Abdul Fikri Faqih Dorong Pembinaan Sepak Bola Anak Berbasis Potensi

Abdul Fikri Faqih Dorong Pembinaan Sepak Bola Anak Berbasis Potensi

Kabupaten Tegal | Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih meminta pembinaan sepak bola usia dini diarahkan pada pengembangan kemampuan masing-masing anak. Menurutnya, pendekatan yang mengenali potensi individu akan membantu pemain muda tumbuh dan berkembang secara optimal. Pembinaan tidak semestinya hanya menuntut semua anak mengikuti pola yang sama, melainkan memberi ruang bagi setiap pemain untuk memperkuat keunggulan yang dimilikinya.

Fikri menyampaikan bahwa setiap anak mempunyai potensi sendiri. Karena itu, pelatih dan pihak yang mendampingi perlu mengenali kemampuan tersebut, lalu memusatkan latihan pada aspek yang dapat dikembangkan. Ia menekankan pentingnya melihat perbedaan karakter dan bakat pemain sebagai bagian dari proses pembinaan. Dengan perhatian yang sesuai, anak dapat memperoleh kesempatan untuk belajar, berlatih, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa kehilangan ruang untuk berkembang.

Pandangan itu disampaikan Fikri saat membuka Turnamen Sepak Bola Kelompok Umur U-12 Kemenpora-Footballindo 2026. Ajang tersebut mempertemukan pemain dalam kelompok usia dini dan menjadi kesempatan untuk menjalani pengalaman bertanding. Dalam konteks pembinaan, kompetisi dapat menjadi salah satu sarana untuk mengamati perkembangan kemampuan anak, sekaligus memberi mereka ruang menerapkan hasil latihan di lapangan.

Namun, orientasi pembinaan usia dini tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Perhatian terhadap proses belajar, peningkatan keterampilan, dan kebutuhan masing-masing pemain juga penting agar perkembangan berlangsung terarah. Pelatih dapat menggunakan pengalaman latihan maupun pertandingan untuk memahami aspek yang telah dikuasai anak dan kemampuan yang masih perlu diasah. Dengan demikian, evaluasi tidak semata-mata berpatokan pada kemenangan atau kekalahan.

Arahan Fikri menempatkan potensi anak sebagai dasar dalam membangun pembinaan sepak bola yang lebih sesuai dengan kebutuhan pemain muda. Ketika keunggulan masing-masing dikenali dan dikembangkan, anak berpeluang tumbuh dengan bekal kemampuan yang semakin kuat. Pendekatan tersebut juga menegaskan bahwa pembinaan usia dini perlu memberi perhatian pada perjalanan perkembangan setiap pemain, bukan hanya capaian tim dalam sebuah turnamen.

Abdul Fikri Faqih memandang pembinaan olahraga sejak usia dini sebagai investasi penting bagi masa depan bangsa. Pandangan ini menempatkan kegiatan olahraga anak bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, melainkan bagian dari proses pembinaan yang perlu dirancang dengan tujuan dan pendampingan yang tepat. Dengan memberi ruang bagi anak untuk berolahraga sejak awal, upaya pengembangan kemampuan mereka dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia dan potensi masing-masing.

Dalam konteks sepak bola, pembinaan yang terarah memberi kesempatan bagi anak untuk mengenal latihan dan permainan secara teratur. Kegiatan tersebut dapat membantu membangun kemampuan fisik, sekaligus melatih kesiapan mental ketika anak mengikuti proses latihan. Kedua aspek ini merupakan bagian penting dari perkembangan anak dalam olahraga. Karena itu, pembinaan tidak cukup hanya berfokus pada hasil pertandingan, tetapi juga perlu memperhatikan proses belajar dan perkembangan kemampuan anak dari waktu ke waktu.

Fikri menekankan pentingnya memulai pembinaan ketika anak masih berada pada usia dini. Pada tahap ini, pendekatan yang sesuai dapat membantu anak mengembangkan potensi melalui kegiatan yang terarah. Pengaturan latihan dan pendampingan menjadi unsur yang perlu diperhatikan agar kegiatan olahraga berlangsung sesuai kebutuhan anak. Dengan demikian, olahraga dapat menjadi sarana pembinaan yang memberi perhatian pada kemampuan fisik dan mental, bukan semata-mata pada pencapaian sesaat.

Gagasan tentang olahraga sebagai investasi juga mengandung perhatian terhadap kesinambungan pembinaan. Anak-anak yang memperoleh kesempatan berlatih secara teratur dapat menjalani proses pengembangan kemampuan dengan lebih terarah. Dalam sepak bola, pendekatan berbasis potensi berarti memberi perhatian pada kemampuan yang dimiliki setiap anak, serta mendukung perkembangannya melalui pembinaan yang tepat. Fokusnya adalah membuka ruang bagi anak untuk belajar dan bertumbuh dalam olahraga, bukan menetapkan hasil yang sama bagi semua peserta.

Dengan memandang pembinaan olahraga usia dini sebagai bagian dari investasi masa depan, perhatian terhadap anak menjadi dasar dari proses tersebut. Pembinaan yang terarah diharapkan membantu mengembangkan kemampuan fisik dan mental mereka melalui kegiatan olahraga. Pandangan Fikri ini menegaskan pentingnya menyiapkan proses yang memperhatikan potensi anak sejak dini, sehingga sepak bola dapat menjadi salah satu ruang pembinaan yang terencana dan berkesinambungan.

Menurut Abdul Fikri Faqih, kompetisi sepak bola kelompok umur sebaiknya dipandang lebih luas daripada rangkaian pertandingan untuk menentukan pemenang. Ajang tersebut dapat menjadi ruang belajar bagi anak untuk memahami disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan sikap saling menghormati. Nilai-nilai itu terbentuk melalui pengalaman langsung, seperti mengikuti aturan, menerima keputusan, berlatih bersama, serta menghadapi hasil pertandingan dengan sikap yang dewasa. Karena itu, penyelenggara dan pembina perlu memastikan bahwa suasana kompetisi tetap aman, positif, dan sesuai dengan tahap perkembangan peserta.

Fikri juga menekankan pentingnya menjadikan kegiatan olahraga sebagai sarana meningkatkan kebugaran anak. Kesempatan bermain dan bergerak secara teratur dapat membantu anak membangun kebiasaan hidup aktif sekaligus mengembangkan kemampuan fisik dasar. Dalam konteks sepak bola usia dini, kemenangan tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Perkembangan keterampilan, keberanian mencoba, konsistensi berlatih, dan kemampuan bekerja sebagai tim patut memperoleh perhatian yang seimbang. Dengan pendekatan tersebut, pertandingan dapat mendukung pertumbuhan anak, bukan sekadar memenuhi kalender kegiatan atau menghasilkan skor.

Harapannya, kerja sama Kementerian Pemuda dan Olahraga dengan Footballindo Academy Tegal tidak berhenti sebagai agenda rutin yang hanya terlaksana saat kompetisi berlangsung. Kemitraan itu dapat diarahkan untuk memberi manfaat berkelanjutan bagi pembinaan sepak bola di daerah, termasuk melalui pendampingan, pengembangan latihan, dan perluasan kesempatan bagi anak untuk belajar. Dukungan yang terencana dapat membantu pelatih dan komunitas setempat mengenali potensi pemain sejak dini, tanpa membatasi perkembangan mereka pada hasil sesaat. Keberlanjutan program juga penting agar kegiatan kompetitif terhubung dengan proses pembinaan yang lebih konsisten. Dengan demikian, kompetisi kelompok umur dapat menjadi bagian dari ekosistem pembinaan, sekaligus wahana membentuk karakter dan menjaga kebugaran. Manfaatnya diharapkan dirasakan lebih luas oleh anak, keluarga, pelatih, dan lingkungan sepak bola daerah.

Turnamen sepak bola usia muda yang didorong Abdul Fikri Faqih akan berlangsung dalam dua gelombang di Lapangan Yonzipur, Slawi Wetan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pembagian jadwal ini memisahkan pertandingan berdasarkan kelompok umur, sehingga agenda untuk pemain U-12 dan U-14 dapat dilaksanakan pada tanggal yang berbeda. Lokasi yang sama menjadi tempat penyelenggaraan kedua kategori tersebut.

Kategori U-12 dijadwalkan bertanding pada 24–25 Oktober 2026. Enam tim yang tercatat sebagai peserta adalah Footballindo Academy, Binaba Bojong, Galaxy Dewa Ratna, Binamuda Suniarsih, Persiklu Kluwut, dan Binatama. Kehadiran klub-klub tersebut menjadi bagian penting dari kompetisi kelompok usia ini, yang mempertemukan para pemain muda untuk mengikuti pertandingan dalam suasana terorganisasi.

Sementara itu, giliran kategori U-14 berlangsung pada 30–31 Oktober 2026. Dengan demikian, rangkaian kegiatan di Lapangan Yonzipur dijadwalkan mencakup dua akhir pekan pada bulan yang sama. Informasi tanggal dan lokasi tersebut memberi gambaran bagi peserta maupun pihak yang ingin mengikuti pelaksanaan turnamen, baik untuk kelompok U-12 maupun U-14.

Fikri berharap kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang bertanding, tetapi juga membantu melahirkan bibit atlet yang dapat terus berkembang. Ia menginginkan para pemain memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan, mengasah pengalaman, dan berproses menuju prestasi yang lebih tinggi, termasuk hingga tingkat internasional.

Baca juga: Sinergi Bersama Hadapi Potensi Bencana, Personel Kodim Bojonegoro Segarkan Kemampuan Jinakkan Api