Kabupaten Maybrat | Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menegaskan bahwa dukungan intelijen merupakan unsur penting dalam pelaksanaan operasi keamanan di Papua. Informasi yang akurat mengenai keberadaan kelompok bersenjata dibutuhkan agar aparat dapat memahami situasi lapangan, menentukan sasaran penindakan secara terukur, serta menyusun langkah operasi sesuai perkembangan ancaman. Keterangan tersebut disampaikan Lucky di Jakarta pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Menurut Lucky, data intelijen membantu satuan operasi memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai lokasi, pergerakan, dan potensi aktivitas kelompok bersenjata. Dengan dasar informasi tersebut, aparat dapat menghindari tindakan yang bersifat serampangan dan mengarahkan sumber daya pada sasaran yang telah dinilai berdasarkan kebutuhan operasi. Pendekatan itu juga berperan menekan risiko terhadap masyarakat sipil yang berada di sekitar wilayah penindakan, termasuk warga yang mungkin tidak mengetahui adanya kegiatan kelompok bersenjata.
Dalam konteks tersebut, sinergi Badan Intelijen Negara (BIN) dan satuan operasi TNI dipandang sebagai bagian penting untuk menghadapi ancaman kekerasan bersenjata. Pertukaran informasi serta koordinasi yang terarah dapat mendukung pengambilan keputusan, mulai dari pemetaan ancaman hingga penentuan waktu dan metode operasi. Kerja sama antarlembaga juga diperlukan agar langkah keamanan tetap mempertimbangkan kondisi sosial dan geografis Papua, sekaligus menjaga perlindungan masyarakat.
Dukungan intelijen tidak hanya berkaitan dengan penyediaan informasi, tetapi juga dengan proses memastikan bahwa informasi tersebut dapat digunakan secara tepat oleh unsur pelaksana di lapangan. Karena itu, koordinasi lembaga intelijen dan aparat keamanan perlu berlangsung secara konsisten, dengan memperhatikan ketepatan data, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, dan evaluasi berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan membantu operasi gabungan mencapai sasaran keamanan tanpa memperbesar dampak terhadap warga di wilayah sekitar.
Lucky menjadikan operasi gabungan di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, sebagai contoh penindakan terhadap kelompok bersenjata. Operasi tersebut melibatkan pasukan gabungan Satgas Yonif Marinir 9 dan Denkulf 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema. Sasaran operasi itu adalah kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya yang berada di wilayah Kabupaten Maybrat.
Dalam kontak senjata dengan aparat TNI, komandan operasi kelompok tersebut, Manfret Fatem, dilaporkan tewas. Selain itu, dua komandan batalyon, yakni Anton Fatem dan Yesias Fatem, juga dilaporkan tewas dalam kontak senjata tersebut. Keterangan mengenai operasi ini disampaikan sebagai bagian dari contoh penindakan pasukan gabungan terhadap kelompok bersenjata di wilayah Papua Barat Daya.
Menurut Lucky, keberhasilan operasi gabungan itu didukung oleh informasi intelijen dari Badan Intelijen Negara atau BIN. Informasi tersebut disebut memiliki nilai A1. Dalam penyebutan ini, dukungan intelijen BIN menjadi bagian yang mengarahkan dan mendukung pelaksanaan operasi oleh unsur pasukan gabungan. Operasi di Maybrat tersebut dicantumkan untuk menjelaskan keterkaitan informasi intelijen dan tindakan aparat TNI terhadap kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya.
Dengan demikian, contoh yang disampaikan Lucky mencakup tiga unsur utama, yaitu keterlibatan Satgas Yonif Marinir 9 bersama Denkulf 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema, sasaran operasi berupa kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, serta informasi intelijen BIN yang disebut bernilai A1. Dalam kontak senjata itu, Manfret Fatem, Anton Fatem, dan Yesias Fatem dilaporkan tewas menurut keterangan yang menjadi dasar penjelasan tersebut.
