Malang | Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono, menjelaskan bahwa banjir lahar hujan dari Gunung Semeru dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang turun sejak Minggu, 1 November 2026. Pemicu langsungnya adalah curah hujan, bukan aktivitas erupsi baru. Laporan telemetri sementara untuk periode 1–2 November 2026 juga mencatat curah hujan harian yang sangat tinggi. Kondisi tersebut membuat air hujan mengalir deras dan berpotensi membawa material vulkanik yang tersedia di kawasan lereng dan sungai.
Lahar hujan terbentuk ketika air bercampur dengan endapan material vulkanik, seperti pasir, kerikil, dan abu, lalu bergerak mengikuti lereng atau alur sungai. Material itu dapat berasal dari aktivitas vulkanik sebelumnya dan tetap tersimpan di permukaan atau saluran sungai setelah hujan berhenti. Ketika hujan lebat kembali turun, aliran air dapat mengikis endapan tersebut, mengaduknya, kemudian mengangkutnya ke wilayah yang lebih rendah. Karena itu, kejadian lahar dapat berlangsung tanpa didahului erupsi pada hari yang sama.
Penjelasan ini penting agar banjir lahar hujan tidak keliru dipahami sebagai tanda bahwa Semeru baru saja meletus. Erupsi dan lahar hujan merupakan fenomena berbeda, meskipun keduanya berkaitan dengan material vulkanik. Dalam kejadian yang dipicu hujan, intensitas serta durasi hujan, kondisi endapan, dan jalur aliran menjadi faktor penting. Data telemetri yang disebutkan masih bersifat sementara, sehingga dapat diperbarui seiring pemeriksaan dan pengumpulan informasi lebih lanjut. Warga di sekitar alur sungai yang berhulu di Semeru tetap perlu memperhatikan peringatan dan informasi resmi, khususnya ketika hujan deras berlangsung. Aliran lahar dapat membawa material dengan cepat dan mengancam kawasan di sepanjang jalurnya. Dengan demikian, pemantauan curah hujan dan kondisi sungai diperlukan untuk mengantisipasi risiko, tanpa menyimpulkan adanya erupsi baru hanya berdasarkan terjadinya banjir lahar.
Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan Gunung Semeru sejak Minggu malam hingga Senin, 2 November 2026, memicu banjir lahar hujan di sejumlah alur sungai yang berhulu di gunung tersebut. Daryono menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi karena curah hujan membawa material vulkanik yang berada di kawasan hulu turun mengikuti aliran sungai. Dengan demikian, banjir yang terjadi berkaitan dengan hujan dan pergerakan material, bukan menandakan adanya erupsi baru.
Di kawasan Curah Kobokan, aliran membawa beragam material, mulai dari pasir dan kerikil hingga bongkah batu berukuran besar. Campuran material tersebut dapat bergerak dengan deras ketika debit air meningkat, sehingga kondisi di sepanjang alur sungai perlu diwaspadai. Banjir lahar hujan berbeda dari aliran air biasa karena material yang terbawa dapat menambah beban dan daya rusak aliran, terutama ketika bergerak melewati kawasan yang dilalui sungai.
Daryono juga melaporkan adanya tanggul yang jebol serta luapan banjir. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi wilayah di sekitar aliran, termasuk permukiman di Tempursari yang terancam terdampak. Jebolnya tanggul dapat membuat air dan material keluar dari jalur yang semestinya, sementara luapan berpotensi menjangkau area yang lebih luas. Warga di kawasan rawan perlu memperhatikan perkembangan situasi dan arahan dari pihak berwenang, khususnya ketika hujan masih berlangsung atau aliran sungai menunjukkan peningkatan.
Ancaman banjir lahar hujan tidak hanya bergantung pada aktivitas gunung, tetapi juga pada intensitas dan lamanya hujan serta ketersediaan material vulkanik di hulu. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa hujan lebat dapat memicu aliran berbahaya meskipun tidak ada erupsi baru. Pemantauan kondisi sungai, tanggul, dan permukiman sekitar menjadi penting untuk mendukung langkah kesiapsiagaan. Informasi mengenai perubahan aliran dan potensi luapan perlu disampaikan dengan cepat agar warga dapat menghindari jalur sungai dan mengambil tindakan sesuai instruksi petugas setempat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menjelaskan bahwa banjir lahar dipicu hujan lebat yang turun dalam durasi cukup lama. Hujan mulai berlangsung pada Minggu, 1 November 2026, sekitar pukul 22.00 WIB, dan berlanjut hingga Senin pagi. Kondisi tersebut meningkatkan debit air secara signifikan di Sungai Glidik, yang berhulu di kawasan Semeru. Peningkatan aliran sungai menjadi faktor yang mendorong luapan dan genangan di sejumlah lokasi. Penjelasan ini menegaskan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan curah hujan dan aliran sungai, bukan erupsi baru Semeru.
Di Kecamatan Tempursari, dampak banjir mengganggu akses penghubung Malang dan Lumajang. Jembatan yang menghubungkan kedua wilayah itu tidak dapat dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Penutupan akses ini membuat warga dan pengguna jalan tidak bisa melintas melalui jembatan selama kondisi belum memungkinkan. Selain itu, luapan Sungai Rawaan dan Sungai Dol menggenangi sejumlah desa. Air yang keluar dari alur sungai tersebut menyebar ke kawasan permukiman, sehingga genangan dirasakan langsung oleh warga. Tanggul jebol juga tercatat di kawasan Wareng, Dusun Pasirejo, menambah titik terdampak di wilayah tersebut.
Secara keseluruhan, lebih dari seribu jiwa terdampak langsung oleh genangan yang terjadi di dua kecamatan berbeda. Angka tersebut menggambarkan luasnya dampak terhadap masyarakat, meskipun rincian jumlah warga di tiap lokasi tidak disampaikan. Gangguan pada jembatan dan genangan di desa-desa menjadi perhatian karena dapat membatasi mobilitas warga serta memperumit aktivitas sehari-hari selama banjir berlangsung. Kondisi sungai yang meningkat setelah hujan berkepanjangan juga menunjukkan pentingnya kewaspadaan di sekitar aliran air dan kawasan terdampak. BPBD Jawa Timur menyampaikan keterangan mengenai pemicu serta dampak kejadian berdasarkan situasi yang tercatat di lapangan. Informasi tersebut membantu membedakan banjir lahar akibat hujan dari aktivitas erupsi, sekaligus menjelaskan mengapa akses dan sejumlah permukiman terdampak.
Pandangan Daryono menegaskan bahwa penanganan banjir lahar tidak seharusnya baru menjadi perhatian setelah kerusakan terjadi. Mitigasi perlu disiapkan jauh sebelum hujan ekstrem memicu aliran material vulkanik, dengan mempertimbangkan karakter sungai dan wilayah yang berisiko. Pendekatan yang berorientasi pada pencegahan membantu masyarakat dan pemerintah mengenali ancaman lebih awal, menyusun tindakan yang jelas, serta mengurangi dampak ketika bahaya benar-benar muncul. Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa ancaman di kawasan Semeru dapat meningkat tanpa didahului erupsi baru.
Salah satu langkah penting ialah memperkuat sistem peringatan dini agar informasi tentang hujan, kenaikan debit, dan potensi lahar dapat diterima dengan cepat oleh warga di kawasan rawan. Peringatan harus mudah dipahami, disampaikan melalui saluran yang andal, dan disertai arahan mengenai tindakan yang perlu dilakukan. Infrastruktur pengendali juga memerlukan perhatian berkelanjutan. Sabo dam dan tanggul perlu diperiksa serta dipelihara secara berkala agar fungsinya tetap optimal, termasuk setelah terisi material atau mengalami kerusakan. Perawatan bukan hanya pekerjaan teknis, melainkan bagian dari perlindungan terhadap permukiman dan fasilitas umum di sepanjang aliran sungai.
Daryono juga menekankan pentingnya penataan ruang berdasarkan tingkat risiko. Pembangunan dan aktivitas masyarakat perlu mempertimbangkan wilayah yang dapat dilalui lahar, sehingga paparan terhadap bahaya tidak terus bertambah. Pada saat yang sama, jalur evakuasi harus tersedia, terawat, mudah dikenali, dan dapat digunakan ketika kondisi darurat. Warga perlu mengetahui tujuan evakuasi, memahami tanda peringatan, serta berlatih mengikuti prosedur yang telah disepakati. Kesiapan ini perlu dijaga melalui koordinasi rutin pemerintah, petugas, dan masyarakat, bukan hanya ketika ancaman sudah terlihat. Di tengah potensi hujan ekstrem, kewaspadaan harus terus dipelihara. Bencana alam tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko, korban jiwa, dan kerugian dapat ditekan melalui mitigasi yang terencana dan kesiapsiagaan yang baik.


