Longsor di Eco Park Pelaga: Dua Penghuni Glamping Masih Dicari

Longsor di Eco Park Pelaga: Dua Penghuni Glamping Masih Dicari

Kabupaten Badung | Longsor menimpa kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu (1/11) sekitar pukul 23.00 Wita. Peristiwa terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut sejak malam. Material tanah yang bergerak menimbun satu bangunan glamping, kemudian bangunan itu hanyut terbawa arus sungai. Dua penghuni laki-laki yang berada di Room 6 dilaporkan belum ditemukan dan menjadi sasaran pencarian.

Kejadian tersebut berlangsung pada malam hari, saat kondisi sekitar kawasan penginapan dipengaruhi cuaca buruk dan aliran sungai yang deras. Longsoran menerjang bangunan tempat para tamu menginap, sehingga situasi berubah menjadi keadaan darurat. Satu unit glamping terdampak langsung; bangunan itu tidak hanya tertimbun material longsor, tetapi juga terseret aliran air. Informasi awal menyebut dua orang penghuni dari kamar tersebut belum diketahui keberadaannya setelah kejadian.

Hujan lebat yang turun sejak malam menjadi latar penting dalam peristiwa ini. Curah hujan dan kondisi medan di sekitar aliran sungai diduga membuat kawasan tersebut rentan terhadap gerakan tanah, meski penyebab pasti longsor masih perlu dipastikan oleh pihak berwenang. Peristiwa itu sekaligus menunjukkan risiko yang dapat muncul ketika hujan intensif berlangsung di daerah dengan kontur lereng dan sungai. Karena kejadian berlangsung pada malam hari, proses mengetahui dampak dan kondisi para penghuni menjadi perhatian utama.

Dua laki-laki yang menempati Room 6 masih dicari setelah bangunan glamping mereka hanyut. Pencarian diarahkan untuk menemukan keduanya, sementara informasi mengenai perkembangan operasi dan kondisi lokasi menunggu keterangan lebih lanjut dari petugas. Hingga kabar awal disampaikan, belum ada kepastian mengenai keberadaan kedua penghuni itu. Warga dan pengelola kawasan diharapkan mengikuti arahan petugas serta menghindari area yang terdampak, terutama di sekitar lereng dan sungai, selama kondisi cuaca dan keamanan belum dinyatakan terkendali.

Dua orang yang masih dicari setelah longsor menimbun area penginapan glamping di Eco Park Pelaga terdiri atas seorang warga negara Indonesia dan seorang warga negara asing. Kasi Humas Polres Badung, Ipda Ni Nyoman Yuni Eltari, menyebut warga negara Indonesia tersebut bernama Bangkit Mubarok, berusia 30 tahun. Sementara itu, identitas warga negara asing yang diduga turut menjadi korban belum dapat dipastikan. Informasi mengenai identitas keduanya masih terbatas, sehingga keterangan yang tersedia berfokus pada data awal dan dugaan keberadaan mereka saat bencana terjadi.

Pemilik glamping mencurigai kedua orang tersebut berada di dalam bangunan ketika tebing di sekitar lokasi longsor dan materialnya menimbun tempat menginap itu. Dugaan tersebut menjadi dasar kekhawatiran bahwa keduanya mungkin terjebak di bawah timbunan. Namun, kecurigaan mengenai keberadaan mereka di dalam bangunan belum dengan sendirinya memastikan kondisi maupun lokasi masing-masing. Tim pencarian dan pertolongan masih perlu melakukan upaya di lapangan untuk memastikan apakah ada korban di dalam area terdampak.

Laporan mengenai kejadian itu diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar pada Senin (2/11) pukul 06.10 Wita. Kepala Kantor SAR Denpasar, I Nyoman Sidakarya, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan setelah pengelola meminta bantuan SAR. Informasi tersebut menandai awal keterlibatan tim SAR dalam penanganan pencarian dua penghuni yang belum diketahui keberadaannya. Keterangan waktu dan sumber laporan juga memberikan gambaran mengenai bagaimana permintaan pertolongan disampaikan kepada petugas.

Dengan demikian, data awal yang disampaikan pihak berwenang mencakup nama dan usia satu orang yang dicari, sedangkan identitas warga negara asing masih belum terverifikasi. Keterangan pemilik glamping mengenai kemungkinan keduanya berada di dalam bangunan menjadi petunjuk awal bagi pencarian, bukan kepastian tentang nasib mereka. Laporan yang diterima pada pagi hari itu menjadi dasar bagi Kantor SAR Denpasar untuk menindaklanjuti permintaan bantuan. Perkembangan mengenai identitas dan keberadaan kedua orang tersebut bergantung pada hasil pencarian serta informasi resmi berikutnya dari pihak terkait.

Upaya pencarian di Eco Park Pelaga diawali oleh pengelola bersama BPBD Kabupaten Badung, Camat Petang, dan Polsek Petang setelah dua penghuni glamping dilaporkan tertimbun longsor. Unsur-unsur tersebut melakukan penanganan awal dan berkoordinasi untuk mengetahui kondisi lokasi serta mendukung pencarian. Namun, hujan lebat yang mengguyur kawasan membuat situasi belum aman bagi personel untuk bergerak lebih jauh. Akses menuju titik kejadian juga tergolong curam, sehingga perjalanan ke lokasi membutuhkan kehati-hatian. Dengan mempertimbangkan risiko keselamatan, pencarian sempat dihentikan sementara sampai kondisi memungkinkan untuk dilanjutkan. Penghentian itu merupakan langkah pengamanan di tengah cuaca buruk dan medan yang menyulitkan, bukan tanda bahwa upaya menemukan korban telah berakhir.

Setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar mengirim satu tim rescue yang beranggotakan sembilan personel. Kehadiran tim ini menambah dukungan dalam operasi pencarian dan penanganan di lapangan. Personel perlu menilai kondisi sebelum bergerak, termasuk memperhatikan cuaca, kestabilan area longsor, dan jalur yang dapat dilalui. Koordinasi dengan unsur setempat menjadi bagian penting agar pergerakan tim dan penggunaan peralatan dapat disesuaikan dengan keadaan aktual. Dalam operasi seperti ini, keselamatan petugas dan pihak lain di sekitar lokasi tetap menjadi pertimbangan utama, terutama ketika hujan masih berpotensi memengaruhi kondisi tanah dan akses.

Lokasi kejadian berada di kawasan perbukitan dekat aliran sungai. Kontur tersebut membuat medan cukup berat, sementara material longsor masih menutup sebagian akses jalan. Hambatan ini membatasi ruang gerak personel dan menyulitkan pengangkutan peralatan yang dibutuhkan untuk pencarian maupun evakuasi. Karena itu, pergerakan tim harus dilakukan secara terukur, dengan penanganan khusus terhadap jalur yang tertutup dan kondisi permukaan yang tidak stabil. Setiap langkah menuju area terdampak memerlukan kehati-hatian agar tidak menambah risiko bagi petugas. Cuaca, kemiringan medan, kedekatan dengan aliran sungai, serta timbunan material menjadi sejumlah faktor yang perlu terus dipantau selama operasi berlangsung. Kondisi tersebut turut menentukan bagaimana pencarian dapat dilanjutkan dengan aman.

Operasi pencarian dan evakuasi lanjutan di kawasan Eco Park Pelaga terus dilakukan dengan melibatkan 123 personel gabungan dari berbagai instansi. Unsur yang terlibat bekerja bersama masyarakat untuk menyisir area terdampak, mengumpulkan informasi, serta mendukung kebutuhan penanganan di lapangan. Koordinasi menjadi penting agar setiap upaya pencarian berlangsung terarah dan sumber daya dapat digunakan sesuai kondisi terkini.

Dua penghuni glamping yang belum ditemukan menjadi prioritas dalam operasi ini. Tim melanjutkan pencarian dengan mempertimbangkan lokasi kejadian, kondisi medan, dan informasi yang dapat membantu menentukan area penyisiran. Perkembangan situasi lapangan dapat mengubah pola kerja, termasuk pembagian personel dan akses menuju titik yang dinilai perlu diperiksa. Karena itu, komunikasi antartim dan pembaruan informasi secara berkala dibutuhkan selama kegiatan berlangsung.

Cuaca turut memengaruhi keputusan mengenai waktu, jalur, dan metode pencarian. Hujan atau perubahan kondisi lingkungan dapat membuat tanah di sekitar lokasi lebih labil dan meningkatkan risiko bagi petugas maupun warga yang membantu. Selain itu, kondisi sungai perlu terus dipantau karena kenaikan debit dapat memengaruhi keamanan jalur dan area kerja. Penilaian situasi secara berkala membantu koordinator menentukan apakah kegiatan dapat diteruskan dengan aman atau perlu disesuaikan.

Seluruh personel diimbau mengutamakan keselamatan selama menjalankan tugas. Mereka perlu mengikuti arahan koordinator, menggunakan perlengkapan yang sesuai, dan menjaga jarak dari bagian lereng yang berpotensi bergerak. Kewaspadaan terhadap kemungkinan longsor susulan harus dijaga, terutama ketika cuaca berubah atau muncul tanda-tanda pergerakan tanah.