Pasukan gabungan TNI dilaporkan menemukan lokasi persembunyian kelompok bersenjata di wilayah Maybrat. Berdasarkan keterangan Lucky, lokasi tersebut ditempati Manfret Fatem bersama Anton Fatem, yang disebut sebagai komandan Batalyon Ayosami, serta Yesias Fatem, yang disebut sebagai komandan Batalyon Mosata. Informasi mengenai posisi ketiganya menjadi bagian dari rangkaian dukungan intelijen yang membantu mengarahkan operasi gabungan di daerah tersebut.
Menurut keterangan yang sama, ketiganya melakukan perlawanan ketika pasukan TNI mendatangi lokasi dengan menembaki personel yang bertugas. Tindakan tersebut kemudian memicu kontak senjata. Dalam peristiwa itu, Manfret Fatem dilaporkan tewas di lokasi. Sementara itu, Anton dan Yesias disebut berupaya melarikan diri menuju kawasan Sungai Frambu. Keduanya dilaporkan tewas dalam upaya tersebut, meskipun pencarian dan proses penelusuran di sekitar sungai masih dilakukan.
Petugas juga masih mencari dua jenazah yang disebut tenggelam di Sungai Frambu. Pencarian diperlukan untuk memastikan keberadaan serta identitas jenazah, sekaligus mendukung proses penanganan sesuai prosedur yang berlaku. Informasi mengenai kondisi medan, arus sungai, dan akses menuju lokasi menjadi faktor yang dapat memengaruhi pelaksanaan pencarian di lapangan.
Dari lokasi persembunyian, pasukan gabungan mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok tersebut. Barang yang diamankan meliputi satu pucuk senjata api jenis AK-101, puluhan butir amunisi tajam, dan satu lembar bendera Bintang Kejora. Seluruh barang tersebut selanjutnya menjadi bagian dari bahan pemeriksaan dan dokumentasi operasi.
Rangkaian kejadian ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemeriksaan lapangan, identifikasi jenazah, serta pendalaman terhadap barang yang diamankan. Keterangan mengenai kontak senjata, korban, dan hasil operasi disampaikan berdasarkan informasi awal yang tersedia, sehingga perkembangan resmi dari aparat tetap menjadi rujukan untuk memastikan detail peristiwa.
Lucky menegaskan bahwa TNI akan terus melaksanakan pengamanan wilayah dan penegakan hukum terhadap setiap ancaman kekerasan bersenjata secara profesional, tegas, dan terukur. Langkah tersebut diarahkan untuk memulihkan rasa aman masyarakat, mencegah meluasnya gangguan keamanan, serta memastikan penanganan terhadap kelompok bersenjata dilakukan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan prosedur operasi yang berlaku. Tindakan di lapangan harus tetap mengedepankan kehati-hatian, proporsionalitas, dan sasaran yang jelas agar tidak menimbulkan dampak yang tidak perlu terhadap warga.
Seluruh personel di bawah kendali Kogabwilhan III berkewajiban mematuhi rules of engagement, ketentuan perundang-undangan, serta prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia. Setiap pelaksanaan tugas perlu dilandasi disiplin, pengendalian komando, dan mekanisme akuntabilitas yang memungkinkan seluruh tindakan dievaluasi secara objektif. Prinsip salus populi suprema lex esto, yang berarti keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi, menjadi pedoman utama dalam menentukan prioritas dan cara bertindak. Karena itu, perlindungan warga sipil, keselamatan masyarakat, dan pencegahan korban harus senantiasa ditempatkan di atas kepentingan operasional lainnya.
Operasi di Maybrat merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga keamanan Papua Barat Daya dan menciptakan kondisi yang mendukung kehidupan masyarakat secara aman dan tertib. Dukungan informasi dari BIN, disertai koordinasi antarsatuan yang solid, diharapkan memperkuat efektivitas pelaksanaan tugas tanpa mengurangi kewajiban untuk menjaga transparansi, kepatuhan hukum, dan perlindungan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi dasar penting bagi penegakan hukum yang kredibel sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap upaya negara dalam menghadapi ancaman kekerasan bersenjata.

