Dari Permukiman Kumuh Menjadi Kampung Bernilai Tambah: Penataan Mrican

Dari Permukiman Kumuh Menjadi Kampung Bernilai Tambah: Penataan Mrican

Kabupaten Sleman | Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti memandang revitalisasi kawasan kumuh sebagai upaya yang tidak berhenti pada perbaikan kondisi fisik lingkungan. Penataan yang direncanakan dengan baik dapat mengubah kampung menjadi kawasan yang lebih bermanfaat bagi warganya sekaligus memiliki nilai tambah. Pandangan tersebut menempatkan perubahan kampung sebagai proses yang mencakup fungsi, kualitas, dan potensi lingkungan, bukan sekadar pembaruan tampilan. Dengan demikian, revitalisasi dapat membuka kesempatan bagi kawasan untuk memberi manfaat yang lebih luas, sementara karakter kampung tetap menjadi bagian penting dari proses penataan. Gagasan ini juga menegaskan bahwa kawasan yang sebelumnya menghadapi persoalan kumuh tidak harus dipandang hanya dari keterbatasannya, melainkan dapat dikembangkan melalui pendekatan yang tepat.

Diana menyampaikan pandangan itu dalam konferensi pers di sela-sela World Conference on Creative Economy di Jakarta pada Jumat. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan dua unsur penting dalam upaya mengubah kampung, yaitu kolaborasi dan kreativitas. Keduanya dipandang berperan dalam menjadikan revitalisasi lebih bermakna dan menghasilkan manfaat tambahan bagi kawasan. Kolaborasi membantu menghimpun keterlibatan dan pemikiran yang diperlukan dalam proses perubahan, sedangkan kreativitas mendorong cara pandang yang lebih terbuka terhadap potensi kampung. Penekanan pada kedua unsur ini menunjukkan bahwa penataan tidak cukup hanya mengandalkan pekerjaan fisik; prosesnya juga membutuhkan gagasan dan kerja bersama agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan serta potensi lingkungan.

Dengan menggabungkan kolaborasi dan kreativitas, revitalisasi dapat dipahami sebagai langkah untuk memperkuat nilai guna kampung sekaligus meningkatkan nilai tambahnya. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi kampung untuk berkembang menjadi lingkungan yang lebih bermanfaat, tanpa mengabaikan kenyataan bahwa perubahan perlu dibangun melalui proses yang melibatkan banyak pemikiran. Kolaborasi menjadi landasan agar upaya penataan tidak berjalan secara terpisah, sementara kreativitas memungkinkan potensi kawasan dikenali dan dikembangkan. Pandangan Diana menyoroti pentingnya melihat revitalisasi sebagai peluang untuk menciptakan perubahan yang berdampak pada kualitas lingkungan dan manfaat bagi warga. Dengan demikian, kampung yang ditata dapat memiliki fungsi yang lebih baik serta potensi yang lebih kuat untuk memberi nilai tambah bagi kehidupan di dalamnya.

Kampung Mrican di Yogyakarta menjadi contoh kawasan yang pernah dikenal sebagai perkampungan kumuh dan kemudian dibicarakan dalam konteks penataan permukiman. Pengalaman Mrican memperlihatkan pentingnya menjadikan kebutuhan warga sebagai dasar pembahasan tentang perubahan lingkungan tempat tinggal. Penataan tidak cukup hanya berangkat dari gambaran umum mengenai kondisi kawasan; perhatian juga perlu diarahkan pada hal-hal yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Dengan demikian, persoalan yang menjadi prioritas dapat dikenali melalui percakapan dengan warga, bukan semata-mata ditentukan dari luar. Dalam menjelaskan pendekatan tersebut, Diana menekankan pentingnya memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat Mrican.

Pendekatan Diana memadukan pertanyaan terbuka kepada warga dengan arahan mengenai kondisi permukiman yang diharapkan. Warga ditanya tentang kebutuhan serta keinginan mereka, sehingga pandangan masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan fokus penataan. Pada saat yang sama, Diana memberikan gambaran mengenai lingkungan permukiman seperti apa yang sebaiknya diwujudkan. Arahan ini membantu memperjelas tujuan pembenahan, sementara masukan warga menjaga agar perhatian tetap berkaitan dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Kedua hal tersebut berjalan sebagai bagian dari pembahasan mengenai penataan Mrican, tanpa mengabaikan suara warga ataupun menganggap bahwa semua kebutuhan dapat ditentukan tanpa berdialog dengan mereka.

