Kabupaten Probolinggo | Jumlah korban meninggal dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, bertambah dari tiga menjadi empat orang. Keempatnya dilaporkan terjebak ketika berupaya memadamkan kebakaran. Perubahan jumlah korban tersebut menjadi perkembangan utama dalam penanganan peristiwa ini, sekaligus menegaskan adanya korban jiwa di orang-orang yang terlibat dalam upaya pemadaman di kawasan tersebut.
Korban meninggal yang telah disebutkan adalah Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, Hendra Rony, dan Sefriel Ardiansyah. Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, serta Hendra Rony merupakan petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sementara itu, Sefriel Ardiansyah diketahui bekerja sebagai pekerja hotel di Artotel Bromo. Keterangan mengenai identitas dan pekerjaan para korban memberikan gambaran tentang siapa saja yang meninggal dalam peristiwa kebakaran tersebut, tanpa mengubah fakta bahwa keempatnya terjebak saat memadamkan api.
Dengan bertambahnya jumlah korban dari tiga menjadi empat orang, kabar mengenai kebakaran di Gunung Bromo tidak hanya berkaitan dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga dengan kehilangan nyawa. Nama-nama korban serta keterangan bahwa tiga orang bertugas di TNBTS dan satu orang bekerja di Artotel Bromo menjadi informasi penting yang perlu disampaikan secara cermat. Berdasarkan keterangan yang tersedia, para korban meninggal setelah terjebak ketika berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo. Tidak ada rincian tambahan mengenai waktu ataupun keadaan masing-masing korban dalam informasi ini, sehingga penyampaian berita berfokus pada jumlah korban, nama mereka, dan keterangan pekerjaan yang telah disebutkan.
Dua korban lain yang mengalami luka bakar dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Munawi dan Suraji, dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Keduanya membutuhkan penanganan medis intensif setelah mengalami luka akibat insiden saat upaya pemadaman berlangsung. Rujukan tersebut dilakukan agar mereka dapat memperoleh perawatan lanjutan sesuai kondisi masing-masing. Pemerintah Kabupaten Probolinggo menyampaikan perhatian terhadap keselamatan kedua korban dan memastikan bahwa kebutuhan pengobatan mereka akan ditangani. Informasi mengenai kondisi serta rujukan Munawi dan Suraji disampaikan Bupati Probolinggo Muhammad Haris dalam konferensi pers di RSUD Tongas pada Kamis malam, 15 Oktober 2026.
Dalam keterangannya, Haris menyebut Munawi dan Suraji sebagai dua korban luka yang masih memerlukan perawatan intensif. Mereka telah dibawa ke rumah sakit rujukan di Surabaya untuk mendapatkan layanan medis lebih lanjut. Pemindahan ke RSUD Dr. Soetomo dimaksudkan untuk mendukung proses perawatan, sementara tenaga kesehatan menangani kondisi luka bakar yang dialami keduanya. Haris tidak hanya menyampaikan perkembangan mengenai rujukan itu, tetapi juga menegaskan bahwa pemerintah daerah akan mengupayakan dukungan bagi korban selama menjalani pengobatan. Penanganan ini menjadi bagian dari perhatian terhadap para korban yang terdampak dalam kejadian kebakaran di kawasan Bromo.
Biaya pengobatan Munawi dan Suraji akan ditanggung Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Haris mengatakan pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terkait pembiayaan tersebut. Koordinasi itu diharapkan membantu memastikan kebutuhan perawatan kedua korban dapat dipenuhi tanpa menambah beban mereka selama menjalani penanganan medis. Haris juga menyampaikan harapannya agar kondisi Munawi dan Suraji segera membaik. Pemerintah daerah, kata dia, menaruh perhatian pada perkembangan kesehatan mereka setelah dirujuk untuk mendapatkan perawatan intensif. Dukungan pembiayaan dan pemantauan kondisi korban diharapkan dapat berjalan seiring dengan penanganan medis yang diberikan rumah sakit.
Haris menjelaskan bahwa pada awal kejadian, 12 orang berada dalam tim yang melakukan pemadaman kebakaran di kawasan Gunung Bromo. Mereka bekerja mengikuti standar operasional prosedur yang berlaku. Dalam tahap awal tersebut, para petugas berupaya menangani api sebagai satu tim. Namun, ketika kebakaran meluas, keadaan di lapangan berubah dan tim pemadam tidak lagi berada dalam satu kelompok. Kronologi yang disampaikan Haris menggambarkan perubahan situasi itu sebagai bagian penting dari upaya pemadaman, sebelum sejumlah anggota tim kemudian terjebak. Informasi tersebut menjadi dasar untuk memahami bagaimana jumlah orang yang terlibat dalam pemadaman berbeda dari jumlah yang akhirnya terjebak di lokasi.
