Jakarta | PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama Rabu Biru Foundation meresmikan Program Mata Air Indonesia di Kelurahan Mertelu, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Program ini dirancang untuk membantu petani di lahan tadah hujan mendapatkan akses air yang lebih memadai, khususnya ketika musim kemarau membatasi ketersediaan air. Bagi masyarakat yang bergantung pada curah hujan, akses air menjadi faktor penting dalam mendukung kegiatan pertanian dan menjaga keberlangsungan pengelolaan lahan.
Melalui program tersebut, Pupuk Indonesia dan Rabu Biru Foundation berkolaborasi untuk menjawab tantangan keterbatasan air di wilayah pertanian. Peresmian di Mertelu menandai pelaksanaan inisiatif yang menyasar sejumlah daerah dengan kebutuhan akses air bagi petani. Pendekatan kolaboratif memungkinkan para pihak menggabungkan peran dan kontribusi dalam mendukung masyarakat setempat. Upaya ini berfokus pada kebutuhan petani di kawasan tadah hujan, yang menghadapi risiko kekurangan air ketika musim kering berlangsung.
Program Mata Air Indonesia juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan Pupuk Indonesia. Pelaksanaannya mengusung pendekatan creating shared value atau penciptaan nilai bersama, yakni upaya agar kegiatan perusahaan turut memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan. Cakupan program meliputi lima daerah, yaitu Gunungkidul di Yogyakarta, Grobogan di Jawa Tengah, Pacitan dan Sampang di Jawa Timur, serta Kupang di Nusa Tenggara Timur. Dengan menjangkau wilayah-wilayah tersebut, program diarahkan untuk memperluas dukungan akses air bagi petani lahan tadah hujan, terutama pada periode kemarau. Kehadiran inisiatif ini menempatkan kebutuhan masyarakat pertanian sebagai salah satu perhatian dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan, sekaligus memperkuat kerja sama dengan mitra dalam menjawab persoalan ketersediaan air secara lebih terarah.
Program dukungan irigasi dirancang untuk membantu petani memperoleh akses air yang lebih teratur, terutama ketika curah hujan terbatas. Bantuan infrastrukturnya mencakup pembangunan sumur bor sebagai sumber air, penyediaan pompa untuk mengangkat dan menyalurkan air, serta pemasangan panel surya guna mendukung operasional pompa. Program ini juga menyediakan tangki penampung agar air dapat disimpan dan digunakan sesuai kebutuhan budidaya. Dari tangki tersebut, jaringan pipa mengalirkan air menuju lahan pertanian, sehingga distribusi air lebih terarah dan petani dapat mengelola pengairan dengan lebih efisien.
Fasilitas fisik tersebut dilengkapi pendampingan agar manfaatnya dapat digunakan secara berkelanjutan. Petani memperoleh pelatihan budidaya untuk satu musim tanam, mulai dari pengelolaan tanaman hingga pengaturan kebutuhan air dan pemupukan. Pendampingan juga membantu petani memilih varietas unggul yang sesuai dengan kondisi setempat dan lebih adaptif terhadap cuaca kering. Dengan mempertimbangkan karakter lahan serta ketersediaan air, pilihan varietas dapat mendukung kegiatan tanam yang lebih terencana, sekaligus mengurangi risiko ketika musim kemarau berlangsung.
Aspek pemeliharaan turut menjadi bagian penting dari program. Petani dibekali pengetahuan mengenai perawatan sumur bor, pompa, panel surya, tangki, dan jaringan pipa agar sarana tetap berfungsi setelah dibangun. Selain itu, mereka mendapat dukungan terkait penanganan pascapanen, sehingga hasil pertanian dapat dikelola dengan lebih baik setelah masa panen. Rangkaian bantuan ini menghubungkan kebutuhan air dengan praktik budidaya dan pengelolaan hasil, bukan hanya menyediakan infrastruktur tanpa pendampingan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa ketersediaan air merupakan faktor penting bagi keberlanjutan pertanian. Menurutnya, air membantu petani memanfaatkan potensi lahan dan penggunaan pupuk secara optimal agar keduanya dapat mendukung hasil panen. Ia juga menekankan bahwa upaya memperkuat akses air memerlukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Pupuk Indonesia, dalam pelaksanaan program ini, bekerja bersama mitra, termasuk Rabu Biru Foundation. Kerja sama lintas pihak diharapkan membuat pembangunan sarana, pendampingan petani, serta pemeliharaan fasilitas berjalan selaras dengan kebutuhan di lapangan.
Di Mertelu, Gunungkidul, lahan pertanian penerima manfaat berada di kawasan yang menghadapi keterbatasan air. Sebagian besar merupakan lahan tadah hujan dengan kondisi tanah kering, sementara bentang alam karst berbatu turut menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan air untuk budidaya. Ketergantungan pada hujan membuat kegiatan pertanian rentan ketika curah hujan tidak mencukupi. Situasi tersebut semakin sulit saat kemarau berlangsung panjang, karena petani memiliki akses terbatas terhadap sumber air untuk mengairi tanaman. Dalam kondisi demikian, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi kelangsungan kegiatan budidaya di wilayah tersebut.
Untuk membantu menjawab tantangan itu, fasilitas irigasi yang dibangun di Mertelu mencakup sumur bor sedalam 103 meter dan tandon air beton berkapasitas 20.000 liter. Air dari sumur dialirkan menggunakan pompa yang didukung panel surya menuju tangki penampungan, kemudian disalurkan melalui jaringan pipa irigasi ke lahan. Pemanfaatan panel surya menjadi bagian dari sistem pemompaan, sedangkan tandon berfungsi menampung air sebelum didistribusikan. Rangkaian fasilitas ini dirancang agar air dapat menjangkau area pertanian secara lebih terarah. Sistem tersebut ditujukan untuk melayani lahan seluas 28 hektare di Mertelu dan memberi manfaat kepada 93 petani penerima pupuk bersubsidi.
Kehadiran sarana irigasi ini diharapkan mendukung kegiatan budidaya petani, terutama ketika hujan terbatas dan musim kemarau berlangsung lebih lama. Dengan akses air yang dirancang menjangkau lahan, petani diharapkan dapat mengelola kebutuhan pengairan tanaman secara lebih baik. Fasilitas tersebut juga diharapkan membantu menjaga peluang produktivitas panen dan mengurangi risiko yang timbul akibat keterbatasan air. Harapan itu bergantung pada pemanfaatan serta pengelolaan sarana secara berkelanjutan oleh para penerima manfaat. Bagi kawasan dengan tanah kering dan kondisi karst berbatu, dukungan infrastruktur ini menjadi upaya untuk memperkuat akses air bagi pertanian. Sistem yang disiapkan bukan jaminan bahwa seluruh kendala langsung teratasi, tetapi dirancang sebagai dukungan praktis bagi 93 petani dan lahan pertanian yang dilayani.
Rahmad menyampaikan harapan agar masyarakat bersama kelompok tani menjaga dan merawat seluruh sarana yang telah dibangun, mulai dari sumur bor dan fasilitas pompanisasi hingga jaringan irigasi. Perawatan yang dilakukan secara teratur, disertai penggunaan yang bertanggung jawab, dinilai penting untuk mempertahankan fungsi infrastruktur dan memastikan air dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan pada masa awal pemanfaatan, tetapi juga tetap mendukung kegiatan pertanian pada musim-musim berikutnya.
Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation, Siti Hediati Soeharto, berharap bantuan akses air tersebut dapat memberi manfaat nyata bagi petani, terutama ketika menghadapi kemarau dan ketersediaan air berkurang. Ia juga mengharapkan program serupa dapat menjangkau daerah-daerah lain yang membutuhkan. Perluasan bantuan, menurut harapan tersebut, dapat membantu masyarakat pertanian mengurangi kendala pengairan dan menjaga keberlangsungan kegiatan budidaya di tengah kondisi cuaca yang menantang.
Salah seorang petani penerima manfaat, Suyoto, menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Ia menilai tersedianya akses air dapat membantu petani mengatasi persoalan kekurangan air saat musim kemarau, ketika kegiatan pertanian kerap menghadapi hambatan. Bagi petani di Mertelu, dukungan pengairan ini diharapkan memudahkan pemenuhan kebutuhan tanaman dan membantu menjaga proses produksi. Suyoto berharap hasil panen petani Mertelu dapat meningkat, sehingga manfaatnya turut mendukung kesejahteraan para petani dan keluarga mereka.
Selain pembangunan sarana pengairan, kegiatan peresmian di Gunungkidul juga mencakup dukungan bagi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan. Pupuk Indonesia menyalurkan satu unit ambulans melalui Yayasan Sehat Hijau Sejahtera Yogyakarta. Kendaraan tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat layanan kesehatan, terutama dalam mendukung mobilitas dan penanganan darurat medis.
Baca juga: Ciptakan Wilayah Aman, Babinsa Pererat Komsos dengan Warga | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Salurkan 77.000 Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan






