Kabupaten Probolinggo | Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, bertambah menjadi empat orang. Sebelumnya, tiga orang dilaporkan tewas dalam peristiwa tersebut. Para korban terjebak saat berupaya memadamkan api, ketika kebakaran melanda kawasan yang berada di lingkungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Tiga korban merupakan petugas TNBTS, yaitu Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, dan Hendra Rony. Mereka berada di personel yang berupaya menangani kebakaran. Korban keempat adalah Sefriel Ardiansyah, seorang pekerja hotel di Artotel Bromo. Keempatnya meninggal setelah terjebak dalam upaya memadamkan api di kawasan tersebut.
Peristiwa ini menambah jumlah korban jiwa dalam kebakaran Bromo yang sebelumnya tercatat tiga orang. Dengan bertambahnya satu korban, total orang yang meninggal kini mencapai empat. Identitas dan pekerjaan para korban menunjukkan bahwa mereka berasal dari dua kelompok berbeda: petugas yang bertugas di kawasan konservasi serta seorang pekerja hotel di sekitar Bromo.
Upaya pemadaman menjadi situasi berbahaya ketika api menjebak orang-orang yang berada di lokasi. Para korban disebut terjebak saat berusaha mengendalikan kebakaran, bukan sekadar berada di sekitar kawasan terdampak. Informasi yang disampaikan mengenai peristiwa ini mencakup jumlah korban, identitas mereka, serta peran masing-masing dalam kegiatan di sekitar Gunung Bromo.
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut kini menimbulkan duka bagi keluarga korban dan lingkungan kerja mereka. Tiga petugas TNBTS yang meninggal adalah Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, dan Hendra Rony, sedangkan Sefriel Ardiansyah bekerja di Artotel Bromo. Keempat nama itu tercatat sebagai korban jiwa setelah terjebak ketika berupaya memadamkan api. Jumlah korban meninggal yang semula tiga orang pun bertambah menjadi empat orang.
Di korban kebakaran di kawasan Bromo, Munawi dan Suraji selamat, tetapi mengalami luka bakar serius. Keduanya kemudian dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya, agar memperoleh perawatan intensif. Kondisi tersebut membuat penanganan medis terhadap mereka menjadi perhatian, sementara keluarga dan pihak terkait menantikan perkembangan pemulihan kedua korban.
Bupati Probolinggo Muhammad Haris menyampaikan bahwa dua korban mengalami luka bakar serius. Ia berharap kondisi Munawi dan Suraji segera membaik setelah mendapat penanganan di rumah sakit rujukan. Pernyataan itu menegaskan bahwa keduanya masih menjalani perawatan, berbeda dari korban lain yang meninggal dalam kejadian tersebut. Informasi mengenai luka dan rujukan keduanya tidak berarti mereka telah pulih; pemantauan serta perawatan lanjutan masih diperlukan.
Pemerintah Kabupaten Probolinggo menyatakan akan menanggung biaya pengobatan kedua korban. Pembiayaan itu akan dikoordinasikan bersama pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Koordinasi tersebut ditujukan untuk memastikan kebutuhan perawatan dapat ditangani, termasuk selama korban berada di rumah sakit rujukan. Penjelasan mengenai pembiayaan ini juga menjadi bagian dari dukungan pemerintah daerah terhadap korban yang selamat.
Data mengenai korban meninggal perlu dibedakan dari kondisi Munawi dan Suraji. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia di lokasi kebakaran. Sementara itu, satu korban lainnya meninggal saat dalam proses rujukan ke RSUD Tongas. Dengan demikian, keterangan tentang satu korban yang meninggal ketika dirujuk merujuk pada perjalanan menuju RSUD Tongas, bukan pada dua korban luka bakar yang dibawa ke RSUD Dr Soetomo.
Pemisahan informasi ini penting agar jumlah korban dan tujuan rujukan tidak tertukar. Dua orang yang mengalami luka bakar serius masih mendapat perawatan intensif di Surabaya, sedangkan tiga korban meninggal di lokasi dan seorang lainnya meninggal dalam perjalanan rujukan ke RSUD Tongas. Pemerintah daerah berharap perawatan yang dijalani Munawi dan Suraji membantu memperbaiki kondisi mereka. Pengobatan keduanya menjadi tanggungan Pemkab Probolinggo, dengan pelaksanaan biaya dikoordinasikan bersama TNBTS. Hingga keterangan tersebut disampaikan, perhatian utama bagi korban yang selamat adalah penanganan medis lanjutan dan pemantauan kondisi selama dirawat di rumah sakit.
