Jakarta | Pertemuan Menteri Perdagangan Indonesia Budi Santoso dengan Wakil Perdana Menteri Timor-Leste Francisco Kalbuadi Lay menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat hubungan perdagangan bilateral. Dialog tersebut menjadi kesempatan bagi kedua pihak untuk membahas perkembangan kerja sama sekaligus mengidentifikasi peluang yang dapat dimanfaatkan guna memperluas hubungan ekonomi. Komitmen ini mencerminkan pentingnya kemitraan yang saling menguntungkan, dengan perdagangan sebagai salah satu bidang yang dapat mendukung hubungan Indonesia dan Timor-Leste secara lebih erat.
Budi menyambut positif pertumbuhan perdagangan kedua negara. Perkembangan tersebut, menurutnya, menunjukkan adanya potensi untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan memperbesar manfaat yang diperoleh pelaku usaha di kedua pihak. Meski demikian, peluang pengembangan perdagangan masih terbuka luas. Upaya untuk memperkuat akses pasar dan merealisasikan kerja sama yang telah dibahas dinilai penting agar potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi kegiatan perdagangan yang lebih nyata dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan itu, Budi menyampaikan arah penguatan kerja sama yang mencakup perdagangan yang lebih beragam, kolaborasi antarpelaku usaha, serta perluasan akses pasar bagi produk unggulan kedua negara. Diversifikasi perdagangan diharapkan dapat membuka ruang bagi lebih banyak jenis produk untuk dipasarkan, sehingga hubungan bilateral tidak hanya bertumpu pada sejumlah komoditas tertentu. Sementara itu, kerja sama langsung pelaku usaha dapat membantu mempertemukan kebutuhan, membangun jaringan, dan mendorong peluang transaksi lintas negara.
Perluasan akses pasar juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Dengan semakin terbukanya jalur bagi produk unggulan Indonesia dan Timor-Leste, masing-masing negara dapat menjangkau konsumen serta mitra usaha yang lebih luas. Realisasi kerja sama dan komunikasi yang berkelanjutan akan diperlukan untuk mendukung langkah itu. Penegasan komitmen dalam pertemuan ini memberi landasan bagi kedua negara untuk terus mengembangkan perdagangan bilateral, memperkuat keterlibatan sektor usaha, dan mengoptimalkan peluang yang tersedia bagi pertumbuhan ekonomi bersama.
Francisco menyatakan bahwa setelah Timor-Leste resmi menjadi anggota ASEAN, pemerintahnya terus mempelajari berbagai peluang dan strategi untuk mengoptimalkan perdagangan. Keanggotaan tersebut menjadi konteks bagi upaya Timor-Leste dalam memahami lebih jauh kesempatan ekonomi yang dapat dikembangkan bersama negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia. Menurutnya, proses penjajakan itu penting agar peluang perdagangan dapat dinilai dengan cermat dan diarahkan pada manfaat yang nyata bagi kedua negara. Pernyataan tersebut mencerminkan perhatian Timor-Leste terhadap pengembangan hubungan ekonomi bilateral, sekaligus kesiapan untuk terus melihat ruang kerja sama yang tersedia.
Dalam pandangan Francisco, hubungan perdagangan dan investasi Timor-Leste dan Indonesia masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan. Peluang yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dapat menjadi dasar bagi kedua pihak untuk memperkuat hubungan ekonomi, selama upaya tersebut berjalan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama. Penekanan pada perdagangan dan investasi menunjukkan bahwa pembahasan tidak terbatas pada pertukaran barang, tetapi juga mencakup hubungan ekonomi yang lebih luas. Namun, Francisco tidak merinci sektor tertentu maupun bentuk kegiatan yang akan menjadi prioritas. Karena itu, peluang tersebut dapat dipahami sebagai ruang penjajakan yang masih perlu dipelajari lebih lanjut oleh kedua negara.
Timor-Leste, lanjut Francisco, bersedia memfasilitasi kemitraan antarpelaku usaha dari kedua negara. Kesediaan ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Kemitraan usaha dipandang memiliki potensi untuk mendukung hubungan perdagangan dan investasi, dengan pelaku usaha sebagai bagian penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lintas negara. Pernyataan itu menegaskan tujuan kerja sama, tanpa menyebutkan bentuk fasilitasi, mekanisme, atau rencana khusus yang akan ditempuh. Dengan demikian, fokusnya tetap pada keterbukaan Timor-Leste untuk mendukung terjalinnya kemitraan, serta pada harapan agar hubungan ekonomi Indonesia dan Timor-Leste tumbuh dengan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh kedua pihak.
