JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Granit Xhaka dijatuhi denda sekitar 136 ribu pound sterling, atau setara dengan Rp3,2 miliar, setelah dinyatakan bersalah karena memperoleh sertifikat vaksin Covid-19 palsu. Putusan tersebut dijatuhkan oleh pengadilan terhadap gelandang berusia 34 tahun itu, yang dikenal sebagai kapten Sunderland sekaligus pemimpin tim nasional Swiss. Kasus ini berkaitan dengan penggunaan dokumen kesehatan palsu pada masa ketika sertifikat vaksin menjadi salah satu persyaratan penting untuk perjalanan dan berbagai aktivitas publik.
Dalam menanggapi keputusan tersebut, Xhaka menyatakan menerima putusan pengadilan dan mengakui tanggung jawab atas tindakannya. Sikap itu disampaikan setelah proses hukum berlangsung, sekaligus menjadi penegasan bahwa ia tidak berusaha menghindari konsekuensi dari kesalahan yang telah dilakukan. Pemain tersebut juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mengirimkan pesan dukungan kepadanya dalam beberapa pekan terakhir. Dukungan itu disebut membantu Xhaka menghadapi perhatian publik dan tekanan selama perkara diproses.
Pengadilan menangguhkan pelaksanaan denda selama dua tahun. Penangguhan tersebut disertai syarat bahwa Xhaka tidak boleh melakukan pelanggaran hukum lain selama masa yang ditentukan. Selain itu, ia telah membayar biaya perkara sebagai bagian dari kewajiban yang ditetapkan dalam putusan. Dengan demikian, kasus tersebut tetap memiliki konsekuensi finansial dan hukum, meskipun pelaksanaan denda ditunda. Putusan ini juga menjadi pengingat bahwa kepemilikan atau penggunaan dokumen palsu dapat berujung pada sanksi serius, termasuk bagi figur publik dan atlet profesional. Bagi Xhaka, penerimaan terhadap keputusan tersebut menandai langkah untuk menyelesaikan perkara secara resmi serta memusatkan perhatian kembali pada tanggung jawabnya sebagai pemain dan kapten.
Perkara yang menjerat Granit Xhaka berkaitan dengan sertifikat vaksin Covid-19 yang diduga diperolehnya pada 2022. Pada periode tersebut, Swiss masih menerapkan sistem sertifikat Covid-19 sebagai bagian dari upaya mengendalikan penyebaran virus. Dokumen itu menjadi bukti bahwa seseorang telah menerima vaksin, menjalani pemulihan, atau memiliki hasil tes tertentu, bergantung pada ketentuan yang berlaku saat itu.
Sertifikat tersebut diperlukan untuk mengakses sejumlah aktivitas dan lokasi di Swiss. Warga dapat diminta menunjukkannya ketika memasuki tempat tertentu, menghadiri kegiatan, atau menggunakan layanan yang berada di bawah pembatasan kesehatan. Dokumen serupa juga berperan penting dalam perjalanan ke luar negeri, karena sejumlah negara menetapkan persyaratan vaksinasi atau bukti kesehatan bagi pelancong. Kebijakan itu masih berlaku hingga musim semi 2022, meskipun penerbitan sertifikat terus berlanjut, terutama untuk mendukung perjalanan internasional.
Pada masa dugaan penerbitan sertifikat tersebut, Xhaka masih memperkuat Arsenal di Inggris. Statusnya sebagai pemain profesional membuat persoalan kesehatan dan perjalanan menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari, termasuk kewajiban mobilitas untuk pertandingan serta agenda klub. Dalam pernyataannya pada 21 September, Xhaka menegaskan bahwa dirinya percaya terhadap vaksin. Namun, ia juga mengakui bahwa keputusan yang berkaitan dengan perkara tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran dan ketidakpastian yang dirasakannya ketika itu.
Kantor kesehatan masyarakat Swiss kemudian menjelaskan bahwa sertifikat vaksin tidak pernah diwajibkan secara hukum secara umum bagi seluruh penduduk. Meski demikian, sertifikat itu dapat menjadi syarat untuk mengikuti kegiatan tertentu, memasuki lokasi tertentu, atau melakukan perjalanan ke negara yang menetapkan aturan kesehatan sendiri. Perbedaan kewajiban hukum umum dan persyaratan akses tersebut menjadi bagian penting dalam memahami konteks kasus Xhaka. Dengan demikian, keberadaan sertifikat pada 2022 tidak otomatis berarti setiap orang secara hukum diwajibkan memiliki atau menunjukkannya dalam semua keadaan.
Granit Xhaka tetap menempati posisi penting dalam sejarah tim nasional Swiss, terlepas dari persoalan hukum terkait sertifikat vaksin yang sempat menjadi perhatian publik. Gelandang tersebut tercatat sebagai pemegang rekor penampilan terbanyak untuk Swiss dengan 152 pertandingan. Catatan itu mencerminkan konsistensi, daya tahan, serta kontribusinya selama bertahun-tahun membela negara. Karena itu, pemberitaan mengenai pengakuan kesalahan dan kewajiban membayar denda perlu dilihat sebagai satu perkara hukum, bukan sebagai gambaran keseluruhan atas karier internasionalnya.
Setelah pernyataan awal mengenai kasus sertifikat tersebut disampaikan, Xhaka meninggalkan pemusatan latihan Swiss. Keputusan itu berlangsung menjelang pertandingan UEFA Nations League melawan Skotlandia, Makedonia Utara, dan Slovenia pada jeda internasional terbaru. Kepergiannya tentu memengaruhi persiapan tim, terutama karena ia dikenal sebagai pemain yang berpengalaman dan memiliki pengaruh besar di ruang ganti. Namun, situasi tersebut tidak otomatis menghapus perannya sebagai bagian penting dari tim nasional. Pengalaman, kemampuan memimpin, serta pemahamannya terhadap struktur permainan tetap menjadi aset yang bernilai bagi Swiss.
Peran Xhaka semakin terlihat ketika ia dipercaya menjadi kapten Swiss pada Piala Dunia 2026. Dalam turnamen tersebut, Swiss mencapai perempat final sebelum tersingkir setelah kalah dari Argentina. Argentina kemudian melanjutkan kiprahnya hingga menjadi runner-up. Penunjukan Xhaka sebagai kapten menunjukkan bahwa kepercayaan tim terhadap kepemimpinannya tetap kuat di tengah sorotan yang muncul di luar lapangan. Dengan demikian, dampak kasus tersebut lebih berkaitan dengan ketidakhadirannya pada agenda tertentu dan proses hukum yang harus diselesaikan, bukan berakhirnya hubungan Xhaka dengan tim nasional. Statusnya sebagai pemegang rekor penampilan dan kapten dalam turnamen besar tetap menegaskan kedudukan pentingnya bagi sepak bola Swiss.
Setelah menyelesaikan perkara terkait sertifikat vaksin, Granit Xhaka diperkirakan kembali memperkuat Sunderland pada pertandingan berikutnya. Sunderland dijadwalkan menjamu Brighton pada Sabtu (10/10), dan laga tersebut menjadi kesempatan bagi Xhaka untuk kembali tampil bersama klubnya setelah menjalani jeda internasional.
Pelatih Sunderland, Regis Le Bris, memilih tidak memberikan komentar mengenai perkara yang berlangsung di luar lapangan. Ia tidak bersedia membahas lebih jauh persoalan tersebut dan mengarahkan perhatian pada persiapan tim serta kondisi pemain menjelang pertandingan. Sikap itu membuat perkembangan Xhaka di level klub menjadi sorotan utama sebelum Sunderland menghadapi Brighton.
Le Bris menyampaikan penilaian positif mengenai kondisi Xhaka selama jeda internasional. Menurutnya, gelandang tersebut berlatih dengan sangat baik sehingga berada dalam keadaan yang baik secara sepak bola. Penilaian itu menjadi dasar penting dalam melihat kesiapan Xhaka menjelang pertandingan, tanpa mengaitkannya dengan persoalan lain di luar lapangan.
Bagi Le Bris, aspek sepak bola merupakan hal yang paling penting dalam menilai situasi Xhaka. Kondisi latihan dan kesiapan bermain menjadi perhatian utama staf pelatih Sunderland. Karena itu, kemungkinan kembalinya Xhaka saat menghadapi Brighton akan bergantung pada keputusan teknis tim, sementara perkembangan positif selama latihan menjadi informasi utama yang disampaikan sang pelatih.
Xhaka kini menantikan lanjutan kiprahnya bersama Sunderland setelah jeda internasional. Pertandingan melawan Brighton pada Sabtu (10/10) berpotensi menjadi panggung kembalinya sang pemain, dengan fokus klub tetap tertuju pada kesiapan di lapangan. Le Bris menegaskan bahwa kondisi Xhaka secara sepak bola berada dalam keadaan baik, dan aspek tersebut menjadi hal yang paling penting baginya menjelang laga.

