Jakarta | Komitmen global untuk mengurangi emisi karbon dan menekan dampak perubahan iklim mendorong industri di berbagai sektor meninjau kembali cara mereka beroperasi. Dalam ekosistem logistik, dorongan tersebut ikut memperkuat perhatian terhadap green logistic, yakni pendekatan yang berupaya mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan penyimpanan, pengangkutan, pengemasan, hingga distribusi barang. Perkembangan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan agar kelancaran rantai pasok berjalan seiring dengan penggunaan sumber daya yang lebih bertanggung jawab.
Bagi industri logistik, pengurangan emisi dapat berkaitan dengan beragam keputusan operasional. Perusahaan dapat menelaah efisiensi rute dan muatan, konsumsi energi di fasilitas pergudangan, pilihan moda transportasi, serta penggunaan bahan kemasan. Langkah-langkah tersebut tidak selalu dapat diterapkan dengan cara yang sama oleh setiap pelaku. Kondisi armada, jaringan distribusi, infrastruktur, skala usaha, dan kebutuhan pelanggan turut memengaruhi pilihan yang tersedia. Karena itu, penerapan praktik yang lebih ramah lingkungan memerlukan perencanaan yang sesuai dengan kemampuan dan karakter operasi masing-masing.
Di Indonesia, pembahasan mengenai green logistic berlangsung dalam konteks kebutuhan untuk menjaga kelancaran pergerakan barang di wilayah dengan kondisi geografis dan jaringan distribusi yang beragam. Perhatian pada aspek lingkungan kemudian menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai efisiensi dan keberlanjutan sektor logistik. Komitmen global memberikan dorongan bagi industri dan ekosistem terkait untuk mengevaluasi dampak kegiatan mereka, tetapi hal itu tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kebijakan baru pemerintah Indonesia. Konteks kebijakan nasional perlu dipahami berdasarkan ketentuan dan informasi yang memang telah disampaikan secara resmi.
Peralihan menuju operasi logistik yang lebih rendah emisi juga bergantung pada kesiapan ekosistem. Pelaku usaha mungkin perlu berinvestasi pada teknologi, pembaruan kendaraan atau fasilitas, serta sistem untuk memantau penggunaan energi dan emisi. Dukungan pembiayaan dan kepastian kebijakan menjadi relevan karena investasi semacam itu membutuhkan pertimbangan biaya, manfaat, dan risiko dalam jangka panjang. Dengan demikian, tuntutan pengurangan emisi bukan hanya mendorong perubahan di tingkat perusahaan, tetapi juga menempatkan dukungan lintas pihak sebagai faktor penting dalam perkembangan green logistic.
Direktur Utama Paxel, Zaldy Ilham Masita, menilai green logistic perlu ditempatkan sebagai peta jalan bagi industri logistik. Menurutnya, sektor ini memiliki kontribusi besar terhadap emisi karbon, sehingga transformasi menuju kegiatan yang lebih ramah lingkungan tidak dapat dipandang sebagai pilihan tambahan. Dekarbonisasi perlu menjadi bagian dari arah pengembangan industri dalam jangka panjang, sekaligus dipertimbangkan saat perusahaan merancang layanan dan operasionalnya. Dengan demikian, upaya mengurangi dampak lingkungan dapat berjalan seiring dengan kebutuhan menjaga kelancaran distribusi barang.
Pandangan tersebut menekankan bahwa pembenahan tidak cukup dilakukan pada satu tahapan tertentu, misalnya hanya mengganti kendaraan pengiriman. Zaldy berpandangan, upaya dekarbonisasi perlu mencakup seluruh ekosistem logistik, dari pengemasan, penyimpanan, dan distribusi hingga produksi barang. Setiap tahapan saling berkaitan dan turut membentuk dampak lingkungan dari proses pemindahan barang. Karena itu, pendekatan menyeluruh diperlukan agar perubahan di satu bagian tidak mengabaikan sumber dampak pada bagian lain. Kolaborasi antar pelaku dalam rantai pasok menjadi penting untuk mendorong proses tersebut.
Dalam kerangka ini, green logistic dapat menjadi acuan bagi perusahaan untuk meninjau cara barang dikemas, disimpan, diproduksi, dan disalurkan kepada konsumen. Perhatian pada pengemasan, misalnya, perlu berjalan bersama pengelolaan penyimpanan serta pilihan proses distribusi yang lebih efisien. Sementara itu, keterlibatan tahap produksi memperluas tanggung jawab dekarbonisasi melampaui kegiatan kurir atau pengangkutan semata. Menurut Zaldy, cakupan yang luas tersebut mencerminkan perlunya perubahan pada tingkat ekosistem, bukan sekadar inisiatif terpisah dari masing-masing perusahaan. Dengan menjadikan dekarbonisasi sebagai peta jalan, industri dapat memiliki arah bersama untuk memasukkan pertimbangan lingkungan ke dalam keputusan operasional dan pengembangan layanan. Pandangan ini juga menempatkan sektor logistik sebagai bagian penting dalam upaya mengurangi emisi karbon, sekaligus mendorong seluruh pihak yang terkait dalam rantai pasok untuk mempertimbangkan dampak lingkungannya.
