Para Panahan Indonesia Torehkan Capaian Terbaik di Nagoya dengan Empat Medali

Para Panahan Indonesia Torehkan Capaian Terbaik di Nagoya dengan Empat Medali

Jakarta | Tim para panahan Indonesia mencatat pencapaian terbaiknya di Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang. Hingga Jumat (23/10/2026), kontingen Merah Putih mengumpulkan empat medali, terdiri atas tiga perak dan satu perunggu. Hasil tersebut menandai peningkatan penting bagi Indonesia dalam persaingan para panahan di ajang olahraga multicabang terbesar Asia bagi atlet disabilitas itu. Perolehan tersebut juga menunjukkan kemampuan para atlet untuk bersaing hingga babak penentuan di tengah kompetisi yang mempertemukan pemanah dari berbagai negara Asia.

Catatan di Nagoya menjadi raihan tertinggi Indonesia sepanjang keikutsertaannya pada cabang para panahan di Asian Para Games. Sebelumnya, pada Asian Para Games Hangzhou 2022, Indonesia membawa pulang dua medali perunggu. Saat itu, para pemanah Indonesia belum berhasil menembus partai final. Perbandingan kedua edisi tersebut memperlihatkan kemajuan dari sisi jumlah medali sekaligus capaian kompetitif: di Nagoya, tim bukan hanya menambah koleksi medali, tetapi juga mampu mencapai tiga partai final. Dengan demikian, tiga medali perak dan satu perunggu yang diraih kali ini melampaui hasil di Hangzhou dan menciptakan tonggak baru bagi cabang olahraga tersebut.

Keberhasilan mencapai tiga final menjadi salah satu penanda perkembangan tim. Tampil di partai puncak memberi atlet kesempatan bersaing langsung untuk meraih medali, sementara empat podium menunjukkan bahwa upaya itu menghasilkan capaian nyata. Meski belum seluruh final berakhir dengan medali emas, koleksi perak dan perunggu tetap menjadi hasil terbaik Indonesia sejauh ini di cabang tersebut pada Asian Para Games. Perkembangan dari dua perunggu di Hangzhou menuju empat medali di Nagoya juga menjadi dasar evaluasi untuk pembinaan dan persiapan kompetisi berikutnya. Hingga batas waktu pencatatan pada Jumat, capaian itu menempatkan para panahan sebagai salah satu penyumbang prestasi Indonesia di Nagoya, sekaligus menegaskan kemajuan dibandingkan penampilan pada edisi sebelumnya. Hasil ini memberi gambaran bahwa tim mampu meningkatkan konsistensi dan melangkah lebih jauh dalam persaingan regional, tanpa mengubah fakta bahwa hasil tertinggi saat ini terdiri atas tiga perak dan satu perunggu.

Medali perak pertama Indonesia di Nagoya datang dari nomor ganda putra compound. Ken Swagumilang dan Arif Firmansyah tampil sebagai pasangan yang membawa Merah Putih ke podium setelah melewati rangkaian pertandingan hingga partai penentuan. Hasil tersebut menjadi penanda kuat bagi penampilan para pemanah compound Indonesia, sekaligus membuka catatan perolehan medali tim dalam kejuaraan ini. Ken dan Arif menunjukkan kontribusi penting melalui kerja sama yang konsisten dalam nomor beregu berpasangan tersebut.

Ken kemudian kembali menyumbangkan medali perak, kali ini bersama Theodora Audi Ayudia Ferelly dan Arif Firmansyah di nomor beregu campuran compound. Pada final yang berlangsung Kamis (22/10/2026), trio Indonesia berhadapan dengan India. Pertandingan itu menjadi kesempatan bagi para atlet untuk menambah koleksi medali sekaligus menguji kemampuan menghadapi salah satu pesaing kuat. Meski harus puas dengan posisi kedua, hasil final tersebut menambah capaian Indonesia di nomor compound dan memperlihatkan kontribusi berulang Ken dalam dua nomor berbeda.

Perak ketiga diraih Kholidin dan Noviera Ross pada nomor beregu campuran recurve. Bagi Noviera, pencapaian tersebut terasa istimewa karena ia menjalani debut di ajang ini. Berpasangan dengan Kholidin, pemanah debutan itu mampu membantu Indonesia mencapai partai perebutan gelar dan membawa pulang medali perak. Hasil tersebut menjadi capaian penting bagi keduanya, serta memperluas sumbangan medali Indonesia dari nomor compound ke recurve. Pengalaman bertanding di final juga dapat menjadi bekal berharga bagi Noviera dalam kompetisi berikutnya.

