Hasto Minta Kader PDIP Teguh Membela Rakyat dan Berpolitik Berbasis Gagasan

Hasto Minta Kader PDIP Teguh Membela Rakyat dan Berpolitik Berbasis Gagasan

Jakarta | Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto meminta para kader partai tetap teguh membela rakyat, khususnya ketika berhadapan dengan pihak yang menindas rakyat kecil. Pesan tersebut disampaikan dalam konsolidasi internal DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung pada Jumat malam, 30 Oktober. Hasto menekankan bahwa keberanian berpihak kepada masyarakat merupakan sikap yang perlu dijaga oleh kader partai, terutama saat rakyat menghadapi penindasan. Ia menyampaikan pandangan itu sebagai bagian dari arahan kepada kader dalam pertemuan internal tersebut.

Dalam keterangannya di Jakarta pada Sabtu, Hasto menyatakan bahwa orang yang takut menghadapi penindasan terhadap rakyat sebaiknya tidak menjadi kader PDI Perjuangan. Ia juga menyebut ketakutan terhadap kriminalisasi oleh penegak hukum sebagai alasan lain yang, menurutnya, tidak selaras dengan posisi sebagai kader partai. Pernyataan itu menggarisbawahi tuntutan agar kader tidak menghindari tanggung jawab ketika membela masyarakat kecil. Hasto mengaitkan keanggotaan partai dengan keberanian untuk mengambil sikap, bukan sekadar menjadi bagian dari organisasi.

Pesan tersebut menempatkan keberpihakan kepada rakyat sebagai prinsip yang harus tampak dalam sikap kader. Hasto meminta kader tidak mundur ketika menghadapi situasi yang melibatkan penindasan terhadap rakyat kecil. Ia juga menegaskan bahwa rasa takut terhadap kriminalisasi penegak hukum tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengesampingkan pembelaan terhadap masyarakat. Dalam keterangannya, ia tidak menyebut pihak tertentu sebagai pelaku penindasan maupun menguraikan kasus khusus. Karena itu, inti pesannya terletak pada dorongan agar kader tetap berani dan konsisten membela rakyat, sesuai dengan arahan yang disampaikan dalam konsolidasi di Lampung.

Dalam arahannya kepada kader PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengawali pesan dengan menyampaikan salam dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Salam tersebut menjadi pengantar bagi refleksi mengenai landasan sikap seorang kader ketika menjalankan tugas politik dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Hasto merujuk pada perenungan Megawati tentang keyakinan sebagai pangkal dari segalanya. Bagi kader, keyakinan bukan sekadar pernyataan atau ungkapan semangat, melainkan dasar batin yang menuntun pilihan, tindakan, serta cara menghadapi berbagai keadaan. Nilai itu diperlukan agar kerja politik tidak mudah berubah arah ketika muncul tekanan, tantangan, atau perbedaan pandangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Hasto, keyakinan yang terpelihara melahirkan keteguhan. Kader yang teguh dapat menjaga komitmen dan tetap berpihak kepada rakyat, termasuk saat perjuangan menuntut waktu serta pengorbanan. Keyakinan juga menumbuhkan keberanian untuk menyampaikan gagasan, mengambil sikap, dan menjalankan tanggung jawab dengan jujur. Keberanian tersebut bukan tindakan tanpa pertimbangan, tetapi kesediaan untuk membela kebenaran dan kepentingan publik dengan landasan nilai yang jelas. Dalam politik, sikap demikian membantu kader agar tidak hanya mengikuti keadaan, melainkan turut menawarkan arah dan solusi. Dengan demikian, keyakinan menjadi sumber daya moral yang menopang keberanian sekaligus menjaga agar tindakan tetap memiliki tujuan.

Hasto juga mengaitkan keyakinan dengan kesabaran. Perjuangan politik tidak selalu menghasilkan perubahan secara cepat, sehingga kader perlu bertahan, bekerja, dan terus merawat kepercayaan masyarakat. Kesabaran bukan berarti pasif atau menerima keadaan begitu saja. Sebaliknya, nilai ini memungkinkan kader tetap tekun menyusun langkah dan memperjuangkan gagasan, tanpa kehilangan pegangan ketika hasil belum segera terlihat. Keteguhan, keberanian, dan kesabaran tersebut saling menguatkan: keyakinan memberi dasar, sementara nilai-nilai itu membentuk sikap dalam menghadapi tugas dan ujian. Rangkaian pesan tersebut ditutup dengan semboyan PDI Perjuangan, “Satyam Eva Jayate”, yang berarti kebenaran akan menang. Semboyan itu menegaskan harapan bahwa perjuangan yang berpijak pada kebenaran, disertai keyakinan dan kerja yang konsisten, pada akhirnya akan memperoleh makna dan membawa manfaat bagi rakyat.

Dalam arahannya saat konsolidasi, Hasto menekankan bahwa persaingan politik seharusnya berlangsung dengan mengedepankan ide dan gagasan. Perbedaan pandangan di para peserta politik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan tawaran, program, serta pemikiran kepada masyarakat. Karena itu, perdebatan politik perlu diarahkan pada substansi yang dibawa masing-masing pihak, bukan pada serangan terhadap pribadi. Cara berpolitik seperti ini menjadi salah satu pokok yang disampaikan Hasto kepada kader PDI Perjuangan dalam kegiatan konsolidasi tersebut.

Penekanan pada gagasan juga berarti bahwa perbedaan politik tidak semestinya dijadikan alasan untuk menyerang seseorang secara personal. Dalam konteks persaingan, perhatian dapat diberikan pada apa yang dikemukakan dan diperjuangkan, sehingga masyarakat dapat menilai berbagai pandangan yang disampaikan. Hasto mengarahkan kader agar pertarungan politik bertumpu pada ide, bukan pada upaya merendahkan individu. Arahan tersebut menempatkan gagasan sebagai dasar kompetisi politik, tanpa mengubahnya menjadi serangan yang menyasar kehidupan pribadi seseorang.

Selain menyampaikan pentingnya politik berbasis gagasan, Hasto juga menegaskan prinsip kesetaraan yang dipegang PDI Perjuangan. Partai tersebut, menurut penekanannya, tidak membedakan orang berdasarkan suku, agama, status sosial, maupun jenis kelamin. Prinsip ini disampaikan sebagai bagian dari arahan kepada kader dalam konsolidasi, bersama dengan pesan tentang cara berpolitik. Dengan demikian, dua pokok yang ditekankan mencakup persaingan yang mengutamakan ide dan gagasan serta sikap yang tidak membeda-bedakan orang berdasarkan latar belakangnya.

Arahan tersebut menjadi pesan bagi kader untuk menjalankan persaingan politik dengan memperhatikan substansi dan menjaga prinsip kesetaraan. Hasto menyampaikan bahwa perdebatan sebaiknya berpusat pada gagasan yang ditawarkan, bukan serangan personal, sementara setiap orang tidak diperlakukan berbeda karena identitas maupun statusnya. Kedua hal itu disampaikan dalam kerangka konsolidasi sebagai pandangan mengenai cara berpolitik dan prinsip yang dipegang PDI Perjuangan. Uraian ini mencerminkan pokok arahan tersebut tanpa menambahkan penilaian lain di luar pesan yang disampaikan.

Hasto menekankan bahwa strategi pemenangan pemilu perlu disusun dengan bertumpu pada data dan pembacaan kondisi masyarakat secara cermat. Menurutnya, perubahan perilaku pemilih dan dinamika di setiap daerah menuntut partai memahami kebutuhan warga melalui informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Pendekatan ini menjadi dasar untuk menentukan prioritas kerja, merancang komunikasi politik, serta mengarahkan sumber daya partai secara lebih tepat. Kader tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman atau perkiraan umum ketika mengambil keputusan strategis.

Ia mengingatkan bahwa pola tradisional yang mengandalkan tebakan berisiko membuat program dan langkah kampanye tidak sesuai dengan persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Data dapat membantu mengenali aspirasi, memetakan isu yang berkembang, dan mengevaluasi apakah kerja politik telah menjangkau kelompok yang dituju. Namun, penggunaan data tetap harus disertai kepekaan terhadap keadaan lapangan dan dialog langsung dengan rakyat. Dengan demikian, strategi tidak berhenti sebagai angka atau laporan, tetapi menjadi panduan untuk menyusun tindakan yang relevan dan terukur.

Penekanan tersebut disampaikan dalam konsolidasi partai di Lampung, yang juga menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman mengenai penguatan organisasi dan kerja politik. Rapat dibuka oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung, Winarti. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan laporan perkembangan organisasi di wilayahnya sebagai bagian dari evaluasi dan konsolidasi internal. Sejumlah pengurus dan kader hadir untuk mengikuti jalannya pertemuan serta mendengarkan arahan yang disampaikan.

Winarti didampingi Sekretaris DPD Palgunadi, jajaran bendahara dan struktur partai, anggota DPRD Provinsi, serta ketua, sekretaris, dan bendahara DPC se-Lampung. Hadir pula anggota DPR RI Mukhlis Basri dan Ketut Suwendra, bersama sejumlah kader muda dari DPP PDI Perjuangan, termasuk M. Guntur Romli. Kehadiran unsur pengurus daerah, wakil rakyat, dan kader pusat tersebut mencerminkan keterlibatan lintas tingkat dalam konsolidasi.