robinson, pertumbuhan ekonomi menuju 8% ditopang oleh tiga unsur yang saling berkaitan: akumulasi faktor produksi, adopsi teknologi, dan struktur institusi. Akumulasi faktor produksi mencakup penambahan modal, tenaga kerja, keterampilan, serta sumber daya lain yang memungkinkan kegiatan ekonomi berkembang. Semakin besar dan semakin berkualitas faktor tersebut, semakin luas kapasitas produksi yang dapat dibangun. Namun, penambahan input tidak dengan sendirinya menjamin peningkatan produktivitas atau pertumbuhan yang bertahan. Karena itu, akumulasi perlu dipahami sebagai salah satu bagian dari proses, bukan satu-satunya penentu.
Adopsi teknologi memungkinkan faktor produksi digunakan secara lebih efisien, meningkatkan produktivitas, dan mendorong terciptanya produk maupun kegiatan ekonomi baru. Teknologi dapat memperluas kemampuan perusahaan, memperbaiki proses produksi, serta membantu tenaga kerja menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Akan tetapi, penggunaan teknologi tidak berlangsung dalam ruang hampa. Keberlanjutan akumulasi modal, peningkatan keterampilan, dan penerapan teknologi sangat dipengaruhi oleh struktur institusi. Institusi yang baik menyediakan insentif dan peluang bagi individu maupun perusahaan untuk berinvestasi, berinovasi, bekerja, serta mengembangkan usaha secara produktif.
Hubungan ketiga unsur tersebut bersifat saling menguatkan. Faktor produksi dan teknologi merupakan bagian dari proses pertumbuhan, sedangkan institusi menentukan apakah proses itu dapat berlangsung luas, konsisten, dan berkelanjutan. Struktur institusi yang inklusif membuka akses terhadap kesempatan ekonomi, memberi kepastian bagi investasi, dan mendorong pelaku usaha mengambil keputusan jangka panjang. Sumber daya alam dapat menjadi modal awal, tetapi pertumbuhan yang bertahan memerlukan institusi inklusif, investasi lanjutan, dan diversifikasi ekonomi. Dalam kerangka yang disampaikan Robinson, ketiganya menjadi landasan agar potensi produksi tidak berhenti pada pemanfaatan komoditas, melainkan berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang lebih beragam dan produktif.