Haris menjelaskan bahwa upaya pemadaman pada awal kejadian dilakukan oleh 12 orang. Mereka bekerja mengikuti standar operasional prosedur yang berlaku, dengan tujuan mengendalikan api sebelum kebakaran meluas. Pada tahap tersebut, tim masih bergerak sebagai satu kelompok dalam menjalankan tugas pemadaman. Keterangan ini menggambarkan bahwa penanganan awal dilakukan secara terkoordinasi, sesuai prosedur, dan melibatkan seluruh personel yang ditugaskan.
Situasi kemudian berubah ketika api semakin meluas. Dalam kondisi itu, tim yang semula bekerja bersama terpisah menjadi beberapa bagian. Haris menyebut perubahan tersebut terjadi saat upaya pemadaman masih berlangsung, sehingga personel tidak lagi berada dalam satu kelompok. Perkembangan api menjadi bagian penting dari kronologi karena berlangsung bersamaan dengan perubahan keadaan tim di lapangan.
Menurut keterangan Haris, arah angin berubah dengan sangat cepat. Perubahan arah angin itu membuat keadaan semakin sulit dihadapi oleh para petugas yang sedang berupaya memadamkan api. Setelah tim terpisah, enam orang terjebak. Dengan demikian, kronologi yang disampaikan menunjukkan rangkaian dari pemadaman oleh 12 personel sesuai prosedur, kebakaran yang meluas, tim yang terpecah, hingga enam orang yang tidak dapat keluar dari situasi tersebut.
Informasi bahwa para korban terjebak saat bertugas menegaskan bahwa mereka berada dalam rangkaian upaya pemadaman ketika kejadian itu berlangsung. Mereka menjalankan tugas, sementara kondisi api dan arah angin berubah cepat. Keterangan ini menjadi bagian dari penjelasan mengenai bagaimana situasi berkembang dan mengapa sebagian personel akhirnya terjebak. Rangkaian tersebut disampaikan berdasarkan penuturan Haris, tanpa mengubah urutan kejadian yang ia jelaskan: pemadaman awal sesuai prosedur, api meluas, tim terpisah, lalu enam orang terjebak saat menjalankan tugas.
Haris menyampaikan bahwa kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bukan peristiwa yang sepenuhnya baru. Menurutnya, kebakaran di kawasan tersebut disebut terjadi hampir setiap tahun. Namun, sebelum kejadian kali ini, peristiwa kebakaran hutan di TNBTS tidak pernah menimbulkan korban jiwa. Konteks itu menjadi perhatian dalam melihat dampak insiden yang menewaskan empat orang dan menyebabkan dua korban lainnya harus dirujuk ke Surabaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Haris dalam konferensi pers di RSUD Tongas pada Kamis malam. Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya para korban. Ia turut menyampaikan perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan serta kepada para korban yang menjalani perawatan. Penyampaian belasungkawa itu dilakukan di tengah penanganan kejadian, sementara informasi yang disampaikan berfokus pada korban dan langkah-langkah yang ditempuh oleh pihak terkait.
Haris mengatakan bahwa penanganan kebakaran dilakukan dengan mengutamakan keselamatan petugas. Pertimbangan tersebut, menurutnya, menjadi hal utama saat petugas menjalankan tugas di kawasan TNBTS. Ia juga menyebut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turun langsung ke kawasan Bromo untuk memastikan penanganan dilakukan. Kehadiran kepala BNPB tersebut disebut sebagai bagian dari perhatian terhadap penanganan di lapangan, tanpa mengesampingkan perlindungan bagi petugas yang terlibat.
Perbedaan kejadian kali ini dan kebakaran-kebakaran sebelumnya terletak pada adanya korban jiwa. Meski kebakaran hutan di kawasan itu disebut berulang hampir setiap tahun, Haris menegaskan bahwa sebelumnya tidak ada korban meninggal akibat peristiwa serupa. Informasi tersebut memberi gambaran mengenai situasi yang dihadapi dalam kejadian kali ini, sekaligus menjelaskan alasan perhatian terhadap keselamatan menjadi penting. Dalam keterangannya di RSUD Tongas, Haris menyampaikan konteks tersebut bersama belasungkawa dan penjelasan mengenai upaya penanganan, termasuk keterlibatan pimpinan BNPB di kawasan Bromo.
Baca juga: Melalui Komsos Bersama Staf Desa, Babinsa Imbau Warga Tidak Membakar Sampah Cegah Kebakaran | Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran | Judi Online Menggunakan NIK Orang Lain: Dedy Luqman Hakim Soroti Bahaya “Menghukum” Korban