Indonesia menempati posisi sebagai mitra dagang terbesar Timor-Leste di kawasan ASEAN. Data perdagangan 2025 menunjukkan nilai perdagangan kedua negara mencapai 423,63 juta dolar AS. Angka tersebut setara dengan sekitar 76 persen dari total perdagangan Timor-Leste dengan seluruh negara anggota ASEAN, yang tercatat sebesar 561,83 juta dolar AS. Besarnya porsi ini menunjukkan kuatnya hubungan ekonomi Indonesia dan Timor-Leste dibandingkan hubungan perdagangan Timor-Leste dengan mitra ASEAN lainnya.
Nilai perdagangan Indonesia–Timor-Leste jauh melampaui perdagangan Timor-Leste dengan Thailand maupun Singapura. Pada 2025, perdagangan dengan Thailand tercatat sebesar 57,18 juta dolar AS, sementara dengan Singapura mencapai 55,57 juta dolar AS. Dengan demikian, nilai perdagangan bersama Indonesia lebih dari tujuh kali nilai perdagangan dengan masing-masing negara tersebut. Perbandingan ini menegaskan peran Indonesia sebagai pemasok dan mitra ekonomi utama Timor-Leste di kawasan, sekaligus menggambarkan besarnya keterhubungan kedua negara dalam arus barang lintas batas.
Total perdagangan bilateral pada 2025 tumbuh 8,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari keseluruhan nilai tersebut, ekspor Indonesia ke Timor-Leste mencapai 410,56 juta dolar AS, sedangkan impor Indonesia dari negara itu sebesar 13,07 juta dolar AS. Selisih nilai ekspor dan impor menghasilkan surplus perdagangan Indonesia sebesar 397,49 juta dolar AS. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa arus perdagangan masih didominasi produk Indonesia yang masuk ke pasar Timor-Leste. Pertumbuhan nilai perdagangan dan besarnya porsi Indonesia di mitra ASEAN menjadi dasar penting untuk membahas peluang perluasan hubungan ekonomi. Ke depan, pembahasan bilateral dapat mempertimbangkan cara memperkuat perdagangan yang saling menguntungkan, memperluas ragam produk yang diperdagangkan, serta mendorong keseimbangan hubungan dagang seiring meningkatnya kerja sama kedua negara.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, nilai perdagangan Indonesia dan Timor-Leste tercatat mencapai 273,86 juta dolar AS. Angka tersebut meningkat 1,59 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika total perdagangan kedua negara mencapai 269,56 juta dolar AS. Kenaikan ini menunjukkan adanya pertumbuhan, meskipun perubahannya relatif terbatas. Data tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan perdagangan bilateral dalam delapan bulan pertama tahun ini, sekaligus memperlihatkan besarnya peran ekspor Indonesia dalam total transaksi kedua negara.
Ekspor Indonesia ke Timor-Leste mencapai 267,35 juta dolar AS selama periode tersebut. Sementara itu, impor Indonesia dari Timor-Leste tercatat sebesar 6,50 juta dolar AS. Selisih nilai ekspor dan impor menghasilkan surplus perdagangan Indonesia sebesar 260,85 juta dolar AS. Dengan demikian, arus perdagangan bilateral masih sangat didominasi barang yang dikirim Indonesia ke pasar Timor-Leste. Nilai ekspor yang jauh lebih besar daripada impor menjadi unsur utama dalam pembentukan surplus tersebut.
Komposisi ekspor Indonesia mencakup beragam barang konsumsi dan kebutuhan industri maupun transportasi. Komoditas utamanya meliputi sepeda motor serta kendaraan pengangkut barang, yang mendukung kebutuhan mobilitas dan distribusi. Semen Portland dan alumina juga termasuk dalam kelompok produk ekspor utama, bersama minyak kelapa sawit olahan dan pasta. Ragam komoditas ini menunjukkan bahwa pasokan Indonesia ke Timor-Leste tidak terbatas pada satu jenis produk, melainkan mencakup barang untuk kebutuhan rumah tangga, pembangunan, dan kegiatan ekonomi.
Dari sisi impor, Indonesia terutama mendatangkan kopi dari Timor-Leste. Komoditas lainnya meliputi buldoser swagerak, kopra, biji-bijian atau buah berminyak lainnya, serta vanili. Keberadaan produk pertanian dan perkebunan tersebut mencerminkan jenis pasokan yang menonjol dalam arus barang dari Timor-Leste, sementara buldoser swagerak turut tercatat sebagai komoditas impor utama.