Paxel menyebut telah menjalankan upaya green logistic sejak lima tahun lalu. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap dampak lingkungan telah menjadi bagian dari langkah perusahaan dalam menjalankan kegiatan logistik. Dua bentuk penerapan yang disampaikan adalah penggunaan kendaraan motor listrik dan pengembangan produk Paxel Recycle. Keduanya berkaitan dengan upaya mengurangi dampak dari aktivitas pengantaran serta mengajak pelanggan memperhatikan kemasan barang setelah digunakan.
Dalam kegiatan pengiriman, Paxel menggunakan kendaraan motor listrik sebagai salah satu bentuk penerapan logistik yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan kendaraan ini menjadi contoh perubahan pada sarana yang dipakai untuk mendukung layanan. Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci jumlah kendaraan, cakupan wilayah pemakaian, ataupun besaran dampak yang telah dihasilkan. Karena itu, langkah tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari upaya perusahaan, tanpa menyimpulkan hasil atau skala penerapannya di luar informasi yang telah disampaikan.
Upaya lain dilakukan melalui pengembangan Paxel Recycle. Produk atau program ini mendorong pelanggan untuk mengumpulkan kemasan barang dan membawanya ke bank sampah Paxel. Dengan mekanisme tersebut, kemasan yang telah digunakan tidak semata-mata berakhir sebagai sampah rumah tangga, tetapi diarahkan agar terkumpul melalui fasilitas yang disebutkan perusahaan. Peran pelanggan menjadi penting dalam langkah ini karena pengumpulan kemasan bergantung pada keterlibatan mereka. Informasi yang ada tidak menjelaskan jenis kemasan yang diterima, tata cara penyerahan, maupun proses pengolahan setelah kemasan terkumpul, sehingga rincian itu tidak dapat diasumsikan.
Contoh dari Paxel memperlihatkan bahwa penerapan green logistic dapat mencakup lebih dari satu aspek. Kendaraan motor listrik berhubungan dengan sarana pengiriman, sedangkan Paxel Recycle menempatkan perhatian pada kemasan dan partisipasi pelanggan. Kedua upaya tersebut menggambarkan bentuk inisiatif yang telah dijalankan perusahaan sejak lima tahun lalu, sesuai keterangan yang disampaikan. Penyebutan rentang waktu itu tetap merujuk pada periode tersebut dan tidak menunjukkan tahun kalender tertentu. Dalam pembahasan mengenai kebijakan dan pembiayaan, pengalaman ini dapat menjadi konteks untuk melihat ragam upaya yang dilakukan pelaku logistik. Meski demikian, informasi tersebut belum cukup untuk menilai kebutuhan biaya, dukungan kebijakan, atau capaian lingkungannya secara terukur. Penilaian lebih lanjut memerlukan data tambahan dari perusahaan dan pihak terkait, termasuk informasi mengenai pelaksanaan kedua inisiatif tersebut dari waktu ke waktu.
Percepatan penerapan green logistic memerlukan dukungan pemerintah yang memberi kepastian bagi pelaku usaha dalam menjalankan perubahan operasional. Dalam bahan sumber, kebutuhan tersebut disampaikan melalui dua hal utama: konsistensi kebijakan dan dukungan pembiayaan. Keduanya dipandang sebagai kebutuhan agar upaya menuju sistem logistik yang lebih ramah lingkungan dapat diterapkan secara lebih terarah. Penyebutan kebutuhan ini tidak berarti dukungan tersebut telah tersedia atau kebijakannya telah diterapkan secara konsisten. Pelaku usaha masih memerlukan kejelasan mengenai kerangka yang akan menjadi dasar dalam mempertimbangkan langkah dan kebutuhan mereka.
Konsistensi kebijakan menjadi penting karena penerapan green logistic dapat melibatkan penyesuaian dalam kegiatan usaha. Kebijakan yang jelas dan tidak berubah-ubah dibutuhkan agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam memahami arah yang dituju. Dengan demikian, konsistensi menjadi salah satu bentuk dukungan yang diharapkan dari pemerintah, sebagaimana dinyatakan dalam sumber. Kebutuhan ini berkaitan dengan kepastian bagi pelaku usaha ketika mempertimbangkan penerapan praktik logistik yang lebih berkelanjutan. Namun, bahan yang tersedia menekankan konsistensi sebagai kebutuhan, bukan menyebut bahwa kepastian tersebut sudah sepenuhnya terwujud.
Selain konsistensi kebijakan, dukungan pembiayaan juga disebut sebagai kebutuhan untuk mempercepat penerapan green logistic.
Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah






