Bayi 24 Hari Dilaporkan Meninggal Usai Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya

Bayi 24 Hari Dilaporkan Meninggal Usai Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya

Surabaya | Alena, bayi berusia 24 hari, menjadi perhatian setelah beredar informasi mengenai kondisi kesehatannya yang memburuk. Dalam informasi yang beredar di masyarakat dan media sosial, bayi tersebut disebut diduga diberi telur mentah oleh neneknya ketika mengalami demam. Pemberian itu kabarnya dilakukan dengan alasan membantu menurunkan suhu tubuh. Namun, hingga informasi tersebut ditelusuri lebih lanjut, belum ada keterangan yang dapat memastikan secara resmi bahwa telur mentah menjadi penyebab memburuknya kondisi Alena.

Setelah mengalami demam, keadaan Alena disebut terus menurun. Keluarga kemudian membawa bayi tersebut untuk memperoleh pertolongan medis. Karena usianya masih sangat dini dan kondisinya memerlukan penanganan lebih lanjut, Alena akhirnya dirawat di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Perawatan di rumah sakit dilakukan untuk memantau keadaan bayi sekaligus mencari penyebab medis yang mendasari keluhan tersebut.

Kabar mengenai dugaan pemberian telur mentah itu memicu kekhawatiran, terutama karena bayi yang belum genap berusia satu bulan memiliki sistem pencernaan dan daya tahan tubuh yang masih berkembang. Meski demikian, informasi mengenai urutan kejadian, jumlah telur yang diberikan, serta hubungan langsung pemberian tersebut dan kondisi Alena perlu dikonfirmasi melalui keterangan keluarga dan tenaga kesehatan yang menangani.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat diimbau tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab penyakit hanya berdasarkan informasi yang beredar. Demam pada bayi baru lahir atau bayi berusia sangat muda memerlukan perhatian segera karena dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, termasuk infeksi atau gangguan lain yang membutuhkan pemeriksaan. Orang tua maupun pengasuh sebaiknya membawa bayi ke fasilitas kesehatan dan tidak memberikan makanan atau bahan tertentu tanpa anjuran dokter. Perkembangan kondisi Alena dan penjelasan medis resmi menjadi dasar penting untuk memahami peristiwa tersebut secara akurat.

Alena, bayi berusia 24 hari, dilaporkan menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10). Selama mendapatkan penanganan medis, bayi tersebut sempat dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), yaitu unit khusus untuk merawat bayi baru lahir yang membutuhkan pemantauan dan dukungan intensif. Informasi mengenai perawatan Alena menjadi perhatian setelah beredar di media sosial.

Kabar mengenai kondisi bayi tersebut, termasuk informasi belakangan tentang Alena yang disebut meninggal dunia, beredar melalui unggahan di media sosial. Sumber informasi itu disebut berasal dari seseorang yang mengaku sebagai bibi Alena sekaligus saudara kandung dari ibu bayi. Unggahan tersebut kemudian dibagikan dan dibicarakan oleh sejumlah pengguna, sehingga kabarnya menyebar lebih luas.

Meski demikian, informasi yang beredar tersebut perlu dipahami sebagai laporan atau kabar yang belum dijelaskan secara lengkap melalui keterangan resmi dalam informasi yang tersedia. Belum terdapat rincian terverifikasi mengenai perkembangan kondisi Alena selama perawatan maupun penjelasan resmi terkait kabar meninggalnya bayi itu. Karena itu, pembaca perlu berhati-hati dalam menyimpulkan informasi, terutama ketika kabar berasal dari unggahan pribadi di media sosial.

Hingga keterangan yang tersedia, fakta yang dapat disampaikan adalah Alena dilaporkan dirawat di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10) dan sempat memperoleh penanganan di NICU. Sementara itu, kabar mengenai meninggalnya Alena masih disebut sebagai informasi yang beredar, dengan sumber awal berupa unggahan seseorang yang mengaku memiliki hubungan keluarga dengan bayi dan ibunya. Tidak ada penyebab kematian atau kronologi tambahan yang dapat dipastikan dari laporan tersebut.

