Dokter Ingatkan Herbal Belum Terbukti Mengatasi Penyakit Reproduksi

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kebiasaan mengonsumsi jamu dan minuman herbal masih melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagian orang meminumnya untuk membantu menjaga kebugaran, meredakan keluhan ringan, atau mendukung kesehatan tubuh secara umum. Tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan kesehatan area intim, siklus menstruasi, kesuburan, hingga keseimbangan hormon. Produk herbal biasanya dipilih karena dianggap lebih alami, mudah diperoleh, dan telah digunakan secara turun-temurun.

Namun, penggunaan bahan herbal tidak dapat langsung dianggap sebagai pengobatan medis yang terbukti untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi. Keluhan seperti menstruasi tidak teratur, nyeri haid berat, keputihan berulang, gangguan kesuburan, atau perubahan hormon dapat memiliki beragam penyebab. Penanganannya perlu didasarkan pada pemeriksaan dan diagnosis yang tepat, bukan semata-mata pada pengalaman pribadi atau klaim yang beredar di masyarakat.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas dan hormon reproduksi, Caroline Tirtajasa, mengingatkan bahwa penelitian mengenai jamu dan herbal masih terbatas. Karena itu, manfaat, dosis, keamanan, serta kemungkinan interaksinya dengan obat medis belum selalu dapat dipastikan untuk setiap kondisi. Menurut Caroline, penggunaan herbal sebaiknya tidak menggantikan konsultasi, pemeriksaan, maupun terapi yang direkomendasikan tenaga kesehatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Caroline di sela peluncuran buku Sebelum Terlambat di Jakarta pada Kamis (8/10/2026). Ia menekankan pentingnya masyarakat bersikap kritis terhadap informasi kesehatan, terutama ketika sebuah produk diklaim mampu mengatasi gangguan reproduksi. Konsumsi minuman herbal dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari bagi sebagian orang, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pertolongan medis.

Apabila keluhan menetap, semakin berat, atau disertai gejala lain, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk menentukan penyebab dan pilihan penanganannya. Dengan demikian, masyarakat dapat tetap menghargai penggunaan tradisional secara bijaksana, sekaligus memahami batas bukti medis dan risiko yang mungkin menyertainya.

Anggapan bahwa minuman herbal dapat memperlancar menstruasi masih cukup sering beredar di masyarakat. Sebagian orang meyakini ramuan tertentu mampu membuat darah menstruasi keluar lebih banyak, mengatasi menstruasi yang terlambat, atau mengurangi keluhan yang muncul selama siklus berlangsung. Keyakinan tersebut biasanya dibentuk oleh pengalaman pribadi, rekomendasi keluarga, promosi produk, maupun informasi yang tersebar melalui media sosial. Padahal, perubahan jumlah darah menstruasi dari satu siklus ke siklus berikutnya dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi hormon, stres, perubahan berat badan, asupan gizi, aktivitas fisik, serta gangguan pada organ reproduksi.

Sampai saat ini, penelitian mengenai efektivitas berbagai jenis herbal untuk memperlancar menstruasi atau meningkatkan volume darah menstruasi belum cukup kuat untuk memastikan manfaat tersebut. Beberapa penelitian mungkin menunjukkan hasil awal yang menjanjikan, tetapi jumlah peserta yang terbatas, metode yang berbeda, durasi pengamatan yang singkat, atau tidak adanya kelompok pembanding dapat memengaruhi keandalan hasilnya. Selain itu, kandungan dan dosis minuman herbal yang beredar tidak selalu seragam. Produk dengan nama tanaman yang sama pun dapat memiliki kadar zat aktif berbeda, sehingga efeknya sulit diprediksi dan tidak dapat disamakan dengan obat yang telah melalui pengujian ketat.

Diperlukan penelitian berskala besar dengan metode randomized controlled trial untuk menilai efektivitas suatu terapi secara lebih pasti. Melalui metode ini, peserta dibagi secara acak ke dalam kelompok terapi dan kelompok pembanding, sehingga manfaat intervensi dapat dibedakan dari pengaruh sugesti atau perubahan alami dalam tubuh. Penilaian juga perlu mencakup keamanan, interaksi dengan obat lain, serta dampak penggunaan dalam jangka panjang. Pengalaman seseorang setelah mengonsumsi herbal belum tentu terjadi pada orang lain karena setiap tubuh memiliki kondisi, penyebab keluhan, dan respons biologis yang berbeda. Karena itu, pengalaman individual tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa suatu ramuan efektif bagi semua orang atau dapat menggantikan pemeriksaan medis.

