Jakarta | Polri memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengerahkan personel serta sarana pendukung dari berbagai satuan kewilayahan. Langkah ini ditujukan untuk memastikan wilayah yang menghadapi kebakaran dapat memperoleh bantuan operasional sesuai tingkat kebutuhan. Dukungan lintas daerah juga membantu memperluas kapasitas penanganan ketika sumber daya di lokasi terdampak perlu ditambah.
Pengerahan tidak dilakukan secara seragam ke seluruh wilayah. Personel dan peralatan diarahkan terutama ke daerah yang memerlukan penanganan intensif, dengan mempertimbangkan kondisi kebakaran, kemampuan satuan setempat, serta kebutuhan di lapangan. Penempatan dapat disesuaikan seiring perubahan situasi, sehingga dukungan tersedia secara lebih terarah dan dapat digunakan pada titik yang membutuhkan respons cepat.
Sarana pendukung yang dibawa bersama personel menjadi bagian penting dari penguatan tersebut. Ketersediaan perlengkapan membantu petugas menjalankan tugas pemadaman dan mendukung kesiapsiagaan di wilayah rawan. Koordinasi satuan yang mengirimkan bantuan dan petugas di lokasi diperlukan agar pengerahan personel, pemanfaatan peralatan, serta langkah penanganan dapat diselaraskan dengan keadaan setempat.
Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Johnny Eddizon Isir, menyampaikan bahwa pengerahan lintas kewilayahan itu ditujukan untuk memperkuat dukungan operasional. Upaya tersebut diharapkan membantu mempercepat pemadaman, meningkatkan kesiapsiagaan, serta meminimalkan dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan. Dengan penempatan yang mengikuti kebutuhan lapangan, personel dapat mendukung upaya penanganan secara lebih efektif tanpa mengabaikan karakteristik wilayah yang berbeda.
Penguatan dukungan ini juga menegaskan pentingnya respons yang terkoordinasi dalam menghadapi karhutla. Kecepatan bantuan, kecukupan sarana, dan penyesuaian strategi terhadap kondisi aktual menjadi unsur yang saling berkaitan. Melalui pengerahan dari berbagai satuan kewilayahan, Polri berupaya menjaga agar wilayah yang membutuhkan dapat memperoleh dukungan secara tepat, sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi perkembangan situasi kebakaran.
Pada Sabtu, Satuan Brimob Polda Lampung memberangkatkan enam personel beserta dua unit kendaraan armored water cannon (AWC) ke Sumatera Selatan. Pengiriman ini dilakukan untuk membantu Polda Sumatera Selatan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan melalui tugas bantuan kendali operasi (BKO). Dukungan lintas daerah tersebut menambah kesiapan personel dan sarana operasional yang dapat digunakan sesuai kebutuhan di lapangan.
Enam personel yang ditugaskan memiliki pembagian peran khusus untuk mengoperasikan kendaraan yang dibawa. Empat orang bertugas sebagai operator AWC, sedangkan dua lainnya menjadi pengemudi. Komposisi tersebut disiapkan agar kedua unit kendaraan dapat digerakkan dan digunakan secara terkoordinasi selama pelaksanaan tugas. Kehadiran operator dan pengemudi dalam satu penugasan juga mendukung kesiapan kendaraan sebagai bagian dari perlengkapan operasional tim.
Dalam tugas BKO, dua kendaraan AWC berfungsi sebagai dukungan sarana untuk membantu penanganan kebakaran di lapangan. Kendaraan tersebut menjadi bagian dari upaya operasional personel, dengan pemanfaatan yang menyesuaikan situasi dan kebutuhan penanganan. Pengiriman ini tidak mengubah tugas utama personel sebagai unsur bantuan, melainkan memperkuat dukungan yang tersedia bagi Polda Sumatera Selatan selama penanganan karhutla berlangsung.
Pemberangkatan personel dan kendaraan dari Lampung mencerminkan koordinasi antarkepolisian daerah ketika dibutuhkan dukungan tambahan. Dengan enam anggota yang telah dibagi sesuai peran serta dua unit AWC sebagai sarana operasional, bantuan dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan di lokasi penanganan. Pelaksanaan tugas tetap berada dalam kerangka BKO kepada Polda Sumatera Selatan, sehingga pengerahan personel dan kendaraan mengikuti kebutuhan operasi di wilayah tersebut.