Menurut penjelasan Haris, meluasnya kebakaran membuat tim terpisah. Setelah kelompok itu terpecah, enam orang terjebak ketika arah angin berubah dengan cepat. Perubahan arah angin tersebut disebut dalam kronologi sebagai kondisi yang terjadi saat enam orang itu terjebak, tanpa keterangan tambahan mengenai penyebab perubahan atau rincian lain di lokasi. Karena itu, uraian kejadian perlu dibatasi pada informasi yang disampaikan: pemadaman semula dilakukan oleh 12 orang sesuai prosedur, kebakaran kemudian meluas, tim terpisah, dan enam orang terjebak setelah arah angin berubah cepat. Haris tidak memberikan keterangan yang menjadi dasar untuk menyimpulkan urutan kejadian lain di luar rangkaian tersebut.
Dalam kejadian itu, tiga korban meninggal dunia di lokasi ketika sedang memadamkan kebakaran. Satu korban lainnya meninggal dunia saat dirujuk ke RSUD Tongas. Keterangan mengenai tempat dan waktu meninggalnya para korban tersebut menjadi bagian dari kronologi yang disampaikan Haris, dan membedakan kondisi tiga korban yang meninggal di lokasi dari satu korban yang meninggal dalam proses rujukan. Dengan demikian, informasi yang tersedia menyebutkan empat korban meninggal, dengan tiga di antaranya wafat saat melakukan pemadaman di lokasi dan seorang lagi ketika dirujuk ke rumah sakit. Rangkaian keterangan ini tidak menjelaskan penyebab lain ataupun urutan kejadian tambahan, sehingga tidak dapat digunakan untuk menetapkan detail di luar hal-hal yang telah disebutkan.
Haris menyampaikan bahwa kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bukanlah peristiwa yang baru terjadi. Kebakaran di kawasan tersebut telah lama berlangsung dan hampir rutin terjadi setiap tahun. Meski demikian, kejadian-kejadian sebelumnya belum pernah menimbulkan korban jiwa. Karena itu, insiden kali ini menjadi peristiwa yang sangat disayangkan, terutama karena empat orang meninggal saat berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Keterangan tersebut menggambarkan bahwa karhutla merupakan tantangan berulang di kawasan Bromo, tetapi dampak fatal seperti yang terjadi kali ini belum pernah dialami sebelumnya. Haris menempatkan kehilangan nyawa para petugas sebagai hal yang menjadi perhatian utama dalam menyikapi kejadian tersebut.
Dalam menghadapi kebakaran, Haris menegaskan bahwa penanganan harus dilakukan secara cermat. Upaya memadamkan api perlu mempertimbangkan kondisi di lapangan dan tidak boleh mengabaikan keselamatan orang-orang yang bertugas. Keselamatan petugas menjadi prioritas, sehingga langkah penanganan perlu dilaksanakan dengan kehati-hatian. Pernyataan ini disampaikan di tengah upaya mengatasi karhutla di kawasan taman nasional, setelah insiden tersebut menimbulkan korban jiwa. Pemerintah juga menaruh perhatian pada aspek keselamatan dalam proses penanganan kebakaran. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turun langsung ke kawasan Bromo untuk memastikan penanganan karhutla berlangsung dengan mengutamakan keselamatan petugas. Kehadiran Kepala BNPB di lokasi merupakan bagian dari perhatian terhadap proses penanganan, dengan keselamatan personel tetap menjadi hal yang didahulukan.
Haris menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya empat orang dalam peristiwa kebakaran tersebut. Ucapan duka itu disampaikan atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Ia menyatakan turut berduka cita kepada para korban serta pihak-pihak yang kehilangan. Pernyataan belasungkawa tersebut menyertai perhatian terhadap penanganan kebakaran dan keselamatan petugas di kawasan Bromo. Haris menyampaikan dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus menegaskan bahwa kehilangan nyawa dalam upaya pemadaman merupakan kejadian yang sangat menyedihkan. Atas nama pribadi dan pemerintah daerah, ia menyampaikan simpati kepada keluarga korban.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla







