Jakarta | Pada 2018, hutan lindung di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pernah berada dalam kondisi gundul. Burhanudin bersama warga kemudian mendorong pemulihan kawasan tersebut dengan menanam pohon dan merawat lingkungan secara berkelanjutan. Upaya ini bukan pekerjaan singkat: warga perlu menjaga bibit, memperhatikan pertumbuhan tanaman, serta melindungi area dari kerusakan lebih lanjut. Kini, sekitar 30 ribu pohon tumbuh di kawasan itu. Kembalinya tutupan hijau menjadi penanda perubahan nyata pada bentang alam desa, sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan hutan dapat berlangsung ketika masyarakat setempat terlibat dan memiliki kepentingan dalam menjaga sumber daya di sekitarnya.
Perubahan tersebut beriringan dengan terbukanya ruang bagi kegiatan penghidupan warga. Kawasan yang lebih terawat dapat mendukung aktivitas yang berkaitan dengan alam dan mendorong minat orang untuk mengenal lingkungan setempat. Bagi warga, hutan bukan hanya area yang perlu dilindungi, tetapi juga bagian dari kehidupan desa yang dapat memberi manfaat dalam jangka panjang apabila dikelola secara bijaksana. Peluang yang muncul dapat mencakup usaha kecil, layanan bagi pengunjung, atau kegiatan lain yang sesuai dengan kondisi lokal. Bentuk dan skala manfaatnya tentu bergantung pada kebutuhan warga, akses, keterampilan, serta cara pengelolaan yang disepakati bersama.
Penting untuk melihat hubungan pelestarian dan ekonomi secara cermat. Bertambahnya pohon memperbaiki kondisi kawasan, tetapi perkembangan penghidupan tidak dapat dianggap semata-mata sebagai akibat penanaman. Berbagai faktor lain, seperti inisiatif warga, dukungan pihak luar, kesempatan pasar, dan kemampuan mengembangkan usaha, turut membentuk hasil yang dirasakan. Karena itu, menjaga hutan sekaligus membuka peluang ekonomi memerlukan perencanaan yang memperhatikan daya dukung alam dan pembagian manfaat yang adil. Pengalaman Desa Tumpak memperlihatkan potensi pendekatan yang menghubungkan perawatan lingkungan dengan kegiatan masyarakat, tanpa mengabaikan bahwa hasilnya berkembang melalui proses dan kondisi yang beragam.
Di Desa Tumpak, kegiatan ekonomi warga berkembang melalui peternakan, ekowisata, dan pengolahan hasil kelapa. Ragam usaha ini memberi masyarakat beberapa sumber penghasilan sekaligus, serta membuka ruang bagi warga untuk mengolah potensi desa menjadi produk dan pengalaman yang bernilai. Ekowisata setempat menarik sekitar 800 wisatawan setiap tahun, sementara peternakan dan usaha pengolahan menyediakan aktivitas produktif yang dapat berlangsung di luar musim kunjungan.
Kelapa dimanfaatkan menjadi sejumlah produk turunan, lain cocopeat, virgin coconut oil (VCO), dan briket. Pengolahan tersebut memperluas nilai guna bahan baku lokal, termasuk bagian yang sebelumnya belum banyak dimanfaatkan. Dengan menjual produk olahan, warga dapat mengembangkan peluang usaha dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Rangkaian kegiatan ekonomi ini melibatkan sekitar 60 tenaga kerja dan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per tahun.
Panel surya berkapasitas 6,6 kWp turut mendukung aktivitas produktif warga. Pasokan energi dari sistem tersebut membantu menunjang kegiatan usaha dan layanan yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi desa. Dukungan energi terbarukan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kegiatan tetap berjalan, sekaligus memperkuat hubungan pemanfaatan sumber daya lokal dan peluang ekonomi. Bagi desa yang mengembangkan usaha secara bertahap, akses energi yang lebih andal dapat membantu kegiatan produksi maupun layanan wisata.
Burhanudin menekankan keterkaitan kelestarian alam dan pertumbuhan penghidupan warga. Ia menyampaikan bahwa semakin banyak pohon yang tumbuh, semakin banyak pula sumber ekonomi baru yang dapat berkembang. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan daring Detalk bertajuk “Desa Berdaya, Energi Terjaga: Cetak Biru Transisi Energi Masa Depan” pada Senin (2/11/2026). Pengalaman Desa Tumpak menunjukkan bagaimana ekowisata, pengolahan kelapa, peternakan, dan dukungan panel surya dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Di Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah, perubahan yang dibawa energi terbarukan terasa dalam kebutuhan sehari-hari warga. Jamaludin, seorang penggerak masyarakat setempat, menyaksikan bagaimana kehidupan di dusun yang dahulu belum teraliri listrik mulai berubah. Hingga 2017, rumah-rumah di Bondan masih belum mendapatkan akses listrik. Keterbatasan itu bukan satu-satunya tantangan. Untuk memperoleh air bersih, warga harus menempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer dengan perahu. Jarak dan perjalanan tersebut membuat pemenuhan kebutuhan dasar menjadi urusan yang menyita waktu dan tenaga.
Kehadiran pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) kemudian membawa sumber energi ke dusun. Listrik yang sebelumnya tidak tersedia kini menerangi rumah-rumah warga. Perubahan ini bukan sekadar menghadirkan penerangan, tetapi juga memberi dukungan bagi kegiatan produktif masyarakat. Di tambak, listrik dapat menggerakkan aerator, sehingga kebutuhan operasional yang berkaitan dengan budidaya ikan dapat terbantu. Bagi Jamaludin dan warga, pemanfaatan listrik untuk rumah dan tambak menunjukkan bahwa akses energi dapat berperan langsung dalam kehidupan serta penghidupan masyarakat desa.
PLTH juga mendukung teknologi desalinasi yang mengolah air payau menjadi air bersih. Dengan adanya pengolahan tersebut, warga memiliki sumber air bersih di dusun dan tidak harus selalu mengandalkan perjalanan jauh dengan perahu untuk mendapatkannya. Akses yang lebih dekat membantu mengurangi beban dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Perubahan ini memperlihatkan hubungan energi dan layanan dasar: listrik memungkinkan teknologi pengolahan air berfungsi, sementara hasilnya menjawab persoalan yang lama dihadapi masyarakat.
Pengalaman Bondan menggambarkan bahwa manfaat energi terbarukan dapat melampaui penerangan. Bagi warga, hadirnya listrik berkaitan dengan akses air, kegiatan tambak, dan kesempatan menjalankan aktivitas dengan lebih baik. Peran Jamaludin sebagai penggerak masyarakat turut menjadi bagian dari perubahan tersebut, karena pemanfaatan fasilitas perlu terhubung dengan kebutuhan warga. Dari dusun yang hingga 2017 belum teraliri listrik, Bondan kini memiliki dukungan energi untuk beberapa kebutuhan penting. Kisah ini menunjukkan bagaimana infrastruktur yang sesuai dapat membuka peluang baru dan memperkuat keseharian masyarakat desa.
Di Dusun Bondan, pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) tidak hanya menyediakan akses energi, tetapi juga mendukung kegiatan dan kapasitas masyarakat. Salah satu upaya yang menyertai pengoperasian PLTH ialah pelatihan bagi para ibu untuk mengolah hasil tambak. Keterampilan tersebut membuka peluang agar hasil tambak dapat dimanfaatkan melalui kegiatan pengolahan, sekaligus mengembangkan potensi yang telah dimiliki warga. Dengan demikian, manfaat energi terbarukan di dusun ini berkaitan dengan aktivitas ekonomi setempat, bukan semata-mata ketersediaan listrik. Pelatihan juga menjadi bagian dari pengembangan kapasitas warga, sehingga masyarakat dapat terlibat dalam memanfaatkan potensi lokal yang ada di sekitar mereka. Pengalaman Bondan memperlihatkan bagaimana akses energi dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan pemberdayaan yang relevan dengan sumber daya masyarakat.
Keberlanjutan operasional PLTH dijaga melalui peran koperasi desa. Keluarga di dusun tersebut membayar iuran sebesar Rp25 ribu per bulan, yang mendukung pengelolaan operasional pembangkit. Skema ini menempatkan warga dan kelembagaan desa sebagai bagian dari upaya menjaga agar layanan energi tetap berjalan. Selain menjadi sumber energi dan ruang bagi pengembangan kegiatan warga, Dusun Bondan juga menjadi laboratorium belajar bagi mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap. Keberadaan mahasiswa menambah fungsi dusun sebagai tempat pembelajaran mengenai PLTH dan penerapannya di tengah masyarakat. Jamaludin menyatakan bahwa program tersebut telah terbukti berjalan baik dan memberi manfaat nyata serta luas bagi masyarakat. Ia merupakan penerima Local Hero Award TJSL Pertamina Group 2023. Pernyataan tersebut menegaskan penilaian terhadap manfaat program, sementara iuran dan koperasi menunjukkan adanya mekanisme lokal untuk mendukung keberlanjutan operasional.
Jika dibaca bersama kisah di Lombok Tengah pengalaman masyarakat Dusun Bondan di Cilacap menjadi contoh pemanfaatan energi terbarukan yang terhubung dengan.
Baca juga: Pramuka Santri Kenali Pengelolaan Lingkungan dan Energi Terbarukan di Boon Pring | Bantuan Air Bersih PHE OSES untuk Warga Pulau Kelapa di Tengah Kekeringan | Dua Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Baru bagi Konservasi Indonesia
444 kunjungan