Dukungan ini juga menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya lintas wilayah dalam merespons karhutla. Personel yang diberangkatkan membawa keahlian operasional sesuai tugas masing-masing, sementara kendaraan menyediakan sarana pendukung yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan lapangan. Melalui pengerahan tersebut, Satuan Brimob Polda Lampung berkontribusi membantu penanganan kebakaran di Sumatera Selatan bersama unsur setempat, tanpa mengabaikan koordinasi dan arahan dalam pelaksanaan tugas.
Dukungan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebelumnya juga melibatkan personel Brimob dari satuan di luar wilayah yang menerima bantuan. Pada Kamis (15/10), Polri mengirim 200 personel tambahan dari Pasukan Brimob I Korbrimob Polri untuk membantu penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Pengiriman tersebut menunjukkan adanya pengerahan personel lintas daerah sebagai bagian dari dukungan kepolisian dalam menghadapi keadaan yang memerlukan bantuan tambahan. Informasi yang tersedia menyebutkan jumlah personel, asal satuan, waktu pengiriman, dan wilayah tujuan, tanpa merinci lokasi tertentu maupun kondisi kebakaran.
Sehari setelahnya, pada Jumat (16/10), Polda Nusa Tenggara Barat mengirim 200 personel Brimob untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Dengan demikian, dua pengiriman yang berlangsung pada tanggal berurutan itu mencakup bantuan dari Pasukan Brimob I Korbrimob Polri dan Polda Nusa Tenggara Barat. Masing-masing mengerahkan 200 personel ke wilayah berbeda, sesuai keterangan mengenai tujuan penugasan. Rangkaian tersebut memberi gambaran bahwa dukungan personel tidak hanya berasal dari satu satuan atau satu daerah, melainkan dapat dihimpun dari beberapa unsur Brimob.
Pengerahan lintas daerah seperti ini menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan operasional bagi penanganan karhutla. Namun, keterangan mengenai pengiriman personel tidak dengan sendirinya menjelaskan skala kebakaran, keadaan di lapangan, durasi penugasan, atau bentuk tugas yang dijalankan setiap anggota. Karena itu, informasi tersebut perlu dibaca secara terbatas sebagai catatan tentang bantuan personel: 200 anggota dari Pasukan Brimob I Korbrimob Polri dikirim ke Sumatera Selatan pada Kamis (15/10), lalu 200 anggota dari Polda Nusa Tenggara Barat diberangkatkan ke Kalimantan Tengah pada Jumat (16/10). Penyebutan kedua wilayah ini menggambarkan tujuan pengerahan yang berbeda, bukan perbandingan tingkat kebakaran. Data itu juga tidak merinci jumlah personel dari unsur lain, bila ada. Dengan demikian, contoh tersebut memperlihatkan keterlibatan sejumlah satuan dalam mendukung penanganan, tanpa menambahkan asumsi mengenai sebaran api atau tingkat dampaknya.
Polri mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan ini penting disampaikan karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan serta mengganggu aktivitas warga. Karena itu, warga diharapkan turut memperhatikan kondisi di sekitar mereka dan tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan. Kepatuhan terhadap imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menghadapi ancaman karhutla, terutama ketika potensi kebakaran perlu diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Apabila masyarakat melihat kemunculan titik api, Polri meminta agar informasi tersebut segera dilaporkan kepada petugas. Laporan yang disampaikan secepatnya dapat membantu petugas mengetahui adanya potensi kebakaran dan menindaklanjutinya. Warga juga dapat memberikan informasi awal mengenai kemunculan api di wilayahnya, sehingga perkembangan keadaan dapat lebih cepat diketahui. Pelaporan ini menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat yang mendukung penanganan karhutla, tanpa menggantikan peran petugas dalam merespons kejadian.
Partisipasi warga dan koordinasi lintas instansi dinilai penting untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih dini. Informasi dari masyarakat dapat menjadi masukan bagi petugas, sementara koordinasi antarinstansi membantu pihak-pihak terkait menyelaraskan penanganan sesuai keadaan di lapangan. Dengan komunikasi dan kerja sama tersebut, potensi kebakaran dapat segera diketahui dan proses penanganan dapat dipercepat. Keterlibatan masyarakat bersama petugas dan instansi terkait menjadi unsur penting dalam menghadapi risiko karhutla.
Penanganan yang didukung laporan warga dan koordinasi lintas instansi juga ditujukan untuk mengurangi dampak karhutla terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, Polri kembali mengingatkan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan kemunculan titik api kepada petugas.
Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah





