JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Harga emas dunia mulai berbalik menguat setelah sebelumnya berada di bawah tekanan. Pergerakan tersebut terjadi setelah harga logam mulia ini menyentuh level terendah dalam dua bulan dan mencatat penurunan 1,3% pada perdagangan Rabu. Pelemahan itu menjadi catatan penting dalam rangkaian pergerakan harga emas sebelum memasuki perdagangan berikutnya.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada penutupan Kamis, 8 Oktober 2026, berada di level US$4.133,93 per troy ons. Posisi tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 0,59% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Dengan demikian, harga emas mulai meninggalkan titik terendah yang dicapai dalam dua bulan terakhir, meskipun pergerakannya tetap perlu dicermati dari satu sesi perdagangan ke sesi berikutnya.
Penguatan berlanjut pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Berdasarkan pembaruan data pada pukul 06.31 WIB, harga emas kembali naik 0,21% menjadi US$4.142,55 per troy ons. Kenaikan ini menambah penguatan yang telah tercatat pada penutupan Kamis dan membawa harga emas ke level yang lebih tinggi dibandingkan sehari sebelumnya.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan perubahan arah harga emas dalam waktu singkat. Setelah turun 1,3% pada Rabu dan menyentuh level terendah dalam dua bulan, harga emas kemudian menguat 0,59% pada penutupan Kamis. Pada Jumat pagi, penguatan berlanjut dengan kenaikan 0,21% ke posisi US$4.142,55 per troy ons. Pergerakan ini menjadi pembuka perhatian terhadap perkembangan harga emas dunia pada perdagangan selanjutnya.
Penguatan emas berlangsung di tengah kondisi pasar yang masih dipengaruhi oleh tingginya indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun. Kedua indikator tersebut bertahan pada level tinggi selama dua sesi berturut-turut, sehingga menjadi perhatian pelaku pasar. Secara umum, dolar yang kuat dapat membatasi daya tarik emas karena logam mulia tersebut dihargai dalam mata uang AS. Namun, ketahanan imbal hasil obligasi pada tingkat tinggi juga mencerminkan adanya perubahan dalam cara investor memandang risiko fiskal pemerintah Amerika Serikat.
Kenaikan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun dinilai mencerminkan kekhawatiran yang semakin besar terhadap tingginya utang pemerintah AS. Ketika kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat, pasar dapat meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang surat utang tersebut. Perkembangan ini turut memperkuat perhatian terhadap keberlanjutan posisi fiskal AS, terutama ketika beban utang terus menjadi bagian penting dalam pertimbangan investor. Dengan demikian, pergerakan imbal hasil tidak hanya berkaitan dengan ekspektasi kebijakan moneter, tetapi juga dengan persepsi terhadap risiko utang pemerintah.
Nitesh Shah, ahli strategi komoditas di WisdomTree, menyampaikan bahwa apabila utang pemerintah AS terus meningkat, emas berpotensi semakin diminati. Logam mulia itu dipandang sebagai antitesis mata uang fiat dan aset pemerintah. Pandangan tersebut menempatkan emas sebagai pilihan yang berbeda dari instrumen yang nilainya berkaitan langsung dengan kebijakan serta kondisi keuangan pemerintah. Dalam situasi ketika kekhawatiran terhadap peningkatan utang semakin kuat, karakter emas sebagai aset di luar sistem mata uang fiat dan kewajiban pemerintah dapat menjadi salah satu faktor yang menopang minat terhadapnya.
Risalah rapat Federal Reserve pada bulan sebelumnya menunjukkan bahwa arah kebijakan suku bunga masih dibayangi perbedaan pandangan di para pembuat kebijakan. Dokumen tersebut belum memberikan sinyal yang benar-benar tegas mengenai waktu kenaikan berikutnya, sehingga pelaku pasar perlu mencermati data inflasi, pasar tenaga kerja, serta perkembangan harga energi sebelum memperkirakan langkah bank sentral.
Sejumlah peserta rapat menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak lonjakan harga energi dan guncangan harga lainnya. Dalam pandangan ini, tekanan inflasi yang berasal dari sisi pasokan berisiko menyebar ke berbagai komponen harga dan memengaruhi ekspektasi masyarakat. Namun, kelompok yang lebih hawkish melihat kebutuhan yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa pengetatan tambahan dibutuhkan untuk mengantisipasi inflasi yang didorong oleh permintaan domestik yang masih kuat.
Perbedaan tersebut membuat keputusan The Fed tetap terbuka. Christopher Waller pada Kamis menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan, tetapi keputusan mengenai kecepatannya akan tetap fleksibel. Ia juga mengisyaratkan bahwa bank sentral masih memiliki peluang untuk mempertahankan suku bunga pada Oktober, bergantung pada data ekonomi yang tersedia.
Perkiraan CME FedWatch mencerminkan ketidakpastian itu. Pasar menempatkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober di sekitar 17%, sedangkan probabilitas kenaikan pada Desember mencapai 81%. Perbedaan tajam kedua perkiraan tersebut menunjukkan bahwa investor memandang pengetatan lebih mungkin dilakukan setelah The Fed memperoleh gambaran ekonomi yang lebih lengkap.
Bagi pasar emas, situasi ini dapat meningkatkan volatilitas. Suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga, terutama ketika aset berbunga menawarkan keuntungan yang lebih besar. Nitesh Shah menilai risalah tersebut membuat pasar emas lebih volatil, karena perubahan ekspektasi terhadap waktu kenaikan suku bunga dapat segera memengaruhi dolar, imbal hasil obligasi, dan keputusan investor terhadap emas.
Risiko geopolitik kembali menjadi perhatian pasar setelah Iran mengeluarkan peringatan baru mengenai lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Berdasarkan keterangan sejumlah sumber, Teheran memperingatkan akan memblokir jalur pelayaran bagi kapal yang tidak memperoleh izin dari pihaknya. Perkembangan tersebut meningkatkan risiko serangan dan intimidasi terhadap kapal tanker, terutama ketika mengangkut pasokan penting melalui salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Selat Hormuz memiliki peran penting dalam distribusi pasokan energi dan komoditas global. Karena itu, ancaman pembatasan pelayaran dapat meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar terhadap keselamatan kapal serta kelancaran pengiriman. Kapal tanker yang melintas menghadapi risiko yang lebih tinggi selama ketegangan berlangsung, khususnya apabila tidak memiliki izin sebagaimana diperingatkan Iran. Situasi ini menjadi bagian dari perkembangan geopolitik yang perlu dipantau bersama pergerakan harga aset safe haven.
Di tengah penguatan emas, kinerja perak bergerak berlawanan dan masih menunjukkan tekanan. Data Refinitiv menunjukkan harga perak pada Kamis, 8 Oktober 2026, ditutup di US$59,34 per troy ons setelah anjlok 1,33%. Penurunan tersebut membawa harga perak kembali berada di bawah level US$60 sekaligus mencatat pelemahan sebesar 3,8% dalam dua hari.
Pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026 pukul 06.34 WIB, harga perak mulai bergerak naik tipis. Data menunjukkan harga komoditas tersebut meningkat 0,25% menjadi US$59,50 per troy ons. Kendati mencatat pemulihan harian, level tersebut masih berada di bawah US$60 dan mencerminkan pergerakan yang berbeda dari emas. Perkembangan berikutnya akan menjadi perhatian, terutama seiring pasar mencermati dinamika risiko geopolitik dan kondisi perdagangan logam mulia.

