Jakarta | Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan bahwa nilai tukar petani (NTP) dan cadangan beras Indonesia mencapai tingkat tertinggi, berdasarkan data yang ia paparkan. Pernyataan mengenai capaian tersebut disampaikan dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada Rabu, 21 Oktober 2026. Dengan demikian, informasi tentang rekor itu merujuk pada paparan Amran dalam forum tersebut, bukan pada peristiwa atau kesempatan lain di luar konteks yang disebutkan.
NTP merupakan indikator yang menggambarkan perbandingan indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga. Karena itu, penyebutan NTP tertinggi menjadi bagian penting dari gambaran yang disampaikan mengenai kondisi pertanian. Sementara itu, cadangan beras menunjukkan ketersediaan pasokan yang dapat menjadi salah satu unsur dalam menjaga kecukupan pangan. Amran menyebut kedua capaian tersebut bersamaan saat menyampaikan data di hadapan peserta sidang kabinet.
Informasi yang disampaikan dalam sidang itu menempatkan capaian NTP dan cadangan beras sebagai pokok paparan Kementerian Pertanian. Namun, keterangan mengenai rekor tersebut perlu dibaca sesuai cakupan data yang dipresentasikan. Tanpa rincian tambahan tentang periode pengukuran, angka, atau metode yang digunakan, paparan tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan perbandingan antarperiode maupun faktor yang mendorong perubahan indikator. Inti berita yang dapat ditegaskan adalah bahwa Amran menyampaikan kedua capaian itu dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada tanggal tersebut.
Penyampaian dalam forum kabinet juga memberi konteks bahwa data pertanian itu disampaikan sebagai bagian dari agenda pemerintahan, bukan sebagai pengumuman terpisah. Sidang berlangsung pada Rabu, 21 Oktober 2026, dan menjadi tempat Amran memaparkan informasi mengenai indikator petani serta ketersediaan beras. Dengan mencantumkan konteks waktu dan tempat, laporan mengenai pernyataan tersebut tetap terikat pada sumber penyampaian yang disebutkan. Keterangan ini menjadi landasan untuk memahami klaim rekor yang disampaikan Menteri Pertanian, sementara rincian angka dan cakupan data dapat memberi gambaran lebih lengkap apabila tersedia.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) Indonesia kini mencapai angka 131. Menurut Amran, capaian tersebut merupakan level tertinggi sejak 1992, bahkan ia menyebutnya sebagai angka tertinggi sejak Indonesia merdeka. Klaim itu menempatkan NTP sebagai salah satu indikator yang ia gunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi rumah tangga petani dan hasil dari kebijakan pemerintah di sektor pertanian. Penilaian mengenai rekor tersebut sepenuhnya merupakan pernyataan Amran; angka itu tidak dengan sendirinya menjelaskan keadaan setiap petani atau seluruh subsektor pertanian secara merata.
Amran mengaitkan kenaikan NTP dengan sejumlah kebijakan yang, menurutnya, mendukung pendapatan dan daya beli petani. Ia menyebut harga pupuk telah diturunkan sebesar 20 persen dan manfaat kebijakan tersebut dinikmati oleh sekitar 115 juta petani. Penurunan harga pupuk dapat mengurangi salah satu komponen biaya produksi, sehingga petani berpotensi memiliki ruang lebih besar untuk mengelola pengeluaran usaha tani. Namun, besarnya dampak pada setiap pelaku dapat berbeda, bergantung pada kebutuhan pupuk, jenis komoditas, luas lahan, serta kondisi produksi dan pemasaran.
Selain perubahan harga pupuk, Amran juga menunjuk kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras sebagai faktor yang berkaitan dengan capaian NTP tersebut. HPP menjadi acuan pembelian pemerintah dan dapat berperan dalam menjaga nilai hasil panen yang diterima petani, terutama ketika gabah atau beras memenuhi persyaratan pembelian. Menurut penjelasan Amran, kombinasi biaya input yang lebih rendah dan harga pembelian yang lebih tinggi berkontribusi pada kondisi yang tercermin dalam NTP 131. Dengan demikian, angka itu ia sajikan sebagai hasil yang sejalan dengan kebijakan pupuk dan HPP, bukan semata-mata sebagai ukuran perubahan produksi.