Kebutuhan perbaikan yang disebut dalam pembahasan itu mencakup pembenahan jalan, tempat pengolahan sampah, dan penyediaan air. Jalan menjadi salah satu bagian lingkungan yang perlu diperhatikan dalam upaya memperbaiki kondisi permukiman. Selain itu, kebutuhan akan tempat pengolahan sampah menunjukkan bahwa pengelolaan sampah juga termasuk persoalan yang diangkat. Penyediaan air merupakan kebutuhan lain yang disebut secara khusus. Ketiga hal tersebut memberi gambaran konkret tentang aspek yang perlu masuk dalam perhatian ketika kondisi Kampung Mrican dibahas. Dengan menghubungkan masukan warga dan arahan mengenai lingkungan yang diharapkan, pembenahan jalan, pengolahan sampah, serta penyediaan air dapat ditempatkan sebagai kebutuhan utama dalam penataan kawasan tersebut. Fokus pada kebutuhan yang dinyatakan ini menggambarkan dasar pembahasan penataan Mrican tanpa menambahkan tahapan atau kegiatan lain yang tidak disebutkan.

Diana menggambarkan penataan Mrican sebagai perubahan yang terlihat pada lingkungan sehari-hari warga. Kawasan di sekitar sungai telah ditata, sehingga perhatian terhadap ruang tepi sungai menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki kampung. Pengelolaan sampah juga dilakukan melalui tempat pengolahan sampah terpadu. Dengan adanya fasilitas tersebut, sampah tidak hanya menjadi persoalan yang dibiarkan di lingkungan, tetapi ditangani melalui mekanisme pengolahan yang tersedia di kampung. Diana turut menyebut jalan-jalan yang kini tampak lebih rapi. Perubahan pada sungai, pengelolaan sampah, dan jalan itu menunjukkan beberapa aspek penataan yang ia amati, tanpa mengabaikan bahwa kehidupan warga tetap menjadi bagian utama dari perkembangan kawasan.

Menurut Diana, perubahan lingkungan tersebut berjalan bersama tumbuhnya kegiatan sosial dan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa perempuan di kampung dapat menghasilkan produk kreatif untuk dijual. Kegiatan ini memberi ruang bagi warga, khususnya perempuan, untuk berkarya sekaligus terlibat dalam aktivitas yang memiliki nilai jual. Diana juga memaparkan bahwa perdagangan dan kegiatan ekonomi berkembang di kampung. Pernyataan tersebut menggambarkan adanya aktivitas ekonomi yang semakin terlihat, tetapi tidak menetapkan jenis produk, besaran pendapatan, ataupun skala perdagangan tertentu. Dengan demikian, hasil yang disampaikan berfokus pada peluang berkarya dan berkembangnya kegiatan ekonomi, sebagaimana dijelaskan oleh Diana.

Selain kondisi lingkungan dan ekonomi, Diana menyoroti perhatian terhadap pendidikan dan sekolah. Perhatian itu menjadi salah satu unsur dalam gambaran perubahan kehidupan warga yang ia paparkan. Penataan kampung, dalam penilaiannya, tidak hanya berkaitan dengan pembenahan kawasan sungai, pengelolaan sampah, dan kerapian jalan, tetapi juga dengan ruang bagi warga untuk menjalankan kegiatan serta memperhatikan pendidikan. Unsur-unsur tersebut menunjukkan beragam sisi kehidupan Mrican yang disebut Diana: lingkungan yang ditata, aktivitas ekonomi yang berkembang, perempuan yang menghasilkan produk kreatif untuk dijual, serta perhatian pada pendidikan dan sekolah. Uraian ini menggambarkan hasil penataan sesuai keterangan Diana, tanpa menambahkan ukuran keberhasilan atau dampak lain yang tidak ia sebutkan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengapresiasi penataan Kampung Mrican di Condongcatur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan seluas sekitar lima hektare ini menunjukkan perubahan nyata: dari permukiman padat dan kumuh menjadi lingkungan yang lebih tertata, sehat, dan nyaman. Bagi AHY, perubahan tersebut bukan semata hasil pembangunan fisik, melainkan juga bukti pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Penataan yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga membutuhkan dukungan kebijakan, keterlibatan setempat, serta kesediaan untuk mengelola kawasan secara bersama-sama.

Salah satu pendekatan yang menonjol dalam penataan Mrican adalah konsep 3M, yakni mundur, munggah atau naik, dan madhep kali atau menghadap sungai. Mundur berarti rumah dan aktivitas permukiman ditata dengan memberi jarak yang lebih aman dari tepi sungai. Munggah mengacu pada peninggian bangunan atau bagian kawasan untuk menyesuaikan kondisi lingkungan, sementara madhep kali mengubah orientasi rumah agar menghadap aliran air. Sebelumnya, sejumlah rumah membelakangi sungai, sehingga kawasan tersebut kurang terhubung dengan ruang air. Dengan orientasi baru, sungai menjadi bagian yang terlihat dan diperhatikan, bukan sekadar batas belakang permukiman.

Menurut AHY, pendekatan terpadu seperti ini membawa manfaat yang saling berkaitan.

Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gandeng Masyarakat Binaan Membangun Jembatan Merah Putih di Kampung Kulok Enggame | Babinsa 1714-01/Mulia Ulia Pererat Kemanunggalan TNI–Rakyat Melalui Anjangsana dan Bantuan Sembako di Kampung Kulon Enggame, Distrik Pagaleme | Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026