Spesialis anak dr Denta Satria Kurniawan, SpA, menjelaskan bahwa tubuh bayi baru lahir belum siap menerima makanan selain ASI. Saluran pencernaan, ginjal, dan sistem kekebalan bayi masih berada dalam tahap perkembangan. Organ-organ tersebut belum mampu bekerja seefektif tubuh anak yang lebih besar dalam mencerna makanan, mengatur cairan, serta menghadapi kuman atau zat asing yang masuk ke tubuh.

Kemampuan menelan bayi juga belum sempurna. Koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas masih berkembang, sehingga pemberian pisang, bubur, telur, atau makanan lain dapat meningkatkan risiko tersedak. Makanan yang masuk ke saluran napas berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan dan komplikasi serius. Risiko ini tidak hanya berkaitan dengan tekstur makanan, tetapi juga dengan posisi, jumlah, dan kemampuan bayi dalam mengendalikan proses menelan.

Dari sisi pencernaan, makanan yang belum sesuai usia dapat memicu muntah, kembung, atau diare. Bayi juga dapat mengalami infeksi karena sistem kekebalannya belum matang, terutama jika makanan tidak diolah atau disimpan secara higienis. Telur dan bahan pangan lain dapat menimbulkan reaksi alergi pada sebagian bayi. Gejalanya dapat berupa ruam, muntah, diare, pembengkakan, hingga gangguan pernapasan yang memerlukan pertolongan medis segera.

Dokter menambahkan, pemberian makanan terlalu dini dapat mengurangi asupan ASI. Padahal, ASI mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi sekaligus antibodi untuk membantu melindungi tubuh dari infeksi. Ketika ASI tergantikan, bayi berisiko mengalami kekurangan gizi dan cairan. Pada bayi yang masih sangat kecil, muntah atau diare dapat berkembang cepat menjadi dehidrasi. Kombinasi gangguan menelan, infeksi, kehilangan cairan, dan kekurangan asupan dapat menyebabkan kondisi yang mengancam nyawa, sehingga bayi baru lahir sebaiknya hanya mendapat asupan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

dr Denta menjelaskan saat dihubungi pada Senin (12/10/2026), telur mentah memiliki risiko terkontaminasi bakteri Salmonella. Bakteri tersebut dapat berada di permukaan cangkang akibat proses penanganan atau lingkungan, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat masuk dan berada di bagian dalam telur. Karena itu, telur yang tampak bersih belum tentu bebas dari mikroorganisme berbahaya. Penyajian tanpa pemasakan yang memadai membuat bakteri berpotensi tetap hidup dan masuk ke saluran pencernaan.

Menurut dr Denta, dampak infeksi Salmonella dapat berbeda sesuai usia dan kondisi daya tahan tubuh. Pada anak yang lebih besar, infeksi umumnya menimbulkan gangguan saluran cerna, terutama diare, yang dapat disertai muntah, demam, atau nyeri perut. Namun, bayi baru lahir memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih sangat rendah. Pada kelompok ini, infeksi dapat berkembang lebih cepat dan berat, termasuk menjadi sepsis, yaitu infeksi serius yang menyebar melalui aliran darah.

dr Denta menambahkan bahwa bakteri tersebut juga berisiko menyebabkan radang selaput otak atau meningitis pada bayi. Muntah dan diare berulang dapat membuat tubuh bayi kehilangan cairan dalam waktu singkat. Dehidrasi pada bayi dapat segera mengganggu keseimbangan elektrolit, sirkulasi, serta fungsi organ. Apabila tidak segera ditangani, gabungan infeksi berat dan kekurangan cairan dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa. Oleh sebab itu, bayi tidak dianjurkan menerima telur mentah atau makanan yang belum matang sempurna.

Selain risiko infeksi, dr Denta menyebut telur sebagai salah satu makanan yang cukup sering memicu alergi. Reaksi alergi dapat berupa ruam, muntah, pembengkakan, atau gangguan pernapasan. Pada bayi, gejala setelah mengonsumsi makanan baru perlu diperhatikan dan segera dikonsultasikan kepada tenaga medis, terutama bila muncul muntah berulang, diare, lemas, demam, atau tanda kekurangan cairan.

Baca juga: ISTDengan demikian, dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, dua PMI asal Jembrana meninggal dunia di negara penempatan berbeda | Yuda Nabella Prameswari meninggal dunia karena dugaan bullying