Kholidin menambah koleksi medali Indonesia dengan meraih perunggu bersama Setiawan pada nomor ganda putra compound. Dengan demikian, ia tercatat menyumbangkan medali di dua nomor berbeda, setelah sebelumnya meraih perak dalam beregu campuran recurve bersama Noviera. Rangkaian hasil para atlet tersebut menggambarkan luasnya kontribusi skuad panahan Indonesia di Nagoya. Ken, Arif, Theodora, Noviera, Kholidin, dan Setiawan masing-masing berperan dalam pencapaian yang mengantar tim mengumpulkan empat medali. Perolehan ini menjadi hasil terbaik Indonesia di Nagoya dan menunjukkan daya saing atlet pada berbagai nomor pertandingan.

Pelatih para panahan Indonesia, Idya Putra Harjianto, menyampaikan apresiasi atas semangat juang tujuh atlet yang tampil di Nagoya. Apresiasi tersebut menjadi tanggapan atas capaian tim yang berhasil membawa pulang empat medali dan mencatatkan hasil terbaiknya di ajang tersebut. Bagi tim, pencapaian itu menandai keberhasilan para atlet melangkah ke panggung tertinggi dalam kompetisi. Perjuangan tujuh atlet menjadi bagian penting dari hasil yang diraih, sekaligus menunjukkan bahwa capaian tim tidak terlepas dari keterlibatan seluruh atlet yang berjuang di arena.

Dalam menyampaikan apresiasi, Idya menempatkan semangat juang para atlet sebagai hal yang patut dihargai. Ketujuh atlet telah menjalani kompetisi hingga mampu mencapai panggung tertinggi, sementara tim mengakhiri penampilannya dengan koleksi empat medali. Pernyataan pelatih itu menyoroti upaya bersama di balik hasil tersebut, tanpa mengesampingkan kontribusi setiap atlet. Capaian di Nagoya menjadi catatan terbaik para atlet para panahan Indonesia, sehingga penghargaan atas perjuangan mereka hadir sebagai respons terhadap hasil yang telah diraih. Apresiasi ini juga menegaskan perhatian pelatih terhadap usaha tim sepanjang kompetisi.

Hasil di Nagoya memberikan gambaran tentang capaian tim dalam ajang tersebut: tujuh atlet berjuang hingga mencapai panggung tertinggi dan Indonesia meraih empat medali. Idya Putra Harjianto mengapresiasi semangat juang mereka sebagai tanggapan atas pencapaian itu. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah medali, tetapi juga pada perjuangan para atlet yang mengantarkan tim pada hasil terbaiknya. Apresiasi pelatih menjadi pengakuan atas peran tujuh atlet dalam perjalanan tim di Nagoya. Capaian tersebut menjadi penanda penting bagi para panahan Indonesia, sementara semangat juang yang ditunjukkan para atlet mendapat tempat dalam respons pelatih terhadap keberhasilan tim di kompetisi tersebut.

Peluang Indonesia menambah koleksi medali di Nagoya masih terbuka pada Sabtu (24/10/2026). Dua pemanah Merah Putih dijadwalkan tampil dalam pertandingan perebutan medali perunggu, sehingga perhatian tim dan pendukung akan tertuju pada nomor recurve perorangan. Kholidin akan berjuang di nomor individual men recurve, sementara Noviera Ross dijadwalkan bertanding pada individual women recurve. Keduanya menghadapi kesempatan penting untuk membawa pulang medali tambahan bagi Indonesia.

Pertandingan perebutan perunggu memberi ruang bagi para atlet untuk menutup kompetisi dengan hasil terbaik setelah melalui rangkaian laga yang menuntut konsistensi, ketenangan, dan ketepatan bidikan. Persiapan menghadapi pertandingan terakhir ini menjadi bagian penting, baik dari sisi teknis maupun mental. Hasil yang diraih Kholidin dan Noviera Ross juga akan melengkapi catatan penampilan Indonesia di Nagoya, setelah tim panahan para Indonesia mencatat capaian terbaiknya dengan empat medali. Namun, fokus atlet tetap diarahkan pada pertandingan yang ada di depan, dengan menjaga konsentrasi pada setiap anak panah.

Setelah seluruh pertandingan di Nagoya rampung, tim pelatih akan mengalihkan perhatian ke persiapan menuju Paralimpiade Los Angeles 2028. Sasaran yang disampaikan adalah mengamankan sebanyak-banyaknya tiket kelolosan melalui enam nomor potensial. Peluang tersebut mencakup empat nomor perorangan, yakni kategori compound dan recurve untuk putra maupun putri, serta dua nomor beregu campuran. Pemetaan nomor ini menjadi dasar bagi tim untuk menyusun program latihan dan strategi kualifikasi.

Persiapan menuju Los Angeles memerlukan perencanaan jangka panjang, evaluasi performa, serta pembinaan yang berkesinambungan.

Baca juga: Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Dandim Bojonegoro Raih Juara III Dansatgas Terbaik TMMD 129