Dalam praktiknya, Caroline kerap menjumpai pasien dengan masalah kesehatan reproduksi yang memilih pengobatan alternatif karena ingin menghindari tindakan operasi. Salah satu kondisi yang sering ditemukan adalah miom, yaitu pertumbuhan jaringan pada rahim yang dapat menimbulkan keluhan seperti menstruasi lebih banyak, nyeri panggul, rasa tertekan di perut, atau gangguan kesuburan. Keinginan untuk mencari pilihan yang dianggap lebih alami dapat dipahami, tetapi keputusan tersebut tetap perlu mempertimbangkan perkembangan penyakit dan pemantauan medis.

Caroline menemukan bahwa pada sejumlah kasus, penyakit tetap berkembang meskipun pasien telah mengonsumsi herbal dalam waktu tertentu. Karena itu, ia tidak terlalu menganjurkan herbal sebagai pengobatan utama, terutama ketika terapi tersebut digunakan untuk menggantikan pemeriksaan dan penanganan yang telah memiliki dasar medis. Efek herbal juga belum didukung penelitian berskala besar yang memadai, sehingga manfaat, dosis, keamanan, serta konsistensi hasilnya tidak dapat dipastikan pada setiap pasien.

Menurut Caroline, herbal tidak dapat diandalkan untuk menghilangkan miom ataupun menghentikan perjalanan penyakit tersebut. Pada sebagian orang, konsumsi bahan herbal mungkin membantu mengurangi rasa tidak nyaman atau nyeri. Namun, berkurangnya keluhan bukan berarti miom telah mengecil, hilang, atau penyakitnya sudah teratasi. Gejala dapat mereda sementara, sementara ukuran atau dampak miom tetap memerlukan evaluasi melalui pemeriksaan dokter dan pencitraan yang sesuai.

Caroline tidak menutup kemungkinan masyarakat tetap mengonsumsi jamu atau herbal yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun. Bagi sebagian orang, minuman atau ramuan tersebut merupakan bagian dari budaya keluarga dan digunakan untuk menjaga kebugaran. Namun, kebiasaan itu perlu ditempatkan secara tepat dalam konteks kesehatan. Herbal tidak otomatis dapat dianggap sebagai obat untuk semua keluhan, terutama gangguan yang berkaitan dengan organ reproduksi. Kandungan, dosis, keamanan, serta kemungkinan interaksinya dengan obat lain juga perlu dipertimbangkan sebelum dikonsumsi.

Dalam praktik medis, herbal dapat diposisikan sebagai terapi suportif atau komplementer. Terapi suportif ditujukan untuk membantu meredakan keluhan tertentu, meningkatkan kenyamanan, atau mendukung kondisi tubuh selama pasien menjalani perawatan. Sementara itu, terapi komplementer digunakan sebagai pendamping pengobatan utama, bukan sebagai pengganti. Terapi utama tetap diberikan berdasarkan diagnosis, tingkat keparahan penyakit, kondisi pasien, serta hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Karena itu, konsumsi herbal tidak boleh menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan medis ketika muncul keluhan pada organ reproduksi. Gejala seperti nyeri panggul, perdarahan yang tidak normal, keputihan berulang, benjolan, gangguan menstruasi, atau masalah kesuburan dapat memiliki beragam penyebab. Penanganan yang tepat memerlukan evaluasi agar penyebabnya diketahui dan terapi dapat diberikan sesuai kebutuhan. Menunda pemeriksaan karena mengandalkan ramuan tertentu berisiko membuat penyakit terlambat terdeteksi atau berkembang tanpa penanganan memadai.

Caroline menegaskan, herbal boleh dikonsumsi sebagai tambahan selama penggunaannya tidak menghambat pemeriksaan dan terapi yang direkomendasikan dokter. Namun, herbal tidak dapat digunakan untuk menghilangkan penyakit atau menggantikan terapi utama yang memiliki dasar bukti ilmiah. Masyarakat sebaiknya menyampaikan kepada dokter semua produk herbal yang dikonsumsi, sehingga keamanan dan kemungkinan pengaruhnya terhadap pengobatan dapat dipertimbangkan secara menyeluruh.