Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sedang menjajaki kemungkinan pengiriman minyak mentah dari sejumlah negara. Langkah tersebut ditempuh untuk memperkuat pasokan energi nasional sekaligus memastikan kebutuhan bahan baku kilang tetap terpenuhi.
Bahlil menyampaikan keterangan itu di Djakarta Theatre, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa komunikasi dengan negara-negara pemasok dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk penjajakan kepada sejumlah negara di kawasan Afrika. Negara-negara tersebut dipertimbangkan sebagai sumber alternatif untuk mendukung ketersediaan minyak mentah Indonesia.
Upaya mencari pasokan dari berbagai negara menjadi bagian dari langkah pemerintah menghadapi dinamika energi global. Situasi geopolitik dunia yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda berpotensi memengaruhi arus perdagangan, harga komoditas, serta akses terhadap sumber energi. Karena itu, pemerintah berupaya membangun hubungan dengan lebih banyak negara agar pasokan tidak bergantung pada satu atau beberapa sumber saja.
Diplomasi energi tersebut juga diarahkan untuk menjaga kesinambungan operasional industri pengolahan minyak di dalam negeri. Ketersediaan minyak mentah yang memadai diperlukan untuk mendukung produksi bahan bakar dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemerintah masih mengkaji berbagai opsi kerja sama, dengan mempertimbangkan volume pasokan, kualitas minyak, pola pengiriman, serta aspek keekonomian.
Penjajakan ke negara-negara Afrika menunjukkan bahwa Indonesia membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam rantai pasok energi. Pemerintah terus memantau perkembangan global sambil mengupayakan sumber minyak mentah yang dapat mendukung ketahanan energi nasional. Langkah ini diharapkan membantu Indonesia mengantisipasi gangguan pasokan dan menjaga stabilitas kebutuhan energi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Dalam upaya menjajaki pasokan minyak mentah dari berbagai negara, Bahlil mengisahkan pengalamannya ketika melakukan lobi di Afrika. Ia menggambarkan pendekatan yang digunakan sebagai cara berkomunikasi secara humanis, dengan menempatkan hubungan antarmanusia dan rasa persaudaraan sebagai bagian penting dalam pembicaraan. Menurutnya, pendekatan semacam itu dapat membuka ruang percakapan yang lebih akrab ketika membahas kebutuhan kerja sama, termasuk kemungkinan memperoleh pasokan minyak mentah.
Bahlil menyampaikan bahwa ia menekankan kesamaan warna kulit saat berbicara dengan pihak Afrika. Dalam penuturannya, ia mengatakan bahwa dirinya dapat menyampaikan pesan, “Kita sama-sama hitam, kita sama-sama saudara.” Pernyataan tersebut dipakainya untuk menunjukkan kedekatan dan persamaan latar kemanusiaan, bukan semata-mata membicarakan kepentingan bisnis atau transaksi. Dengan cara itu, ia berusaha membangun suasana dialog yang lebih cair ketika menjajaki peluang pasokan minyak.
Ia kemudian membandingkan pendekatan tersebut dengan kemungkinan cara yang digunakan seseorang berkulit putih. Bahlil menyampaikan bahwa apabila pihak yang datang adalah orang berkulit putih, pendekatannya mungkin akan berbeda, sementara dirinya memilih menonjolkan kesamaan warna kulit dan persaudaraan. Kisah itu disampaikan Bahlil dengan nada berkelakar untuk menggambarkan gaya lobi yang ia gunakan, bukan sebagai penjelasan mengenai perbedaan perlakuan yang bersifat resmi. Di balik kelakar tersebut, ia menekankan pentingnya pendekatan personal dan humanis dalam membangun komunikasi dengan pihak Afrika. Pengalaman itu menjadi salah satu gambaran mengenai strategi Indonesia saat mencari sumber minyak mentah dari luar negeri, dengan tetap mengedepankan hubungan yang hangat dan rasa saling menghormati.
Pemerintah perlu menghubungi banyak negara untuk mencari pasokan minyak mentah karena kondisi geopolitik global semakin tidak pasti. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi memengaruhi keamanan jalur pelayaran serta kelancaran distribusi energi. Bahlil menilai perkembangan tersebut dapat memperburuk arus logistik, bukan hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi pasar energi dunia. Ketika jalur perdagangan terganggu, pengiriman minyak dapat mengalami keterlambatan, biaya angkutan meningkat, dan negara importir harus menghadapi persaingan yang lebih ketat untuk mendapatkan pasokan.
Situasi menjadi semakin kompleks setelah Haiti turut masuk dalam persoalan yang berkaitan dengan Arab Saudi. Rangkaian persoalan tersebut memperluas ketidakpastian terhadap stabilitas kawasan dan hubungan antarnegara penghasil maupun pengguna energi. Bahlil menyebut tidak ada pihak yang dapat meramalkan perkembangan situasi tersebut. Karena itu, pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan satu sumber impor atau menunggu keadaan kembali normal. Diversifikasi pemasok dinilai penting untuk menjaga ketersediaan minyak bagi kebutuhan kilang, transportasi, industri, dan masyarakat.
Ketegangan geopolitik itu juga berpotensi mengganggu sumber impor minyak Indonesia, terutama pasokan yang sebelumnya berasal dalam jumlah besar dari kawasan Arab Saudi. Bahlil menyampaikan bahwa sebelumnya sekitar 23 persen minyak mentah Indonesia berasal dari Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut memiliki peran penting dalam menghubungkan pasokan dari kawasan Timur Tengah dengan negara-negara konsumen di Asia. Apabila keamanan dan kelancaran pelayaran di sekitar jalur tersebut terganggu, Indonesia dapat menghadapi risiko berkurangnya volume pasokan serta meningkatnya harga pembelian. Kondisi inilah yang membuat Menteri ESDM harus terus melakukan lobi minyak di berbagai tempat. Upaya tersebut dilakukan untuk menemukan alternatif pemasok, menjaga kesinambungan impor, dan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah perubahan geopolitik yang berlangsung cepat.
Arab Saudi menjadi salah satu negara yang berpeluang memasok minyak mentah bagi Indonesia setelah memberikan potongan harga untuk pasar Asia pada periode November 2026. Peluang tersebut muncul ketika pemerintah Indonesia terus mencari sumber pasokan dari berbagai negara guna memenuhi kebutuhan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa minyak dapat dibeli dari negara mana saja, sepanjang skema tersebut efisien bagi kepentingan negara dan tidak melanggar ketentuan yang berlaku.
Menurut Bahlil, efisiensi dan kepatuhan terhadap aturan menjadi dua pertimbangan utama dalam menentukan asal impor minyak mentah. Pemerintah tidak membatasi pilihan pada negara tertentu apabila terdapat peluang untuk memperoleh pasokan dengan harga dan persyaratan yang lebih menguntungkan. Karena itu, penurunan harga yang ditawarkan Arab Saudi dapat menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam proses pengadaan, tanpa mengesampingkan aspek tata kelola, kebutuhan nasional, serta regulasi perdagangan dan energi.
Untuk pengiriman ke pasar Asia pada November, Arab Saudi menetapkan harga jual resmi minyak mentah sebesar 5 dolar AS per barel di bawah rata-rata harga minyak Oman dan Dubai. Harga tersebut turun 3 dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Besaran potongan itu disebut sebagai yang terbesar sejak Juni 2020, sehingga berpotensi meningkatkan daya tarik minyak Arab Saudi bagi pembeli di kawasan Asia, termasuk Indonesia apabila perhitungannya memenuhi kepentingan nasional.
Kebijakan harga tersebut berbeda untuk kawasan lain. Arab Saudi justru menaikkan harga minyak mentah yang dijual ke Eropa Barat Laut dan wilayah Mediterania. Saudi Aramco juga memangkas harga lebih besar, yakni 5 dolar AS per barel, untuk minyak mentah dengan karakter lebih berat, yaitu Arab Medium dan Arab Heavy, yang dipasarkan ke Asia. Perbedaan harga berdasarkan jenis minyak dan tujuan pasar menjadi bagian yang perlu dianalisis pemerintah sebelum menentukan peluang pembelian dari Arab Saudi.
Baca juga: Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Pasokan Beras ASN Tiba di Yahukimo, Diangkut Hercules C-130 TNI AU | Irjen TNI Berikan Briefing kepada Pati Mabes TNI Bahas Berbagai Isu Terkini