NTP membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi. Karena itu, angka 131 menggambarkan perbandingan indeks dalam periode dan metode penghitungan tertentu, bukan kenaikan pendapatan tunai sebesar 31 persen bagi setiap petani. Pernyataan Amran mengenai posisi tertinggi sejak 1992 dan sejak kemerdekaan tetap perlu dibaca sebagai klaim yang ia sampaikan tentang indikator nasional. Rincian periode dasar, data pembanding, dan perkembangan tiap kelompok petani memberi konteks penting untuk memahami cakupan rekor serta kaitan kebijakan yang ia kemukakan.
Amran menyebut stok beras yang tersimpan di gudang pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton. Ia mengklaim jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Sebagai pembanding, Amran menyampaikan bahwa rekor sebelumnya tercatat sebesar 2,6 juta ton pada 1984, yang ia kaitkan dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto. Angka-angka tersebut disampaikan sebagai bagian dari pemaparannya mengenai cadangan dan ketersediaan beras nasional.
Dalam keterangannya, Amran juga menyatakan stok beras pernah mencapai 5,37 juta ton. Pernyataan itu disampaikan tanpa keterangan mengenai waktu maupun konteks tertentu, sehingga angka tersebut dapat dicatat sebagaimana ia sampaikan tanpa menarik kesimpulan tambahan tentang kapan pencapaian itu terjadi. Perbedaan stok yang berada di gudang dan ketersediaan dari berbagai sumber menjadi penting dalam membaca keseluruhan hitungan yang dipaparkan.
Selain stok gudang sebesar 4,5 juta ton, Amran memasukkan potensi produksi dari tanaman yang masih berada di sawah atau standing crop, yang ia sebut sebesar 10 juta ton. Ia juga menyebut stok di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) sebesar 10 juta ton. Dengan menjumlahkan ketiga komponen tersebut, yakni 10 juta ton dari standing crop, 10 juta ton dari horeka, dan 4,5 juta ton di gudang, Amran menyampaikan total ketersediaan mencapai 25 juta ton. Angka stok gudang 4,5 juta ton dalam perhitungan ini disampaikan sebagai komponen tersendiri.
Amran kemudian membandingkan total ketersediaan itu dengan kebutuhan beras bulanan yang ia tetapkan sebesar 2,5 juta ton. Berdasarkan pembagian sederhana, persediaan 25 juta ton setara dengan kebutuhan selama sekitar sepuluh bulan. Atas dasar hitungan tersebut, ia memperkirakan ketersediaan beras cukup hingga Juli tahun berikutnya. Perkiraan ini merupakan kesimpulan dari angka dan komponen yang ia paparkan, termasuk potensi panen tanaman di sawah dan stok sektor horeka, bukan hanya beras yang sudah tersimpan di gudang. Karena itu, cakupan istilah ketersediaan dalam pernyataan tersebut meliputi beberapa sumber, sementara angka stok gudang menggambarkan satu komponen yang berbeda.
Amran memaparkan bahwa produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh sebesar 5,74 persen. Ia menyebut angka tersebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam periode 2001–2025. Keterangan itu disampaikan sebagai bagian dari paparan mengenai kinerja sektor pertanian, dengan menyoroti perkembangan produksi dan kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian. Menurut Amran, capaian pertumbuhan itu mencerminkan peningkatan kinerja pertanian dalam rentang waktu yang ia sebutkan. Angka 5,74 persen menjadi salah satu indikator yang ia gunakan untuk menjelaskan perkembangan sektor tersebut, selain perubahan pada ekspor, impor, dan nilai tambah pertanian. Paparan itu juga mencakup nilai perdagangan produk pertanian, serta faktor yang menurutnya berkaitan dengan nilai tambah yang dihasilkan.
Dalam paparannya, Amran menyatakan bahwa nilai ekspor meningkat hingga Rp166 triliun. Pada saat yang sama, ia menyebut nilai impor turun sebesar Rp41 triliun. Kedua angka tersebut disampaikan untuk menggambarkan perubahan pada perdagangan sektor pertanian. Amran juga mengaitkan perkembangan ekspor dan impor itu dengan kinerja sektor yang ia paparkan, tanpa memisahkan angka tersebut dari penjelasan mengenai pertumbuhan dan kontribusi pertanian.
Baca juga: DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber




